Mengawal Bantuan Sosial PRB di SLB

image

“Pemindahan kegiatan dari Batam ke Pekanbaru dilaksanakan atas instruksi Bu Direktur untuk melihat langsung penerapan Sekolah Aman dari Asap di Riau, “ujar salah satu staf Bu Rena. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Agenda sosialisasi dan lokakarya PANUTAN oleh Dinas Pendidikan Riau sudah diagendakan berkali-kali dan disepakati tanggal 31 Maret sampai 2 April 2016. Saya juga sudah janji untuk mempresentasikan Konsep dan Implementasi Sekolah Darurat dalam Rakor Forum Komunikasi PKLK yang dilaksanakan Subdit Program dan Evaluasi dan memfasilitasi menghasilkan buku kerja Pendidikan PRB di SLB di akhir Maret. Sungguh, nikmat Allah yang mana yang bisa kamu dustakan? Alhamdulillah kegiatan tersebut dilaksanakan di Pekanbaru tanggal 28-31 Maret 2016. Pertemuan dengan Puslitjaknov bersama IGI, FSGI,dan FGII atas prakarsa bu Yendri pada tanggal 28 Maret di Jakarta pun mengawali kesibukan saya dan sahabat KerLiP di minggu terakhir bulan Maret 2016.

Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan

Nurasiah Jamil sebagai bendahara KerLiP menunjukkan komitmen penuh untuk menuntaskan laporan pajak Perkumpulan yang.saya dirikan pada Hari Natal tahun 1999 bersama sahabat-sahabat yang pernah bergiat di KARISMA ITB. Aas juga membantu melengkapi formulir pendaftaran anggota KPB sekaligus pemutakhiran profil KerLiP yang bergiat di PRB pasca gempa tsunami Aceh 2004 lalu. Penyusunan profil hak anak atas pendidikan, kreativitas, dan budaya juga dimulai Aas dengan mengumpulkan data dari jendela pendidikan dan neraca pendidikan. Rencananya hari minggu pagi, kami akan bertemu dengan Joko yang baru pulang dari Jepang untuk membentuk tim penyusun profil yang akan diterbitkan Bu Elvy. Aas juga menyiapkan rencana audiensi kami denvan Dirjen Dikdasmen dan Dirjen PAUDIKMAS.

Secara paralel persiapan school roadshow di Bandung dilaksanakan oleh Bu Ekasari atas permintaan WVI dan Plan dengan dukungan dari Pak Siroj Disdik Kota Bandung. Berikut daftar sekolah yang direkomendasikan akan menjadi peserta sosialisasi Sekolah Aman komprehensif yang diinisiasi Plan bersama UNICEF, WVI, UNESCO, dan Save the Children dengan dukungan penuh dari KPB dan Biro PKLN Setjen Kemendikbud RI.
image

Di tempat lain, Zamzam intens mendampingi Kadisdik Provinsi Riau untuk merevisi Renja Disdik Riau dan menyiapkan Sosialisasi Lokakarya Panutan yang diinisiasi Perkumpulan KerLiP dan Gerakan Indonesia Pintar serta dilaksanakan Bu Dian dari PAUDNI Disdikprov Riau. Kami menghadirkan narasumber eselon 2 dari Kemendikbud, Kempppa, dan Kemensos memperkuat inisiatif pembentukan Sekretariat Bersama untuk mengaktifkan Gugus Tugas Kabupaten/Kota Layak Anak kluster IV dan V di Riau. Inisiatif ini dilaksanakan setelah KPPPA membentuk Forum SRA Nasional yang didukung oleh 13 Kementerian/Lembaga bersama Perkumpulan KerLiP.

Kemitraan khas KerLiP dengan FGII juga memungkinkan persiapan peluncuran Sekolah Bersinar di Makasar dilaksanakan pada saat yang bersamaan. Kami bermaksud menghadirkan Meneg PPPA, Dirjen Dikdasmen Dirjen Pendis, Kepala BNPB dan beberpa eselon 2 di Kempppa Kemdikbud, BNPB, Kemenag, dan Kemensos untuk memulai Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih Sehat, Hijau, Inklusif, Aman, AntiKekerasan, dan Ramah Anak (Bersinar) di Indonesia Timur lalu ke Jabar, Jatim, Lampung, NTB, NTT, Papua, Maluku Utara, Palu, Deli Serdang, Jakarta, Kaltim, Sumbar, Jateng. Upaya untuk mengadvokasi perlindungan dan jaminan sosial serta persiapan pengintegrasian Gerakan Bersinar dalam Kongres FGII terus dilaksanakan Tety Sulastri, bendahara DPP FGII secara profesional.

Kemitraan di KPB

Senang sekali melihat foto pembukaan rakor yang dishare Bang Iskandar di wa grup KPB. Sinergi dengan KPB insya Allah lebih baik melalui kegiatan yang difasilitasi Kemendikbud. Saya memutuskan untuk mengawal kegiatan penyusunan buku kerja ini sampai tuntas. Ternyata Yusra yang baru digantikan Wahyu dari Plan Internasional Indonesia menghadirkan 2 fasilitator nasional sekolah madrasah aman dari bencana yang diangkat BNPB.

Foto-foto di bawah ini saya hadirkan untuk menunjukkan semangat gotong royong yang dilaksanakan multipihak untuk menghadirkan Negara bagi anak-anak yang terpinggirkan.

image

image

image

image

Advertisements

Konsultasi Publik Modul ToT Sekolah Ramah Anak

Seharusnya kegiatan Uji Coba ini difasilitasi Zamzam sebagai penyusun modul ToT SRA untuk 15 K/L. Saya setuju untuk menggantikannya karena agenda ini hanya 1 kali ke Sulawesi Selatan. Keterbatasan anggaran perjalanan Kementerian membuat proses konsultasi publik jadi sangat minim. Alhamdulillah untuk kajian praktis terantisipasi di lapangan. Selain SMAN 29 yang mengajukan untuk didampingi kementerian, ada SMAN 15 Bandung, mitra sekolah pelembagaan GSB MeSRA dari KerLiP mendampingi bansos SRA dari Pemprov Jabar melalui BP3AKB Jabar.

Kegiatan sosialisasi sekaligus pelatihan awal mengenai KHA dan SRA di kedua sekolah tersebut memperkaya dokumen yang sedang disusun KPPPA. Rencananya akan segera terbit Perpres Gerakan SRA, Juknis Penerapan SRA, Modul ToT SRA dan Modul Pelatihan SRA yg terintegrasi kedalam pengembangan kapasitas rutin bagi guru di Kemdikbud. Kami sangat beruntung masih mendapatkan kepercayaan terlibat dalam proses penyusunan kebijakan SRA ini sejak 2011 lalu.

Gerak Cepat Bu Anti

Saya mengenal bu Anti BP3AKB Sulsel sejak membantu bu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak Deputi TKA KPPPA 2011 lalu. Kekaguman saya terhadap bu Anti tak ada habisnya. Setiap kali bertemu selalu ada kemajuan-kemajuan yang luar biasa dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak di Sulawesi Selatan. Bu Anti dengan cerdas menyampaikan paparannya mengenai pokok-pokok permasalahan anak di Sulawesi Selatan.  Berbagai praktik baik terkait SRA yang sudah dilaksanakan lengkap dengan materi pelatihan yang sudah dilaksanakan disampaikan secara spontan di sela-sela diskusi kelompok bersama Kepala BPPKB Makasar.

image

Dukungan penuh dari bu Tenri, Kepala BPPKB Makasar terhadap gerak cepat bu Anti membuat saya dan Mbak Dewi dari KPPPA.makin tertarik. Bu Tenri langsung menindaklanjuti uji coba draft modul ToT SRA yang dilaksanakan bu Anti dengan bu Missi dari BP3AKB Sulsel. Sekolah yang mengirimkan perwakila  dalam kegiatan hari ini langsung dijadikan piloting untuk mewujudkan SRA menuju KLA sebagai pendongkrak Makasar Kota Dunia.

Catatan Penting

Dua kali taksi yang sata tumpangi terjebak macet. Telat ngga ya….khawatir juga dengan kemacetan yang tak terduga. Saya memutuskan untuk bergegas ke bandara setelah selesai memfasilitasi uji coba penyusunan Rencana Aksi Mewujudkan Sekolah Ramah Anak yang disusun oleh peserta. Terlihat pesan Zamzam di Whatsapp mengenai proses Uji Coba di Makasar.

Ada banyak hal yang perlu diperbaiki bersama. Pertama tentang rincian tahap pelatihan dan penyederhanaan penyajian modul dan alokasi waktu yang diperlukan untuk tahap 10 silabus ToT SRA yang disusun Zamzam dari hasil diskusi terfokus bersama 15 K/L.

Peserta yang tidak pernah mengenal SRA sangat sulit untuk mengikuti ToT SRA apalagi langsung ke tahap ini. Paparan pokok-pokok permasalahan anak dan kondisi terkini capaian indikator SRA dari Disdik Provinsi Sulawesi Selatan di sesi pertama tidak cukup menghantar pemikiran peserta pada tahap 10 yang terdiri dari 10 perwakilan Kepala dan Komite Sekolah, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kota Makasar, BPLHD, Kepala BPPKB Makasar dan staf serta BP3AKB Jabar, Koordinator Pengawas dan Disdik Provinsi Makasar.

image

Overview mengenai kebijakan SRA dan moduk secara keseluruhan dilengkapi beberapa praktik baik KerLiP di SMPN 11 Bandung, SMAN 1 Simpang Empat, SMAN 15, Desain Kelas Ramah Anak para juara dalam ArExpo, Sekolah Semi Palar serta fasilitator sebaya dari FAD Jabar mendapat sambutan yang cukup antusias dari peserta. Alhamdulillah disepakati akan dilaksanakan pelatihan Kovenan Hak Anak bagi guru di setiap sekolah yang hadir saat ini sebagai tindak lanjut. Kesediaan bu Anti dan bu Missi untuk mendampingi sekolah dengan 16 materi pelatihan pendidikan anti kekerasan bagi guru dan 2 materi pelatihan parenting bagi orangtua peserta didik langsung ditindaklanjuti Kepala SMPN 11 dan 6, SMAN 1 dan 10 serta 2 kepala SD yang terletak di dekat TPA sampah.

Pekerjaan Rumah Kita

Diskusi menarik mengenai pendidikan inklusi yang didorong bu Missi menunjukkan bahwa sosialisasi mengenai Pendidikan Untuk Semua masih belum.menjangkau banyak pihak. Kehadiran penyandang difable sebagai peserta didik di sekolah yang diselenggatakan pemerintah masih dipandang beban. Jumlah anak-anak difable yang sangat sedikit dipandang merepotkan karena harus menyediakan guru pembimbing khusus dan fasilitas khusus untuk sedikit orang.

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak tanpa keberpihakan kepada anak-anak yang memerlukan pendidikan khusus dan/atau pendidikan layanan khusus menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak difable, korban bencana, anak berhadapan hukum, dan anak telantar lainnya menjadi tanggung jawab negara. Mereka sudah lama terlempar dari sistem pendidikan yang berorientasi pada mutu yang diukur dengan angka tertentu untuk materi pelajaran yang dianggap bergengsi.

Pekerjaan rumah kita adalah memastikan bahwa afirmasi pendidikan bagi anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus ini harus benar-benar terwujud demi kepentingan terbaik anak.

image

Pertemuan Tak Terduga

Saya langsung teringat Pak Yusuf saat mendengar piloting sekolah berwawasan gender yang disampaikan Wakahumas salah satu sekolah yang hadir dalam kegiatan tersebut.  Kabarnya UNICEF yang menginisiasi namun tidak ada keberlanjutannya. Bu Missi menjelaskan bahwa Gerakan Sekolah Ramah Anak ini berupaya memastikan  semua praktik baik di sekolah menjadi titik awal. Dalam perkembangannya, saya, bu Missi dan bu Anti sepakat bahwa Sekolah Ramah Anak minimal memiliki kebijakan anti kekerasan dengan mekanisme pengaduan yang partisipatif dan pelatihan KHA bagi guru.

Sungguh tak terduga ketika tiba di bandara saya melihat pak Yusuf sedang bergegas mencari loket Garuda. Dan lebih uniknya lagi ternyata kami duduk di kursi dalam deretan nomor 22, saya 22 K dan Pak Yusuf 22 H. Pak Yusuf adalah widyaiswara Kemdagri yang bekerjasama dengan saya membantu bu Ninin dalan penyusunan Pedoman Pendidikan Ramah Anak. Saat itu Pak Yusuf sedang menuntaskan Sekolah berwawasan Gender sedangkan saya sedang melaksanakan piloting penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana. Kami sempat bertukar cerita sejenak sebelum kembali ke tempat tinggal masing-masing setiba di Jakarta.