Berbagi Itu Candu Kata Aas

Perjalanan pulang dari Sekolah Semesta Hati dimeriahkan testimoni Aas tentang KerLiP. Sungguh kehormatan bisa tumbuh bersama sobat muda yang energik, supel dan terpercaya. Lebih membahagiakan lagi ketika menyimak testimoninya dan meresapi rasa keberlimpahan yang ditularkannya. Masya Allah. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang bisa didustakan.

Keputusan Aas untuk menunda praktik bidan setelah lulus kuliah bidan dengan beasiswa istimewa dari Gubernur Jabar sangat bermakna dalam rintisan Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak. Kini tanpa ragu Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan mulai dikampanyekan berbekal kerelawanan sobat-sobat muda. Meminjam komitmen Bu Nia tentang investasi, sobat-sobat muda ini menginvestasikan kemudaannya untuk tumbuh bersama kami.

Yang Muda Yang Energik

Beraneka ragam istilah muncul seiring dengan energi yang terpancar dari sobat-sobat muda KerLiP. Kemitraan anak dan kawula muda dalam kemasan GERASHIAGA terus meluas melalui beragam inisiatif. Aas adalah salah satu yang menonjol di antara mereka. Kekhasan Aas yang paling ostimewa adalah kegembiraannya menerima amanah terutama sebagai bendahara kegiatan-kegiatan KerLiP.

Aas berhasil menuntaskan Program Penanganan Psikososial Penyintas Anak di SMAN 1 Simpang Empat pasca erupsi Sinabung dengan lincah dan efektif. Keberlanjutan kaderisasi Agen-agen MeSRA terus dijaganya melalui facebook. Media yang paling mudah dan dikenal anak-anak di Tanah Karo. Saat yang sama Aas juga merintis dan mengembangkan Rumah Cita Kita secata mandiri. Relawan yang bergabung di Rumah Cita Kita nya membantu peluncuran produk masterpiece Binar di JCC.

Kepercayaan Kemendikbud melalui Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen membuka kesempatan bagi sahabat-sahabat KerLiP untuk hadir di Solo pada peringatan Hari PRB. Aas menjadi koordinator program utama kami untuk mendesain, memamerkan dan melaporkan semangat gotong royong dalam menerapkan sekolah/madrasah aman dari bencana di stand pameran Kemendikbud. Talkshow yang menghadirkan Kadisdik Provinsi Jawa Barat menambah kebermaknaan program KerLiP.

Kepercayaan Kemendikbud kepada sahabat-sahabat KerLiP terus berlanjut meskipun terjadi pergantian pejabat internal mereka. Aas lah yang memimpin tim Alor yang super keren. Keberhasilannya memimpin menunjukkan keistimewaan Aas yang luar biasa. Saat yang sama Aas juga rajin menulis artikel di Harian Analisa Medan. Lalu aktif mengikuti futsal dan voly sambil rutin lari pagi. Prestasi akademiknya juga di atas rata-rata. “IPK Aas waktu mengerjakan kegiatan di Sinabung hanya 3,1 Bu. Tapi ngga apa-apa koq. Aas dapet pengalaman yang luar biasa bersama anak-anak hebat di sana. IPK semester ini kembali membaik, “kata Aas dalam perjalanan kemarin.

Saat ini Aas sedang mendampingi YES4SaferSchool di Sekllah Semesta Hati. Banyak hal menarik yang kami dapatkan pada pertemuan kemarin dengan manajemen Semesta Hati. Rencananya 15 anak berkebutuhan khusus dan reguler akan melanjutkan CACT mereka tentang jalur evakuasi, titik.kumpul aman dan prosedur penyelamatan diri. Temuan-temuan sebelumnya akan kembali dicoba bersama anak-anak istimewa asuhan Pak Widi, Bu Ninuk,dkk.

image

Aas kembali dipercaya untuk mengelola program SLB bersinar yang didukung Kasubdit Peserta Didik Dit Bina PKLK Dikdasmen di Jawa Barat. Semoga Allah meneguhkan komitmen Aas untuk terus berbagi.
Katanya, Berbagi itu Candu.

Advertisements

Kami Berbeda Bukan Berarti Tidak Mampu

Film Temple Grandin selalu membuat saya  tak kuasa menahan haru padahal saya sudah menontonnya berulang kali. Saat ini terasa sangat istimewa karena tayang ulang di hari pertama setelah  Gerakan KerLiP BERSINAR disusun bersama sahabat dan mitra KerLiP.

Segera saja info film yang mengisahkan perjuangan penyandang autis berhasil meraih gelar profesor di Colorado ini saya share ke teman-teman Kawal  Indonesia Pintar,  Alor, dan grup Gerakan KerLiP Bersinar. Rasa haru sedikit mereda tergantikan rasa kaget menerima informasi mengenai Veny dari Aas. Semoga  tak ada kejadian buruk yang menimpa sahabat baru KerLiP ini.

Sistem Pembangunan yang Inklusif

“Apa perbedaan difable dan autis? ” tanya Ibu Pingkan, mamanya Patrick yang hadir dalam Obrolan Pendidikan Ramah Anak  di Omah Cafe.  Menurut diskusi tersebut, penggunaan kata difable lebih personal, sedangkan disabilitas terkait sistem yang memberikan dorongan kuat mengenai pentingnya inklusivitas dalam pembangunan. Penyusunan UU Disabilitas sebagai pengganti UU Penyandang Cacat perlu dikawal bersama agar semua penyandang difable dapat menikmati hak hidup bermartabat dengan adanya aksesibilitas.

Penekanan terhadap aksesibilitas juga muncul dalam paparan pembukaan dari Kabid PKLK Disdik Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadang Rachman dalam Rapak Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak. Beliau mengatakan bahwa Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar mulai di SLB dan Sekolah inklusi di Jawa Barat merupakan pintu masuk pembangunan di Jawa Barat yang lebih inklusif. Rapat Koordinasi yang dilaksanakan KerLiP bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk memperingati Hari Ibu dalam menginisiasi Gerakan KerLiP Bersinar yang didukung oleh Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendibud. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Pendidikan Menengan di Diadikprov Jabar menghadirkan Kabid KPA BP3AKB Jabar sebagai keynote speaker, Kabid Advokasi PHPA Deputi TKA Kempppa, BPBD Jabar, Duta Anak, dan pemerhati disabilitas. AKtivasi Gugus Tugas KLA Jawa Barat melalui pembentukan Sekber PHPA makin mengemuka. Hal ini sejalan dengan Gerakan Sekolah Ramah Anak yang merupakan salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak.

Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak

Inisiatif sekretariat bersama diperkenalkan KerLiP untuk memperkuat sosialisasi dan advokasi pemenuhan hak pendidikan anak di Jawa Barat dan Riau yang diinisiasi Asdep PHPA, bu Elvy.  Mitra utama KerLiP di Kempppa ini menjadi inisiator pembentukan Forum SRA nasional yang melibatkan 12 Kementerian/Lembaga dan KerLiP. Rintisan Forum SRA Kota Bandung pun sudah kami mulai dalam pertemuan dengan Pak Elih, Kadisdik Kota Bandung yang dihadiri oleh Duta Anak SMPN 11, sekolah piloting SRA Jabar, SMAN 15 dan SDN Merdeka. Pak Elih menyambut baik gagasan pembentukan Forum SRA di Kota Bandung.

Saya merespon informasi pertemuan Dinas Pendidikan Riau dan Kanwil Kemenag Riau yang diposting relawan TAMPAN Riau untuk segera meresmikan pembentukan Sekretariat Bersama.PHPA Riau. Mas Imam langsung menyambut antusias dan diperkuat oleh bang Alpha dan Zamzam. Kata Mas Imam, “Keren banget sahabat2…setuju banget dengan usul bu Yanti. Patut ditiru Menag dan Mendikbud. Sekretariat bersama pemenuhan Hak pendidikan untuk anak Indonesia yanpa terkecuali, dimana pun mereka bersekolah. Jangan sampai ada diskriminasi hak antara yg bersekolah d ibawah naungan Kemenag dan Kemdikbud. “Riau menjadi pioneer dan role model 👍👍👍” Bang Alpha menegaskan lagi.

Mulai dari SLB Bersinar

Posisi saya sebagai anouncer sekaligus moderator dalam Rapat Penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar memberikan peluang besar uang menggalang dukungan sahabat dan mitra KerLiP. Kehadiran Asmoro yang membawa Riswan ahli statistik dan Yanti ahli filantropi,  Tety, Bu Pingkan dan Patrick memberi arti tersendiri pada kegiatan OPeRA perdana di Omah Cafe. Saya memutuskan untuk mengembangkan diskusi informal dengan Sukma di sela-sela rapat kerja tadi siang. Kami berdua mendikusikan hasil kajian perencanaan dan penganggaran responsif anak yang dilaksanakan Zamzam di Bappenas dan upaya memberantas kemiskinan yang mendapatkan tantangan berat.

Berita peningkatan jumlah kelompok miskin di Indonesia sampai lebih dari 750 ribu orang pada September 2015 menjadi sumber obrolan kami. Hal ini mengingatkan kembali pada tekad awal gerakan keluarga peduli pendidikan yang memilih moto educate to end poverty pada tahun 2002. Saya mengajak teman-teman yang hadir untuk mendiskusikan secara rutin upaya pemberantasan kemiskinan melalui pendidikan dan dihubungkan dengan piloting SLB Bersinar yang sedang dirintis sahabat-sahabat KerLiP di Jawa Barat serta upaya filantropi di Indonesia.

OPeRApun makin asyik.  Fakta stigmatisasi yang melekat pada guru SLB yang disampaikan Tety, pengurus FGII dan kenyataan bahwa stigma tersebut juga masih melekat pada diri wakil dari Filipina dalam lokakarya konselor LGBT di Thailand seperti yang disampaikan Susi Fitry  membangkitkan kesadaran kritis kami. Para penggerak KerLiP Bersinar dalam konteks Generasi Pemberantas Kemiskinan harus berani “bunuh diri” kelas berkali-kali. Saya memahaminya untuk membangun kesiapan menjadi pejalan sunyi dirundung stigma buruk. Asmoro menegaskan arti penting penggunaan istilah apa adanya merespon info tentang sebutan keistimewaan lebih bagi anak-anak berkebutuhan khusus oleh duta anak di SMPN 11 yang saya ungkapkan sebelum menutup obrolan.

Penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar #1

Rifqi, Naretta, dan kawan-kawan dari Forum Anak Jawa Barat pamit untuk menyerahkan hadiah bunga bagi para pembina di BP3AKB Jabar. “Nabila dan Zahwa akan mengikuti agenda siang ini bersama Bu Tari, ya Bu. Kami harus menyerahkan hadiah pemenang foto selfiewithmom dan bunga ucapan selamat Hari Ibu, “kata Naretta sambil bersalaman. Suara Dina terdengar dari dalam memanggil peserta Rakor untuk kembali masuk dan menyusun kelompok.

Pembagian kelompok kami sesuaikan untuk menghasilkan Rencana Aksi SLB Bersinar, antara lain:

1. SMPN 11 dan SLB Kasih Ibu dari Kota Bandung
2. Semesta Hati dan SLBN Citeureup dari Kota Cimahi
3. TK-SD Plus Marhamah Hasanah dari Kabupaten Bandung
4. SLBN Baleendah Kabupaten Bandung dengan Duta Anak dari SMPN 35 Kota Bandung.

Diskusi Terfokus

Setiap kelompok mendiskusikan Rencana Aksi Sekolah Bersinar dengan mengintegrasikan Indikator Sekolah Ramah Anak ke dalam 8 Standar Nasional Pendidikan. Duta Anak YES4SaferSchool dan Forum Anak Jawa Barat menjadi konsultan anak di setiap kelompok untuk menetapkan langkah awal rintisan SLB Bersinar.

Kelompok 1 SMPN 11 Bandung difasilitasi oleh Ibu Nia Kurniati sangat beruntung karena mendapatkan input dari Kang Aden dan Zahwa, peserta didik SMAN 17 aktivis Forum Anak Jawa Barat. Sahlan dan Yunika yang terlatih YES4SaferSchool melalui model mentoring sebaya menjadi konsultan anak. Mereka sepakat menerima tawaran perwakilan orangtua peserta didik SLB Kasih Ibu di Kopo sebagai sekolah model.

Zahwa, Yunika, dan Sahlan mempresentasikan hasil diskusi terfokus kelompok pertama. Ada beberapa tahap kegiatan YES4SaferSchool di SLB Kasih Ibu yang mereka rumuskan. Selengkapnya kita simak foto di bawah ini.

image

image

image

image

image