Menyimak Prof Arif dalam Diskusi Kawal Sekolah Aman-Anti Kekerasan

Sudah lama kami tidak duduk berhadapan seperti ini. “Alhamdulillah, inisiatif sekolah aman meluas ke anti kekerasan ya Prof, “sapa saya sambil mengiringi beliau duduk di kursi depan. Ingatan saya melayang ke akhir tahun 2010 ketika kami bertemu di ruang Wamendiknas. “Pak Fasli sudah benar, mengundang Mbak Yanti dari Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana. Saya Dewan Pengarah Planas PRB,”ujar Prof Arif menanggapi salah satu wakil Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) yang segera memperkenalkan Ninil sebagai wakil KPB ketika Pak Fasli meminta saya menyampaikan beberapa hap terkait strategi nasional pengarusutamaan PRB di sekolah.

Saat-saat indah mengawal sekolah/madrasah aman dari bencana bersama Pak Fasli Jalal yang membuka pintu silaturahmi dengan para pejabat publik takkan pernah terlupakan. Saya sepakat dengan anggota presidium KPB lainnya untuk mengawal sekolah aman setelah diluncurkan oleh Wamendiknas bersama Kepala BNPB, Menkokesra, Menkes difasilitasi Planas PRB pada tanggal 29 Juli 2010. Pertemuan yang diinisiasi SCDRR bersama Balitbangdiknas pada akhir 2010 tersebit dijalin dengan kemitraan khas Perkumpulan KerLiP dengan Wamendiknas yang saat itu dijabat Pak Fasli. Setelah pertemuan tersebut saya berkomitmen untuk memperkuat basis KerLiP di Jawa Barat. Apalagi pada tanggal 7 Agustus 2010, Presiden didampingi Kepala BNPB, Mendikbud, Gubernur Jabar memperkuat komitmen Pak Asep Hilman, Kabid Dikmen yang kini menjadi Kepala Disdik Jabaruntuk memastikan 1.374 SMK di Jawa Barat menjadi rujukan Sekolah Aman. 

Yes For Safer School Initiatives (YESSI)

Paparan Prof Arif yang berjudul Sekolah Aman Anti Kekerasan (Sekolah Ramah Anak) menjawab itikad kami untuk mengawal sekolah aman terintegrasi ke dalam Gerakan Sekolah Ramah Anak bersama praktik-praktik baik Sekolah Bersih dan Sehat, Adiwiyata, Hijau, Inklusif, Layak Anak, CFS, CLASSE, Pesantren Ramah Anak, Pendidikan Anak Merdeka, Rumah KerLiP, Qoriyah Thoyibahn Sekolah Siaga Bencana. Fitry dari Green SMile Inc mengemasnya dalam YESSI menggantikan istilah GERASHIAGA Gerakan aman, sehat, hijau,  idaman anak dan keluarga.

image
image

Kawal sekolah aman-anti kekerasan yang diatur dalam Permendikbud No 82 tahun 2015 dipresentasikan Direktur PSMP yang membagikan buku biru yang disusun saat kami berkoordinasi dengan Ditjen Dikdasmen menyiapkan draft Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak, Modul ToT SRA, Juknis SRA, dan Modul untuk diintegrasikan ke dalam Agenda Rutin Pelatihan Guru  oleh Kemendikbud.

image

image

image

Semangat Advokasi Prof Arif

Mas Chozin, staf khusus Mendikbud, moderator diskusi, mempersilakan Prof Arif untuk presentasi di depan. “Saya akan memulai presentasi ini untuk mengingatkan kembali kondisi yang mendorong kekerasan terhadap anak di sekolah, “kata Prof Arif sambil menulis di kertas plano.

image

Perubahan nilai tradisional yang menjadi ciri khas Nusantara, budaya materialisme yang mengubah keseharian kita menjadi materi pembahasan beliau setelah menunjukkan UN sebagai bukti bullying oleh Kemendikbud ketika menjadi penentu kelulusan. Prof Arif menyampaikan bahwa dalam mengawal sekolah aman anti kekerasan ini ada 4 tahap yang umum di pendidikan, yakni:
1. Informatif – sosialisasi
2. Edukasi
3. Rehabilitatif
4. Represif

Prof Arif juga menyampaikan keprihatinnya mengenai ketertinggalan program-program kebudayaan dan olah raga dalam Sistem Pendidikan Nasional. Kebudayaan adalah pengemudi kehidupan bangsa, enable and driver for sustainable development. Beliau meminta guru- dan kepala sekolah untum mengubah tatib menjadi lebih positif. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sebaiknya membentuk tim untuk mereview tata tertib yang disepakati di sekolah. “Terlalu banyak kasus pendidikan yang tidak disapa PGRI, “kata Prof Arif sebelum menutup presentasinya denga  menunjukkan indikator Sekolah Ramah Anak dari UNICEF.

image

image

image

Advertisements