Kolaborasi dengan Yayasan Sadagori

image

Desain Ruang Kreativitas Anak yang sederhana ini dibuat oleh Aprin dan Gunawan, relawan mahasiswa Teknis Sipil dan Arsitek Itenas yang bergabung di Yayasan Sadagori. Allah mempertemukan kami sesaat sebelum aku berhenti berharap. Ya. Masukan kritis dari Bu Yosi Bappenas tentang pentingnya visualisasi dari Panduan RKA yang tengah kami susun belum bisa kulaksanakan sampai hari itu.

Pesan yang Sangat Berharga

Saya selalu tersenyum mengingat kisah seorang sahabat yang menggali bermeter-meter ke dalam tanah untuk mencari emas dan menghentikan penggalian karena tidak ada hasilnya. Tapi tak lama setelah lubang galian tersebut ditinggalkan ada seorang pelancong yang datang dan tertarik untuk menggali beberapa jengkal ke dalam. Apa yang terjadi? Pelancong ini menemukan bongkahan emas. Kisah ini saya dengar dari suami dalam sesi bercerita kepada anak-anak kami. Kisah inspiratif yang selalu melecut semangat saya agar terus menggali ketika memutuskan mengawal sebuah gerakan.

Pesan dari Rafi melalui inbok di fb saya membuka kesempatan yang sangat berharga. Lecutan semangat pun terasa menemukan maknanya.

image

Aprin datang bersama Rafi dan Ina untuk mendiskusikan kampanye dan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana. Modul school roadshow yang ditunjukan Rafi serta beberapa narasumber dari BDSG dan Build Change USA yang memfasilitasi mereka sejalan dengan inisiatif Roadshow GERASHIAGA yang diusung sahabat-sahabat KerLiP.

Saya merasa sangat bersyukur ketika mengajak Aprin untuk melengkapi draft Panduan Pengembangan Ruang Kreativitas Anak yang siap difinalisasi Deputi TKA Kemppa minggu depan. Aprin membantu saya menambah lampiran Panduan dengan gambar desain yang dibuatnya bersama tim dari Sadagori dilengkapi keterangan ukuran dan beberapa sarana dan prasarana yang kami usulkan. Insya Allah gagasan bu Deputi untuk menyediakan RKA gratis bagi semua anak mendapat sambutan baik dari Pemerintah Kabupaten/Kota.

Saya pun memberanikam diri untuk mengajak teman-teman sealmamater berbagi ide desain RKA di grup alumni. Tentu saja dengan mengapresiasi Aprin dan Gunawan.

image

Generasi Pemberantas Kemiskinan

Pertemuan para perintis Generasi Pemberantas Kemiskinan (GENTaskin) malam itu terasa istimewa dengan kehadiran bendahara FGII, Tety Sulastri. Beberapa pertanyaan produktif terkait Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang diajukan Sukma, dijawab Tety dengan lugas.

image

Ada 2 hal yang kami siapkan untuk mengaktifkan GENTaskin mulai 2016:
1. Perluasan SM3T menjadi Bela Negara untuk Indonesia Sejahtera

image

2. Penelitian terkait KKS

[08/03 11:04] Sukma 88 Relawan: tujuan penelitian :
1.melakukan evaluasi atas basis data (termasuk mekanisme veri vali) kpd calon penerima kip anak yg berada diluar sekolah, anak panti dan anak yg berkebutuhan khusus
2. Mengidentifikasi ketepatan sasaran program kip u kelompok2 tersebut
3. memberikan rekomendasi untuk perbaikan ke depan

[08/03 11:06] Sukma 88 Relawan: Metode : kuantitatif dan kualitatif

Sampel : penerima kip dibedakan berdasarkan kelompok, masing2 100 orang (?) atau cukup informan saja, yg mewakili seluruh stakeholder
[08/03 11:07] Sukma 88 Relawan: Lokasi :  di perkotaan dan perdesaan, jawa – luar jawa
[08/03 11:07] Sukma 88 Relawan: Waktu : minimal 4 bulan

image

Bansos untuk Guru Honorer

Pertemuan semalam menjadi bahan diskusi saat makan siang bersama Komisi VIII dan Dirjen Penanganan Fakir Miskin. Kami sepakat untuk memasukkan guru honorer dalam sasaran PBI terutama yang berpenghasilan di bawah 300 ribu rupiah/bulan. Honorarium 10 ribu/jam tatap muka yang diperoleh guru honorer yang bekerja di sekolah yang diselenggarakan masyarakat peduli pendidikan menjadi alasan utama.

Informasi ini disampaikan Pak Samsuniang dari Komisi VIII kepada ibu Tety. DPP FGII langsung menyebarluaskan kabar gembira ini. Tety didukung Cak Bambang, Wakil Sekjen DPP FGII untuk membuka posko bantuan sosial untuk guru honorer. Kehormatan bagi saya mendukung upaya advokasi ini sebagai bagian dari pemberantasan kemiskinan. Wa grup baru pun dibuka untuk menampung aspirasi secepatnya agar terkumpul data 1 juta guru honorer yang berpenghasilan di bawah 300 ribu rupiah sebelum tanggal 20 Maret 2016.

Wacana, Akronim, dan Advokasi

“Ibu, coba lihat foto yang saya kirim, “pesan Azi masuk bersamaan dengan foto di tempat kerjanya yang baru. “Wah, ada Pak Seno!”seruku tertahan. “Iya, Bu. Salam dari Pak Seno. Ternyata senior-senior KerLiP keren ga, “imbuh Azi. Ingatanku pun melayang. Tak terasa sudah 16 tahun waktu yang lalu ketika kami merumuskan motto “Berani Gagal” untuk sekolah yang kami dirikan di perbatasan Kota Bandung.

Ragam praktik baik yang kami kumpulkan secara terpisah maupun tim membuat istilah Sekolah Berprogram khas terasa pas. Saat itu, jelang bulan April 2000 kami sepakat untuk menyiapkan SD Hikmah Teladan di bawah naungan Perguruan Darul Hikmah. Diskusi rutin Litbang kerLiP sejak didirikan beberapa bulan sebelumnya, yakni Desember 1999 membuat kami sadar untuk mengikis budaya sekolah unggul yang menempatkan sekolah , sekolah favorit. 

Strategi Wacana KerLiP

Judul yang dipilih Irsyad dan kajiab budaya yang dilakukannya terhadap Komunitas Rumah KerLiP mengikat makna program khas KerLiP dengan istilah Anak Merdeka dan Keluarga Peduli. Kajian wacana yang disuguhkan Irsyad ini menandai perubahan yang mendasar dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan untuk 5 tahun kedua. Advokasi litigasi terhadap korban Ujian Nasional 2006 dan kemitraan khas dengan FGII menuntun kami untuk menemukan pola baru dalam advokasi hak anak.

Beragam akronim yang renyah menjadi mengisi living value dalam wacana Anak Merdeka dan Keluarga Peduli. Perjalanan panjang di 5 tahun ketiga menempatkan kami untuk lebih leluasa mengenalkan akronim-akronim tersebut. Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan pun mulai berani diusung setelah Kemdikbud mengaktifkan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.

Tumbuh Bersama

Pilihan kata tumbuh bersama dalam kerja advokasi Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan mendapatkan momentumnya dalam Pemerintahan Jokowi-JK. Istilah Gembira menyambut Pemilu memperkuat jangkauan dampak kalimat Kejeniusan dilahirkan dari kegembiraan yang diperkenalkan Pak Zulfikrie Anas dari Thomas Amstrong. Kata Gembira makin menguat setelah Menteri Susi yang kontroversial menggunakannya.

Disinilah kami merasa tak perlu bersembunyi menyatakan siap tumbuh bersama Pemerintahan Pak Jokowi-JK untuk menebar KILAUNusantara Bersinar menerangi semesta. Komitmen keluarga kami sejak awal untuk mengusung Islam Rahmatan Lil Alamin mendapat momentumnya.

Alhamdulillah