Ibu Rena Memimpin Seknas SPAB

Sekretariat Nasional (Seknas) Sekolah Aman yang diinisiasi KerLiP bersama Wamendiknas, Wamenpu, Kepala BNPB, Kemdagri, Kemenag,dan Kempppa pada tanggal 25 Agustus 2011 mendapat pengukuhan dalam bentuk Keputusan Mendikbud, Prof Muhadjir Effendi dengan nama Seknas SPAB (Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana). Bu Rena selaku Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar dan Menengah  (PKLK Dikdasmen) Kemdikbud memimpin Seknas SPAB  yang diluncurkan pada awal tahun 2017. Kemensos, Kemdagri, Kemenag, BNPB, Kempppa, dan Kempupera serta mitra pembangunan nasional dan internasional menjadi mitra pendukungnya.

Continue reading “Ibu Rena Memimpin Seknas SPAB”

Advertisements

Ibu Sari Membangun Basis Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Kota Bandung

Cafe Ilmu GeMBIRA di Dago Car Free Day menjadi saksi pertemuan perdana kami dengan sosok perempuan yang hebat ini. Ibu Sari, begitu saya memanggilnya, mendampingi kedua putrinya, Nabila dan Syahna yang saya ajak untuk bergabung di Ruang Kreativitas Anak tersebut. “Saya harus tahu dulu, Bu, siapa yang mengajak anak-anak saya beraktivitas, “kalimat yang disampaikannya berkali-kali itu konsisten dengan perjalanannya tumbuh bersama Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan.

image

Memperjuangkan Hak Anak Bersama Anak-Anak Tercinta

Saya dan Fitry, berkomitmen untuk menyisihkan pendapatan kami untuk memulai fellowship KerLiP dengan memberikan beasiswa gerakan kepada keluarga peduli pendidikan penerima anugerah KILAUNusantara. Penerima anugerah perdana versi kami berdua adalah Nurasiah Jamil (Aas) yang menjadi volunteer KerLiP sejak lulus dari Akademi Kebidanan. Kami berdua memberikan dukungan sejumlah dana kepada Aas agar dapat mewujudkan impiannya untuk Indonesia Sehat Semua dengan menumbuhkembangkan Rumah Cita Kita bersama teman-temannya.

Istilah Keluarga Idaman Lahirkan Anak Unggulan yang kemudian diperbaiki menjadi Keluarga Idaman Lahirkan Anak Unik atau KILAUNusantara nampaknya sangat pas dilekatkan kepada Bu Sari sekeluarga.Keunikan Syahna dan Nabila, kakak beradik pejuang hak anak yang tak henti mengukir prestasi ini keren banget. Pengasuhan ayah bundanya yang luar biasa memikat hati. Saya mengapresiasi keluarga hebat ini dengan meminta Pak Gunandar, suami Bu Sari untuk menjadi Direktur KerLiP pada tahun 2015. Namun rencana ini terpaksa batal karena usaha yang dirintis keluarga kami baru dimulai. Apalagi kemudian manajemen Wisma Kodel yang baru meminta kami segera keluar dari ruang yang sudah kami tempati atas kebaikan almarhum Apa Utomo Dananjaya sejak 2005.

Anugerah KILAUNusantara kembali kami perdengarkan dengan model fundraising melalui penjualan Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual. Inisiatif ini belum terprogram dengan baik karena berbagai keterbatasan. Saya dan Fitry akhirnya sepakat untuk menyerahkan 1 paket ELSI kepada Nabila sebagai salah satu Duta Anak YES for Safer School atas upayanya bersama ibunda tercinta melakukan Safari GeMBIRA di SDN Merdeka dalam program yang didukung oleh Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendikbud. Selain itu, kami juga memberikan kesempatan kepada Nabila dan Allisa untuk mewakili KerLiP di World Conference of Disaster Risk Reduction di Sendai Jepang dengan dukungan penuh dari Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud pada tahun 2015.

Bu Sari yang Rendah Hati

Waktu kecil, almarhumah ibu selalu memuji saya dengan istilah “tangan dingin” karena setiap menanam di halaman rumah pasti tumbuh subur. Kepiawaian Bu Sari untuk mendampingi Teh Iwang selama bekerja di KerLiP serta beragam kegiatan penting yang berhasil dilaksanakannya di Bandung mengingatkan saya pada istilah tersebut. Keputusan bu Sari untuk tidak bekerja di luar rumah dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sebagai alumni Planologi ITB untuk mendidik, merawat, mengasuh kedua putrinya tanoa bantuan asisten menempatkan Bu Sari sebagai ikon yang pantas mewakili KerLiP di Direktorat Bindikel.

Inisiatif Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan indonesia muncul dari pertemuan kami dengan Pak Hary, Bu Elvyra dan Dahrina. Ketiganya dibawa bu Sari menyampaikan pengaduan PPDB 2014 ke Perkumpulan KerLiP. Sebelumnya Bu Sari membantu anak-anak lulusan SMP yang mengalami hal serupa dengan Syahna dan mendapatkan koreksi nilai UN Bahasa Indonesia yang menentukan keberlanjutan sekolah mereka. Bu Sari pun resmi mewakili KerLiP Bandung di GMPP Indonesia untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak atas pendidikan ramah anak, bermutu, bebas pungutan yang dikemas Bu Sari dengan istilah Panutan. Saya dan Zamzam, Tim Litbang KerLiP membawa semangat Panutan ke Riau atas dukungan para perintis Gerakan Indonesia Pintar.

image

Peluncuran Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SLBN Cicendo pada tanggal 18 Desember oleh Ketua P2TP2A Jawa Barat,Ibu Netty Prasetyani dan Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak pada Hari Ibu, 22 Desember 2016 terlaksana berkat tangan dingin Bu Sari. Pengawalan roadmap KerLiP di Direktorat Bindikel diserahkan sepenuhnya kepada Bu Sari sampai ke Kuala Lumpur bersama tokoh-tokoh Bindikel. Bu Sari juga yang menjalankan tawaran WVI dengan tim ASSI kepada KerLiP untuk melaksanakan roadshow sekolah aman bencana dan pelatihan fasilitator SMAB bagi guru di kota Bandung. Sebelumnya Bu Sari juga melaksanakan Safari GeMBIRA bersama forum anak di SMAN 15 Bandung, SD Plus Marhamah Hasanah dan SMAN 1 Margahayu Kabupaten Bandung serta SDN Merdeka Bandung.
Beragam portofolio yang hebat ini makin terasa bermakna dengan kerendahhatian Bu Sari membangun basis Getakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di kota kelahirannya Bandung tercinta.

Selamat bekerja demi kepentingan terbaik anak bangsa ya Bu

image

Hari Disabilitas bersama Anak-Anak Istimewa

Peringatan Hari Disabilitas 2015 sangat istimewa. Pertemuan dengan Forpadi dalam Festival Pengembangan Kreativitas Difable di Wyata Guna meneguhkan tekad kami untuk memperjuangkan penyandang difable. Akhir pekan ini Fina memberi kejutan-kejutan yang memukau dengan keberhasilannya memfasilitasi  anak-anak cerdas istimewa berbakat istimewa asuhan bu Nia. Agenda Safari GeMBIRA Fina  dengan dukungan bu Nia di kelas digital SMPN 11 Bandung ini sangat inspiratif.

image

Cari Tahu Cara Lindungi Kepala

Kalau ada gempa lindungi kepala
Kalau ada gempa jauhilah kaca
Kalau ada gempa bersiaplah antri
Berbaris ke luar kumpul di lapangan

Bu Nia meminta anak-anak untuk mencermati tahapan evakuasi yang disusun Fina dan tim. Penataan kelas digital dengan bangku yang berbeda serta loker besi yang tersedia di belakang lengkap dengan AC di sudut kanan dinding belakang serta AC di sudut kiri dinding depan menjadi kondisi khusus yang perlu dipertimbangkan dalam tahapan evakuasi a la Fina.

Waktu 10 menit ternyata sangat berharga. Kelompok 1 memeragakan cara lindungi kepala dengan sembunyi di balik meja dan menarik kursi untuk melindungi tubuh sambil mendekap tas.

image

Aksi ini terasa nyaman bagi anak yang bertubuh kecil. Saat dicoba anak berperawakan tinggi besar ternyata ruang yang tersedia membuatnya tidak nyaman.

Kelompok 2 berlari menepi ke dinding dengan membawa tas di atas kepala. Ada 2 sudut dinding yang cukup aman untuk berlindung, tetapi tidak cukup untuk menampung 36 anak. Papan tulis dan AC yang menempel di dinding depan diduga akan jatuh menimpa kepala. Saya juga menyampaikan kemungkinan dinding rubuh akibat konstruksinya belum tahan gempa.

image

Kelompok ketiga menemukan cara lain. Kursi diangkat 90 derajat untuk melindungi kepala. Cara ini memudahkan anak-anak yang tinggi besar dan kuat untuk segera melindungi kepala setelah bunyi sirine pertama. Kursi terlalu berat untuk anak yang lebih kecil.

image

Mengenali Prosedur Evakuasi untuk Anak-Anak Difable

Fina meminta teman-temannya menemukan karakter dan cara evakuasi bagi anak-anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar. Cara khas Fina memfasilitasi teman sebaya dan tekadnya untuk membantu anak-anak yang memiliki keistimewaan lebih menginspirasi teman-teman sebayanya. Kelompok tuna rungu mengenali lightstick yang biasa digunakan dalam konser-konser malam untuk menuntun anak-anak tuna rungu menyelamatkan diri. Alternatif lain dengan lampu emergency yang menyala saat terjadi gempa. Lampu merah untuk melindungi kepala, lampu kuning untuk bersiap dengam hati-hati, dan lampu hijau setelah cukup aman untuk berbaris antri ke titik kumpul aman.

image

Kelompok tuna netra menyarankan penggunaan bunyi sirine yang berbeda-beda untuk menuntun anak-anak tuna netra menyelamatkan diri melalui jalur khusus. Jalur khusus tersebut dibuat lebih kasar dibanding lantai sekelilingnya.

Kelompok lamban belajar mengingatkan saya dan Fitry kepada anak-anak muda yang melaksanakan Disaster Risk Reduction Homestay Program dari BDG Pl ITB eberapa tahun yang lalu. Mereka menyarankan penggunaan gambar, tokoh kartun, benda-benda yang disukai anak-anak untuk menuntun mereka mengikuti prosedur evakuasi dengam cara yang mudah diingat.

Anak-anak bertekad untuk mempelajari ragam mebutuhan yang berbeda anak-anak yang memiliki kelebihan istimewa dalam Safari GeMBIRA yang direncanakan tanggal 13 Desember 2015. Mereka juga sepakat melaksanakan YES4SaferSchool tanggal 8, 9, 10 desember 2015.

image

Alhamdulillah…