Riau Menuju Panutan

image

Kehadiran Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemdikbud RI menandai dimulainya Gerakan PANUTAN di Provinsi Riau. Istilah PANUTAN adalah ide Bu Ekasari dalam perjalanan pulang ke Bandung setelah mengikuti kegiatan yang dilaksanakan Direktorat Bindikel yang baru dibuka Mendikbud, Mas Anies Baswedan. Saya meminta Bu Sari untuk menunjukkan praktik-praktik baik pengasuhan di keluarganya yang mendorong kesadaran kritis 2 putrinya menjadi aktivis Forum Anak di Kota Bandung dan Jawa Barat dalam pertemuan Bindikel.atas nama KerLiP.

Awalnya istilah Panutan adalah akronim dari Pendidikan Anak Merdeka, Bermutu dan Bebas Pungutan. Visi sekaligus aksi yang menjadi penanda baru dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Secara khusus kami ingin menunjukkan dukungan penuh kepada guru dan tenaga kependidikan untuk menjadi Guru Panutan. Secara umum terbersit harapan kami akan terselenggaranya Wajib Belajar 12 Tahun Bebas Pungutan yang dijanjikan Pemerintahan Jokowi-JK

Pak Kamsol Memulai Panutan di Riau

Perjalanan panjang KerLiP melakukan kampanye dan advokasi Pemenuhan Hak Hidup Bermartabat terutama Hak Atas Pendidikan dan Perlindungan Hak-Hak Anak menghubungkan kami dengan Dinas Pendidikan Provinsi Riau melalui Gerakan Indonesia Pintar. “Bu Yanti ini rekan lama saya di Rumah Transisi yang selalu siap berdiskusi sampai dini hari bersama para profesional dan relawan yang peduli pendidikan dan menggiatkan GIP setelah Pak Jokowi dilantik menjadi Presiden, “jelas Pak Kamsol dalam pembukaan Sosialisasi Lokakarya dan Orientasi PANUTAN tanggal 31 Maret 2016 malam.

image

Pak Kamsol adalah salah satu relawan pendukung setia Pak Jokowi dari unsur Jo-Man yang merumuskan pembumian Nawacita melalui perbaikan pendidikan sesuai RPJPN ketiga, Memperkuat Daya Saing Regional. Doktor lulusan Universitas Malang ini membukukan Disertasinya terkait ekonomi pendidikan di era otonomi daerah. Pak Kamsol intensif memfasilitasi relawan-relawan lainnya yang dulu bertemu dan bekerja di Pokja Pendidikan seperti Dr. Imam Nashrudin yang kini menjadi Eselon 1a sebagai anggota BRTI Kemkominfo, Alpha Amirrachman, PhD dosen Untirta ahli antropologi pendidikan yang menggiatkan Religion for Peace bersama Prof Dien Samsudin di CDCC, Feber Suhendra, M.Sc dan saya melembagakan Gerakan Indonesia Pintar. Jamjam Muzaky, Master Kebijakan Publik yang tumbuh bersama saya di Perkumpulan KerLiP menjadi wakil Sekjen GIP yang dapat diandalkan Pak Kamsol untuk merumuskan Renja Disdikprov Riau dan menyiapkan acara yang diikuti perwakilan 12 Kabupaten/Kota se-provinsi Riau.

Bu Dian yang membantu Bu Dewi Kabid PAUDNI Disdikprov Riau intensif menghubungi kami untuk memastikan KerLiP dan GIP bersama narasumber dari Kemdikbud, Kemensos, Kempppa, hadir memfasilitasi acara yang doikuti 298 peserta dari Bappeda, Disdik, Dinkes, BP3AKB, Dinsos, Dewan Pendidikan, Tampan, Forum Anak, Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan dari setiap Kab/kota dan provinsi Riau. Acara dibuka dengan tarian sekapur sirih yang menawan hati

image

Ada 5 kabupaten di Riau yang dipandang sudah memulai PANUTAN dengan memberikan Bosda ke semua sekolah dan honorarium bagi guru non PNS. Siak, Bengkalis, Pelalawan, Kampar, dan Dumai. Kelima Kabupaten ini membuat Riau layak menjadi inisiator gerakan Panutan. Apalagi Pak Kamsol sebagai Kepala Dinas Pendidikan berhasil menggalang ratusan relawan dari Perguruan Tinggi untuk memulai Gerakan Indonesia Pintar dengan membuka Tampan, Taman Pendidikan Anak Negeri. Ketidakhadiran Direktur K3S Kemensos dan Direktur Pembinaan PKLK Kemendikbud kami alihkan untuk menunjukkan inisiatif Tampan melalui testimoni ketianya dan anak-anak binaannya yang hebat. Pak Adolf, Ridlo dkk dari Tampan menunjukkan bahwa Riau siap menuju Panutan.

Sesi Menarik

Tampan disajikan melengkapi fasilitasi atraktif dari Guru Profesional dari SMAN 24 Jakarta yang juga Bendahara FGII, Ibu Tety Sulastri. Pada sesi tersebut keduanya memukau peserta dengan kekhasan masing-masing. Pengelolaan kelas yang profesional dan partisipatif berhasil disajikan dalam praktik oleh Bu Tety. Peserta yang berasal dari Dewan Pendidikan Riau akhirnya dapat menyampaikan kekecewaannya pada sesi ini. Ada polisi yang begitu hormat pada guru dan tak segan menyampaikan ragam laporan kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak di sekolah. Pertanyaan dari Forum Anak dijawab Kepala SD yang hadir dengan penuh semangat.

image

Testimoni Ridho, anak putus sekolah dari SMK.yang sudah bekerja dan bersiap mengikuti UNBK bersama peserta didik Tampan lainnya membuat saya terharu dan bangga. Gerakan Indonesia Pintar yang diinisiasi relawan Tampan berhasil menjangkau ratusan anak putus sekolah di Pekanbaru. Pak Adolf berkali-kali menawarkan kepada para peserta yang berminat untuk mengembangkan Tampan di Kota/Kabupaten masing-masing.

image

Sesi menarik ini sengaja saya tuliskan di awal catatan proses sosialisasi dan orientasi untuk menunjukkan Riau siap.menerapkan Panutan.

Bersambung…

Sekolah Kecil Anak Merdeka

Tahun baru jadi awal baru bagi anak-anak yang bermain dan belajar bersama teman sebaya di Sekolah KecilQ BKB KerLiP. Kakak Dina, Ksatria, dan Yunika dari SeKAM (Sekolah Kecil Anak Merdeka) menerima amanah untuk mengelola Bina Keluarga Balita KerLiP yang dibuka oleh Iwang pada awal tahun 2015.

Perpustakaan KerLiP Bersinar yang dibuka di Dago Barat pun jadi haneuteun semarak dengan kegembiraan Rayyan dan teman-teman sebayanya. Ya, mulai Januari 2016, BKBKerLiP dilaksanakan di rumah Abah tempat Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan didirikan. Mendekatkan layanan kepada mitra keluarga peduli pendidikan di wilayah tempat kami dibesarkan memiliki tantangan tersendiri. Alhamdulillah ada manfaat lain. Warung Wa Dede pun jadi ramai pembeli. Rumah di sudut gang buntu belakang Masjid yang didirikan Pak Moedjo ini menjadi saksi bisu tumbuh kembang kami sekeluarga.

IMG-20160112-WA0021[1]

 

Kakak Guru

Para pendiri SeKAM adalah mahasiswa STKS yang bergabung menjadi relawan KerLiP. Aksi-aksi nyata mereka sangat membantu dalam proses penanganan kasus anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus. SeKAM terbentuk untuk memastikan anak jalanan dan para penyintas anak yang putus sekplah dan terancam putus sekolah kembali dapat menikmati indahnya bermain, belajar,dan mengembangkan minat,bakat, dan kemampuan bersama teman sebaya.

“7 keluarga bu, 8 anak, “jawab Dina  ketika saya menanyakan jumlah anak dan keluarga yang jadir dalam pertemuan perdana BKB KerLiP di Perpustakaan KerLiP Bersinar. Dina mengajak Ksatria dan telan-telan SeKAM untuk mendidik anak-anak usia dini ini tumbuh kembang mandiri. “Ibu-ibunya keukeuh ingin setor uang kas belajar Rp 2.000/hari, “Pinti,bunda Rayyan menjelaskan operasional BKB KerLiP ini. “Ya sudah, dikelola dengan baik ya. Mungkin seperti kas Jum’atan, diumumkan setiap pertemuan, “ujar saya merespon penjelasannya.

Mudah-mudahan BKB KerLiP ini tumbuh dalam pengelolaan kakak-kakak guru dari  SeKAM  yang luar biasa. Ucapan syukur yang saya terima tadi pagi dari mamahnya Rayyan, “Terima kasih Kakak, hari ini kami belajar gerakan pungut sampah di sekitar rumah, ” rasanya cukup mewakili.

Alhamdulillah.

Catatan Ksatria: Memulai SLB Bersinar di SLB Baleendah

08 januari 2015, Saya (satria) bersama Dina melakukan kegiatan pertama SLB BERSINAR di SLB Baleendah yakni pertemuan awal dengan pihak sekolah dan adik-adik di SLB-G YBMU Baleendah. Sesampainya di sekolah, kami di sambut dengan sangat ramah oleh adik-adik dan kami bingung dimana ruangannya Bu Uus (kepsek SLB Baleendah).  Namun saking ramahnya adik-adik, kami diantarkan ke ruangan Bu Uus. Ada juga adik yang memanggil Bu Uus dari lantai dua gedung sekolahan. Selanjutnya bertemulah kami dengan Bu Uus.

SLB G

Saat kami akan memulai perbincangan, tiba-tiba ada dua adik-adik dari SLB masuk ke ruangan Bu Uus. Mereka  bertanya-tanya tentang kami berdua mulai dari kampus mana, rumahnya dimana dan di SLB mau ngapain. Salah satu adik ada yang ingin bernyanyi dan saat kami ijinkan untuk bernyanyi adik tersebut meyanyikan lagunya “ayu ting-ting_sambal lado”. Dia bernyanyi dengan energiknya sampai dihentikan oleh Bu Uus untuk memulai obrolan dengan kami. Jika banyak orang yang datang,  biasanya adik-adik langsung berkumpul menginginkan kue atau permen karena menurut mereka ada tamu berarti ada kue.

SLB G 1

Selanjutnya oleh Bu Uus kami diarahkan untuk bertemu Pak Daus untuk membahas siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB-Bersinar. Siswa secara keseluruhan sebanyak 64 siswa terdiri dari 42 SD, 13 SMP dan 9 SMA dengan 4 golongan grahita netra, rungu, grahita dan daksa. Di SLB ini tidak ada pendamping melainkan yang ada hanya guru kelas. Kelas dibedakan menurut golongan disabilitas.  Tidak ada guru per mata pelajaran juga. Siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB Bersinar ada 26 siswa terdiri dari 8 siswa golongan A, 12 siswa golongan B, 10 siswa golongan C dan 1 siswa golongan D. Kegiatan akan dilakukan tiap hari Sabtu pagi dan dilanjtukan pada tanggal 16 Januari 2015.

Kegiatan ke 2

16 Januari 2016, pukul 09.15 WIB saya dan teh Fitri, telat lima belas menit dari waktu perjanjian untuk pelaksanaan kegiatan. Sesampainya di SLB kami bertemu dengan Bu Uus dan langsung di arahkan ke ruangan tempat berkumpulnya adik-adik. Tidak disangka-sangka, saya dan teh Fitri sangat ditunggu dan disambut dengan sangat meriah oleh adik-adik. Di awal kami berkenalan dengan adik-adik dan memulai dengan bertanya tentang bencana “ada yang tahu apa itu bencana ?” adik-adik dengan semangatnya langsung angkat tangan mau maju ke depan bercerita apa itu bencana. Adik Farhan langsung maju dan bercerita tentang rumahnya yang sering kebanjiran, “kalau rumah kebanjiran langsung bantuin orang tua angkatin barang-barang ke atas dan barang-barang Farhan juga angkat ke atas”.

SLB G 6

Selanjutnya kami mengelompokan adik-adik dalam kegiatan ini, yakni adik-adik yang disabilitas netra dibimbing dengan teh Fitri bernyanyi “kalau ada gempa” dan mendengarkan cerita mengenai bencana apa saja yang pernah adik-adik alami, sedangkan adik-adik yang disabilitas rungu, grahita dan daksa dibimbing oleh saya (Satria) menggambar mengenai apa itu bencana. Ada yang menggambar angin tornado yang sangat bagus dari adik Wildan (disabilitas rungu) dan ternyata dia juga juara menggambar tingkat kabupaten. Wildan akan mengikuti perlombaan menggambar SLB tingkat Jabar pada bulan Februari.  Ada juga yang menggambar gunung meletus, banjir dan rumah yang hancur. Tidak lama kemudian bu Nia dan Sahlan datang. Keduanya sangat membantu dalam proses kegiatan dengan pengalaman yang sudah teruji ketika di SMP 11 Bandung

SLB G 7

Saat adik-adik yang lainnya belajar bernyanyi “kalau ada gempa” yang dipandu oleh Nisa (disabilitas netra), ada yang saya lihat, yakni adik-adik disabilitas rungu yang tidak bisa mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-teman yang lainnya. Lalu saya menghampiri mereka dan mulai bertanya apakah mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Adik-adik itu pun menjawab tidak mengerti. Akhirnya saya mencoba dengan cara gerak tubuh yang saya pahami untuk berbicara sampai adik-adik tersebut paham dengan apa yang dimaksud dalam lagu tersebut. Saya mulai dengan berbicara dengan gerak bibir yang dipelankan, gerak tubuh lindungi kepala jauhilah kaca, menulis di hp, memberikan contoh dengan gambar-gambar yang ada di buku dan foto-foto bencana yang ada di internet. Terlihat adik-adik sangat ingin mengerti apa yang saya maksudkan. Mereka pun memberikan informasi antar teman satu sama lain yang sudah mengerti.

Ketika dengan adik-adik yang disabilitas runggu saya mendapatkan hal yang sangat berharga yakni bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan adik-adik dan untuk memberikan mereka pemahaman sampai tidak ada kesalahpahaman antar apa yang saya maksud dengan apa yang mereka tangkap dan memiliki tekad yang kuat untuk belajar lagi berbicara bahasa isyarat.

Dan terakhir kegiatan hari ini ditutup dengan cerita adik-adik dari hasil gambar yang dibuat dan cerita dari nisa tentang banjir yang pernah dialami dirumahnya. Adik-adik sangat antusias saat diminta untuk maju siapa yang ingin bercerita.  Akhirnya  kami pun memilih adik-adik yang maju,  mulai dari Nisa yang menceritakan pengalamannya ketika banjir di rumahnya. Nisa harus menyelamatkan diri dari banjir dan menyelamatkan barang-barang.  Cerita dari Nauval dengan gaya pak Ustadz berceramah membawa suasana menjadi asyik. Adik-adik fokus mendengarkan cerita Nauval tentang banjir juga kisahnya saat ingin berangkat sekolah meskipun banjir belum surut. Menurut Nauval  banjir tersebut berasal dari hujan yang tidak berhenti sejak malam sebelumnya.

SLB G 8

Minggu depan tanggal 23 kami akan berkegiatan lagi di SLB-G Baleendah dengan agenda transektor yang akan dibantu juga oleh adik-adik dari SMP Negeri 11 Bandung dan kakak-kakak dari SeKAM.

OPeRA Sahabat KerLiP di Akhir Pekan

Kabar GeMBIRA dari SeKAM

[10/01 16:05] Ksatria Stks: Satria sedang diskusi dengan save the children terkait pelatihan yg akan dilaksanakan untuk anak2 putus sekolah dan anak yg merjinal lainnya di kota Bandung

[10/01 16:12] Ksatria Stks: Pelatihannya rencananya akan di adakan selama 3 bulan mencakup: 1. Life skills training. 2. Vocational training 3. Kewirausahaan. Dari ke 3 tsb sasaran diminta untuk memilih 1 pilihan antara 2 & 3. Sedangkan life skills wajib

[10/01 16:14] Zamzam Muzaki SM: Life skill nya apa?

[10/01 16:21] Ksatria Stks: Motivation class, menganalisis kebutuhan diri, dan proses pembelajaran membuat cv dan wawancara kerja

Gerakan Indonesia Pintar (GIP) TamPAN Riau

[07/01 21:55] Haryono Orang Laut: Rapat materi ajar tampan untuk kelas ajar perdana 9 dan 10 januari.

[07/01 21:56] yanti kerlip: Keren

[07/01 21:57] Haryono Orang Laut: Materi
Hari 1. Gotong Royong.
Hari 2. Wawasan kebangsaan

[07/01 21:57] yanti kerlip: Saran nih: Peduli diri dulu

[07/01 21:58] yanti kerlip: Zamzam ada satuan pembelajaran yg dulu disusun untuk ABH

[07/01 21:59] yanti kerlip: Saya dan bu Nia fasilitasi Kawah Kepemimpinan Pelajar3 jam

[07/01 21:59] yanti kerlip: Kita ajak anak2 ADEM papua untuk membuat book of me

[07/01 21:59] yanti kerlip: Mengenal Mandala diri, Iklan Diri, Dreams board

[07/01 22:00] yanti kerlip: Materi ini kita jadikan modul di Pendidikan Layanan Khusus untuk penyintas anak di SMAN 1 Simpang Empat Tanah Karo

[07/01 22:01] Haryono Orang Laut: Wah,,,keren,,,izin adopsi ya kak.

[07/01 22:01] yanti kerlip: Silakan

[07/01 22:05] yanti kerlip: Dikelompokkan
Diminta gambar lingkaran
Bagi empat 4 untuk membantu setiap anak dapat menemukan potensi dirinya:

1. Ceritakan tentang lagu yang sangat menginspirasi kalian dan menggambarkan perasaan kalian saat ini.

2. Ceritakan hal sangat membanggakan kalian dalam 6 bulam terakhir tetapi bukan prestasi akademik maupun tentang kejuaraan.

3. Ceritakan tentang keinginanmu yang sampai hari ini belum tercapai.

4. Ceritakan tentang rencana kalian dalam 6 bulan kedepan, baik sebagai peserta didik Tampan

[07/01 22:10] Haryono Orang Laut: Ok. Klop kak yanti.

[07/01 22:32] Rizki Saputra: Wah..mantap juga tu usulan kak yanti, speertiny hri pertama semua relawan yg bertugas mesti menggali potensi siswa dulu…

[07/01 22:34] yanti kerlip: 1 siklus antara 3-6 jam tergantung peserta
[07/01 22:36] yanti kerlip: Setiap bagian 2 menit/orang dan bergantian. Jika 5 orang/kelompok = 2 mnt x 5 org x 4 bag= 40 menit
[07/01 22:37] yanti kerlip: Susun iklan diri 15 menit
Susun dreams board dari 3 potensi terpilih 45.menit
[07/01 22:37] yanti kerlip: Presentasi 5 menit/orang
[07/01 22:38] yanti kerlip: 30 orang/kelas  = 150 menit
[07/01 22:40] yanti kerlip: Susun narasi 20 menit: total 4,5 jam

[07/01 22:41] yanti kerlip: Alat dan bahan
1. Majalah/koran bekas
2. Gunting
3. Lem
4. Spidol
5. Buku gambar keci
6. Recorder/video cam
7. Mikrofon

[07/01 22:50] yanti kerlip: MANFAATKAN Potensimu (vision board)
Pilih gambar/huruf/kalimat dair majalah/koran bekas, gunting dan tempel dengan alur
awal:
1. apa yang akan dilakukan?
2. potensi apa saja yang akan mendukung?
3. Bantuan apa yang diperlukan?

berproses:
1. akan dilakukan dimana?
2. apa saja yang bisa dilakukan?
3. siapa saja yang akan melakukannya?
4. kapan harus dilakukannya?

hasil:
1. berapa lama dapat dicapainya?
2. Prediksi hambatan?
apa solusinya?
3. Target akhirnya berupa apa?

[07/01 23:39] Imam Indosat: Mbak Yanti emang keren…selalu menginspirasi! Benar2 pejuang pendidikan…

[07/01 23:41] yanti kerlip: Alhamdulillah…mudah2an bermanfaat ya

[08/01 00:57] Zamzam Muzaki SM: Mantaaaap

Praktik Baik Zamzam dengan ABH

[08/01 05:52] Zamzam Muzaki SM: Saat mendampingi anak2 ABH, bikin peta hidup sbg dasar utk pengembangan softskill dan hardskill anak. Pelaksanaan dari peta hidup mirip2 yang bu yanti sampaikan cuma menggunakan games, dan wawancara dengan pendekatan apresiatif inquiry

[08/01 05:53] Zamzam Muzaki SM: Hasilnya adalah peta hidup yang menunjukan siapa diri anak dan nilai-nilai serta pengalaman apa yang selama ini sudah berjalan baik

[08/01 05:57] Zamzam Muzaki SM: Dilanjut dengan pemetaan minat dan bakat, karena kami sepakat proses selanjutnya adalah pendidikan softskill melalui media ekspresi sesuai dengan minat bakat anak melalui musik, kriya, drama, sastra dan literasi dasar.

[08/01 06:01] Zamzam Muzaki SM: Muncul literasi dasar karena banyak ABH yg belum bisa baca tulis hitung meski usia sudah belasan tahun, ini dilakukan krn penekanan kami pada pengembangan softskill utk mengeluarkan mereka dari stigma negatif agar tumbuh semangat, kepercayaan diri dan optimisme anak bahwa mereka masih dapat bermimpi dan kehidupan mereka ke depan akan mereka usahakan utk mewujudkan mimpi2.

[08/01 06:10] Zamzam Muzaki SM: Proses pengembangan softskill melalui media ekspresi mengikuti pola 4D (discovery, dreaming, design dan delivery/destiny) sehingga saat mereka keluar dari penjara, anak-anak2 sudah memiliki spirit positif, mimpi dan langkah2 nyata dalam mewujudkan mimpi mereka. Apresiatif inquiry dilakukan utk muncul perubahan pisitif dalam diri anak. Pengembangannya berbeda kalau nanti arah pengembangannya pada pendidikan kesetaraan (paket A, B, C) atau pengembangan sekolah terbuka, sekolah kecil dst.
[08/01 06:13] Zamzam Muzaki SM: Pekanbaru kalau gak salah menjadi percontohan juga utk pengembangan LPSA/LKSA utk pendidikan anak2 yang berkonflik dengan hukum

Praktik baik Tampan Riau

[08/01 06:28] Rizki Saputra: Betul mas zam zam..untuk di Pekanbaru ini 2 bulan pertama ini kita coba menggali potensi diri anak, yang pada akhirnya nanti kita dapat menginventrisir bakat dan minat anak sehingga memudahkan kita dalam pembimbingan sofskillnya….

[08/01 06:30] Tampan Miko: Pola2 yg dari mbak yanti “mandala diri”.., jg perlu di adopsi tu pak sekjen..

[08/01 06:35] Rizki Saputra: Betul bang mik, jika sofskill sudah terbimbing dg baik potensi anak sudah tergali, maka pembimbingan hardskillny jadi semakin lebih mantap..

[08/01 06:40] Rizki Saputra: Sambil berjalan nanti, kompetensi para relawan juga harus kita kembangkan supaya meiliki persepsi yang sama terkait pendekatan pembimbingan yang akan kita terapakan….

[08/01 06:44] Rizki Saputra: Untuk relawan yang akan bekerja minggu ini, semua sudah kami infokan dan diskusikan secara umum pada rapat tadi malm agar dalam pembimbingan bisa menerapkan pendekatan dan metode sbagaimana yang kak yanti dan mas zam ceritakan di atas, semog bisa terlaksana…

[08/01 06:47] Rizki Saputra: Pada angkatan pertama ini sepertinya kita sambil berjalan sambil menemukan pola yang cocok dg karateristik peserta didik tampan supa proses pembimbingan juga enjoy full learning and teaching by doing….

[08/01 07:07] yanti kerlip: Alhamdulillah…jum’at barokah untuk semua anak bangsa dan kita…insya Allah

[08/01 07:16] Zamzam Muzaki SM: Alhamdulillah, insyaallah lancar dan sukses… saluuut💪💪

[08/01 20:19] Haryono Orang Laut: Besok Mulai Sekolah Tampan Perdana,,,,Deg…deg..an seperti saya yg mau masuk sekolah,,,perasaan senang ini sama ketika saya mau masuk SD kelas 1 (catatan orang laut masa saya tak pakai TK)

[08/01 20:25] Rizki Saputra: Mmm…besok kita akan berbaur dg adek2 siswa tampan generasi muda penerus bangsa..

[09/01 02:13] Zamzam Muzaki SM: Semoga suksees kelas pertama nya

[09/01 04:20] yanti kerlip: Selamat belajar bersama anak-anak negeri tercinta

[09/01 07:34] Rizki Saputra: 👍👍

[09/01 07:41] Tampan Miko: Selamat bertugas temen2 relawan tampan.., saya yakin Dan percaya.., sekecil apapun kita berbuat kebaikan.., insha Allah.., Allah SWT akan membalas nya dengan sebuah kebaikan.., mari kita Bantu anak bangsa yg membutuhkan layanan pendidikan, khususnya “anak putus sekolah”. Bravo tampan riau..✊🏻✊🏻👍
[09/01 08:27] Zamzam Muzaki SM: Mantaap TAMPAN riau semakin tampan 👍👍💪💪

[09/01 08:29] Rizki Saputra: Pak yon, jangan lupa nanti kegiatan pembimbingan hari ini di kedua kelas kampus panam didokumentasikan ketua..

[09/01 08:57] Haryono Orang Laut: Hari ini saya pergi beli sarapan berjumpa dg seorang anak bernama Aziz
Dengan lesu berjalan sambil membawa raport ditangan.
Saya panggil.
Saya : Azis, sini lihat rapornya.
Sambil berjalan kearah saya dan menyerahkan rapornya.
Saya baca ternyata nilainya tdk begiti buruk.
Saya : Azis kamu ranking 28 dari 35 siswa. Kamu hebat.
Saya lalu menepuk pipi imut anak kelas 1 SD tsb.
Dengan muka berkaca dia kembali bangkit dan melompat pulang kerumah sambil berteriak…
Azis : hore,,,saya ranking 28.
Menurut saya anak tidak peduli angka rapor, ia hanya butuh kepedulian dari kita.
Sampai jumpa di masa depan azis dan sayapun berlalu.

Rencana Aksi SLB Bersinar di SLBN Baleendah

Ksatria adalah mahasiswa sahabat KerLiP yang merintis dan mengembangkan Pojok Sahabat Anak bersama Naretta dari Forum Anak Kota Bandung dan SeKolah Kecil Anak Merdeka (SeKAM) bersama Dina, Alda, dan Yurika dari STKS. Komitmen Ksatria dan kawan-kawan untuk menggiatkan Gerakan Indonesia Pintar bersama Raka Pare dan kegemaran belajarnya tumbuh bersama sahabat-sahabat KerLiP lainnya.

Kompetensi Ksatria tak perlu diragukan. Ia lolos seleksi peserta Front Liner Responder Trainer dan ToT Sistem Perlindungan Anak yang diselenggarakan UNICEF dan mitra. Kesungguhannya mendampingi penyintas korban kekerasan di sekolah menjadi inspirasi kegiatan Gembira di Sekolah yang berhasil mendapat dukungan kitabisa.com. Ksatria juga menjadi anggota tim Alor yang dipimpin Aas dan menjangkau satu-satunya SLB disana untuk memulai SLB Bersinar.

Kelompok Kecil

Rencana pendampingan Ksatria di SLBN Baleendah sudah didiskusikan bersama kepala sekolah dalam Seminar di SLBN Cicendo dan berlanjut dalam Rakor Pembentukan Sekber PHPA. Ksatria akan melakukan assesment pada tanggal 4 Januari 2016.
image

Ksatria semula bergabung dengan Semesta Hati dan SLBN Citeureup Cimahi dalam sesi penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar. Saya meminta Ksatria untuk membentuk kelompok kecil bersama Fitry dan Allisa yang sedang asyik diskusi di luar ruangan.

image

Sungguh menggembirakan mendengar Allisa terinspirasi untuk mengajak teman-teman dan gurunya di SMPN 35 menerapkan Sekolah Bersinar dalam diskusi di kelompok kecil tersebut. Allisa mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil ini dengan pengantar dari Fitry dan penguatan oleh Ksatria.

image

image

image

image

4 Langkah Persiapan SLB Bersinar

Konsultasi Anak merupakan gerbang menuju Sekolah Ramah Anak. Hak anak untuk berpartisipasi didengarkan dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu prinsip yang menjadikan gerakan sekolah berprogram khas menuju Sekolah Ramah Anak. Empat langkah persiapan SLB Bersinar disusun berdasarkan praktik baik pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MeSRA) di SMPN 11 Bandung.

image

Langkah Pertama: Latihan #YES4SaferSchool

Youth Evacuation Simulation atau YES for Safer School merupakan inisiatif sobat muda pendiri Green SMile Inc. Guru pendamping diharapkan menerjemahkan langkah-langkah dalam brosur #YES4SaferSchool dalam praktik pendampingan berikut:

1. Cara Asyik Cari Tahu (CACT)

Kesepakatan waktu dan Ketua Tim sebagai bentuk komitmen awal anak bersama fasilitator. Perwakilan anak dari OSIS SMPN 11 Bandung berkomitmen menginvestasikan waktu 1 jam pendampingan untuk melakukan CACT. Kamil terpilih menjadi pemimpin. Ia memastikan observasi lapangan selama 15 menit agar semua tim menyelesaikan CACT Titik Kumpul Aman dalam waktu 1 jam. Setiap tim berhasil membuat denah sekolah yang sederhana dilengkapi rambu-rambu evakuasi dan foto-foto kegiatan saat melakukan observasi sekolah. Hampir semua anak merasakan manfaat dari kegiatan dengan mendapat ilmu baru yang sangat penting dan tentu saja menyenangkan.

Setelah fasilitator memberi dukungan 101% untuk menemukan momentum dalam CACT 1, maka nilai momentum tersebut dimaksimalkan pada CACT 2.

Bu Nia, guru pemdamping GSB MeSRA SMPN 11 menggunakan pendekatan “T R U S T” dalam CACT 2

Time (waktu)
Luangkan waktu untuk mendengar dan merespon CACT tiap kelompok.

Respect (rasa hormat)
Hormati pendapat anak dari hasil CACT tiap kelompok, karena tidak ada temuan yang sia-sia.

Unconditinal Positive Regard (Penerimaan yang tulus)
Tunjukkan sikap penerimaan dan berpikir positif.

Sensitivity (Sensitivitas)
Peka terhadap perasaan dan kebutuhan.

Touch (Motivasi)
Memberikan motivasi melalui jabat tangan, tepukan di punggung atau bahkan pelukan sayang.

Catatan penting Bu Nia pada tahap CACT:

a. Karena fokus pendampingan dilakukan setelah pulang sekolah dengan memanfaatkan waktu luang menjadi berdaya. Kebetulan kesepakatan waktunya hanya 1 jam setelah pulang sekolah. Dan ternyata CACT tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka fasilitator membuatnya dalam beberapa tahap CACT. Antara CACT 1 dan 2 sebaiknya dilakukan refleksi agar bisa bersama-sama anak melakukan evaluasi dan menemukan solusi perbaikan.

b. Banyak temuan menarik dalam tahap CACT ini. Pelatihan CACT untuk guru atau fasilitator yang akan memperkuat pendampingan anak melaksanakan #YES#Safer School di sekolahnya.

c. Guru sebagai orang dewasa dan lebih banyak pengalaman serta pengetahuannya diharapkan memiliki dan menunjukkan sikap keterbukaan. Saat CACT ini dilakukan maka kesalahan akan menyertainya pula. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahannya, menyadari bahwa sudah terjadi kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, maka CACT akan menjadi sarana belajar yang sangat mengasyikkan.

d. CACT merupakan penentu kesuksesan #YES4SaferSchool. Kesuksesan CACT terjadi jika guru pendamping maupun fasilitator mampu menemukan momentum “AHA”. Jangan lupa, buatlah rencana proses belajarnya dan lakukan refleksi ketercapaiannya. Kunci dari semuanya adalah harus banyak berlatih dan bersabar menunggu.

2. Menetapkan dan menandai Titik Kumpul Aman zona aman, hati-hati,dan bahaya sebagai jalur evakuasi menuju titik kumpul aman
3. Simulasi evakuasi drill
4. Membuat peta evakuasi
5. Mendokumentasikan semua tahap
6. Mengunggah dokumentasi ke youtube

Langkah Kedua: SPeAKnACT

Guru pendamping memfasilitasi GSB MeSRA menyampaikan proses YES4SaferSchool kepada Dewan Guru dan menyajikan dokumen foto/film praktik baik pelembagaan GSB Mewujudkan Sekolah Aman SMPN 11 angkatan sebelumnya melengkapi Lembar Inspirasi Belajar Ramah Anak (LIBRA).

image

GSB MeSRA SMPN 11 Bandung 2015-2016 beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan SPeAKnACT mereka pada Lokakarya Pengintegrasian Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan dalam pengelolaan BOS SMP. Lokakarya tersebut prakarsa Pengawas SMP Kota Bandung wilayah Bandung Selatan dan dihadiri perwakilan kepala Sekolah, bendahara, dan Komite Sekolah dari 20 SMP dan SLB. Mereka menyimak antusias paparan Fina dan kawan-kawan GSB MeSRA dari OSIS SMPN 11 Bandung. Bu Nia melengkapi paparan tersebut dengan praktik baik jamban Bersih, Sehat, Jujur karya Ria Putri Primadanti dan Ratu Sampah, Amilia Agustin dari dokumentasi Kick Andy.

Saya berkesempatan mempresentasikan langkah kampanye dan advokasi Indonesia Bersinar (Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak) sebagai model perluasan praktik baik GERASHIAGA di SMPN 11 Bandung ke Nusantara. Kepala SMPN 34 melengkapi dengan praktik baiknya belajar dari SMPN 11 Bandung.

Langkah Ketiga: Penobatan Duta Anak

Green SMile Inc dengan dukungan Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Rena, Perkumpulan KerLiP, Kadisdikprov Jabar, BNPB, dan multi pihak mendapat kesempatan untuk memperluas inisiatif #YES4SaferSchool 2015 melalui penyerahan Sertifikat Duta Anak dan hadiah khusus Tas Aman SHIAGA serta Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual untuk sekolah mitra.

Kamil dan Fina dari SMPN 11 Bandung menerima Tas Aman SHIAGA dan Sertifikat yang diserahkan Kepala Sekolah seusai upacara bendera hari Senin.

image

Langkah Keempat: Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar

Antusiasme Kepala SLB Cijawura pada lokakarya di SMPN 11 Bandung menginspirasi kami untuk memobilisasi sumber daya mendampingi SLB tersebut sebagai piloting Indonesia Bersinar. Dukungan Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Ning, PKLK Disdik Provinsi Jabar, serta Kadisdik Kota Bandung membantu mewujudkan impian kami bersama Bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, dan Ksatria dari SeKAM.

Saya mendiskusikan rencana SLB Bersinar dengan bu Nia, Bu Sari dan pak Aripin dari Semesta Hati. Bu Nia langsung menindaklanjuti memfasilitasi Fina untuk menyusun agenda Open Class di kelas digital yang diikuti peserta didik yang memiliki keistimewaan khusus.

Kegiatan yang kami sebut Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Disabilitas setiap 3 Desember. Fina sangat antusias melakukan CACT tentang keistimewaan dari para penyandang difable. Ia menyusun serta melaksanakan agenda Safari GeMBIRA berikut:

1. Paparan latihan #YES4SaferSchool lengkap dengan catatan-catatan proses yang dianggap penting untuk diperhatikan termasuk dari observer.

2. Bu Nia sebagai Co Fasilitator mengajak anak-anak untuk mendiksusikan langkah-langkah #YES4SaferSchool yang disusun Fina dan tim sesuai dengan sumber daya khusus di kelas digital

3. Anak-anak menemukenali 3 cara untuk melindungi kepala dan jauhilah kaca di kelas digital, antara lain: (a) masuk kolong meja dan menarik kursi untuk melindungi kepala sambil mendekap tas, (b) berlari merapat ke dinding yang aman dengan melindungi kepala dengan tas, dan (c) mengangkat kursi dan berlindung di kolong meja dilindungi kursi sambil memeluk tas.

4. Anak-anak dibagi 3 kelompok untuk menemukan karakteristik anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar.

5. Presentasi hasil diskusi kelompok menunjukkan temuan anak bahwa perlu sistem peringatan dini selain sirine seperti lightstick untuk tuna rungu, sirine dengan bunyi-bunyi khusus seperti ringstone, dan penggunaan alat peraga yang diminati anak-anak.

6. Sahabat-sahabat kerLiP yang akan melaksanakan pendampingan secara mandiri di sekolah mitra menyampaikan apresiasi dan masukan hasil pengamatan masing-masing.

7. Anak-anak menuliskan jawaban untuk 4 hal: (a)Apakah pengetahuan baru yang kamu peroleh, (b) Bagaimanakah perasaan kamu setelah mengikuti kegiatan, (c)Hal-hal apalagi yang ingin kamu ketahui setelah kegiatan ini, dan (d)Kapankah kamu menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan berikutnya.

8. Jawaban tertulis anak-anak diundi oleh observer sesuai dengan 3 (tiga) doorprize yang disediakan anak-anak pada kegiatan sebelumnya. Ternyata ketiga anak yang mendapatkan doorprize sangat gembira bisa mengikuti kegiatan ini dan masih ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak difable dan cara membantu mereka menyelamatkan diri. ketiga anak tersebut menyampaikan perlu 3 (tiga) kali pertemuan lagi sebelum Safari GeMBIRA ke SLB Cijawura minggu depan

9. Refleksi dan rencana Tindak Lanjut bersama Sahabat KerLiP. Fina kembali memukau kami dengan testimoninya selama merencanakan dan memfasilitasi teman-teman sebayanya hari ini.

Secara paralel, Aas dan Bu Sari menyiapkan jejaring pendukung dalam bentuk Semiloka Partisipasi Anak difable dalam kerangka Indonesia Bersinar di SLB dan Rakor pembentukan Sekber Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Disdik Jawa Barat.

image

Pendidikan PRB dalam Kerangka Kerja Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana

Bu Ani berulang kali menelpon memastikan kehadiran kami dalam workshop PRB yang dilaksanakan PKLK 3-5 Desember 2015. Saya harus mewakili Tim Pokja PPO KTPA Kemensos dalam pertemuan di Sesmenkopolhukam pada tanggal 3 Desember. Zamzam menuntaskan fasilitasi  PIP dalam rakor peserta didik PSMA. Aas berkoordinasi dengan bu Sari menyiapkan Semiloka Peserta Didik Difable untuk menerapkan sekolah/madrasah aman dari bencana dalam mewujudkan SLB Bersinar.

Rencana koordinasi persiapan aktivasi SAnDI KerLiP dengan Nunik dialihkan ke Fitry. Kami pun berangkat bersama ke Tangerang pada tanggal 4 Desembet 2014. Workshop PRB dibuka pukul 9 oleh Bu Yatmi dan dilanjutkan dengan penjelasan dari Pak Praptono. Perwakilan Unicef, LPMP, Perkumpulan Lingkar, WVI, Kemenag, dan Mas Amin sudah diskusi sejak tanggal 3. Saya lihat KerLiP tercatat memberikan materi program prioritas PRB dan Advokasi peran serta masyarakat dalam PRB di Pendidikan.

Komitmen Pemerintah

Rencana alokasi APBN untuk PRB di bawah inu diteruskan Mas Amin ke wa grup KPB. Ada beberapa mata anggaran yang akan dikawal KPB. Saya menegaskan kembali bahwa hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengarusutamakan PRB di pendidikan melalui penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana.

image

Diskusi pemetaan siapa melakukan apa di mana makin hangat dengan praktik-praktik baik Lingkar, WVI, LPMP, dan Subdit Sarpras Kemenag. Sayang sekali perwakilan Unicef tetap membisu sampai akhirnya pamit kepada panitia. Syukurlah dalam diskusi manajemen penanggulangan bencana, Endang dari PKLN berkenan berbagi file struktur Seknas Sekolah Aman setelah dialihkan dari BNPB kepada Kemdikbud melalui Biro PKLN.

Saya mengajak semua pihak untuk melihat kembali semangat gotong royong yang dikedepankan Mendikbud guna mewujudkan ekosistem dan insan pendidikan yang selalu siap siaga mewujudkan budaya aman dari bencana.

image

image

Indonesia Bersinar

Saya bersama sahabat-sahabat KerLiP mengintegrasikannya ke dalam gerakan #IndonesiaBersinar. Inisiatif ini muncul dari Ibu Nelli, Guru SMAN Simpang Empat 1 yang kami dampingi tahun lalu pasca erupsi 2014. Saya meminta masukan sahabat-sahabat di facebook terkait integrasi gerakan pendidikan inklusif, aman, dan ramah anak.  Bu Nia, Irsyad, Brian, Bu Nelly, dkk memberikan usulan yang menarik.

Kami mendapatkan kepercayaan dari Direktur PKLK, Ibu Rena dan Ibu Ning, Kasubdit Peserta Didik untuk mendampingi SLB dalam menerapkan sekolah aman dari bencana. Program SLB Bersinar pun siap kami jalankan di Jawa Barat dengan dukungan Duta Anak #YES4SaferSchool dari SMPN 11 Bandung dalam dampingan bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, Ksatria dari SeKAM, Bu Sari  KerLiP Bandung, Fitry dari Green SMile Inc. dan Aas pendiri Rumah Cita Kita.

image