Catatan Bu Ninuk: Memulai YES4SaferSchool di Sekolah Bersinar Semesta Hati

Minggu kedua bulan desember  sekolah semesta hati memulai project yes4saferschool.

CACT di Sekolah Semesta Hati
Kami memulainya dengan melihat tayangan tentang bencana gempa yg pernah terjadi di beberapa tempat. Lalu, bu Elsa, guru yang pernah melakukan penelitian  tentang patahan lembang, menyampaikan pengetahuan kepada anak-anak tentang beberapa fakta dan antisipasi yg harus dipikirkan bersama. Hari ini adalah hari setelah ujian akhir semester dilakukan. Sebagian besar siswa absen, maka diputuskan besok akan dilakukan kegiatan lanjutan.

CACT selanjutnya

Senang sekali, hari ini lebih banyak siswa yang hadir. Gilm kembali diputar. anak-anak serius memperhatikan. sambil mata nya berkeliling ke sudut-sudut ruang. Beberapa anak berkomentar sambil menunjuk ‘itu nggak aman bu’, ‘banyak barang di atas lemari’.

Anak-anak kemudian dikelompokkan. satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. anak-anak reguler bergabung dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka diminta untuk  beberapa anak SD terlibat diskusi. Mereka mencoba membuat denahsekolah,  tanda peringatan, titik aman, zona hati-hati , jalur evakuasi dan rambu-rambu. dalam diskusi kelompok ditemukan pertanyaan, “Bagaimana dengan S?”

Ananda S adalah salah satu siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan untuk berjalan.  Beberapa teman yang istimewa membuat anggota kelompok berpikir untuk menemukan ide-ide yang kreatif. Ananda A dan kelompoknya membuat tanda peringatan dengan suara dan gambar dengan alasan ada diantara teman-temannya yang belum bisa mengenal aksara. Ananda R dan kelompoknya lebih suka jika menggunakan sirine, untuk membantu teman-teman yang autis dan kurang fokus.

Pertemuan berikutnya tentunya akan ada ide-ide baru yang mengejutkan 🙂

 

Nurasiah Jamil: MINGGU KE DUA MANDALA DIRI DI SEMESTA HATI

Tiba di sekolah ini hari sebelumnya membuat saya tak bisa berkata-kata, sekolah yang dihadiri oleh berbagai macam kecerdasan anak membuat sekolah ini seru banget. Hari ini akhirnya saya diberikan kesempatan untuk mendampingi fasilitator yang telah ditunjuk di sekolah yaitu ibu Ninuk yang merupakan ibu hebat dan psikolog.

Saya sudah datang pagi-pagi menebeng ikut bapak kepala sekolah semesta hati (Pak Widdi) untuk perjalanan ke sekolah, karena akses ke semesta hati ini sangat unik dan harus berkali-kali naik kendaraan umum.

Tiba di sekolah adik-adik sudah siap berkegiatan olah raga pagi, sayapun tak mau ketinggalan harus banget ikut bareng warga semesta hati. Coach senamnya bak coreografer handal sampai saya tak bisa mengikuti gerakannya, namun selama kegiatan berlangsung saya tak henti tersenyum dan takjub terhadap adik-adik semesta hati dan guru-guru yang sangat antusias.

Saya ambil posisi paling ujung samping jadi kalau ada yang baru datang saya ajak mereka untuk gabung, karena saya orang baru disini jadi membuat mereka tertarik, ada yang meberikan pelukan dan lainnya.

20160112_080621

 

Situasi serunya olahraga

Sebelumnya saya ingin menceritakan semesta hati di mata saya. Hanya tiga kata yang pertama keluar dari diri saya untuk sekolah ini “UNIK – KEREN – LUAR BIASA”. Sekolah ini merupakan sekolah inklusi seperti yang disampaikan oleh kepala sekolah di acara penyusunan rencana aksi seminggu lalu. Hal ini pun yang membuat saya sangat penasaran. Dan ya benar sekali sekolah ini memang sekolah yang luar biasa as I know so far.

Awalnya saya ingin melakukan observasi terlebih dahulu namun Bu Ninuk menawarkan saya untuk memulai kegiatan lebih awal whichis bagus banget karena bisa lebih kenal dengan para siswa hebat ini. Karena bu Ninuk dan beberapa guru sudah melakukan mandala diri yang dipimpin oleh kepala sekolah jadi saya mempersilakan ibu Ninuk untuk memimpin kegiatan dan saya membantu menjadi fasilitator.

20160112_084426

Bu Ninuk Keren sedang memimpin kegiatan mandala diri
Pengalaman menjadi fasilitator disini luar biasa seru, ada T yang merupakan siswa ABK yang antusias, ada K yang pendiam sekali sehingga perlu ajakan yang intens, ada A yang dia sepanjang kegiatan tak berhenti bicara dengan apa yang dia suka, dan ada B yang dengan kerennya menjadi tutor sebaya bagi A membantunya membuat mandala diri dan memberikan arahan untuk ikut berkegiatan dengan caranya yang sabar dan keren banget (mengayomi, mengarahkan dan tanpa kesal) saya yakin jika B tidak sekolah di semesta hati tidak akan mendapatkan pengalaman ini.

Waktu yang digunakan sekitar 2-3 jam selama kegiatan mandala diri berlangsung, banyak insight yang luar biasa saat disini.

Anak reguler yang mendampingi anak ABK dengan pandai

Bagi mereka pencapaian yang di raih itu bukan hanya prestasi tapi kepandaian hidup seperti “sudah bisa membaca, berhitung, mencuci baju, membantu ibu dirumah dll”

Bagi B bisa sekolah di semesta hati ini merupakan pencapaian yang luar biasa karena bisa merasa nyaman, dan dapat membantu serta bersama anak ABK

Proses tutor sebaya

20160112_084433

Belajar Tanggung Jawab dari Pak Widdi

image

[15/01 18:50] Widi Semesta Hati: Di teruskan sampai bsk bu..
[15/01 18:50] yanti kerlip: Alhamdulillah
[15/01 18:50] yanti kerlip: Ada bonus ya?
[15/01 18:50] Widi Semesta Hati: Iya bu ada bonus
[15/01 18:51] yanti kerlip: Alhamdulillahirobbil alamin
[15/01 18:52] Widi Semesta Hati: Alhamdulillah respondnya baik… Teh Nur jg jd ketagihan hee..
[15/01 18:58] Widi Semesta Hati: Bu yanti untuk barang apakah bsk bisa mampir setelah dr smpn 11 karna yg dr semesta hati dan nurul imam pakai roda dua..
[15/01 19:03] Widi Semesta Hati: Bsk sepertinya selesai sore.. Siap bu.. Nanti temen2 sambil mencari kendaraan yg memungkinkan

Kabar gembira dari Pak Widdi menginspirasi saya untuk menulis judul ini dalam perjalanan pulang dari rumah Bu Nia.

Pak Widdi dan Pak Rian dari Sekolah Semesta Hati dibantu Pak Asep menyiapkan stand pameran bersama dalam Kongres Nasional Guru BK di Gedung Pos lantai 8. Kolaborasi perdana dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar ini didukung beberapa penyelenggara sekolah inklusif dan ramah anak di Jawa Barat. Penawaran stand kami terima dari Pak Iriansyah, guru BK SMAN 15 Kota Bandung yang sudah memulai Sekolah Ramah Anak plus khazanah dengan dukungan BP3AKB Pemprov Jawa Barat dan Perkumpulan KerLiP serta Asdep PHPA Deputi TKA Kempppa.

Nur Afiatin, Kepala SMK Nurul Imam Kabupaten Bandung Barat dan Diva terlihat menghadap stand ketika saya dan Fitry mengunjungi stand pameran tersebut. Tulisan Sekolah Bersinar menandai stand pameran keluarga-keluarga peduli pendidikan. Pak Diyar dari Semesta Hati sedang mengobrol di depan stand bersama teman lamanya. Kami pun foto bersama.

image

Sosok Pak Widdi

Saya mulai mengenal buah pikirannya saat Pak Widdi menyampaikan hasil pengamatan selama proses mentoring sebaya di kelasnya Bu Nia. Pak Widdi adalah Kepala Sekolah Semesta Hati yang Inklusif di Kota Cimahi. Sekolah tersebut didampingi Pak Aripin, pegiat Pendidikan Anak Merdeka yang tumbuh bersama Perkumpulan KerLiP merintis SD Hikmah Teladan pada tahun 2001-2005.Kehadiran Pak Widdi dalam Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Jawa Barat juga memberi arti tersendiri. Rencana aksi Bersinar hasil diskusi kelompok Semesta Hati bersama SLBN Citeureup yang difasilitasi Pak Widdi paling lengkap. Analisa Bu Nia terhadap book of me Pak Widdi pun menjanjikan proses tumbuh bersama gerakan keluarga peduli pendidikan.

Pak Widdi merekomendasikan Bu Ninuk, psikolog Semesta Hati sebagai pendamping. Tanggung jawab Pak Widdi yang besar untuk tumbuh bersama menggiatkan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar terlihat dalam setiap tahap kegiatan. Penerimaan guru- guru Sekolah Semesta Hati saat kami mampir menyerahkan beberapa materi pengurangan risiko bencana yang inklusif dari ASB dan Kit Bersinar dan kesigapannya menggantikan Pak Diyar sebagai koordinator pameran Bersinar menjadi bukti. Pantas saja Pak Aripin wanti-wanti meminta Pak Widdi tetap fokus di Semesta Hati dan tidak terbujuk untuk sering keluar sekolah bersama KerLiP. Saya pun meneguhkan hati untuk memperkuat basis gerakan keluarga peduli pendidikan bersinar di Semesta Hati. Saya sambut gembira permintaan Pak Widdi untuk bergabung di Yayasan Semesta Hati khususnya di bidang advokasi saat ia bersama Pak Diyar menemui Bu Yuvi dan Pak Edi Gemilang Mutafannin di rumah mereka. Kehormatan bagi saya kembali bersama-sama keluarga peduli pendidikan ini menggiatkan Bersinar di Sekolah Semesta Hati.

image

Semesta Hati Siap Bersinar

Rencana aksi Sekolah Bersih dan Sehat pun sudah dilaksanakan di Semesta Hati.

image

Anak-anak berkebutuhan khusus bersama anak-anak reguler membuat materi-materi sosialisasi yang terpampang di dinding sekolah. Cara Asyik Cari Tahu titik kumpul aman dan jalur evakuasi di Sekolah Inklusif Semesta Hati memiliki kekhasan tersendiri. Menurut Pak Widdi yang juga diperkuat dengan informasi dari Bu Ninuk, anak-anak antusias mengikuti sosialisasi tentang patahan Lembang. Bukan kebetulan jika salah seorang guru Semesta Hati melaksanakan tesis terkait parahan Lembang saat kuliah di jurusan geografi.

Bu Ninuk menyampaikan bahwa kondisi anak berkebutuhan khusus di Semesta Hati ternyata mendorong anak-anak reguler untuk menemukan cara penyelamatan diri yang khas. Hal ini juga disampaikan Pak Widdi saat kami melengkapi Rencana Aksi Bersinar dalam Raker KerLiP di Jakarta. Saya sempat mengingatkan untuk membandingkan dengan prosedur penyelamatan diri di pesawat terbang. Perlu diskusi khusus mengenai prosedur penyelamatan diri ABK di sekolah inklusif dan SLB.

image

Rencana Aksi SLB Bersinar yang Komprehensif di Semesta Hati dan SLBN Citeureup

Tidak ada yang kebetulan. Dosen UPI yang tertarik mengikuti kegiatan Rakor dan Penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar ini diajak Ksatria setelah bersama-sama mengikuti kegiatan Sustem Perlindungan Anak di Jakarta pada hari Senin kemarin. Dosen ini ternyata tinggal di Bukit Dago, tidak jauh dari sekretariat KerLiP. Ia juga dosen Pak Widi, Kepala Sekolah Semesta Hati dan Pendidik di TK Bukit Dago.

image

Kelompok yang mendapat giliran keempat untuk mempresentasikan hasil diskusinya ini merumuskan Rencana Aksi Sekolah Bersinar yang komprehensif bersama perwakilan dari SLB lN Citeureup dan guru Marhas. Model mentoring sebaya saat belajar bersama Duta Anak #YES4SaferSchool SMPN 11 Bandung pada Hari Disabilitas lalu turut memperkaya diskusi di kelompok ini.

image

Pak Widi memulai presentasi kelompok keempat dari Kota Cimahi ini. Praktik-praktik baik pendidikan inklusif di Semesta Hati dijalin dengan pengalaman SLBN Citeureup menerapkan dan mendampingi pemodelan LIRP- Lingkungan Inklusif dan Ramah Pembelajaran serta pengalaman belajar anggota kelompok ini. Hasilnya benar-benar komprehensif.

image

4 Langkah Persiapan SLB Bersinar

Konsultasi Anak merupakan gerbang menuju Sekolah Ramah Anak. Hak anak untuk berpartisipasi didengarkan dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu prinsip yang menjadikan gerakan sekolah berprogram khas menuju Sekolah Ramah Anak. Empat langkah persiapan SLB Bersinar disusun berdasarkan praktik baik pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MeSRA) di SMPN 11 Bandung.

image

Langkah Pertama: Latihan #YES4SaferSchool

Youth Evacuation Simulation atau YES for Safer School merupakan inisiatif sobat muda pendiri Green SMile Inc. Guru pendamping diharapkan menerjemahkan langkah-langkah dalam brosur #YES4SaferSchool dalam praktik pendampingan berikut:

1. Cara Asyik Cari Tahu (CACT)

Kesepakatan waktu dan Ketua Tim sebagai bentuk komitmen awal anak bersama fasilitator. Perwakilan anak dari OSIS SMPN 11 Bandung berkomitmen menginvestasikan waktu 1 jam pendampingan untuk melakukan CACT. Kamil terpilih menjadi pemimpin. Ia memastikan observasi lapangan selama 15 menit agar semua tim menyelesaikan CACT Titik Kumpul Aman dalam waktu 1 jam. Setiap tim berhasil membuat denah sekolah yang sederhana dilengkapi rambu-rambu evakuasi dan foto-foto kegiatan saat melakukan observasi sekolah. Hampir semua anak merasakan manfaat dari kegiatan dengan mendapat ilmu baru yang sangat penting dan tentu saja menyenangkan.

Setelah fasilitator memberi dukungan 101% untuk menemukan momentum dalam CACT 1, maka nilai momentum tersebut dimaksimalkan pada CACT 2.

Bu Nia, guru pemdamping GSB MeSRA SMPN 11 menggunakan pendekatan “T R U S T” dalam CACT 2

Time (waktu)
Luangkan waktu untuk mendengar dan merespon CACT tiap kelompok.

Respect (rasa hormat)
Hormati pendapat anak dari hasil CACT tiap kelompok, karena tidak ada temuan yang sia-sia.

Unconditinal Positive Regard (Penerimaan yang tulus)
Tunjukkan sikap penerimaan dan berpikir positif.

Sensitivity (Sensitivitas)
Peka terhadap perasaan dan kebutuhan.

Touch (Motivasi)
Memberikan motivasi melalui jabat tangan, tepukan di punggung atau bahkan pelukan sayang.

Catatan penting Bu Nia pada tahap CACT:

a. Karena fokus pendampingan dilakukan setelah pulang sekolah dengan memanfaatkan waktu luang menjadi berdaya. Kebetulan kesepakatan waktunya hanya 1 jam setelah pulang sekolah. Dan ternyata CACT tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka fasilitator membuatnya dalam beberapa tahap CACT. Antara CACT 1 dan 2 sebaiknya dilakukan refleksi agar bisa bersama-sama anak melakukan evaluasi dan menemukan solusi perbaikan.

b. Banyak temuan menarik dalam tahap CACT ini. Pelatihan CACT untuk guru atau fasilitator yang akan memperkuat pendampingan anak melaksanakan #YES#Safer School di sekolahnya.

c. Guru sebagai orang dewasa dan lebih banyak pengalaman serta pengetahuannya diharapkan memiliki dan menunjukkan sikap keterbukaan. Saat CACT ini dilakukan maka kesalahan akan menyertainya pula. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahannya, menyadari bahwa sudah terjadi kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, maka CACT akan menjadi sarana belajar yang sangat mengasyikkan.

d. CACT merupakan penentu kesuksesan #YES4SaferSchool. Kesuksesan CACT terjadi jika guru pendamping maupun fasilitator mampu menemukan momentum “AHA”. Jangan lupa, buatlah rencana proses belajarnya dan lakukan refleksi ketercapaiannya. Kunci dari semuanya adalah harus banyak berlatih dan bersabar menunggu.

2. Menetapkan dan menandai Titik Kumpul Aman zona aman, hati-hati,dan bahaya sebagai jalur evakuasi menuju titik kumpul aman
3. Simulasi evakuasi drill
4. Membuat peta evakuasi
5. Mendokumentasikan semua tahap
6. Mengunggah dokumentasi ke youtube

Langkah Kedua: SPeAKnACT

Guru pendamping memfasilitasi GSB MeSRA menyampaikan proses YES4SaferSchool kepada Dewan Guru dan menyajikan dokumen foto/film praktik baik pelembagaan GSB Mewujudkan Sekolah Aman SMPN 11 angkatan sebelumnya melengkapi Lembar Inspirasi Belajar Ramah Anak (LIBRA).

image

GSB MeSRA SMPN 11 Bandung 2015-2016 beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan SPeAKnACT mereka pada Lokakarya Pengintegrasian Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan dalam pengelolaan BOS SMP. Lokakarya tersebut prakarsa Pengawas SMP Kota Bandung wilayah Bandung Selatan dan dihadiri perwakilan kepala Sekolah, bendahara, dan Komite Sekolah dari 20 SMP dan SLB. Mereka menyimak antusias paparan Fina dan kawan-kawan GSB MeSRA dari OSIS SMPN 11 Bandung. Bu Nia melengkapi paparan tersebut dengan praktik baik jamban Bersih, Sehat, Jujur karya Ria Putri Primadanti dan Ratu Sampah, Amilia Agustin dari dokumentasi Kick Andy.

Saya berkesempatan mempresentasikan langkah kampanye dan advokasi Indonesia Bersinar (Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak) sebagai model perluasan praktik baik GERASHIAGA di SMPN 11 Bandung ke Nusantara. Kepala SMPN 34 melengkapi dengan praktik baiknya belajar dari SMPN 11 Bandung.

Langkah Ketiga: Penobatan Duta Anak

Green SMile Inc dengan dukungan Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Rena, Perkumpulan KerLiP, Kadisdikprov Jabar, BNPB, dan multi pihak mendapat kesempatan untuk memperluas inisiatif #YES4SaferSchool 2015 melalui penyerahan Sertifikat Duta Anak dan hadiah khusus Tas Aman SHIAGA serta Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual untuk sekolah mitra.

Kamil dan Fina dari SMPN 11 Bandung menerima Tas Aman SHIAGA dan Sertifikat yang diserahkan Kepala Sekolah seusai upacara bendera hari Senin.

image

Langkah Keempat: Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar

Antusiasme Kepala SLB Cijawura pada lokakarya di SMPN 11 Bandung menginspirasi kami untuk memobilisasi sumber daya mendampingi SLB tersebut sebagai piloting Indonesia Bersinar. Dukungan Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Ning, PKLK Disdik Provinsi Jabar, serta Kadisdik Kota Bandung membantu mewujudkan impian kami bersama Bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, dan Ksatria dari SeKAM.

Saya mendiskusikan rencana SLB Bersinar dengan bu Nia, Bu Sari dan pak Aripin dari Semesta Hati. Bu Nia langsung menindaklanjuti memfasilitasi Fina untuk menyusun agenda Open Class di kelas digital yang diikuti peserta didik yang memiliki keistimewaan khusus.

Kegiatan yang kami sebut Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Disabilitas setiap 3 Desember. Fina sangat antusias melakukan CACT tentang keistimewaan dari para penyandang difable. Ia menyusun serta melaksanakan agenda Safari GeMBIRA berikut:

1. Paparan latihan #YES4SaferSchool lengkap dengan catatan-catatan proses yang dianggap penting untuk diperhatikan termasuk dari observer.

2. Bu Nia sebagai Co Fasilitator mengajak anak-anak untuk mendiksusikan langkah-langkah #YES4SaferSchool yang disusun Fina dan tim sesuai dengan sumber daya khusus di kelas digital

3. Anak-anak menemukenali 3 cara untuk melindungi kepala dan jauhilah kaca di kelas digital, antara lain: (a) masuk kolong meja dan menarik kursi untuk melindungi kepala sambil mendekap tas, (b) berlari merapat ke dinding yang aman dengan melindungi kepala dengan tas, dan (c) mengangkat kursi dan berlindung di kolong meja dilindungi kursi sambil memeluk tas.

4. Anak-anak dibagi 3 kelompok untuk menemukan karakteristik anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar.

5. Presentasi hasil diskusi kelompok menunjukkan temuan anak bahwa perlu sistem peringatan dini selain sirine seperti lightstick untuk tuna rungu, sirine dengan bunyi-bunyi khusus seperti ringstone, dan penggunaan alat peraga yang diminati anak-anak.

6. Sahabat-sahabat kerLiP yang akan melaksanakan pendampingan secara mandiri di sekolah mitra menyampaikan apresiasi dan masukan hasil pengamatan masing-masing.

7. Anak-anak menuliskan jawaban untuk 4 hal: (a)Apakah pengetahuan baru yang kamu peroleh, (b) Bagaimanakah perasaan kamu setelah mengikuti kegiatan, (c)Hal-hal apalagi yang ingin kamu ketahui setelah kegiatan ini, dan (d)Kapankah kamu menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan berikutnya.

8. Jawaban tertulis anak-anak diundi oleh observer sesuai dengan 3 (tiga) doorprize yang disediakan anak-anak pada kegiatan sebelumnya. Ternyata ketiga anak yang mendapatkan doorprize sangat gembira bisa mengikuti kegiatan ini dan masih ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak difable dan cara membantu mereka menyelamatkan diri. ketiga anak tersebut menyampaikan perlu 3 (tiga) kali pertemuan lagi sebelum Safari GeMBIRA ke SLB Cijawura minggu depan

9. Refleksi dan rencana Tindak Lanjut bersama Sahabat KerLiP. Fina kembali memukau kami dengan testimoninya selama merencanakan dan memfasilitasi teman-teman sebayanya hari ini.

Secara paralel, Aas dan Bu Sari menyiapkan jejaring pendukung dalam bentuk Semiloka Partisipasi Anak difable dalam kerangka Indonesia Bersinar di SLB dan Rakor pembentukan Sekber Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Disdik Jawa Barat.

image

Pendidikan PRB dalam Kerangka Kerja Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana

Bu Ani berulang kali menelpon memastikan kehadiran kami dalam workshop PRB yang dilaksanakan PKLK 3-5 Desember 2015. Saya harus mewakili Tim Pokja PPO KTPA Kemensos dalam pertemuan di Sesmenkopolhukam pada tanggal 3 Desember. Zamzam menuntaskan fasilitasi  PIP dalam rakor peserta didik PSMA. Aas berkoordinasi dengan bu Sari menyiapkan Semiloka Peserta Didik Difable untuk menerapkan sekolah/madrasah aman dari bencana dalam mewujudkan SLB Bersinar.

Rencana koordinasi persiapan aktivasi SAnDI KerLiP dengan Nunik dialihkan ke Fitry. Kami pun berangkat bersama ke Tangerang pada tanggal 4 Desembet 2014. Workshop PRB dibuka pukul 9 oleh Bu Yatmi dan dilanjutkan dengan penjelasan dari Pak Praptono. Perwakilan Unicef, LPMP, Perkumpulan Lingkar, WVI, Kemenag, dan Mas Amin sudah diskusi sejak tanggal 3. Saya lihat KerLiP tercatat memberikan materi program prioritas PRB dan Advokasi peran serta masyarakat dalam PRB di Pendidikan.

Komitmen Pemerintah

Rencana alokasi APBN untuk PRB di bawah inu diteruskan Mas Amin ke wa grup KPB. Ada beberapa mata anggaran yang akan dikawal KPB. Saya menegaskan kembali bahwa hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengarusutamakan PRB di pendidikan melalui penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana.

image

Diskusi pemetaan siapa melakukan apa di mana makin hangat dengan praktik-praktik baik Lingkar, WVI, LPMP, dan Subdit Sarpras Kemenag. Sayang sekali perwakilan Unicef tetap membisu sampai akhirnya pamit kepada panitia. Syukurlah dalam diskusi manajemen penanggulangan bencana, Endang dari PKLN berkenan berbagi file struktur Seknas Sekolah Aman setelah dialihkan dari BNPB kepada Kemdikbud melalui Biro PKLN.

Saya mengajak semua pihak untuk melihat kembali semangat gotong royong yang dikedepankan Mendikbud guna mewujudkan ekosistem dan insan pendidikan yang selalu siap siaga mewujudkan budaya aman dari bencana.

image

image

Indonesia Bersinar

Saya bersama sahabat-sahabat KerLiP mengintegrasikannya ke dalam gerakan #IndonesiaBersinar. Inisiatif ini muncul dari Ibu Nelli, Guru SMAN Simpang Empat 1 yang kami dampingi tahun lalu pasca erupsi 2014. Saya meminta masukan sahabat-sahabat di facebook terkait integrasi gerakan pendidikan inklusif, aman, dan ramah anak.  Bu Nia, Irsyad, Brian, Bu Nelly, dkk memberikan usulan yang menarik.

Kami mendapatkan kepercayaan dari Direktur PKLK, Ibu Rena dan Ibu Ning, Kasubdit Peserta Didik untuk mendampingi SLB dalam menerapkan sekolah aman dari bencana. Program SLB Bersinar pun siap kami jalankan di Jawa Barat dengan dukungan Duta Anak #YES4SaferSchool dari SMPN 11 Bandung dalam dampingan bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, Ksatria dari SeKAM, Bu Sari  KerLiP Bandung, Fitry dari Green SMile Inc. dan Aas pendiri Rumah Cita Kita.

image

Meningkatkan Partisipasi Peserta Didik Difable dalam Kerangka Kerja Indonesia Bersinar

Anak-anak asuhan Teh Iwang terlihat antri cuci tangan saat kami mendiskusikan rencana peningkatan partisipasi anak penyandang difable dan CIBI di SLB dan sekolah inklusif dalam mewujudkan Indonesia Bersinar. Ibu Nining, Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen memberikan dukungan finansial untuk Perkumpulan KerLiP dalam menerapkan Sekolah Aman terintegrasi dengan sekolah bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup,  inklusif, ramah anak, dan menyenangkan. Kami baru saja memutuskan untuk bekerja sama dengan koordinator pengawas kota Bandung memulai penerapan Sekolah Bersinar di wilayah Bandung Selatan.

image

Ksatria akan mendampingi SLB Cijaura , Bu Nia di SLBN Cileunyi dengan dukungan Duta Anak YES4Safer School dari SMPN 11, Pak Aripin di SLBN Citeureup Cimahi dengan dukungan Sekolah Semesta Hati. Bu Sari mendukung kesekretariatan bekerjasama dengan Aas dan Fitry sebagai penanggung kawab knowledge management program pendampingan SLB Bersinar.

LIBRA SLB Bersinar

Cara Asyik Cari Tahu yang dilaksanakan Fina dan tim dalam YES4SaferSchool bulan Oktober 2015 dengan dalam dampingan Bu Nia serta hasil FLRT dan ToT Sistem Perlindungan Anak yang diikuti Ksatria juga praktik baik inklusif  Pak Aripin di Semesta Hati akan menjadi Lembaran Inspirasi Belajar Ramah Anak dalam pendampingan SLB Bersinar.

Praktik baik bu Nia dan Amilia Agustin dalam pengelolaan sampah berbasis sekolah di SMPN 11 dengan pembinaan Anil dari YPBB dan pengembangan kapasitas dari Ashoka Indonesia akan diperkaya dengan inisiatif sekolah berkebun dalam dampingan 1000 berkebun di SD Hikmah Teladan.

Narasumber yang akan kami hadirkan untuk sekolah yang lebih aman dari konflik adalah Shadia dari Aceh dan sekolah aman di SLB dari praktik baik ASB Yogyakarta. Keduanya sangat kompeten dalam menerapkan sekplah yang lebih aman di satuan pendidikan inklusif dan SLB.

Kami juga didukung oleh Kadisdik Kota Bandung,Pak Elih dan Kabid PKLK  Disdikprovinsi Jawa Barat, Kepala BP3AKB Jabar serta Asdep PHPA Deputi TKA KPPPA untuk melembagakan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Jawa Barat. Rencananya semiloka akan dilaksanakan minggu depan di Aula Disdikprov Jabar dilanjutkan Rapat Koordinasi yang sudah dirintis bersama Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat sejak Oktober 2015.

Insya Allah SLB Bersinar mulai dari Jawa Barat di penghujung 2015 akan menjadi pijakan awal dalam upaya menggiatkan keluarga peduli pendidikan jadikan Indonesia bersih, sehat, inklusif, aman, ramah anak, dan menyenangkan.