Penyelarasan Program Kemitraan melalui Sekretariat Bersama SeRAI

image

“Sejak bergabung di Kemendikbud baru kali ini saya merasa yakin upaya gotong royong untuk mewujudkan ekosistem dan insan pendidikan yang berbudi pekerti luhur, cerdas dan bertanggung jawab akan menjadi niscaya. Direktorat Pembinaan PKLK siap memperkuat Seknas Sekolah Madrasah Aman Bencana (SMAB) dan mengaktifkan sekretariat untuk mendukung perluasan Pokja Inklusif…”

Kutipan kalimat yang disampaikan Pak Praptono, Kasubdit Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen dalam acara penutupan Lokakarya yang diselenggarakan di Hotel Atanaya Bali menggembirakan kami. Sebelumnya, dalam sambutan pembukaan, Bu Rena Direktur Pembinaan PKLK menyampaikan bahwa Sekretariat Bersama SeRAI-Sekolah Ramah Anak, Aman bencana-antikekerasan dan Inklusif sudah siap diaktifkan Kemendikbud dan diperkuat oleh Unicef, Save The Children, KerLiP, Pokja Inklusif, Forum SRA, Gugus Tugas KLA klaster IV, dan lembaga/forum yang menyinergikan gagasan, harapan, dan praktik-praktik baik Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya lainnya.

Lokakarya yang disiapkan Zamzam, Tim Litbang KerLiP yang kini menjadi Tim Teknis Direktorat Pembinaan PKLK bersama Pak Faisal atas nama Direktorat Pembinaan PKLK didukung penuh oleh Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB), Unicef, Forum SRA, dan Pokja Inklusif. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber dan fasilitator serta mitra-mitra pegiat SeRAI dari Kempppa, Kemkes, Kemenag, BNPB dan mitra dari berbagai pelosok nusantara.

Ketegasan Bu Rena gayung bersambut dengan semangat dan kesungguhan para pegiat yang bekerja di lembaga masyarakat, Pokja dan mitra pembangunan jnternasional. Inisiatif ini mempererat persahabatan kami sejak Wamendiknas bersama Wamenpu, Kepala BNPB, Kemenag, Kempppa, Kemdagri, dan masyarakat menginisiasi pembentukan Sekretariat Nasional Sekolah Aman tahun 2011. Sejak saat itu, sebagai Ketua Seknas SA dan Zamzam sebagai Sekjen SA mendapat dukungan penuh dari Bu Rena yang mewakili Kemendikbud untuk piloting SMAB di beberapa provinsi. Konsistensi Bu Rena dalam menegaskan posisi kemendikbud sejak beliau memimpin program dan kerjasama luar negeri di Setdijen Dikdas serta pengalamannya bekerja di pendidikan kejuruan menjadi modal dasar yang sangat bermakna dalam penyelarasan program kemitraan yang terus menguat ini.

Penguatan Budaya Inklusif

image

Ajakan Bu Muftiah Yulismi untuk terbang dari Bandung bersama Teh Yuyun dari Bilic menggembirakan. Semangat perubahan yang dimotori pegiat Pokja Inklusif kota Bandung ini memberikan warna tersendiri. Ia mengajak multipihak untuk bergegas melembagakan inisiatif baik ini di Jawa Barat dan kota Bandung selepas kegiatan.Wa grup PKLK Bali yang dikelola Yanti dari Save the Children pun mulai aktif menjadi wahana berbagi praktik baik sebagai tindak lanjut dari kegiatan di Bali.

image

Semangat ini sudah sangat terasa ketika saya mengajak Bu Mufti untuk hadir dalam Rapat Koordinasi yang dilaksanakan di Disdik Provinsi Jawa Barat pada 22 Desember 2015. Kegiatan ini dilaksanakan setelah peluncuran Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SLBN Cicendo oleh Ketua P2TP2A Jabar yang dihadiri Kabid PKLK Disdikprov Jabar, Kadisdik Kota Bandung, Asda I Pemkot Cimahi,GSB Bersinar SMPN 11 dan GSB MeSRA SMAN 15 Bandung didukung penuh oleh Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen. Forum SRA kota Bandung yang kami rintis bersama SMAN 15, SMPN 11, SDN Merdeka di SMKN 3 Bandung pun mulai disinergikan saat saya diundang Pokja Inklusif untuk menyampaikan Gerakan Sekolah Ramah Anak di Universitas Telkom. Sinergi ini terus berlanjut dalam kegiatan Roadshow SMAB yang kami laksanakan bersama WVI, Save The Children Plan, GSB Bersinar SMPN 11, KerLiP Bandung dan SMK Multimedia Telkom di SLBN A Pajajaran tempat bu Muftiah bekerja. Kami bertemu kembali dalam Penutupan Olimpiade Seni dan Desain yang diselenggarakan Art Therapy Widyatama yang dihadiri Mensos serta didukung Pokja Inklusif. Dukungan Bu Mufti dalam pelatihan Sekolah Aman Komprehensif yang dilaksanakan Plan Indonesia dan Tim ASEAN Safe School Innitiative dengan dukungan penuh Dinas Pendidikan Kota Bandung dan KerLiP Bandung makin mengukuhkan sinergi ini. Insya Allah penguatan budaya inklusif di kota Bandung terus menguat seiring dan sejalan dengan kampanye dan advokasi Education for All yang kami usung bersama sahabat-sahabat KerLiP sejak tahun 2002.

Catatan Bu Ninuk: Ayo…Berkolaborasi

..Ketika teman-teman tanpa hambatan memberikan tutorial pada siswa dengan hambatan, kemampuan akademis dan sosial siswa penyandang hambatan meningkat secara tajam (Bell, 1990)…

Kelas kami warna-warni. Beragam sekali, dari tingkat kemampuan akademis, kondisi psikologis, sosial ekonomi, agama, budaya. Anak-anak istimewa dengan kebutuhan khususnya melengkapi. Seru, sudah pasti. Banyak konflik, tentu. Gaduh, iya.
Kami sebagai guru terus belajar untuk mengemas, mengorkestrasi agar harmoni.
Kolaborasi jadi pilihan kami. Anak-anak reguler dengan kemampuan akademis yg lebih baik menjadi ‘tutor’ bagi temannya. Anak-anak yang punya kemampuan lain  menyempurnakan.

Jadi saat kegiatan, membuat poster misalnya, anak yg satu menuliskan pesan, anak yang lain membuat gambar dan menghias poster. Saat memilah sampah, bersama-sama mencari tahu, mana yang organik, dan non organik. Yang sudah mengerti, coba membimbing, “hai, yang bukan  itu sampah organik..”. ” Disini sampah non organik disimpan, kan plastik, tidak bisa diolah lagi”.. .Jam olahraga menjadi waktu bagi anak-anak dengan minat yang sama untuk bermain bola dengan teman-temannya, tanpa kecuali.

Ketika belajar evakuasi,anak yang reguler memikirkan kondisi temannya yang dissabilitas. Waktu belajar, kembali guru harus bisa membuat semua siswa terlibat. Suatu waktu, pelajaran Bahasa Indonesia, kelas 8,  topiknya isu sosial. Membuat mading saja ya. Setelah prolog tentang apa itu isu sosial, anak-anak bergerak membuat mading. isu-isu sosial dituliskan anak-anak yang tidak bisa ‘bicara’ dalam konteks ide membantu menempel, memberi gambar, mewarnai…

Tantangan bagi anak-anak adalah ‘melawan’ diri sendiri, untuk tidak merasa  ‘lebih’ dari yang lain, dan belajar menghargai.

competition makes us faster. collaboration makes us better.

to be continued…

Merumuskan Pesantren Bersinar di Kampung Qur’an Cendekia

Kiriman foto kunjungan ke Kampung Qur’an Cendekia dari Pak Rian mengingatkan saya pada saat-saat memukau jelang Zhuhur bersama para santrinya.  “Semua tamu yang berkunjung harus berbagi ilmu dulu sebelum keliling,” jelas ustadz yang sedang memfasilitasi anak-anak belajar anatomi tubuh manusia. “Hai anak-anak! Wah ibu jadi ingat waktu kuliah di farmasi lihat alat peraga yang sedang kalian pelajari, “seruku gembira melihat anak-anak belajar bersama di saung yang super keren. “Aku juga ingin kuliah di farmasi, Bu!” ujar seorang anak laki-laki di depanku.

Satu per satu aku memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan santri-santri perempuan. “Saya dari Sumatera Utara, Bu,”salah seorang anak menjelaskan asalnya saat kami bersalaman. “Alhamdulillah, ibu pernah ke Tanah Karo pasca erupsi Sinabung,”tanggapku segera. Anak perempuan berkerudung coklat itu memperhatikan wajahku lekat-lekat. “Saya ingat wajah ibu! Kita pernah bertemu di posko anak, Bu,”serunya sambil kembali memelukku. Sambutan gembira anak-anak dan keramahan para ustadz, ustadzah di pesantren yang dipimpin Pak Rian memikat hatiku. Suasana sejuk dengan lansekap nan indah permai di lembah hijau Cihanjuang ini membuatku nyaman berkeliling.

“Menurut Asep, Bersih itu ditandai dengan apa?”tanyaku pada Asep, salah satu sanri.

“Tertib menjaga kebersihan, Bu,”jawab Asep lugas

“Asep tahu tentang KAA, Konferensi Asep-asep?” tanyaku lagi. Anak-anak tertawa mendengar penjelasan singkatku tentang KAA. “Ada Dr. Asep disini, Bu, “ujar Pak Rian. OPeRA di pesantren pun berlanjut. Ali menyampaikan tentang bebas polusi sebagai penanda sehat dan hijau. Aku menceritakan gaya hidup hijau yang dilakukan anak-anak dan sobat muda KerLiP Bersinar di berbagai sekolah. Al kindi sampai menjawab semua bangunan bercat hijau sebagai penanda pesantren hijau.  Anak-anak  makin antusias.

“Pak Rian, Ramadhan nanti buka pesantren keluarga ya,”kataku sambil berjalan mengikuti Pak Rian. Bangunan asrama dan tempat tinggal Pak Rian yang terbuat dari bambu sangat kontras dengan gedung untuk masjid yang sedang dibangun di bawah. “masjid itu sumbangan MAWI, Bu. Pesantren kami menambah dana untuk memperkuat agar masjid tersebut dapat diperluas untuk kebutuhan santri dan jamaah shalat di perumahan. Di sana ada Darul Muthmainnah yang dipimpin teh Ninih Aa Gym, “jelas Pak Rian sambil menunjukkan beberapa fasilitas menarik di Kampung Qur’an Cendekia. Tebing tanah di sudut kiri pesantren menarik perhatianku. “bagian itu pernah longsor, Bu,”ujar Pak Rian sambil menunjuk bagian yang longsor. “Ayo kita undang Puskim untuk memberikan masukan perkuatan agar tidak terjadi longsor lagi. Anak-anak bisa diajak untuk lakukan Cara Asyik cari Tahu mitigasi dari longsor, “imbuhku sambil mendokumentasikan beberapa sudut pesantren.

Adzan zhuhur terdengar dari saung belajar anak-anak. kami pun bersiap shalat zhuhur berjamaah.

 

Catatan Bu Ninuk: Mandala Diri di Semesta Hati

Kami ditemani Aas dan teman-teman guru saat kegiatan  berlangsung. Saya meminta Aas untuk memulai kegiatan lebih pagi, dengan pertimbangan perlu lebih banyak waktu bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk melakukan kegiatan ini.  Aas menyepakati, begitu juga anak-anak yang selalu ingin tahu jika ada kegiatan baru. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang, siswa reguler dengan satu atau dua anak berkebutuhan khusus. cukup lama bagi beberapa anak untuk menyelesaikannya, suasananya sangat menyenangkan, anak yang lain membantu temannya  mengungkapkan perasaan lewat bahasa tulisan, mengomentari, meralat, membantu menuliskan. riuh sekali. jam istirahat kami sepakati untuk berhenti sejenak. Setelah ini rencananya akan membuat dreamsboard.” Anak-anak biasanya lebih suka berekspresi melalui gambar,” kata saya pada Aas. Biasanya mereka lebih ‘keluar’ ekspresinya,  lebih ‘hidup’. Asyik sekali mengamati mereka sibuk mencari gambar dari lembaran koran dan menambahkan gambar. Situasinya kembali riuh.  Anak-anak seperti berlomba untuk mengatakan bahwa ‘aku istimewa’ melalui gambar pada dreams board mereka. Selalu ada kejutan, saat presentasi B mengatakan  bahwa sekolah di Semesta Hati adalah keinginan terbesarnya, disini katanya ‘aku bisa lebih banyak membantu teman’. Untuk  sekolah Bersinar, E, ingin membaca menjadi budaya di sekolah ini. E, siswa kami yang  autis juga ingin ‘membangun SH’ dengan latar gambar bangunan yang besar.

#100 Kebiasaan Baik Anak Semesta Hati.

Di Semesta Hati, saya ajak anak-anak merumuskan kebiasaan apa saja yang akan dibudayakan di sekolah. “apa ya bu?” begitu pertanyaan selanjutnya. jawab saya ” apa saja yang kamu rasa belum ada, perlu dilakukan, dan dibiasakan di Semesta Hati.

Ini hasil rumusan anak-anak :

Membuang sampah pada tempatnya,  memilah sampah,menabung, mencuci tangan sebelum makan, menghargai teman, tidak membully teman, hidup sehat dengan berolahraga, gemar membaca, ramah kepada semua anak.
Belum genap 100 sih..baru 2 kelas yg merumuskan. Berikutnya akan dilanjutkan lagi di kelas yang lain. mudah-mudahan kami istiqomah menerapkannya, dan seluruh warga di semesta kecil kami tumbuh dan  bersinar bersama : )

Pak Raya: SMPN 11 Bandung Siap Menjadi Sekolah Rujukan Gerakan KerLiP Bersinar

“Bu Yanti yang pelari bertemu dengan Pak Raya, Kepala Sekolah yang senang berlari membuat semua warga SMPN 11 bergegas, “kata Bu Nia di sela-sela obrolan Fitry dengan Duta Anak Bersinar SMPN 11 Bandung di taman sekolah. Pagi ini Fitry dan saya diterima Pak Raya di ruangannya untuk membahas perjanjian kerja sama menjadikan SMPN 11 Bandung sekolah rujukan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak (KerLiP Bersinar).

image

image

Gerakan Siswa Bersatu Bersinar

Obrolan Pendidikan Ramah Anak (OPeRA) di ruang kepala SMPN 11 Bandung pagi ini menghasilkan beberapa rencana aksi Gerakan KerLiP Bersinar. Usulan website khusus SMPN 11 sebagai sekolah rujukan KerLiP Bersinar disambut antusias oleh Pak Raya. Kabar GeMBIRA dari English Club yang dikelola Bu Wiwin menjadi pintu masuk kami untuk mengajak Pak Raya mempromosikan praktik-praktik baik di SMPN 11. Setiap laman dikelola klab yang dibentuk anak sesuai peminatannya. Peluang publikasi yang mendunia dengan dibukanya MEA dan AFTA pun diantisipasi dengan sajian 4 bahasa: Indonesia, Sunda, Inggris, dan Arab.

image

Pak Agus memberikan usulan penguatan gerakan merespon penjelasan Bu Nia tentang kepemilikan foto essay. Festival mading kelas yang dikelola oleh anak-anak adalah langkah jitu untuk mengekalkan rasa ingin tahu anak. Pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Bersinar pun dirancang bersama atas arahan Kepala SMPN 11 Bandung.

image

“Seharusnya ide-ide seperti ini muncul dari staf-staf saya, tetapi rencana ini harus tetap berjalan. Keterlibatan staf yang lamban atau tidak suka tetap akan terus didorong dengan menunjukkan praktik-praktik baik anak-anak, “Pak Raya menjelaskan komitmennya untuk tumbuh bersama keluarga-keluarga peduli pendidikan bersinar. Beliau meminta Bu Nia dan Pak Agus untuk menyiapkan pengembangan kapasitas perwakilan anak dari setiap kelas ditambah OSIS untuk berpartisipasi altif dalam gerakan ini. Orangtua/wali akan diundang untuk menyaksikan SPeAKnACT. “Wah, ini momentum berharga untuk memulai pelembagaan GSB Bersinar di bawah naungan OSIS, Ami, Arlian dan Ria siap membantu”seru Bu Nia.

image

Kami sepakat melaksanakan Seminar Bersinar pada tanggal 26 Januari dengan undangan resmi dari Kepala Sekolah kepada perwakilan ketua murid dan semua pengurus OSIS. Usul Pak Agus untuk melombakan mading kelas akan diintegrasikan dengan mentoring sebaya YES for Safer School di kelas digital dan Safari GeMBIRA ke SLB Kasih Ibu, Baleendah, Citeureup, Sekolah Inklusif Semesta Hati di Kota Cimahi, TK-SD Marhas Kab Bandung. Beauty contest gerakan ini akan dilaksanakan pada saat YES for Safer School yang melibatkan warga sekolah dan tamu-tamu undangan.

Rintisan Forum Sekolah Ramah Anak Kota Bandung yang dibahas bersama Pak Elih Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung beberapa waktu yang lalu akan dideklarasikan dalam lokalatih akhir Februari 2016. Hasil Rakor Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Jawa Barat akan ditindaklanjuti dengan diskusi terfokus untuk menggalang dukungan dan partisipasi sekolah-sekolah di Jawa Barat dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar.

Saya langsung meneruskan pesan kepada Hikmat, stafsus Mendikbud tentang rencana mengundang Mas Anies ke SMPN 11 pada saat YES for Safer School. Bu Nia juga mengingatkan rencana IHT dengan Pak Zulfikrie Anas untuk melatih penyusunan RPP Bersinar dengan beragam kebutuhan anak serta pelatihan disiplin positif oleh Ibu Sussi Fitti. Fitry langsung diajak bu Nia untuk menyusun rencana persiapan kegiatan Seminar KerLiP Bersinar tersebut.

image

Catatan Ksatria: Memulai SLB Bersinar di SLB Baleendah

08 januari 2015, Saya (satria) bersama Dina melakukan kegiatan pertama SLB BERSINAR di SLB Baleendah yakni pertemuan awal dengan pihak sekolah dan adik-adik di SLB-G YBMU Baleendah. Sesampainya di sekolah, kami di sambut dengan sangat ramah oleh adik-adik dan kami bingung dimana ruangannya Bu Uus (kepsek SLB Baleendah).  Namun saking ramahnya adik-adik, kami diantarkan ke ruangan Bu Uus. Ada juga adik yang memanggil Bu Uus dari lantai dua gedung sekolahan. Selanjutnya bertemulah kami dengan Bu Uus.

SLB G

Saat kami akan memulai perbincangan, tiba-tiba ada dua adik-adik dari SLB masuk ke ruangan Bu Uus. Mereka  bertanya-tanya tentang kami berdua mulai dari kampus mana, rumahnya dimana dan di SLB mau ngapain. Salah satu adik ada yang ingin bernyanyi dan saat kami ijinkan untuk bernyanyi adik tersebut meyanyikan lagunya “ayu ting-ting_sambal lado”. Dia bernyanyi dengan energiknya sampai dihentikan oleh Bu Uus untuk memulai obrolan dengan kami. Jika banyak orang yang datang,  biasanya adik-adik langsung berkumpul menginginkan kue atau permen karena menurut mereka ada tamu berarti ada kue.

SLB G 1

Selanjutnya oleh Bu Uus kami diarahkan untuk bertemu Pak Daus untuk membahas siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB-Bersinar. Siswa secara keseluruhan sebanyak 64 siswa terdiri dari 42 SD, 13 SMP dan 9 SMA dengan 4 golongan grahita netra, rungu, grahita dan daksa. Di SLB ini tidak ada pendamping melainkan yang ada hanya guru kelas. Kelas dibedakan menurut golongan disabilitas.  Tidak ada guru per mata pelajaran juga. Siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB Bersinar ada 26 siswa terdiri dari 8 siswa golongan A, 12 siswa golongan B, 10 siswa golongan C dan 1 siswa golongan D. Kegiatan akan dilakukan tiap hari Sabtu pagi dan dilanjtukan pada tanggal 16 Januari 2015.

Kegiatan ke 2

16 Januari 2016, pukul 09.15 WIB saya dan teh Fitri, telat lima belas menit dari waktu perjanjian untuk pelaksanaan kegiatan. Sesampainya di SLB kami bertemu dengan Bu Uus dan langsung di arahkan ke ruangan tempat berkumpulnya adik-adik. Tidak disangka-sangka, saya dan teh Fitri sangat ditunggu dan disambut dengan sangat meriah oleh adik-adik. Di awal kami berkenalan dengan adik-adik dan memulai dengan bertanya tentang bencana “ada yang tahu apa itu bencana ?” adik-adik dengan semangatnya langsung angkat tangan mau maju ke depan bercerita apa itu bencana. Adik Farhan langsung maju dan bercerita tentang rumahnya yang sering kebanjiran, “kalau rumah kebanjiran langsung bantuin orang tua angkatin barang-barang ke atas dan barang-barang Farhan juga angkat ke atas”.

SLB G 6

Selanjutnya kami mengelompokan adik-adik dalam kegiatan ini, yakni adik-adik yang disabilitas netra dibimbing dengan teh Fitri bernyanyi “kalau ada gempa” dan mendengarkan cerita mengenai bencana apa saja yang pernah adik-adik alami, sedangkan adik-adik yang disabilitas rungu, grahita dan daksa dibimbing oleh saya (Satria) menggambar mengenai apa itu bencana. Ada yang menggambar angin tornado yang sangat bagus dari adik Wildan (disabilitas rungu) dan ternyata dia juga juara menggambar tingkat kabupaten. Wildan akan mengikuti perlombaan menggambar SLB tingkat Jabar pada bulan Februari.  Ada juga yang menggambar gunung meletus, banjir dan rumah yang hancur. Tidak lama kemudian bu Nia dan Sahlan datang. Keduanya sangat membantu dalam proses kegiatan dengan pengalaman yang sudah teruji ketika di SMP 11 Bandung

SLB G 7

Saat adik-adik yang lainnya belajar bernyanyi “kalau ada gempa” yang dipandu oleh Nisa (disabilitas netra), ada yang saya lihat, yakni adik-adik disabilitas rungu yang tidak bisa mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-teman yang lainnya. Lalu saya menghampiri mereka dan mulai bertanya apakah mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Adik-adik itu pun menjawab tidak mengerti. Akhirnya saya mencoba dengan cara gerak tubuh yang saya pahami untuk berbicara sampai adik-adik tersebut paham dengan apa yang dimaksud dalam lagu tersebut. Saya mulai dengan berbicara dengan gerak bibir yang dipelankan, gerak tubuh lindungi kepala jauhilah kaca, menulis di hp, memberikan contoh dengan gambar-gambar yang ada di buku dan foto-foto bencana yang ada di internet. Terlihat adik-adik sangat ingin mengerti apa yang saya maksudkan. Mereka pun memberikan informasi antar teman satu sama lain yang sudah mengerti.

Ketika dengan adik-adik yang disabilitas runggu saya mendapatkan hal yang sangat berharga yakni bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan adik-adik dan untuk memberikan mereka pemahaman sampai tidak ada kesalahpahaman antar apa yang saya maksud dengan apa yang mereka tangkap dan memiliki tekad yang kuat untuk belajar lagi berbicara bahasa isyarat.

Dan terakhir kegiatan hari ini ditutup dengan cerita adik-adik dari hasil gambar yang dibuat dan cerita dari nisa tentang banjir yang pernah dialami dirumahnya. Adik-adik sangat antusias saat diminta untuk maju siapa yang ingin bercerita.  Akhirnya  kami pun memilih adik-adik yang maju,  mulai dari Nisa yang menceritakan pengalamannya ketika banjir di rumahnya. Nisa harus menyelamatkan diri dari banjir dan menyelamatkan barang-barang.  Cerita dari Nauval dengan gaya pak Ustadz berceramah membawa suasana menjadi asyik. Adik-adik fokus mendengarkan cerita Nauval tentang banjir juga kisahnya saat ingin berangkat sekolah meskipun banjir belum surut. Menurut Nauval  banjir tersebut berasal dari hujan yang tidak berhenti sejak malam sebelumnya.

SLB G 8

Minggu depan tanggal 23 kami akan berkegiatan lagi di SLB-G Baleendah dengan agenda transektor yang akan dibantu juga oleh adik-adik dari SMP Negeri 11 Bandung dan kakak-kakak dari SeKAM.

Catatan Bu Ninuk: Memulai YES4SaferSchool di Sekolah Bersinar Semesta Hati

Minggu kedua bulan desember  sekolah semesta hati memulai project yes4saferschool.

CACT di Sekolah Semesta Hati
Kami memulainya dengan melihat tayangan tentang bencana gempa yg pernah terjadi di beberapa tempat. Lalu, bu Elsa, guru yang pernah melakukan penelitian  tentang patahan lembang, menyampaikan pengetahuan kepada anak-anak tentang beberapa fakta dan antisipasi yg harus dipikirkan bersama. Hari ini adalah hari setelah ujian akhir semester dilakukan. Sebagian besar siswa absen, maka diputuskan besok akan dilakukan kegiatan lanjutan.

CACT selanjutnya

Senang sekali, hari ini lebih banyak siswa yang hadir. Gilm kembali diputar. anak-anak serius memperhatikan. sambil mata nya berkeliling ke sudut-sudut ruang. Beberapa anak berkomentar sambil menunjuk ‘itu nggak aman bu’, ‘banyak barang di atas lemari’.

Anak-anak kemudian dikelompokkan. satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. anak-anak reguler bergabung dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka diminta untuk  beberapa anak SD terlibat diskusi. Mereka mencoba membuat denahsekolah,  tanda peringatan, titik aman, zona hati-hati , jalur evakuasi dan rambu-rambu. dalam diskusi kelompok ditemukan pertanyaan, “Bagaimana dengan S?”

Ananda S adalah salah satu siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan untuk berjalan.  Beberapa teman yang istimewa membuat anggota kelompok berpikir untuk menemukan ide-ide yang kreatif. Ananda A dan kelompoknya membuat tanda peringatan dengan suara dan gambar dengan alasan ada diantara teman-temannya yang belum bisa mengenal aksara. Ananda R dan kelompoknya lebih suka jika menggunakan sirine, untuk membantu teman-teman yang autis dan kurang fokus.

Pertemuan berikutnya tentunya akan ada ide-ide baru yang mengejutkan 🙂