Mengenal Metode Jigsaw-nya Bu Nia

Hari ini kami janjian di depan Smansa tempat forum anak Jawa Barat memperingati Hari Gizi bersama ibu Nety Heryawan. Alhamdulillah anak-anak terlihat gembira menyimak paparan Ketua P2TP2A Jabar yang istri Pak Gubernur ini. Anak-anak juga membuka layanan konsultasi gizi di dalam halaman SMANSA. Ami, saya dan Ksatria asyik mengobrolkan proses pendampingan dan mentoring sebaya di SLB Baleendah. Fitry menyusul tak lama kemudian. Rencananya kami akan mematangkan agenda sosialisasi Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SMPN 11 atas undangan Pak Raya, Kepala Sekolahnya. Obrolan pun makin seru.

Bu Nia ijin terlambat hadir menunggu mamih merestuinya pergi di Hari Minggu. Kami meneruskan OPeRA di Kantin Salman sambil menikmati minuman dingin murah meriah.  Strategi untuk CACT nya. Hal yang perlu diperbaiki. Jadi fasilitator harus sabar melayani

Materi per bab
1. Mindmap 7-11 dan 7-12
2. Apa yang paling ingin dipelajari
3. Bagaimana cara mendapatkan ilmu

Biotik dan abiotik: perlu mikroskop
CD pembelajaran tentang pencemaran dimanfaatkan untuk pendidikan  kebencanaan
4. Klasifikasi mendorong anak memahami alasan mengapa perlu pergi ke Bogor

Yes for safer school dlm kerangka bersinar

Saran perbaikan ekosistem dari kelas 7 menarik untuk dianalisa.
Kelompok penari bahkan menyampaikan saya ingin tahu berapa besar pengaruh kelahiran kematian dalam kehidupan. Ada anak yang mengatakan, “Saya akan survey di kampung sekitar rumah.”

Pertanyaan produktif disampaikan mengerahkan ide untuk produksi.
Buku diberikan per orang, anak-anak memilih mana yg plg dikuasai mana yg belum.
Wahyu baru paham tentang bab yg menjadi ahlinya. Ada anak yang menjadi  tutor sebaya dengan edmundo dst. Hari Kamis saya akan memberi soal 4 Bab biologi untuk pemetaan untuk soal midtest dan kenaikan kelas, semampunya.

Guru mengukur keberhasilan pemahaman pengetahuan dengan metode menerangkan dan mencatat. Guru menggunakan ceramah ketika daya serap anak belum melebih kkm.

Harapan Bu Nia, bulan Maret beres materi, anak2 kelas 7-11 akan kembali bertugas sebagai GSB Bersinar setelah setelah guru menuntaskan semua materi.

Beban yg belum dikuasai oleh setiap kelompok yang tersulit dibuat list. Bagian itu yang akan diperkuat. Loncatan belajar anak akan tampak keren diuji dengan soal dan orang tua melihat keberhasilan.

Istilah sebagai peneliti muda, ahlinya di bidang apa, jika fokus di bidang itu. Akan lebih nyaman mengajar di biologi. Ibu Nia merasa harus belajar fisika dan kimia, jadi anak-anak diminta jangan segan2 untuk mengoreksi. Kimia adalah keahlian Dimas dan Tasya.

Saat praktikum jangka sorong, alatnya beda-beda. Anak-anakenyampaikan bahwa yang esensial adalah penggunaan jangka sorong. Di belakangnya ada table kalibrasi.

Kelas 7-12 anaknya tidak terlalu hati-hati sedangkan, kelas 7-11 jadi sangat hati-hati, tampak diam, pasif, dan terlihat lepas saat kegiatan GSB. Sahlan ternyata menjadi standar yang membuat teman-teman sekelasnya lebih berhati-hati.

Pak Raya: SMPN 11 Bandung Siap Menjadi Sekolah Rujukan Gerakan KerLiP Bersinar

“Bu Yanti yang pelari bertemu dengan Pak Raya, Kepala Sekolah yang senang berlari membuat semua warga SMPN 11 bergegas, “kata Bu Nia di sela-sela obrolan Fitry dengan Duta Anak Bersinar SMPN 11 Bandung di taman sekolah. Pagi ini Fitry dan saya diterima Pak Raya di ruangannya untuk membahas perjanjian kerja sama menjadikan SMPN 11 Bandung sekolah rujukan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak (KerLiP Bersinar).

image

image

Gerakan Siswa Bersatu Bersinar

Obrolan Pendidikan Ramah Anak (OPeRA) di ruang kepala SMPN 11 Bandung pagi ini menghasilkan beberapa rencana aksi Gerakan KerLiP Bersinar. Usulan website khusus SMPN 11 sebagai sekolah rujukan KerLiP Bersinar disambut antusias oleh Pak Raya. Kabar GeMBIRA dari English Club yang dikelola Bu Wiwin menjadi pintu masuk kami untuk mengajak Pak Raya mempromosikan praktik-praktik baik di SMPN 11. Setiap laman dikelola klab yang dibentuk anak sesuai peminatannya. Peluang publikasi yang mendunia dengan dibukanya MEA dan AFTA pun diantisipasi dengan sajian 4 bahasa: Indonesia, Sunda, Inggris, dan Arab.

image

Pak Agus memberikan usulan penguatan gerakan merespon penjelasan Bu Nia tentang kepemilikan foto essay. Festival mading kelas yang dikelola oleh anak-anak adalah langkah jitu untuk mengekalkan rasa ingin tahu anak. Pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Bersinar pun dirancang bersama atas arahan Kepala SMPN 11 Bandung.

image

“Seharusnya ide-ide seperti ini muncul dari staf-staf saya, tetapi rencana ini harus tetap berjalan. Keterlibatan staf yang lamban atau tidak suka tetap akan terus didorong dengan menunjukkan praktik-praktik baik anak-anak, “Pak Raya menjelaskan komitmennya untuk tumbuh bersama keluarga-keluarga peduli pendidikan bersinar. Beliau meminta Bu Nia dan Pak Agus untuk menyiapkan pengembangan kapasitas perwakilan anak dari setiap kelas ditambah OSIS untuk berpartisipasi altif dalam gerakan ini. Orangtua/wali akan diundang untuk menyaksikan SPeAKnACT. “Wah, ini momentum berharga untuk memulai pelembagaan GSB Bersinar di bawah naungan OSIS, Ami, Arlian dan Ria siap membantu”seru Bu Nia.

image

Kami sepakat melaksanakan Seminar Bersinar pada tanggal 26 Januari dengan undangan resmi dari Kepala Sekolah kepada perwakilan ketua murid dan semua pengurus OSIS. Usul Pak Agus untuk melombakan mading kelas akan diintegrasikan dengan mentoring sebaya YES for Safer School di kelas digital dan Safari GeMBIRA ke SLB Kasih Ibu, Baleendah, Citeureup, Sekolah Inklusif Semesta Hati di Kota Cimahi, TK-SD Marhas Kab Bandung. Beauty contest gerakan ini akan dilaksanakan pada saat YES for Safer School yang melibatkan warga sekolah dan tamu-tamu undangan.

Rintisan Forum Sekolah Ramah Anak Kota Bandung yang dibahas bersama Pak Elih Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung beberapa waktu yang lalu akan dideklarasikan dalam lokalatih akhir Februari 2016. Hasil Rakor Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Jawa Barat akan ditindaklanjuti dengan diskusi terfokus untuk menggalang dukungan dan partisipasi sekolah-sekolah di Jawa Barat dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar.

Saya langsung meneruskan pesan kepada Hikmat, stafsus Mendikbud tentang rencana mengundang Mas Anies ke SMPN 11 pada saat YES for Safer School. Bu Nia juga mengingatkan rencana IHT dengan Pak Zulfikrie Anas untuk melatih penyusunan RPP Bersinar dengan beragam kebutuhan anak serta pelatihan disiplin positif oleh Ibu Sussi Fitti. Fitry langsung diajak bu Nia untuk menyusun rencana persiapan kegiatan Seminar KerLiP Bersinar tersebut.

image

Catatan Ksatria: Memulai SLB Bersinar di SLB Baleendah

08 januari 2015, Saya (satria) bersama Dina melakukan kegiatan pertama SLB BERSINAR di SLB Baleendah yakni pertemuan awal dengan pihak sekolah dan adik-adik di SLB-G YBMU Baleendah. Sesampainya di sekolah, kami di sambut dengan sangat ramah oleh adik-adik dan kami bingung dimana ruangannya Bu Uus (kepsek SLB Baleendah).  Namun saking ramahnya adik-adik, kami diantarkan ke ruangan Bu Uus. Ada juga adik yang memanggil Bu Uus dari lantai dua gedung sekolahan. Selanjutnya bertemulah kami dengan Bu Uus.

SLB G

Saat kami akan memulai perbincangan, tiba-tiba ada dua adik-adik dari SLB masuk ke ruangan Bu Uus. Mereka  bertanya-tanya tentang kami berdua mulai dari kampus mana, rumahnya dimana dan di SLB mau ngapain. Salah satu adik ada yang ingin bernyanyi dan saat kami ijinkan untuk bernyanyi adik tersebut meyanyikan lagunya “ayu ting-ting_sambal lado”. Dia bernyanyi dengan energiknya sampai dihentikan oleh Bu Uus untuk memulai obrolan dengan kami. Jika banyak orang yang datang,  biasanya adik-adik langsung berkumpul menginginkan kue atau permen karena menurut mereka ada tamu berarti ada kue.

SLB G 1

Selanjutnya oleh Bu Uus kami diarahkan untuk bertemu Pak Daus untuk membahas siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB-Bersinar. Siswa secara keseluruhan sebanyak 64 siswa terdiri dari 42 SD, 13 SMP dan 9 SMA dengan 4 golongan grahita netra, rungu, grahita dan daksa. Di SLB ini tidak ada pendamping melainkan yang ada hanya guru kelas. Kelas dibedakan menurut golongan disabilitas.  Tidak ada guru per mata pelajaran juga. Siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB Bersinar ada 26 siswa terdiri dari 8 siswa golongan A, 12 siswa golongan B, 10 siswa golongan C dan 1 siswa golongan D. Kegiatan akan dilakukan tiap hari Sabtu pagi dan dilanjtukan pada tanggal 16 Januari 2015.

Kegiatan ke 2

16 Januari 2016, pukul 09.15 WIB saya dan teh Fitri, telat lima belas menit dari waktu perjanjian untuk pelaksanaan kegiatan. Sesampainya di SLB kami bertemu dengan Bu Uus dan langsung di arahkan ke ruangan tempat berkumpulnya adik-adik. Tidak disangka-sangka, saya dan teh Fitri sangat ditunggu dan disambut dengan sangat meriah oleh adik-adik. Di awal kami berkenalan dengan adik-adik dan memulai dengan bertanya tentang bencana “ada yang tahu apa itu bencana ?” adik-adik dengan semangatnya langsung angkat tangan mau maju ke depan bercerita apa itu bencana. Adik Farhan langsung maju dan bercerita tentang rumahnya yang sering kebanjiran, “kalau rumah kebanjiran langsung bantuin orang tua angkatin barang-barang ke atas dan barang-barang Farhan juga angkat ke atas”.

SLB G 6

Selanjutnya kami mengelompokan adik-adik dalam kegiatan ini, yakni adik-adik yang disabilitas netra dibimbing dengan teh Fitri bernyanyi “kalau ada gempa” dan mendengarkan cerita mengenai bencana apa saja yang pernah adik-adik alami, sedangkan adik-adik yang disabilitas rungu, grahita dan daksa dibimbing oleh saya (Satria) menggambar mengenai apa itu bencana. Ada yang menggambar angin tornado yang sangat bagus dari adik Wildan (disabilitas rungu) dan ternyata dia juga juara menggambar tingkat kabupaten. Wildan akan mengikuti perlombaan menggambar SLB tingkat Jabar pada bulan Februari.  Ada juga yang menggambar gunung meletus, banjir dan rumah yang hancur. Tidak lama kemudian bu Nia dan Sahlan datang. Keduanya sangat membantu dalam proses kegiatan dengan pengalaman yang sudah teruji ketika di SMP 11 Bandung

SLB G 7

Saat adik-adik yang lainnya belajar bernyanyi “kalau ada gempa” yang dipandu oleh Nisa (disabilitas netra), ada yang saya lihat, yakni adik-adik disabilitas rungu yang tidak bisa mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-teman yang lainnya. Lalu saya menghampiri mereka dan mulai bertanya apakah mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Adik-adik itu pun menjawab tidak mengerti. Akhirnya saya mencoba dengan cara gerak tubuh yang saya pahami untuk berbicara sampai adik-adik tersebut paham dengan apa yang dimaksud dalam lagu tersebut. Saya mulai dengan berbicara dengan gerak bibir yang dipelankan, gerak tubuh lindungi kepala jauhilah kaca, menulis di hp, memberikan contoh dengan gambar-gambar yang ada di buku dan foto-foto bencana yang ada di internet. Terlihat adik-adik sangat ingin mengerti apa yang saya maksudkan. Mereka pun memberikan informasi antar teman satu sama lain yang sudah mengerti.

Ketika dengan adik-adik yang disabilitas runggu saya mendapatkan hal yang sangat berharga yakni bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan adik-adik dan untuk memberikan mereka pemahaman sampai tidak ada kesalahpahaman antar apa yang saya maksud dengan apa yang mereka tangkap dan memiliki tekad yang kuat untuk belajar lagi berbicara bahasa isyarat.

Dan terakhir kegiatan hari ini ditutup dengan cerita adik-adik dari hasil gambar yang dibuat dan cerita dari nisa tentang banjir yang pernah dialami dirumahnya. Adik-adik sangat antusias saat diminta untuk maju siapa yang ingin bercerita.  Akhirnya  kami pun memilih adik-adik yang maju,  mulai dari Nisa yang menceritakan pengalamannya ketika banjir di rumahnya. Nisa harus menyelamatkan diri dari banjir dan menyelamatkan barang-barang.  Cerita dari Nauval dengan gaya pak Ustadz berceramah membawa suasana menjadi asyik. Adik-adik fokus mendengarkan cerita Nauval tentang banjir juga kisahnya saat ingin berangkat sekolah meskipun banjir belum surut. Menurut Nauval  banjir tersebut berasal dari hujan yang tidak berhenti sejak malam sebelumnya.

SLB G 8

Minggu depan tanggal 23 kami akan berkegiatan lagi di SLB-G Baleendah dengan agenda transektor yang akan dibantu juga oleh adik-adik dari SMP Negeri 11 Bandung dan kakak-kakak dari SeKAM.

“Tetaplah Anak Inspirasiku” by Nur Afiatin

Bayangkan, saat kamu merasakan kangen dengan moment masa lalu, saat terbaik dimana kamu mampu menghasilkan banyak hal untuk diri kamu sendiri atau bahkan untuk orang di sekelilingmu. Terlepas apapun niat yang mendorong kamu melakukan semua itu. Itulah yang saat ini saya alami, yahhh kangennn moment duluu…dan salah satu dari semua itu adalah  “menulis”.

Menulis yang bukan diberi patokan ilmiah, menulis yang bukan ditunjang dengan tumpukan buku, atau menulis karena dikejar deadline tugas perkuliahan. Tetapi menulis bebas yang hanya saya saja yang memiliki kepentingan, tidak terpengaruh secara langsung oleh buku yang sedang saya baca. Melainkan tulisan hasil kontemplasi, sintesis dan analysis dari proses perjalanan kehidupan yang kemudian dikemas menjadi satu hikmah.

Tepatnya, takdir Alloh melalui silaturahmi kembali saya dengan bu Yanti Kerlip di kegiatan IHT di SMP dan SMK Parawisata IT Nurul Imam pada hari Jumat tanggal 8 Januari 2016 dan berlanjut silaturahmi ke SMPN 11 Bandung pada hari senin, tanggal 11 Januari 2016 menyaksikan 30 anak CB sedang melakukan tahapan praktek dampingan GSB BERSINAR. Terbersit banyak hal yang ingin saya tuangkan dalam sebuah tulisan tentang apa yang saya pikirkan, saksikan dan dengarkan.

Seperti biasa karena sudah lama jari ini absent dari aktifitas tulis menulis walhasil sedikit kebingungan memilih gagasan awal yang harus dituangkan kedalam tulisan ini. Meskipun secara teori tahu bahwa membuat outline tulisan terlebih dulu akan lebih mempermudah dalam  proses penulisan. Tetapi saya tidak mau melakukan itu, ingin memanjakkan jari tangan ini menuliskan apapun yang secara spontan terpikirkan untuk ditulis.

Oh ya, hal yang paling menarik dari dua moment silaturahmi di atas adalah “anak”. Meskipun secara biologis saya belum memiliki anak, namun secara fitrah perempuan dan calon ibu saya sudah diperjalankan berinteraksi intensif dengan anak dan terbangun kesadaran untuk berbagi apapun yang Alloh berikan kepada saya. Anak yang lebih sering membuat saya menangis daripada diputuskan oleh kekasih hati.. Hehehe, Anak yang menyadarkan  kalau kesabaran saya menghadapi beragam dinamika hidup masih lemah, anak yang membangun kesadaran kalau saya masih banyak ketidaktahuan, anak yang membuat saya faham untuk APA dan harus BAGAIMANA sebenarnya TUJUAN hidup says.

Oleh karena itu saat menyaksikan kepolosan, ketulusan dan kecerdasan  peserta didik disekolah yang saya pimpin dan 30 anak CB di SMP 11 Bandung. Semakin menyadarkan saya untuk terus memeriksa optimalisasi peran dan tanggungjawab sebagai guru, semakin tersadarkan kebutuhan untuk terus meningkatkan kualitas dan performance saya sebagai guru yang BENAR dan MULIA dihadapan Alloh. Saya tidak mau terjebak dengan beragam metode dan kreativitas mengajar atau mendampingi anak yang tidak tersambung kepada nilai-nilai Ilahiyah. Kreativitas yang tidak sama sama diikhtiarkan menjadikan kita semua tumbuh kembang bersama semakin ma’rifat kepada Alloh dan Rosulnya.

image

Takjub dengan keunikan, kecerdasan dan ketulusan dari 30 anak CB ini, dari rencana aksi yang akan dilakukan ada yang akan membuat lampu evakuasi bencana khusus untuk Tuna rungu, Ada anak perempuan yg diikat rambutnya berencana akan mengajarkan simulasi bencana di sekolah, dan ada Fina yang dengan dramatisnya yang tidak ingin pintar tetapi ingin cerdas dan baik hati. Fina pun menyampaikan sambil menangis tidak mau seperti “KORUPTOR” yang pintar dan pintar tetapi tidak punya hati. Bagian yang paling menyentuh adalah saat Fina memohon kepada guru-guru untuk mengajar menggunakan hati, jangan sampai nilai atau skor angka yang dikejar dan dipaksakan. Tetapi ajarkan kami “KEBAIKAN” tuturnya, bukannya kami tidak mau kami pumya skor 100 tetapi ada hal pain yang ada di hati ini dan guru pun tidak mengetahuinya.

Wooww…. It was incredible moment, I will not forget it and I am waiting next amazing moment. Terimakasih Banyak Alloh yang maha baik, terimakasih banyak anak-anakku, terimakasih banyak bu Yanti Kerlip, teh Fitri, Teh Aas, Bu direktris Ekasari ;), Bu Nia guru inspiratif, Akmal, Angga dari komunitas peduli bangsa, Pak Usep manajer Nurul Omam yg mengijinkan saya belajar keluar,  bu Ruri dan bu Nurul yang berkenan menghandle tugas-tugas saya di hari ini dan all crew big family Nurul Imam. Ada tanggung jawab besar hari ini dan kedepan, Mudah2an kita adalah Yang pantas dan layak untuk terus mendapat pertolongan dari Alloh dalam menjalankan semua aksi baiknya. Amiin yra

Duta Anak Jawa Barat Siap Wujudkan Sekolah Bersinar

image

Sahlan, kandidat Duta Anak #YES4SaferSchool dari kelas digital SMPN 11 tiba di Aula Dikmenti Disdik Provinsi Jawa Barat ditemani ayah dan bunda. Anak Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa asuhan Ibu Nia ini memenuhi undangan kami untuk menyusun Rencana Aksi SLB Bersinar pada Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak. “Putranya sudah berangkat mandiri ke sekolah, Bu?”tanya Kang Aden kepada Bunda Sahlan. “Rumah kami cukup jauh dari sekolah, jadi Sahlan masih kami antar ke sekolah, “jawab Bunda Sahlan sebelum pamit meninggalkan putranya. Kang Aden membuka Obrolan Pendidikan Ramah Anak dengan Sahlan, Yunika, Allisa, saya, dan Pak Teguh dari Diskominfo Jabar.

“Bu para pemateri akan datang jam 9, “pesan dari Aas masuk jam 7.44 bersamaan dengan kehadiran Bu Dian dari BP3AKB Jabar. Kami masih asyik menyimak beragam pengetahuan baru dari Kang Aden dan Bu Dian menyiapkan bahan presentasi.

Duta Anak YES4SaferSchool

Peserta Rakor di Disdik Provinsi Jawa Barat menyimak beningnya suara anak yang disajikan Yunika, Sahlan, dan Allisa. Yunika, Sahlan, Allisa berturut-turut menyampaikan praktik-praktik baik YES4SaferSchool yang sudah dan sedang dijalankan di sekolah masing-masing.

image

Bu Nia mendokumentasikan seluruh penuturan anak-anak hebat ini. Berkali-kali nama Bu Nia sebagai guru yang inspiratif disebut Yunika. Model mentor sebaya yang dilaksanakan Fina, Duta Anak YES4SaferSchool SMPN 11 Bandung, dalam dampingan Ibu Nia sangat berharga untuk dipelajari. Yunika dan Sahlan menjelaskan rencana evakuasi yang mereka siapkan dengan mempertimbangkan kekhususan para penyandang tuna netra, tuna rungu, dan lamban belajar. “Awalnya kami akan menyiapkan simulasi evakuasi gempa bumi serempak, namun rencana ini diundur dan kami diminta untuk mendampingi salah satu SLB untuk menerapkan Bersinar, “Yunika memilai paparannya.

Sahlan menjelaskan beberapa temuan dalam mentoring sebaya yang dilakukan Fina bersama 26 temannya sejak Hari Disabilitas 2015. Kemudian Allisa Duta Anak dari SMPN 35 Bandung menjelaskan proses pembelajaran bersama bunda tercinta sejak duduk di Sekolah Dasar. “Saya mulai belajar simulasi evakuasi waktu ibu dan kakak-kakak dari KerLiP melaksanakan roadshow di SDN Coblong 4. Kami belajar mengenal zona aman, hati-hati, dan zona bahaya jika ada gempa. Kemudian saya mengajak teman-teman anggota PMR SMPN 35 untuk belajar melakukan simulasi kecil di sekolah. Saya beruntung mendapatkan kehormatan untuk mengikuti WCDRR di Sendai Jepang dengan dukungan dari Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud RI. Nabila dan saya bertemu dengan Profesor Ishami serta mengunjungi tempat anak-anak Sendai beraktivitas.”

Kilau Anak-Anak Jabar

image

Saya mempersilakan Rifqi Duta Anak Jawa Barat yang diminta Bu Dian tampil ke depan mewakili teman-temannya menyampaikan informasi tentang Forum Anak. Rifqi menyampaikan bahwa Forum Anak ditetapkan dalam SK Gubernur tempat anak-anak Jabar beraktivitas memastikan pemenuhan hak dan perlindungan anak di Jawa Barat.

image

Selain Rifqi ada Kemas, Nabila, Naretta, Zahwa dan pengurus Forum Anak sebelumnya  yang sudah mahasiswa ITB. Mereka bergantian menjelaskan komitmennya untuk menjangkau anak-anak penyandang disabilitas. Beberapa informasi menarik yang disampaikan Nabila dan Naretta tentang senior mereka yang menjadi Duta Anak Nasional untuk Perlindungan Khusus menunjukkan inklusivitas Forum Anak Jawa Barat.

Nabila dan Zahwa menjadi fasilitator anak dalam penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar. Rifqi dan kawan-kawan berangkat ke kantor BP3AKB Jabar untuk menyampaikan hadiah bagi bunda-bunda mereka. Duta anak Jabar ino memukau peserta Rapat Koordinasi dengan beragam pengetahuan dan praktik baik mereka. Tidak heran jika guru-guru SD Plus Marhas bergantian mendokumentasikan momen berharga saat mempresentasikan Rencana Aksi Sekolah Bersinar mereka dengan Nabila.

image

4 Langkah Persiapan SLB Bersinar

Konsultasi Anak merupakan gerbang menuju Sekolah Ramah Anak. Hak anak untuk berpartisipasi didengarkan dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu prinsip yang menjadikan gerakan sekolah berprogram khas menuju Sekolah Ramah Anak. Empat langkah persiapan SLB Bersinar disusun berdasarkan praktik baik pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MeSRA) di SMPN 11 Bandung.

image

Langkah Pertama: Latihan #YES4SaferSchool

Youth Evacuation Simulation atau YES for Safer School merupakan inisiatif sobat muda pendiri Green SMile Inc. Guru pendamping diharapkan menerjemahkan langkah-langkah dalam brosur #YES4SaferSchool dalam praktik pendampingan berikut:

1. Cara Asyik Cari Tahu (CACT)

Kesepakatan waktu dan Ketua Tim sebagai bentuk komitmen awal anak bersama fasilitator. Perwakilan anak dari OSIS SMPN 11 Bandung berkomitmen menginvestasikan waktu 1 jam pendampingan untuk melakukan CACT. Kamil terpilih menjadi pemimpin. Ia memastikan observasi lapangan selama 15 menit agar semua tim menyelesaikan CACT Titik Kumpul Aman dalam waktu 1 jam. Setiap tim berhasil membuat denah sekolah yang sederhana dilengkapi rambu-rambu evakuasi dan foto-foto kegiatan saat melakukan observasi sekolah. Hampir semua anak merasakan manfaat dari kegiatan dengan mendapat ilmu baru yang sangat penting dan tentu saja menyenangkan.

Setelah fasilitator memberi dukungan 101% untuk menemukan momentum dalam CACT 1, maka nilai momentum tersebut dimaksimalkan pada CACT 2.

Bu Nia, guru pemdamping GSB MeSRA SMPN 11 menggunakan pendekatan “T R U S T” dalam CACT 2

Time (waktu)
Luangkan waktu untuk mendengar dan merespon CACT tiap kelompok.

Respect (rasa hormat)
Hormati pendapat anak dari hasil CACT tiap kelompok, karena tidak ada temuan yang sia-sia.

Unconditinal Positive Regard (Penerimaan yang tulus)
Tunjukkan sikap penerimaan dan berpikir positif.

Sensitivity (Sensitivitas)
Peka terhadap perasaan dan kebutuhan.

Touch (Motivasi)
Memberikan motivasi melalui jabat tangan, tepukan di punggung atau bahkan pelukan sayang.

Catatan penting Bu Nia pada tahap CACT:

a. Karena fokus pendampingan dilakukan setelah pulang sekolah dengan memanfaatkan waktu luang menjadi berdaya. Kebetulan kesepakatan waktunya hanya 1 jam setelah pulang sekolah. Dan ternyata CACT tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka fasilitator membuatnya dalam beberapa tahap CACT. Antara CACT 1 dan 2 sebaiknya dilakukan refleksi agar bisa bersama-sama anak melakukan evaluasi dan menemukan solusi perbaikan.

b. Banyak temuan menarik dalam tahap CACT ini. Pelatihan CACT untuk guru atau fasilitator yang akan memperkuat pendampingan anak melaksanakan #YES#Safer School di sekolahnya.

c. Guru sebagai orang dewasa dan lebih banyak pengalaman serta pengetahuannya diharapkan memiliki dan menunjukkan sikap keterbukaan. Saat CACT ini dilakukan maka kesalahan akan menyertainya pula. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahannya, menyadari bahwa sudah terjadi kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, maka CACT akan menjadi sarana belajar yang sangat mengasyikkan.

d. CACT merupakan penentu kesuksesan #YES4SaferSchool. Kesuksesan CACT terjadi jika guru pendamping maupun fasilitator mampu menemukan momentum “AHA”. Jangan lupa, buatlah rencana proses belajarnya dan lakukan refleksi ketercapaiannya. Kunci dari semuanya adalah harus banyak berlatih dan bersabar menunggu.

2. Menetapkan dan menandai Titik Kumpul Aman zona aman, hati-hati,dan bahaya sebagai jalur evakuasi menuju titik kumpul aman
3. Simulasi evakuasi drill
4. Membuat peta evakuasi
5. Mendokumentasikan semua tahap
6. Mengunggah dokumentasi ke youtube

Langkah Kedua: SPeAKnACT

Guru pendamping memfasilitasi GSB MeSRA menyampaikan proses YES4SaferSchool kepada Dewan Guru dan menyajikan dokumen foto/film praktik baik pelembagaan GSB Mewujudkan Sekolah Aman SMPN 11 angkatan sebelumnya melengkapi Lembar Inspirasi Belajar Ramah Anak (LIBRA).

image

GSB MeSRA SMPN 11 Bandung 2015-2016 beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan SPeAKnACT mereka pada Lokakarya Pengintegrasian Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan dalam pengelolaan BOS SMP. Lokakarya tersebut prakarsa Pengawas SMP Kota Bandung wilayah Bandung Selatan dan dihadiri perwakilan kepala Sekolah, bendahara, dan Komite Sekolah dari 20 SMP dan SLB. Mereka menyimak antusias paparan Fina dan kawan-kawan GSB MeSRA dari OSIS SMPN 11 Bandung. Bu Nia melengkapi paparan tersebut dengan praktik baik jamban Bersih, Sehat, Jujur karya Ria Putri Primadanti dan Ratu Sampah, Amilia Agustin dari dokumentasi Kick Andy.

Saya berkesempatan mempresentasikan langkah kampanye dan advokasi Indonesia Bersinar (Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak) sebagai model perluasan praktik baik GERASHIAGA di SMPN 11 Bandung ke Nusantara. Kepala SMPN 34 melengkapi dengan praktik baiknya belajar dari SMPN 11 Bandung.

Langkah Ketiga: Penobatan Duta Anak

Green SMile Inc dengan dukungan Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Rena, Perkumpulan KerLiP, Kadisdikprov Jabar, BNPB, dan multi pihak mendapat kesempatan untuk memperluas inisiatif #YES4SaferSchool 2015 melalui penyerahan Sertifikat Duta Anak dan hadiah khusus Tas Aman SHIAGA serta Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual untuk sekolah mitra.

Kamil dan Fina dari SMPN 11 Bandung menerima Tas Aman SHIAGA dan Sertifikat yang diserahkan Kepala Sekolah seusai upacara bendera hari Senin.

image

Langkah Keempat: Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar

Antusiasme Kepala SLB Cijawura pada lokakarya di SMPN 11 Bandung menginspirasi kami untuk memobilisasi sumber daya mendampingi SLB tersebut sebagai piloting Indonesia Bersinar. Dukungan Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Ning, PKLK Disdik Provinsi Jabar, serta Kadisdik Kota Bandung membantu mewujudkan impian kami bersama Bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, dan Ksatria dari SeKAM.

Saya mendiskusikan rencana SLB Bersinar dengan bu Nia, Bu Sari dan pak Aripin dari Semesta Hati. Bu Nia langsung menindaklanjuti memfasilitasi Fina untuk menyusun agenda Open Class di kelas digital yang diikuti peserta didik yang memiliki keistimewaan khusus.

Kegiatan yang kami sebut Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Disabilitas setiap 3 Desember. Fina sangat antusias melakukan CACT tentang keistimewaan dari para penyandang difable. Ia menyusun serta melaksanakan agenda Safari GeMBIRA berikut:

1. Paparan latihan #YES4SaferSchool lengkap dengan catatan-catatan proses yang dianggap penting untuk diperhatikan termasuk dari observer.

2. Bu Nia sebagai Co Fasilitator mengajak anak-anak untuk mendiksusikan langkah-langkah #YES4SaferSchool yang disusun Fina dan tim sesuai dengan sumber daya khusus di kelas digital

3. Anak-anak menemukenali 3 cara untuk melindungi kepala dan jauhilah kaca di kelas digital, antara lain: (a) masuk kolong meja dan menarik kursi untuk melindungi kepala sambil mendekap tas, (b) berlari merapat ke dinding yang aman dengan melindungi kepala dengan tas, dan (c) mengangkat kursi dan berlindung di kolong meja dilindungi kursi sambil memeluk tas.

4. Anak-anak dibagi 3 kelompok untuk menemukan karakteristik anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar.

5. Presentasi hasil diskusi kelompok menunjukkan temuan anak bahwa perlu sistem peringatan dini selain sirine seperti lightstick untuk tuna rungu, sirine dengan bunyi-bunyi khusus seperti ringstone, dan penggunaan alat peraga yang diminati anak-anak.

6. Sahabat-sahabat kerLiP yang akan melaksanakan pendampingan secara mandiri di sekolah mitra menyampaikan apresiasi dan masukan hasil pengamatan masing-masing.

7. Anak-anak menuliskan jawaban untuk 4 hal: (a)Apakah pengetahuan baru yang kamu peroleh, (b) Bagaimanakah perasaan kamu setelah mengikuti kegiatan, (c)Hal-hal apalagi yang ingin kamu ketahui setelah kegiatan ini, dan (d)Kapankah kamu menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan berikutnya.

8. Jawaban tertulis anak-anak diundi oleh observer sesuai dengan 3 (tiga) doorprize yang disediakan anak-anak pada kegiatan sebelumnya. Ternyata ketiga anak yang mendapatkan doorprize sangat gembira bisa mengikuti kegiatan ini dan masih ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak difable dan cara membantu mereka menyelamatkan diri. ketiga anak tersebut menyampaikan perlu 3 (tiga) kali pertemuan lagi sebelum Safari GeMBIRA ke SLB Cijawura minggu depan

9. Refleksi dan rencana Tindak Lanjut bersama Sahabat KerLiP. Fina kembali memukau kami dengan testimoninya selama merencanakan dan memfasilitasi teman-teman sebayanya hari ini.

Secara paralel, Aas dan Bu Sari menyiapkan jejaring pendukung dalam bentuk Semiloka Partisipasi Anak difable dalam kerangka Indonesia Bersinar di SLB dan Rakor pembentukan Sekber Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Disdik Jawa Barat.

image

Pendidikan PRB dalam Kerangka Kerja Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana

Bu Ani berulang kali menelpon memastikan kehadiran kami dalam workshop PRB yang dilaksanakan PKLK 3-5 Desember 2015. Saya harus mewakili Tim Pokja PPO KTPA Kemensos dalam pertemuan di Sesmenkopolhukam pada tanggal 3 Desember. Zamzam menuntaskan fasilitasi  PIP dalam rakor peserta didik PSMA. Aas berkoordinasi dengan bu Sari menyiapkan Semiloka Peserta Didik Difable untuk menerapkan sekolah/madrasah aman dari bencana dalam mewujudkan SLB Bersinar.

Rencana koordinasi persiapan aktivasi SAnDI KerLiP dengan Nunik dialihkan ke Fitry. Kami pun berangkat bersama ke Tangerang pada tanggal 4 Desembet 2014. Workshop PRB dibuka pukul 9 oleh Bu Yatmi dan dilanjutkan dengan penjelasan dari Pak Praptono. Perwakilan Unicef, LPMP, Perkumpulan Lingkar, WVI, Kemenag, dan Mas Amin sudah diskusi sejak tanggal 3. Saya lihat KerLiP tercatat memberikan materi program prioritas PRB dan Advokasi peran serta masyarakat dalam PRB di Pendidikan.

Komitmen Pemerintah

Rencana alokasi APBN untuk PRB di bawah inu diteruskan Mas Amin ke wa grup KPB. Ada beberapa mata anggaran yang akan dikawal KPB. Saya menegaskan kembali bahwa hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengarusutamakan PRB di pendidikan melalui penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana.

image

Diskusi pemetaan siapa melakukan apa di mana makin hangat dengan praktik-praktik baik Lingkar, WVI, LPMP, dan Subdit Sarpras Kemenag. Sayang sekali perwakilan Unicef tetap membisu sampai akhirnya pamit kepada panitia. Syukurlah dalam diskusi manajemen penanggulangan bencana, Endang dari PKLN berkenan berbagi file struktur Seknas Sekolah Aman setelah dialihkan dari BNPB kepada Kemdikbud melalui Biro PKLN.

Saya mengajak semua pihak untuk melihat kembali semangat gotong royong yang dikedepankan Mendikbud guna mewujudkan ekosistem dan insan pendidikan yang selalu siap siaga mewujudkan budaya aman dari bencana.

image

image

Indonesia Bersinar

Saya bersama sahabat-sahabat KerLiP mengintegrasikannya ke dalam gerakan #IndonesiaBersinar. Inisiatif ini muncul dari Ibu Nelli, Guru SMAN Simpang Empat 1 yang kami dampingi tahun lalu pasca erupsi 2014. Saya meminta masukan sahabat-sahabat di facebook terkait integrasi gerakan pendidikan inklusif, aman, dan ramah anak.  Bu Nia, Irsyad, Brian, Bu Nelly, dkk memberikan usulan yang menarik.

Kami mendapatkan kepercayaan dari Direktur PKLK, Ibu Rena dan Ibu Ning, Kasubdit Peserta Didik untuk mendampingi SLB dalam menerapkan sekolah aman dari bencana. Program SLB Bersinar pun siap kami jalankan di Jawa Barat dengan dukungan Duta Anak #YES4SaferSchool dari SMPN 11 Bandung dalam dampingan bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, Ksatria dari SeKAM, Bu Sari  KerLiP Bandung, Fitry dari Green SMile Inc. dan Aas pendiri Rumah Cita Kita.

image