Perkenalan Sekolah Ramah Anak

Sekolah ramah anak (SRA) adalah satuan pendidikan aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai SRA, simak Rujukan Gerakan SRA.

2000 Buku Pelajaran Sekolah Gratis

Menyongsong semester baru untuk anak sekolah.

Tahukah Anda, bahwa Pemerintah sudah menyediakan lebih dari 2000 Buku Pelajaran Sekolah Gratis untuk tingkat K-12 (SD,SMP,SMA & SMK), baik untuk Kurikulum 2013, dan KTSP 2006.

Buku-buku ini bisa didownload dengan gratis di:
http://BukuSekolahDigital.com

Juga sudah tersedia Mobile App untuk membaca 2000 Buku Pelajaran tsb lewat Smartphone dan Tablet, tersedia dalam platform : IOS, Android & Windows.

Silakan download mobile app gratis dari :
http://BukuSekolahDigital.com/mobile

Sebarkan info ini kepada teman, kenalan, dan siapa saja yang membutuhkan buku-buku pelajaran yang sudah disediakan oleh Pemerintah Indonesia dengan gratis, agar seluruh siswa Indonesia bisa mendapatkan banyak ilmu dengan biaya yg minim, bahkan gratis.

Majulah Pendidikan Indonesia.

Bukan Sekolah Namanya Jika Tidak Ramah Anak

Fenomena kekerasan, bullying, dan perilaku salah lainnya ¬†terhadap anak (KTA) di sekolah sudah lama menjadi viral. Baru-baru ini beredar video rekaman kekerasan yang dilakukan seorang pendidik di Indonesia Timur. Sebelumnya masyarakat kita juga dikagetkan dengan berita seorang kepala sekolah di Malang menyetrum beberapa peserta didik. “Tadi rekan-rekan menjawab bahwa sekolah kami aman. Namun kecenderungan korban KTA ¬†terus meningkat. Pelapor dari Kabupaten Cirebon pada 2016 sebanyak 47 anak dan pada tahun ini di semester 1 saja kami sudah menangani 41 korban, dan hampir semuanya KTA bahkan dalam bentuk kejahatan seksual di sekolah, “ujar Dr. Sisca, perintis Pusat Pelayanan Terpadu RS Gunung Jati pada kegiatan Pelatihan Konvensi Hak Anak untuk Tenaga Pendidik yang dilaksanakan oleh DP3AKB Jabar di Cirebon, 18-19 Mei 2017.

Continue reading “Bukan Sekolah Namanya Jika Tidak Ramah Anak”

Komponen Utama dan Prinsip-Prinsip SRA

Menurut catatan Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya, sebanyak 1.417 sekolah/madrasah sudah mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak di seluruh Indonesia. Saya yakin sebenarnya lebih dari itu. Pada saat Tim Litbang KerLiP menyusun Direktori Implementasi SMAB 2013 di BNPB terkumpul data 25.600 sekolah/madrasah yang menjadi mitra K/L/D/I dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak di sekolah/madrasah. Praktik baik terbanyak terkait SMAB dari anggota Konsorsium Pendidikan Bencana, lalu data sekolah yang menerapkan pendidikan inklusi dari Direktorat PKLK Dikdasmen Kemdikbud, Sekolah/Madrasah yang berhasil mendapatkan predikat adiwiyata berjenjang di Kementerian Lingkungan Hidup, sekolah/madrasah yang memiliki predikat sekolah bersih dan sehat, serta berbagai inisatif lainnya.

Continue reading “Komponen Utama dan Prinsip-Prinsip SRA”

Memulai Penerapan SRA di Maluku Utara

Jalan menuju bandara Soetta tanpa hambatan berarti malam itu. Saya tiba di Terminal 2F sebelum pukul 10 malam. Sayang sekali charger HP yang dibawa dari rumah tidak berfungsi sama sekali. “Abdi calik diantawis counter Garuda sareng Gate 4 ya Bu. Batere HP kantun 1% teu nyandak powerbank, “pesan ini terkirim ke Bu Elvi persis sebelum HP mati.

HP yang sudah hampir mati perlahan menghisap energi yang tersisa dari laptop yang saya pangku. Sebelumnya saya minta print tiket di counter Garuda. Tak lama kemudian saya melihat Putri di bangku depan. Bu Elvi, Pak Agus, Pak Soleh datang menyusul. Kami siap terbang pukul 01.40 ke Ternate untuk memfasilitasi Pelatihan SRA bagi pendidik dan tenaga kependidikan di Ternate dan Halmahera Barat.

Semangat Advokasi

“Teh, langsung dibawa kesana aja ya, Insya Allah ibu pulang membawa materi yang diperlukan”kata saya kepada putri sulung kami tadi siang sambil memeluknya pamit. Saya beruntung mendapat kesempatan emas untuk mengawal pemenuhan hak pendidikan anak sampai ke daerah-daerah tertinggal, terpencil dan terdepan di seluruh pelosok Nusantara.

Kemitraan khas yang terjalin antara Perkumpulan KerLiP dan Kempppa sejak mengawal Sekolah Madrasah Aman Bencana tahun 2011 memungkinkan saya untuk bekerja sambil menikmati indahnya zamrud khatulistiwa. Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas  Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya,  Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa berkomitmen penuh menjalankan good governance dalam setiap tahap kegiatan. Tak heran jika kami menikmati rasa keberlimpahan tumbuh pesat dalam kampanye dan advokasi sampai sekarang. “Bu Yanti mitra tetap kami untuk mengawal SRA dan RKA menuju KLA, “kalimat ini disampaikan bu Elvi setiap kali mengenalkan saya kepada mitra di daerah.  

Kini sudah ada 912 Sekolah Ramah Anak dari 82 Kota/Kabupaten di 7 Provinsi yang kami fasilitasi bersama Kempppa melalui Sosialisasi dan pelatihan SRA menuju Kabupaten/Kota Layak Anak. Kegiatan ini sudah menjangkau ribuan guru, kepala sekolah, orang tua, peserta didik dan tenaga kependidikan.

Foto: Refleksi 1 tahun kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman, 27 Juli.2011.

Bu Elvi yang Ceria

Penerapan Sekolah Madrasah Aman Bencana dalam Kerangka Gerakan Sekolah Ramah Anak menjadi materi khas Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Peserta pelatihan  biasanya kami ajak untuk menyanyikan jingle evakuasi gempa. 

Kalau ada gempa, lindungi kepala

Kalau ada gempa, jauhilah kaca

Kalau ada gempa, bersiaplah antri

Berbaris keluar kumpul di lapangan

Energi kebaikan memancar dari tawa riang  Bu Elvi bersama para peserta pelatihan mendorong semua orang gembira bersama KerLiP menghilangkan rasa lelah dan kecewa melihat ketidaksemangatan pelaksana di daerah. Tidak ada yang menghalangi kami untuk menyemangati 120 peserta pelatihan SRA.

Menuju Jailolo

Speedboat merah bermesin 2 buah itu cukup tangguh menerjang ombak di Laut Ternate. “Ini perahu langganan Pemkab Halmahera Barat, meski ombaknya sedang besar insya Allah tetap aman, “ujar Bu Nona yang duduk di sebelah saya. Cuaca sedang tidak begitu bersahabat saat kami menyeberang ke Jailolo Selatan sore itu. Pengalaman yang cukup menegangkan ini membuat kami jadi lapar.

Air mineral dalam kemasan membasahi kerongkongan kami saat magrib tiba dengan  pisang dan tahu goreng yang dibeli Bu Elvi di seberang Ternate Mall. Ikan bakar  dengan sambal segar khas Jailolo memenuhi perut kami. “Daging ikannya cakial banget, “ujar saya kepada bu Elvi sambil seuseuhah karena cabe rawit yang super pedas tergigit.

Bu Elvi duduk di antara saya dan Asda 1 Pemkab Halmahera Barat. Pelatihan SRA bagi pendidik dan tenaga kependidikan di Jailolo.adalah tindaklanjut dari Deklarasi KLA yang dilaksanakan Bupati Halmahera Barat yang dihadiri Ibu Meneg PPPA bulan Mei lalu. “Kami sudah menyelenggarakan pertemuan dengan 120 Kepala Sekolah sebagai persiapan pelatihan ini. Piloting di 4 sekolah model siap dilaksanakan bersama 100 sekolah dalam tanggung jawab kami. Kami akan pastikan Gerakan Sekolah Ramah Anak ini dalam penyusunan RKAS 2016-2017, “kata Pak Sony, Kadisdik Halmahera Barat dalam pertemuan semalam di lobby Hotel D’Hoex.

Paparan Kadisdik Kab Halmahera Barat menyampaikan Kerangka Strategis mengadopsi paparan Mendikbud. “Saya sangat mengidolakan Bapak Anies Baswedan yang sangat memahami karakteristik sampai ke desa-desa.”

Halmahera Barat merupakan kabupatem terluar dengan 176 desa. Ada 75 PAUD 175 SD (31 dikelola oleh masyarakat), 66 SMP. Ada 16.000 anak usia dini baru 3.000 anak yang terlayani. Jumpah murid SD 16.000 anak SMP ada 6.000 anak berarti ada 10.000 anak dari keluarga tidak mampu yang belum terlayani. Apakah terlalu mahal atau terlalu kasar cara mendidik kita. Kami akan mereviu RAPBS semua sekolah. 10.000 anak ini akan dicari dan dilayani dengan pendidikan bermutu yang mencerdaskan. Beberapa kata dan slide yang diadopsi oleh Pak Kadis, a.l:

Sekolah Sebagai Taman.

Guru adalah kunci.

Orang tuau pendidik pertama dan utama. Pendidikan sebagai gerakan.

Sudah 2 kali didemo karena pungutan dan putusan komite yang bertentangan dengan publik. Bergerak secara bersama-sama pendidikan murah yang terjangkau.

1. Memberdayakan pekaku pendidikan dan budaya

– Ada beasiswa 1.020 guru untuk peningkatan kualifikasi guru menjadi S1/D4

– Percepatan atau menghitung angka kredit

2. Memberdayakan pelaku budaya masuk ke sekolah melalui seni dan budaya serta mulok.

5. Memperkuat keluarga sebagai pendidik utama dan pertama

6. Memperjelas pembagian kewenangan Daerah dan masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD-Dikmas

Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti di SRA Khazanah SMAN Libels

Film yang ditayangkan Pak Iriansyah di facebook mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan. Alumni-alumni Libels Bandung pun menyatakan kebanggaannya bersekolah di almamater mereka. Sekolah yang didampingi KerLiP Bandung melalui Safari GemBIRA bersama Forum Anak Kota Bandung ini menerima bantuan SRA dari BP3AKB Jabar pada tahun 2014. Kami membawa praktik-praktik baik di SMAN 15 Bandung yang dipimpin langsung oleh Pak Sugiarto, kepala sekolahnya, dalam setiap kesempatan sosialisasi SRA. Film ini melengkapi materi KIE terkait SRA dan mengukuhkan SMAN Libels sebagai model Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti dari Kemendikbud. Pak Ir adalah guru BK yang menjadi PKS Kesiswaan saat bantuan dari Pemprov Jabar disampaikan yang tetap konsisten mengawal penerapan SRA bahkan setelah berhenti menjadi PKS Kesiswaan.

image

Kemitraan Khas KerLiP dengan BP3AKB Jabar

Sejak hadir memenuhi undangan BP3AKB Jabar mewakili Kempppa dalam kegiatan sosialisasi SRA di Garut, KerLiP mendapat kehormatan menjadi mitra lembaga masyarakat dalam percepatan KLA di Jabar khususnya kluster IV. Bu Nenny Kepala BP3AKB Jabar saat itu mempercayakan penyusunan naskah akademik Ranperda Jabar tentang Percepatan KLA. Proses penyusunan yang dipimpin Ibu Diana Handayani bersama tim Litbang KerLiP ini menyertakan seluruh SKPD dan dikonsultasikan langsung ke Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa. Konsultasi publik naskah akademik ini dilaksanakan bersamaan dengan sosialisasi Perda Ketahanan Keluarga.

Gerak cepat Bu Dian Kabid KPA BP3AKB memungkinkan saya menyampaikan praktik-praktik baik termasuk SRA di SMAN 15 saat menjangkau seluruh kota/kabupaten yang bergegas untuk diajukan dalam penilaian KLA tahun 2017 yad. Saya mewakili KerLiP bersama ahli dari Unpad dan IPB mendampingi Bu Dian memfasilitasi 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat untuk mengisi instrumen penilaian KLA terkait penganugerahan KLA dari Gubernur Jabar yang akan dilaksanakan 2016.

Kemitraan khas KerLiP di tingkat nasional sebagai mitra Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Deputi TKA Kempppa, Direktorat Pembinaan PKLK Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, dan anggota Tim Pokja TPPO KTPA Kemensos memungkinkan kami untuk memperkuat inisiatif BP3AKB Jabar dan menjangkau kluster V perlindungan khusus. Inisiatif Sekretariat Bersama Pemenuhan hak Pendidikan Anak pun muncul dalam pendampingan penguatan Gugus Tugas KLA Kluster IV di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Undangan menjadi salah satu narasumber dalam penyusunan materi KIE untuk menggiatkan Gerakan Jabar melawan Kejahatan Seksual Anak yang diselenggarakan Bappeda mengukuhkan kemitraaan khas KerLiP dengan BP3AKB Jabar.

Meskipun sempat diwarnai conflict interest terkait “kepemilikan” SMA Libels sebagai percontohan SRA Jabar dan Nasional, saya dan tim Litbang KerLiP tetap memandang perlu untuk menyampaika praktik baik mereka dalam setiap kesempatan termasuk saat menyusun bahan presentasi Kadisdikprov Jabar dalam kegiatan talkshow pada peringatan Hari PRB di Surakarta. Beberapa kali Pak Ir dan Duta Anak di SMAN 15 Bandung kami undang untuk menyampaikannya langsung dalam Rapat Penyusunan Modul ToT SRA, Panduan SRA di Direktorat PSMA, dan Pembuatan Film untuk sosialisasi Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti dalam pelatihan Kurikulum Nasional.

Semoga upaya untuk menjalin kemitraan khas ini terus memperkuat seluruh warga SRA Khazanah SMAN Libels dalam menggiatkan Gerakan SRA di Indonesia.

image

Mari GeMBIRA bersama Keluarga Peduli Pendidikan

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Labschool Bersinar TK-SD Plus Marhas

Kemitraan khas Perkumpulan KerLiP dengan SD Plus Marhas di Kabupaten Bandung mulai terjalin sejak pertama didirikan tahun 2002. Pak Anto dan Bu Komarijah adalah pasangan suami istri yang mendirikan sekolah tersebut dalam dampingan Pak Sandi, sekretaris KerLiP. Tim Litbang KerLiP sepakat memperluas piloting pengembangan konsep Pendidikan Anak Merdeka di SD Hikmah Teladan dengan meminjamkan Bu Syarifah,salah satu kandidat Litbang Perguruan Farul Hikmah untuk menjadi Kepala SD Plus Marhas. Saya beruntung mengenal lebih dekat keluarga peduli pendidikan ini selama tinggal.di Cimahi. Kami membangun kelekatan hubungan kami dalam kegiatan-kegiatan Perkumpulan KerLiP setelah saya pindah ke Jakarta tahun 2005.

Kami menyertakan TK-SD Plus Marhas dalam Peluncuran Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SLBN Cicendo dan Rapat Koordinasi rintisan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat pada bulan Fesember 2015.  Komunikasi kami makin intensif di wa grup Gerakan Sekolah Tamah Anak yang dibuka oleh Asdep PHAAPKB Deputi TKA Kempppa. Alhamdulillah Zakky berkenan mengantar saya untuk menemui Bu Komarijah terkait bantuan yang beliau berikan kepada kami dan rencana pendampingan Labschool Bersinar.

Kit Pembawa Berkah

Penawaran Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemdikbud untuk menyebarkan kit Keluarga Hebat di sekolah mitra masing-masing lembaga membawa berkah tersendiri. Saya mendampingi TK-SD Plus Marhas untuk mengirimkan surat kepada Direktur Bindikel untuk.menjadi bagian dari 5000 sekolah penerima kit tersebut.

“Saya lebih suka menggunakan istilah Keluarga Peduli Pendidikan, Bu, “kata Pak Anto tadi pagi saat kami menyiapkan suratnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya menawarkan mekanisme arisan Buku Bersinar untuk mengajak orang tua/wali peserta didik TK-SD Marhas melengkapi koleksi perpustakaan keluarga dengan ELSI dari Binar dan 15 judul buku dari litara. Sambutan antusias dari Bu Komarijah dan Bu Nenden Kepala SD Plus Marhas menambah keyakinan saya bahwa inisiatif ini menarik untuk dikembangkan.

image