Mengawal Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana

Penataan kelembagaan Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) nampaknya makin intens dilaksanakan Dear dan kawan-kawan. Form pendaftaran ulang KerLiP yang diisi Nurasiah Jamil, bendahara kami sudah siap.dikirim jelang deadline. Ada beberapa jenis kegiatan penting di dalam Profil KerLiP 2014 lalu yang belum dimasukkan. Beberapa kegiatan lainnya yang saya laksanakan pada tahun 2014-2016 penting juga untuk melengkapi profil KerLiP di KPB.

image

Alhamdulillah ini beberapa kegiatan terkait Pengurangan Risiko Bencana dalam kerangka Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih, Sehat, Hijau Inklusif, Aman, Anti Kekerasan dan Ramah Anak 2014-2016:

1. Fasilitasi Penyusunan Pedoman Sekolah Darurat di Dikmen dan Dikdasmen
2. Pengintegrasian SMAB ke dalam kebijakan dan implementasi SRA
a. Permenegpppa no 8 tahun 2014 ttg kebijakan penerapan SRA
b. Penyusunan juknis bansos pendidikan PRB untuk 170 SLB dan Sekolah Menengah di 28 provinsi
c. Pendampingan pelaksanaan YES for Safer School di SLB YPAC Kota Bandung, Satria Galdin Kab Bdg, Asih Putera Padang Panjang, SLB Pembina NTB
d. Penobatan Duta Anak untuk Sekolah Aman dari inisiatif YES4SaferSchool : SMPN 35, SMPN 11, SMPN 7 Bandung
e. Pengawalan penyusunan draft Perpres SRA oleh Dirjen Dikdasmen dan lampiran yg diminta bersama KPPPA,Bappenas, multipihak:
– modul ToT SRA
– juknis SRA
f. Pendampingan penguntegrasian gerakan sekolah sehat, aman, ramah anak dna menyenangkan dalam penyusunan RKAS bersama pengawas kora Bandung diikuti 48 SMP di Bandung Selatan
g. Advokasi sekolah aman dalam penilaian tingkat lerusakan 148 ribu kelas yang akan direhab di tahun 2016-2017 kepada subdit lembaga dan sarpras PSMK
h. Pendampingan penyusunan Panduan SRA pada rakor PSMA, PSD, Pembinaan PKLK
i. Penyusunan bahan sosialisasi Sekolah Aman Anti Kekerasan terintegrasi dalam Gerakan KerLiP Bersinar di PSMP
j. Pengarusutamaan PRB dalam gerakan keluarga panutan (pendidikan ramah anak bermutu bebas pungutan) dan penyusunan renja disdikprov Riau 2015-2019
k. Sosialisasi dan lokakarya Sekolah Bersinar di Makasar bersama Kempppa, Kemdikbud, Kemenag, BNPB, Kemensos
l. Pelatihan SRA bagi guru dg FGII dan KPPPA:
– se jabodetabek di SMAN 24 Jakarta
– Jawa Timur
– Indonesia di Bandung
– Makasar
– Bengkulu
– Lampung
– Semarang
– Deli Serdang
– Maluku Utara
– Manado
– NTB
– Papua
m. Pengarusutamaan PRB dalam Kajian Perencanaan dan Penganggaran Responsif Anak di Bappenas
n. Penguatan PRB dalam Aktivasi Gugus Tugas KLA kluster 4 dan 5 bersama BP3AKB Jabar
o. Sosialisasi  YES for Safer School di stand Kemendikbud dalam peringatan PRB oleh BNPB di Surakarta
p. Pengarusutamaan PRB dlm Kajian dan penyusunan panduan Ruang Kreativitas Anak bersama KPPPA
q. Pengintegrasian PRB dalam Penyusunan Naskah Akademik Percepatan Penerapan Kab/Kota Layak Anak di Jabar
r. Perluasan inisiatif pelembagaan seknas sekolah aman dalam pelembagaan Sekretariat Bersama Sekolah Ramah Anak, Aman Anti Kekerasan, dan Inklusif (SeRAI) di Direktorat Pembinaan PKLK
s. Pendampingan GSB MANSABA,GSB MeSRA SMAN 15, GSB Bersinar SMPN 11 melalui penerapan YESfor Safer School yang inklusi
t. Pengarusutamaan PRB dalam penyusunan quick win pokja
u. Pengarusutamaan PRB dalam review  draft RPJMD Kota Bandung 2014-2019 dan Renstra Disdikprov Riau
v. Koordinasi persiapan School Roadshow for ASSI di 15 SF dan SLB dengan Kadisdik Kota Bandung, Plan Internasional Indonesia dan WVI
w. Pengarusutamaan PRB dalam roadmap pembinaan pendidikan keluarga dan pelatihan 5000 fasilitator se-Indonesia
3. Cetak materi KIE terkait YES for Safer School Innitiatives (YESSI): brosur, kaos, USB, kalender
4. Pengarusutamaan PRB dan sekolah madrasah aman dari bencama dalam penyusunan Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual yang diterbitkan oleh Binar Cahaya Semesta
5. Pendampingan penyusunan buku saku PRB di SLB bersama Subdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendikbud
6. Pengintegrasian prinsip-prinsip SRA dan standar2 minimum pendidikan  dr INEE dalam penyelenggaraan Sekolah Darurat
7. Penerapan sekolah aman dari bencana dalam perencanaan pembangunan SLB, Sekolah Garis Depan dan Sekolah Keberbakatan Olah Raga di daerah rawan gempabumi tsunami
8. Pengarusutamaan PRB dalam penguatan Karang Taruna dengan komunitas literasi sejarah ekologi sosial budaya di desa-desa piloting
9. Advokasi PRB berbasis komunitas dan dasawisma dalam penyusunan perencanaan Restorasi Sosial
10. Pengawalan harmonisasi dragt perpres Gerakan SRA dlaam inisiatif penyusunan draft perpres perluasan permendikbud 82/2015 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di sekolah
11. Pelatihan modul untuk guru tentang pendidikan PRB  bagi 72 sekolah penerima DAK Pendidikan di Kota Bandung
12. Pengawalan YES for Safer School dalam penguatan Pendisikan inklusif di Jawa Barat bersama Kabid PKLK Disdikprov Jabar
13. Pengarusutamaan PRB dalam penyusunan profil pendidikan, kreativitas, dan kegiatan budaya anak Indonesia
14. Pengarusutamaan PRB dalam penyusunan indikator KLA di Jabar
15. Pelatihan YES for Safer School untuk Agen-Agen MeSRA/GSB bersinar
a. 363 ketua OSIS anggota Fokus Jawa Barat
b. 50 peserta didik ADEM Papua dalam KKP 2015
c. 27 anggota GSB Bersinar SMPN 11
d. Ratusan anak di sekolah Semesta Hati,Nurul Imam, SLBN Citeureup, SLBN Baleendah, SMPN 35, SD Plus Marhas
e. 70 fasilitator muda dari SMAN 20, ITB, STKS, Unisba
f. Forum Anak di 5 wilayah Jawa Barat
16. Pendidikan PRB bagi Anak Usia Dini di BKB KerLiP
17. Fasilitasi penyusunan Obras Bencana oleh Forum Anak Kota Bandung
18. SpeAKnACT saya pelajar anti kekerasan dan amat cinta tanah air dan teman di Bandung dan Deli Serdang
19. Bimtek untuk 50 SLB penerima bantuan PRB 2015
20. Bimtek untuk 34 SLB penerima bantuan PRB 2016
21. Sosialisasi YES for Safer School kepada seluruh kepala SD Kota Bandung terintegrasi dalam kegiatan Pokja Inklusif Kota Bandung

Tety Sulastri: Pejuang Perbaikan Kondisi Kerja Guru Tanpa Jeda

“Aku jongkok berjam-jam di depan pintu mobil Pak xxxxx. Akhirnya Ia membuka pintu dan memelukku sambul mengajak masuk, “Tety berkata sambil memeragakan kembali perjuangannya menemukan rasa keadilan. Sonny memperkuat kisah mereka saat memperjuangkan perbaikan kondisi kerja bagi guru PNS melalui Lembaga Advokasi Pendidikan (LAP). Saya bertemu keduanya tahun 2005 saat bergabung dengan Koalisi Pendidikan mengawal UU Guru dan Dosen. Tety, Sony, Bambang, Pak Amir, Pak Suparman, Pak Gino, Pak Iwan, Pak Hartono, Pak Samsunyang adalah beberapa pelopor perbaikan sistem pendidikan nasional yang mendirikan Federasi Guru Independen Indonesia (FGII).

image

Ijin share ya

Kabar gembira bagi guru dan pendidik honorer.

Hasil pertemuan dengan Ditjen Penanganan Fakir Miskin dan anggota Komisi VIII DPR RI disepakati, bahwa Kemensos akan menyiapkan perlindungan dan jaminan sosial bagi 1 juta guru dan pendidik honorer yang memiliki pendapatan <300 rb/bulan.

DPP FGII membuka posko bantuan guru independen sampai 20 Mei 2016 dengan dukungan dari anggota Tim Pokja TPPO dan KTPA Kemensos dari GENTaskin dan KerLiP.

Sila japri ke wa no 085695432311 Tety Sulastri, guru SMAN 24 Jakarta, bendahara DPP FGII ya

Mohon berkenan menyebarkannya

Silakan Bapak dan Ibu kumpulkan teman teman untuk mendaftar dengancara:
1.  Buat  daftar dalam format MS exel, kolomnya no, nama, nama sekolah/madrasah/satuan pendidikan, alamat sekolah/madrasah/satuan pendidikan, besarnya gaji/honorarium bulanan, nomor tlp dan HP
2. kirim ke email tetysulastri@yahoo.com 
syarat lain menyusul ktp, kk, bukti terima honor/gaji dari sekolah/madrasah/satuan pendidikan baik yg diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat
….
[29/03 01:10] Sgj Tetty: saat ini dibutuhkan orang2 bijak yang berfikir cerdas dan logika yg tangguh untuk melakukan sesuatu terkait dengan tumpukan persoalan
[29/03 01:10] Sgj Tetty: kepribadian yang utuh dan tangguh saja yg dapat bertahan untuk melanjutkan perjuangan yg abadi
[29/03 01:10] Sgj Tetty: Butuh proses panjang untuk mendapatkan kepribadian yang utuh.
……
[29/03 01:10] Sgj Tetty: semoga masih ada kesempatan untuk menyelesaikannya, agar kita menjadi orang-orang dewasa dalam pikir ,rasa, dan karsa….

Suara Tety yang menggelegar mengisi semua lorong SMAN 24 Jakarta . Integritasnya sebagai guru kritis tak perlu diragukan. Tety sebenarnya bisa duduk manis menikmati pemandangan alam Nusantara nan permai bercengekerama dengan sahabat dengan statusnya sebagai Guru PNS di Jakarta. Pejuang tangguh ini selalu hadir di sekolah tempatnya mengajar sebelum bel berbunyi. Anak-anak selalu mengerumuninya di Pepustakaan Sekolah. Kata-katanya yang spontan dan kasar tidak menghilangkan kewibawaannya sebagai guru profesional yang ramah anak.

Memperjuangkan Linjamsos Pendidik Honorer

Tahap pertama pengumpulan data guru dan pendidik honorer dari seluruh pelosok NKRI sedang disiapkan tim handal yang direkrut Tety dengan biaya mandiri. “Keluargaku benar-benar mendukung, Teh. Allah Maha Mendengar. Telpon Pak Juri saat kita makan siang dengan Bambang dan Sony di kantin Kemdikbud menunjukkan bahwa aku tidak bohong. Aku diundang sebagai perwakilan FGII. Pak Juri mengenalku saat menyiapkan Simposium di Hari Guru Nasional 2015, “kata bendahara FGII ini dengan berapi-api.

Tekadnya untuk memperjuangkan perlindungan dan jaminan sosial bagi guru honorer dan pendidik di sekolah/madrasah/satuan pendidikan lainnya sudah bulat. Saya mendukung penuh dengan mengaktifkan semua jejaring pendukung KerLiP. Saya juga menyediakan kedudukan terhormat di Perkumpulan KerLiP jika Tety memerlukan untuk wadah perjuangan pendidikan tanpa jeda yang dilakukannya bahkan sebelum saya pindah ke Jakarta tahun 2005 lalu.

Selamat bekerja demi kepentingan terbaik anak bangsa, sahabatku

Mas Sulistyo Pejuang Santun yang Baik Hati

Almarhum Apa Utomo yang memperkenalkan kita beberapa tahun yang lalu. Mas Sulis dan Mbak Unifah sedang silaturahmi ke Wisma Kodel tempat almarhum Apa membuka ruang bagi para pegiat hak atas pendidikan di Indonesia. Kecenderungan saya untuk memperkuat FGII tidak membuat Mas Sulis sungkan menjalin silaturahmi. Saat itu almarhum Mas Sulis sudah menjadi Rektor PGRI di Semarang tempat suamiku lahir dan dibesarkan ayah bunda. Beberapa kali saya menerima kiriman oleh-oleh makanan khas Semarang setiap beliau berkegiatan di Jakarta. Hubungan baik kami terjalin makin erat setelah Mas Sulis terpilih menjadi Ketua PB PGRI dan menjadi anggota DPD. Kami sering bertukar informasi perkembangan terkini mengenai perjuangan pendidikan di Indonesia. Kegigihan almarhum untuk memperjuangkan perbaikan nasib guru honorer benar-benar luar biasa. Bahkan tak segan beliau menyatakan penolakannya terhadap lebijakan Mendikbud yang dipandang memperburuk kondisi kerja guru.

Saya benar-benar kaget membaca kabar wafatnya Mas Sulis di beberapa wa grup. Reflek saya langsung menelpon Mbak Unifah sahabat lama Mas Sulis dan Pak Giat dari PB PGRI. Foto kehadiran Mendikbud di RS Mintoharjo Benhil dan beritaMas Sulis dan 3 korban kebakaran akibat korsleting listrik meyakinkan saya.

Saya dan sahabat-sahabat KerLiP menyampaikan duka yang mendalam kepada keluarga di Semaran dan keluarga besar PB PGRI.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Telah berpulang ke Rahmatulloh Bpk Dr. Sulistyo, M.Pd /Ketua Umum PB PGRI /Agt. DPD RI tadi siang pk.11-12 di RS Mintoharjo, Pejompongan Benhil.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ

Pranata
Informasi dari pak Qadrat Nugraha Sekjen PGRI. Pak Menteri sedang menuju rumah sakit

image

Selamat jalan Mas Sulis. Insya Allah perjuangannya memperbaiki kondisi kerja guru termasuk guru honorer di sekolah yang diselenggarakan masyarakat kami lanjutkan. Saya memfasilitasi DPP FGII untuk mengadvokasi perlindungan dan jaminan sosial bagi 1 juta guru honorer di Indonesia.

Kolaborasi dengan Yayasan Sadagori

image

Desain Ruang Kreativitas Anak yang sederhana ini dibuat oleh Aprin dan Gunawan, relawan mahasiswa Teknis Sipil dan Arsitek Itenas yang bergabung di Yayasan Sadagori. Allah mempertemukan kami sesaat sebelum aku berhenti berharap. Ya. Masukan kritis dari Bu Yosi Bappenas tentang pentingnya visualisasi dari Panduan RKA yang tengah kami susun belum bisa kulaksanakan sampai hari itu.

Pesan yang Sangat Berharga

Saya selalu tersenyum mengingat kisah seorang sahabat yang menggali bermeter-meter ke dalam tanah untuk mencari emas dan menghentikan penggalian karena tidak ada hasilnya. Tapi tak lama setelah lubang galian tersebut ditinggalkan ada seorang pelancong yang datang dan tertarik untuk menggali beberapa jengkal ke dalam. Apa yang terjadi? Pelancong ini menemukan bongkahan emas. Kisah ini saya dengar dari suami dalam sesi bercerita kepada anak-anak kami. Kisah inspiratif yang selalu melecut semangat saya agar terus menggali ketika memutuskan mengawal sebuah gerakan.

Pesan dari Rafi melalui inbok di fb saya membuka kesempatan yang sangat berharga. Lecutan semangat pun terasa menemukan maknanya.

image

Aprin datang bersama Rafi dan Ina untuk mendiskusikan kampanye dan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana. Modul school roadshow yang ditunjukan Rafi serta beberapa narasumber dari BDSG dan Build Change USA yang memfasilitasi mereka sejalan dengan inisiatif Roadshow GERASHIAGA yang diusung sahabat-sahabat KerLiP.

Saya merasa sangat bersyukur ketika mengajak Aprin untuk melengkapi draft Panduan Pengembangan Ruang Kreativitas Anak yang siap difinalisasi Deputi TKA Kemppa minggu depan. Aprin membantu saya menambah lampiran Panduan dengan gambar desain yang dibuatnya bersama tim dari Sadagori dilengkapi keterangan ukuran dan beberapa sarana dan prasarana yang kami usulkan. Insya Allah gagasan bu Deputi untuk menyediakan RKA gratis bagi semua anak mendapat sambutan baik dari Pemerintah Kabupaten/Kota.

Saya pun memberanikam diri untuk mengajak teman-teman sealmamater berbagi ide desain RKA di grup alumni. Tentu saja dengan mengapresiasi Aprin dan Gunawan.

image

Generasi Pemberantas Kemiskinan

Pertemuan para perintis Generasi Pemberantas Kemiskinan (GENTaskin) malam itu terasa istimewa dengan kehadiran bendahara FGII, Tety Sulastri. Beberapa pertanyaan produktif terkait Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang diajukan Sukma, dijawab Tety dengan lugas.

image

Ada 2 hal yang kami siapkan untuk mengaktifkan GENTaskin mulai 2016:
1. Perluasan SM3T menjadi Bela Negara untuk Indonesia Sejahtera

image

2. Penelitian terkait KKS

[08/03 11:04] Sukma 88 Relawan: tujuan penelitian :
1.melakukan evaluasi atas basis data (termasuk mekanisme veri vali) kpd calon penerima kip anak yg berada diluar sekolah, anak panti dan anak yg berkebutuhan khusus
2. Mengidentifikasi ketepatan sasaran program kip u kelompok2 tersebut
3. memberikan rekomendasi untuk perbaikan ke depan

[08/03 11:06] Sukma 88 Relawan: Metode : kuantitatif dan kualitatif

Sampel : penerima kip dibedakan berdasarkan kelompok, masing2 100 orang (?) atau cukup informan saja, yg mewakili seluruh stakeholder
[08/03 11:07] Sukma 88 Relawan: Lokasi :  di perkotaan dan perdesaan, jawa – luar jawa
[08/03 11:07] Sukma 88 Relawan: Waktu : minimal 4 bulan

image

Bansos untuk Guru Honorer

Pertemuan semalam menjadi bahan diskusi saat makan siang bersama Komisi VIII dan Dirjen Penanganan Fakir Miskin. Kami sepakat untuk memasukkan guru honorer dalam sasaran PBI terutama yang berpenghasilan di bawah 300 ribu rupiah/bulan. Honorarium 10 ribu/jam tatap muka yang diperoleh guru honorer yang bekerja di sekolah yang diselenggarakan masyarakat peduli pendidikan menjadi alasan utama.

Informasi ini disampaikan Pak Samsuniang dari Komisi VIII kepada ibu Tety. DPP FGII langsung menyebarluaskan kabar gembira ini. Tety didukung Cak Bambang, Wakil Sekjen DPP FGII untuk membuka posko bantuan sosial untuk guru honorer. Kehormatan bagi saya mendukung upaya advokasi ini sebagai bagian dari pemberantasan kemiskinan. Wa grup baru pun dibuka untuk menampung aspirasi secepatnya agar terkumpul data 1 juta guru honorer yang berpenghasilan di bawah 300 ribu rupiah sebelum tanggal 20 Maret 2016.

Wacana, Akronim, dan Advokasi

“Ibu, coba lihat foto yang saya kirim, “pesan Azi masuk bersamaan dengan foto di tempat kerjanya yang baru. “Wah, ada Pak Seno!”seruku tertahan. “Iya, Bu. Salam dari Pak Seno. Ternyata senior-senior KerLiP keren ga, “imbuh Azi. Ingatanku pun melayang. Tak terasa sudah 16 tahun waktu yang lalu ketika kami merumuskan motto “Berani Gagal” untuk sekolah yang kami dirikan di perbatasan Kota Bandung.

Ragam praktik baik yang kami kumpulkan secara terpisah maupun tim membuat istilah Sekolah Berprogram khas terasa pas. Saat itu, jelang bulan April 2000 kami sepakat untuk menyiapkan SD Hikmah Teladan di bawah naungan Perguruan Darul Hikmah. Diskusi rutin Litbang kerLiP sejak didirikan beberapa bulan sebelumnya, yakni Desember 1999 membuat kami sadar untuk mengikis budaya sekolah unggul yang menempatkan sekolah , sekolah favorit. 

Strategi Wacana KerLiP

Judul yang dipilih Irsyad dan kajiab budaya yang dilakukannya terhadap Komunitas Rumah KerLiP mengikat makna program khas KerLiP dengan istilah Anak Merdeka dan Keluarga Peduli. Kajian wacana yang disuguhkan Irsyad ini menandai perubahan yang mendasar dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan untuk 5 tahun kedua. Advokasi litigasi terhadap korban Ujian Nasional 2006 dan kemitraan khas dengan FGII menuntun kami untuk menemukan pola baru dalam advokasi hak anak.

Beragam akronim yang renyah menjadi mengisi living value dalam wacana Anak Merdeka dan Keluarga Peduli. Perjalanan panjang di 5 tahun ketiga menempatkan kami untuk lebih leluasa mengenalkan akronim-akronim tersebut. Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan pun mulai berani diusung setelah Kemdikbud mengaktifkan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.

Tumbuh Bersama

Pilihan kata tumbuh bersama dalam kerja advokasi Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan mendapatkan momentumnya dalam Pemerintahan Jokowi-JK. Istilah Gembira menyambut Pemilu memperkuat jangkauan dampak kalimat Kejeniusan dilahirkan dari kegembiraan yang diperkenalkan Pak Zulfikrie Anas dari Thomas Amstrong. Kata Gembira makin menguat setelah Menteri Susi yang kontroversial menggunakannya.

Disinilah kami merasa tak perlu bersembunyi menyatakan siap tumbuh bersama Pemerintahan Pak Jokowi-JK untuk menebar KILAUNusantara Bersinar menerangi semesta. Komitmen keluarga kami sejak awal untuk mengusung Islam Rahmatan Lil Alamin mendapat momentumnya.

Alhamdulillah

Berserah Diri

Manusia berencana Allah jua yang Menentukan.

[05/03 05:40] Teh Aas KERLiP: Ibuu aas demam
[05/03 05:40] Teh Aas KERLiP: Tadi malam kan hujan2an
[05/03 05:41] Teh Aas KERLiP: Gimana ini? 😭😭😭
[05/03 06:01] yanti kerlip: Astaghfirullah
[05/03 06:02] Teh Aas KERLiP: 😭😭😭
[05/03 06:02] Teh Aas KERLiP: Ini menggigil bgt
[05/03 06:02] yanti kerlip: Sampaikan ke teh wiwin ya
[05/03 06:02] yanti kerlip: Nanti fitry aja dech
[05/03 06:02] Teh Aas KERLiP: Aas sudah buatkan power poitnya
[05/03 06:02] Teh Aas KERLiP: Aas kirim yaaa bu
[05/03 06:02] yanti kerlip: Ok
[05/03 06:03] Teh Aas KERLiP: Kalau nanti aas redaan
[05/03 06:03] Teh Aas KERLiP: Aas pergi
[05/03 06:03] yanti kerlip: Cepat sembuh ya
[05/03 06:03] Teh Aas KERLiP: Iya ibu makasih
[05/03 06:03] Teh Aas KERLiP: Maaf
[05/03 06:03] Teh Aas KERLiP: 🙏🙏😭😭
[05/03 06:09] yanti kerlip: Mandi air panas ditetesi minyak kayu putih agak banyak As
[05/03 06:09] yanti kerlip: Minum wedang jahe
[05/03 06:09] yanti kerlip: Tidur
[05/03 06:09] yanti kerlip: Sangat membantu
[05/03 06:10] yanti kerlip: Jangan dipaksakan bekerja apapun
[05/03 06:10] yanti kerlip: Tubuh minta rehat
[05/03 06:22] yanti kerlip: Ibu sdh minta bu Sari nemenin
[05/03 06:25] Teh Aas KERLiP: Ibu maafinnn
[05/03 06:25] Teh Aas KERLiP: 😭😭😭
[05/03 06:26] Teh Aas KERLiP: Kalau kuat aas pergi
[05/03 06:26] Teh Aas KERLiP: Ini muka merah mata keluar air mulu.. Menggigil
[05/03 06:26] yanti kerlip: Iya ngga apa2 As
[05/03 06:26] yanti kerlip: Ibu ambil alih lagi ya
[05/03 06:26] yanti kerlip: Bahannya sdh diemail?
[05/03 06:26] Teh Aas KERLiP: Ibu pelukkkkkk
[05/03 06:26] Teh Aas KERLiP: Sudah
[05/03 06:31] yanti kerlip: Aas rehat dulu
[05/03 06:31] yanti kerlip: Biar ngga kelamaan
[05/03 06:32] Teh Aas KERLiP: Pelukkk
[05/03 06:32] Teh Aas KERLiP: [3/5, 06:22] Save Kak Wina: Makan siang dlu dgn kita jam 12an
[3/5, 06:23] Save Kak Wina: Lokasinya di lembang asri resort, jln kolonel masturi
[3/5, 06:23] Save Kak Wina: Km 4
[3/5, 06:24] Save Kak Wina: Masuknya bs Dari teinal ledeng
[3/5, 06:24] Save Kak Wina: Atau Dari lembang
[05/03 06:32] yanti kerlip: Studi kasusnya sudah?
[05/03 06:33] Teh Aas KERLiP: Studi kasusnya kak wina minta yg sesuai interest mereka bu
[05/03 06:33] Teh Aas KERLiP: Di arahkannya ke video dan riset

Contoh studi kasus pekerjaan terburuk anak.

TEMPO.CO, Jakarta –  Kepolisian Sektor Tanjung Duren mengungkap sebuah pabrik yang mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Kepala Polsek Tanjung Duren Komisaris Polisi Firman Andreanto mengatakan pabrik itu mempekerjakan puluhan orang. “Ada sekitar 20 orang pekerjanya,” kata dia di Polsek Tanjung Dureng, Jakarta, Jumat, 28 Juni 2013.

Firman mengatakan pabrik yang terletak di bantaran Kali Sekretaris itu sudah beroperasi lebih dari lima tahun. Saat digerebek, pabrik itu sedang menjalankan aktivitasnya seperti biasa. “Tadi siang digerebek oleh polisi,” katanya.
Setelah diselidiki, pabrik dengan nama perusahaan PT Laba Sari itu merupakan perusahaan yang memproduksi ikan nugget. Pabrik yang berupa rumah tinggal dua lantai biasa itu digunakan untuk kegiatan produksi sehari-harinya. Pemiliknya adalah warga negara Indonesia bernama Tio Tju Meng, 60 tahun.
Saat pemeriksaan, polisi mendapati enam anak yang masih berusia di bawah 17 tahun. Mereka pekerja yang mengolah dan membungkus nugget tersebut. Mirisnya, mereka pun dibayar dengan upah jauh di bawah Upah Minimum Provinsi. Rata-rata mereka digaji Rp 450 ribu- 750 ribu per bulan. Padahal, UMP DKI tahun ini besarnya Rp 2, 2 juta.
Adapun sisanya, kata Andre, sudah memenuhi syarat untuk bekerja. “Tapi saat mulai bekerja mereka masih d bawah umur karena sudah bekerja bertahun-tahun,” ujarnya. Hingga saat ini, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut. Kasusnya kini dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak.

JAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah pekerja anak atau berusia di bawah 15 tahun di Indonesia cukup tinggi. Sementara itu lebih dari dua pertiga orang muda memasuki dunia kerja dengan bekal pendidikan dasar atau kurang. Demikian laporan yang disampaikan Understanding Children’s Work (UCW), yang merupakan kemitraan antara ILO, UNICEF, dan Bank Dunia yang bertajuk Memahami Pekerjaan yang Dilakukan oleh Anak dan Pekerja Muda: Kondisi Indonesia, di gedung Bapenas, Jakarta (20/6/12).
Laporan menunjukkan sebanyak 2,3 juta anak berusia 7-14 tahun merupakan pekerja anak di bawah umur. Mereka tidak dapat menikmati hak-hak dasar atas pendidikan, keselamatan fisik, perlindungan, bermain, dan rekreasi.

Perlindungan Pemerintah terhadap bentuk pekerjaan terburuk dari pekerja anak diatur dalam  Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 2002, yang menunjukkan kategori bentuk-bentuk pekerjaan terburuk dari pekerja anak.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Ratifikasi ILO Convention No. 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment the Abolition of Forced Labour atau Konvensi ILO No. 138 Mengenai Usia Minimum Untuk Diperbolehkan Bekerja Tahun 1973.  Konvensi ini bermaksud menetapkan suatu naskah umum mengenai batasan umur yang secara berangsur-angsur akan menggantikan naskah-naskah yang ada yang berlaku pada sektor ekonomi yang terbatas. Alenia keempat pembukaan Konvensi ini bertujuan menghapus anak sebagai pekerja pada kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Ratifikasi ILO Convention No. 182 Concerning the Prohibition anil Intermediate Action for the Elimination of The Worst Forms of Child Labour Atau Konvensi ILO No. 182 Mengenai Pelarangan dan Tindakan Segala Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Pada Anak Tahun 1999, memandang perlu adanya instrumen ketenagakerjaan yang baru untuk menghapus bentuk-bentuk pekeriaan terburuk bagi anak.

Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang merupakan jndang-undang organik tentang perlindungan hak asasi manusia dari UUD 1945 hasil amandemen IV. Rumusan mengenai hak anak disebutkan dalam pasal 52 yang menyatakan bahwa setiap anak berhak atas perlindungan orang tua, keluarga, masyarakat, dan negara. Selain itu pasal ini juga menyebutkan bahwa hak anak adalah hak asasi manusia sehigga demi kepentingan anak, hak tersebut harus diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungan.

Pasal 64 berbunyi: “Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi ekonomi dan setiap pekerjaan yang membahayakan dirinya, sehingga dapat mengganggu pendidikan, kesehatan fisik, moral, kehidupan sosial, dan mental spiritualnya”.

Pasal 65 berbunyi: “setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak, serta dari segala bentuk penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya”.
Konstitusi Sebagai Pelindung HAM
Dalam fungsi ini bahwa konstitusi memberikan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia dan hak-hak kebebasan warga negara. Rumusan HAM ke dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menegaskan  bahwa secara konstitusional hak asasi setiap warga negara dan penduduk Indonesia telah dijamin.

TEMPO.CO, Jakarta – Ada delapan prinsip dan 39 kriteria RSPO yang merupakan standar global tata kelola perkebunan yang disusun berbagai pemangku kepentingan di sepanjang rantai pasok minyak sawit untuk mendefinisikan sawit berkelanjutan. Antara lain, komitmen terhadap transparansi, tanggung jawab lingkungan, dan konservasi kekayaan alam serta keanekaragaman hayati. Lalu, bertanggung jawab atas karyawan, individu, dan komunitas yang terkena dampak perkebunan dan pabrik. Serta pengembangan perkebunan baru yang bertanggung jawab.

Dalam prakteknya, pembuatan kebun itu banyak terjadi di hutan primer, hutan rawa, dan lahan gambut yang kaya oksigen. Sepuluh persen deforestasi atau penggundulan hutan di Malaysia dan Indonesia sepajang 1990-2010 dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Sekitar 600 ribu hingga 1 juta hektare kawasan hutan dikonversi menjadi perkebunan sawit setiap tahun di Indonesia. Luasnya saat ini 8 juta hektare, dan akan naik menjadi hingga 13 juta hektare pada 2020.

Tak hanya itu, hak atas persetujuan bebas, didahulukan, dan diinfomasikan (free, prior, informed and consent, FPIC)–yang sentral dalam prinsip dan kriteria–banyak dilanggar oleh perusahaan yang tergabung dalam RSPO. Hasil studi kasus di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, dan Liberia, yang dipublikasikan Kamis pekan lalu di Medan, menunjukkan pelanggaran itu.

Salah satu kasus terjadi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Di tempat ini, tim peneliti menemukan kolusi manipulasi konsep hak adat oleh staf dari PT Agrowiratama, anak perusahaan kelompok Musim Mas.

Perusahaan lebih memihak elite lokal daripada masyarakat penggarap lahan Melayu setempat. Salah satu responden, Resmiati, ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Beringin, menjelaskan bahwa kepala desa menawar harga tanahnya Rp 1,5 juta, dia menolak dan berkukuh harganya Rp 3,5 juta.

“Sebab, tanah sangat berharga bagi kami orang kecil ini. Jika kami mau kelapa sawit, kami akan tanam sendiri dan kami tidak mau orang lain mengambil tanah kami untuk menanam kelapa sawit,” katanya. Jika ia mampu mewariskan tanah ke anak-cucunya, “Tanah akan menjamin sumber penghidupan anak saya, bukan uang. Sebab, uang tidak pernah cukup. Tanah adalah jaminan sumber penghidupan yang paling aman,” katanya.

Riset juga menemukan, banyak produsen sawit anggota RSPO yang beroperasi di tujuh negara tersebut melanggar hak-hak masyarakat adat dan warga lokal di kawasan hutan dan lahan gambut. Menurut Marcus Colchester, Penasihat Kebijakan Senior FPP, di balik kegagalan “praktek terbaik sukarela” ini, ternyata hukum dan kebijakan nasional juga menolak atau mengabaikan hak-hak tanah masyarakat adat dan masyarakat lokal.

Dalam berlomba cepat menggalakan investasi dan ekspor, kata Marcus, pemerintah menginjak-nginjak hak-hak rakyat mereka sendiri. “Para investor, pengecer, pabrik pengolah barang jadi, dan pedagang dunia harus tegas meminta minyak sawit yang bebas konflik, dan pemerintah nasional harus memperbaiki permainan mereka serta menghormati hak-hak masyarakat,” kata Marcus, doktor antropologi lulusan Universitas Oxford, Inggris.

Norman Jiwan, Direktur Eksekutif TuK Indonesia, mengakui RSPO telah menetapkan standar yang baik. Namun banyak perusahaan anggota tidak memenuhi janji-janji di atas kertas tersebut. Dia menilai RSPO masih dapat memenuhi tantangan ini jika mampu memberi pemulihan atas berbagai dampak perusahaan anggota terhadap masyarakat. Karena itu, ia menambahkan, kredibilitas organisasi RSPO menjadi taruhannya

[05/03 06:45] Bu Sari KerLiP Bandung: Sy tambahkan ke presentasi ya bu
[05/03 06:46] yanti kerlip: Nanti kita ajak anak2 untuk menganalisa dari 4 prinsip hak anak
[05/03 06:46] yanti kerlip: Iya Bu
[05/03 06:46] yanti kerlip: Kasus Sawit paling terlihat dr prinsip kepentingan terbaik anak dan kelangsungan hidup serta tumbuh kembang anak
[05/03 09:47] yanti kerlip: Ini alokasi dan pengaturan waktinya
[05/03 09:47] yanti kerlip: Saya khawatir batuk flunya masih menular
[05/03 09:47] yanti kerlip: Bu Sari handle dg Syahna ya
[05/03 09:50] yanti kerlip: [05/03 09:28] yanti kerlip: Saya dan bu Sari yg hadir ya teh
[05/03 09:49] yanti kerlip: Maksudnya Syahna dan Bu Sari yg hadir ya
[05/03 09:49] yanti kerlip: Tadi pagi rasanya sdh reda tapi ternyata baru demamnya yg reda…batuk flu nya masih berat