Catatan Bu Ninuk: Memulai YES4SaferSchool di Sekolah Bersinar Semesta Hati

Minggu kedua bulan desember  sekolah semesta hati memulai project yes4saferschool.

CACT di Sekolah Semesta Hati
Kami memulainya dengan melihat tayangan tentang bencana gempa yg pernah terjadi di beberapa tempat. Lalu, bu Elsa, guru yang pernah melakukan penelitian  tentang patahan lembang, menyampaikan pengetahuan kepada anak-anak tentang beberapa fakta dan antisipasi yg harus dipikirkan bersama. Hari ini adalah hari setelah ujian akhir semester dilakukan. Sebagian besar siswa absen, maka diputuskan besok akan dilakukan kegiatan lanjutan.

CACT selanjutnya

Senang sekali, hari ini lebih banyak siswa yang hadir. Gilm kembali diputar. anak-anak serius memperhatikan. sambil mata nya berkeliling ke sudut-sudut ruang. Beberapa anak berkomentar sambil menunjuk ‘itu nggak aman bu’, ‘banyak barang di atas lemari’.

Anak-anak kemudian dikelompokkan. satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. anak-anak reguler bergabung dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka diminta untuk  beberapa anak SD terlibat diskusi. Mereka mencoba membuat denahsekolah,  tanda peringatan, titik aman, zona hati-hati , jalur evakuasi dan rambu-rambu. dalam diskusi kelompok ditemukan pertanyaan, “Bagaimana dengan S?”

Ananda S adalah salah satu siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan untuk berjalan.  Beberapa teman yang istimewa membuat anggota kelompok berpikir untuk menemukan ide-ide yang kreatif. Ananda A dan kelompoknya membuat tanda peringatan dengan suara dan gambar dengan alasan ada diantara teman-temannya yang belum bisa mengenal aksara. Ananda R dan kelompoknya lebih suka jika menggunakan sirine, untuk membantu teman-teman yang autis dan kurang fokus.

Pertemuan berikutnya tentunya akan ada ide-ide baru yang mengejutkan 🙂

 

Advertisements

Nurasiah Jamil: MINGGU KE DUA MANDALA DIRI DI SEMESTA HATI

Tiba di sekolah ini hari sebelumnya membuat saya tak bisa berkata-kata, sekolah yang dihadiri oleh berbagai macam kecerdasan anak membuat sekolah ini seru banget. Hari ini akhirnya saya diberikan kesempatan untuk mendampingi fasilitator yang telah ditunjuk di sekolah yaitu ibu Ninuk yang merupakan ibu hebat dan psikolog.

Saya sudah datang pagi-pagi menebeng ikut bapak kepala sekolah semesta hati (Pak Widdi) untuk perjalanan ke sekolah, karena akses ke semesta hati ini sangat unik dan harus berkali-kali naik kendaraan umum.

Tiba di sekolah adik-adik sudah siap berkegiatan olah raga pagi, sayapun tak mau ketinggalan harus banget ikut bareng warga semesta hati. Coach senamnya bak coreografer handal sampai saya tak bisa mengikuti gerakannya, namun selama kegiatan berlangsung saya tak henti tersenyum dan takjub terhadap adik-adik semesta hati dan guru-guru yang sangat antusias.

Saya ambil posisi paling ujung samping jadi kalau ada yang baru datang saya ajak mereka untuk gabung, karena saya orang baru disini jadi membuat mereka tertarik, ada yang meberikan pelukan dan lainnya.

20160112_080621

 

Situasi serunya olahraga

Sebelumnya saya ingin menceritakan semesta hati di mata saya. Hanya tiga kata yang pertama keluar dari diri saya untuk sekolah ini “UNIK – KEREN – LUAR BIASA”. Sekolah ini merupakan sekolah inklusi seperti yang disampaikan oleh kepala sekolah di acara penyusunan rencana aksi seminggu lalu. Hal ini pun yang membuat saya sangat penasaran. Dan ya benar sekali sekolah ini memang sekolah yang luar biasa as I know so far.

Awalnya saya ingin melakukan observasi terlebih dahulu namun Bu Ninuk menawarkan saya untuk memulai kegiatan lebih awal whichis bagus banget karena bisa lebih kenal dengan para siswa hebat ini. Karena bu Ninuk dan beberapa guru sudah melakukan mandala diri yang dipimpin oleh kepala sekolah jadi saya mempersilakan ibu Ninuk untuk memimpin kegiatan dan saya membantu menjadi fasilitator.

20160112_084426

Bu Ninuk Keren sedang memimpin kegiatan mandala diri
Pengalaman menjadi fasilitator disini luar biasa seru, ada T yang merupakan siswa ABK yang antusias, ada K yang pendiam sekali sehingga perlu ajakan yang intens, ada A yang dia sepanjang kegiatan tak berhenti bicara dengan apa yang dia suka, dan ada B yang dengan kerennya menjadi tutor sebaya bagi A membantunya membuat mandala diri dan memberikan arahan untuk ikut berkegiatan dengan caranya yang sabar dan keren banget (mengayomi, mengarahkan dan tanpa kesal) saya yakin jika B tidak sekolah di semesta hati tidak akan mendapatkan pengalaman ini.

Waktu yang digunakan sekitar 2-3 jam selama kegiatan mandala diri berlangsung, banyak insight yang luar biasa saat disini.

Anak reguler yang mendampingi anak ABK dengan pandai

Bagi mereka pencapaian yang di raih itu bukan hanya prestasi tapi kepandaian hidup seperti “sudah bisa membaca, berhitung, mencuci baju, membantu ibu dirumah dll”

Bagi B bisa sekolah di semesta hati ini merupakan pencapaian yang luar biasa karena bisa merasa nyaman, dan dapat membantu serta bersama anak ABK

Proses tutor sebaya

20160112_084433

Belajar Tanggung Jawab dari Pak Widdi

image

[15/01 18:50] Widi Semesta Hati: Di teruskan sampai bsk bu..
[15/01 18:50] yanti kerlip: Alhamdulillah
[15/01 18:50] yanti kerlip: Ada bonus ya?
[15/01 18:50] Widi Semesta Hati: Iya bu ada bonus
[15/01 18:51] yanti kerlip: Alhamdulillahirobbil alamin
[15/01 18:52] Widi Semesta Hati: Alhamdulillah respondnya baik… Teh Nur jg jd ketagihan hee..
[15/01 18:58] Widi Semesta Hati: Bu yanti untuk barang apakah bsk bisa mampir setelah dr smpn 11 karna yg dr semesta hati dan nurul imam pakai roda dua..
[15/01 19:03] Widi Semesta Hati: Bsk sepertinya selesai sore.. Siap bu.. Nanti temen2 sambil mencari kendaraan yg memungkinkan

Kabar gembira dari Pak Widdi menginspirasi saya untuk menulis judul ini dalam perjalanan pulang dari rumah Bu Nia.

Pak Widdi dan Pak Rian dari Sekolah Semesta Hati dibantu Pak Asep menyiapkan stand pameran bersama dalam Kongres Nasional Guru BK di Gedung Pos lantai 8. Kolaborasi perdana dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar ini didukung beberapa penyelenggara sekolah inklusif dan ramah anak di Jawa Barat. Penawaran stand kami terima dari Pak Iriansyah, guru BK SMAN 15 Kota Bandung yang sudah memulai Sekolah Ramah Anak plus khazanah dengan dukungan BP3AKB Pemprov Jawa Barat dan Perkumpulan KerLiP serta Asdep PHPA Deputi TKA Kempppa.

Nur Afiatin, Kepala SMK Nurul Imam Kabupaten Bandung Barat dan Diva terlihat menghadap stand ketika saya dan Fitry mengunjungi stand pameran tersebut. Tulisan Sekolah Bersinar menandai stand pameran keluarga-keluarga peduli pendidikan. Pak Diyar dari Semesta Hati sedang mengobrol di depan stand bersama teman lamanya. Kami pun foto bersama.

image

Sosok Pak Widdi

Saya mulai mengenal buah pikirannya saat Pak Widdi menyampaikan hasil pengamatan selama proses mentoring sebaya di kelasnya Bu Nia. Pak Widdi adalah Kepala Sekolah Semesta Hati yang Inklusif di Kota Cimahi. Sekolah tersebut didampingi Pak Aripin, pegiat Pendidikan Anak Merdeka yang tumbuh bersama Perkumpulan KerLiP merintis SD Hikmah Teladan pada tahun 2001-2005.Kehadiran Pak Widdi dalam Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Jawa Barat juga memberi arti tersendiri. Rencana aksi Bersinar hasil diskusi kelompok Semesta Hati bersama SLBN Citeureup yang difasilitasi Pak Widdi paling lengkap. Analisa Bu Nia terhadap book of me Pak Widdi pun menjanjikan proses tumbuh bersama gerakan keluarga peduli pendidikan.

Pak Widdi merekomendasikan Bu Ninuk, psikolog Semesta Hati sebagai pendamping. Tanggung jawab Pak Widdi yang besar untuk tumbuh bersama menggiatkan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar terlihat dalam setiap tahap kegiatan. Penerimaan guru- guru Sekolah Semesta Hati saat kami mampir menyerahkan beberapa materi pengurangan risiko bencana yang inklusif dari ASB dan Kit Bersinar dan kesigapannya menggantikan Pak Diyar sebagai koordinator pameran Bersinar menjadi bukti. Pantas saja Pak Aripin wanti-wanti meminta Pak Widdi tetap fokus di Semesta Hati dan tidak terbujuk untuk sering keluar sekolah bersama KerLiP. Saya pun meneguhkan hati untuk memperkuat basis gerakan keluarga peduli pendidikan bersinar di Semesta Hati. Saya sambut gembira permintaan Pak Widdi untuk bergabung di Yayasan Semesta Hati khususnya di bidang advokasi saat ia bersama Pak Diyar menemui Bu Yuvi dan Pak Edi Gemilang Mutafannin di rumah mereka. Kehormatan bagi saya kembali bersama-sama keluarga peduli pendidikan ini menggiatkan Bersinar di Sekolah Semesta Hati.

image

Semesta Hati Siap Bersinar

Rencana aksi Sekolah Bersih dan Sehat pun sudah dilaksanakan di Semesta Hati.

image

Anak-anak berkebutuhan khusus bersama anak-anak reguler membuat materi-materi sosialisasi yang terpampang di dinding sekolah. Cara Asyik Cari Tahu titik kumpul aman dan jalur evakuasi di Sekolah Inklusif Semesta Hati memiliki kekhasan tersendiri. Menurut Pak Widdi yang juga diperkuat dengan informasi dari Bu Ninuk, anak-anak antusias mengikuti sosialisasi tentang patahan Lembang. Bukan kebetulan jika salah seorang guru Semesta Hati melaksanakan tesis terkait parahan Lembang saat kuliah di jurusan geografi.

Bu Ninuk menyampaikan bahwa kondisi anak berkebutuhan khusus di Semesta Hati ternyata mendorong anak-anak reguler untuk menemukan cara penyelamatan diri yang khas. Hal ini juga disampaikan Pak Widdi saat kami melengkapi Rencana Aksi Bersinar dalam Raker KerLiP di Jakarta. Saya sempat mengingatkan untuk membandingkan dengan prosedur penyelamatan diri di pesawat terbang. Perlu diskusi khusus mengenai prosedur penyelamatan diri ABK di sekolah inklusif dan SLB.

image