Mengembalikan Jiwa Guru Kita kepada Fitrah

Umat Islam baru saja menyelesaikan ibadah shaum bulan Ramadhan. Ucapan selamat idul fitri 2017 pun bertebaran di media sosial. Lebih dari 100 sms dan wa masuk sejak H-2 sampai H+2 Idul Fitri 2017. Alhamdulillah harapan untuk bisa kembali kepada fitrah kita yang suci makin bermakna sejak kembali terhubung melalui media sosial. Semangat yang sama juga muncul pada saat yang bersamaan untuk mengembalikan jiwa guru kepada fitrah anak bangsa yang penuh rasa ingin tahu dan tak ragu mengekspresikan kegembiraannya bermain dan belajar bersama teman sebaya di sekolah/madrasah.

Pesan terusan dari sahabat guru di SMAN 8 Bandung saya abadikan disini dengan beberapa penyesuaian untuk menggugah kembali kesadaran kritis kita tentang hal terpenting dalam mendidik anak bangsa.

Continue reading “Mengembalikan Jiwa Guru Kita kepada Fitrah”

Kepala SMAN 4 Pekanbaru memulai 5 Hari Gembira di Sekolah/Madrasah

Penguatan pendidikan karakter melalui Gerakan Sekolah Panutan yang diusung Kadisdik Provinsi Riau,  Dr. H. Kamsol mengemas beberapa rangkaian kegiatan yang menarik dari berbagai gagasan dan praktik baik. GeMBIRA di sekolah yang diinisiasi sahabat KerLiP sejak 2013 dikemas dalam 5 Hari GeMBIRA di Sekolah. Ibu Nurafni, Kepala SMAN 4 menandai Hari Pendidikan Nasional dengan menggelar Hari Kreatif pada Selasa 2 Mei 2017. Pameran kreasi anak-anak dan guru SMAN 4 menambah kegembiraan warga Sekolah Ramah Anak tersebut. Tidak mengherankan anak-anak dan guru Gembira di SMAN 4 jika melihat beraneka ragam penghargaan yang diterima bu Nurafni, Kepala Sekolah Berprestasi Nasional.

Continue reading “Kepala SMAN 4 Pekanbaru memulai 5 Hari Gembira di Sekolah/Madrasah”

Pengelolaan Sampah Berbasis Madrasah di MTsN 34 Jakarta

Bulan Inovasi Sekolah Panutan di ibukota dimulai dengan Latihan Evakuasi Mandiri yang dijalin dengan Bank Sampah dan sosialisasi Sekolah Ramah Anak di MTsN 34 DKI Jakarta. Pak Usup dengan dukungan kepala madrasah, wakil kepala madrasah, orangtua dan 400 lebih peserta didik melaksanakannya dalam expo yang dibuka tepat pada #HariKesiapsiagaanBencanaNasional 26 April 2017. Dunia usaha dan lembaga masyarakat yang memberikan dukungan langsung antara lain: KPAI, KerLiP, LPBI NU, PGMI, BJB, Pergunu,  dan BRI.

Continue reading “Pengelolaan Sampah Berbasis Madrasah di MTsN 34 Jakarta”

SMKN 5 Pekanbaru Deklarasikan Sekolah Panutan

Alhamdulillah, rangkaian kegiatan Bulan Inovasi Sekolah Panutan terus meluas. Ibu Dwi, Kepala SMKN 5 Pekanbaru mendeklarasikan Sekolah Panutan dengan upacara dan pembacaan puisi serta menyanyikan Mars Panutan karya Presiden Orang Laut Indonesia, Haryono. Sudah 4 SMA dan SMK di Pekanbaru yang memberikan dukungan nyata terhadap inisiatif Pak Kamsol, Kadisdik Provinsi Riau. Tim i-KerLiP sebagai tenaga ahli dan fasilitator Panutan bersama para pengawas SMA dan SMK di bawah koordinasi Pak Joyosman, Dewan Pendidikan, dan perwakilan dari Dinas PPPA,  BPBD,  Dinkes, Dinsos, BPLHD, Kejaksaan, dan multipihak lainnya mendukung Kepala Sekolah dan Warga Sekolah yang mendapatkan SK Walikota Pekanbaru sebagai Sekolah Ramah Anak dalam upaya penguatan pendidikan karakter melalui Gerakan Sekolah Panutan. Keempat sekolah yang sudah mendeklarasikan Sekolah Panutan, yakni  SMAN 4, SMAN 8, SMKN 3, dan SMKN 5 Pekanbaru. Sekretariat Bersama Sekolah Panutan pun dibentuk di Disdik Prov Riau sebagai wahana berbagi praktik baik dari Sekolah Panutan tersebut.

Continue reading “SMKN 5 Pekanbaru Deklarasikan Sekolah Panutan”

Riau Menuju Panutan

image

Kehadiran Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemdikbud RI menandai dimulainya Gerakan PANUTAN di Provinsi Riau. Istilah PANUTAN adalah ide Bu Ekasari dalam perjalanan pulang ke Bandung setelah mengikuti kegiatan yang dilaksanakan Direktorat Bindikel yang baru dibuka Mendikbud, Mas Anies Baswedan. Saya meminta Bu Sari untuk menunjukkan praktik-praktik baik pengasuhan di keluarganya yang mendorong kesadaran kritis 2 putrinya menjadi aktivis Forum Anak di Kota Bandung dan Jawa Barat dalam pertemuan Bindikel.atas nama KerLiP.

Awalnya istilah Panutan adalah akronim dari Pendidikan Anak Merdeka, Bermutu dan Bebas Pungutan. Visi sekaligus aksi yang menjadi penanda baru dalam Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Secara khusus kami ingin menunjukkan dukungan penuh kepada guru dan tenaga kependidikan untuk menjadi Guru Panutan. Secara umum terbersit harapan kami akan terselenggaranya Wajib Belajar 12 Tahun Bebas Pungutan yang dijanjikan Pemerintahan Jokowi-JK

Pak Kamsol Memulai Panutan di Riau

Perjalanan panjang KerLiP melakukan kampanye dan advokasi Pemenuhan Hak Hidup Bermartabat terutama Hak Atas Pendidikan dan Perlindungan Hak-Hak Anak menghubungkan kami dengan Dinas Pendidikan Provinsi Riau melalui Gerakan Indonesia Pintar. “Bu Yanti ini rekan lama saya di Rumah Transisi yang selalu siap berdiskusi sampai dini hari bersama para profesional dan relawan yang peduli pendidikan dan menggiatkan GIP setelah Pak Jokowi dilantik menjadi Presiden, “jelas Pak Kamsol dalam pembukaan Sosialisasi Lokakarya dan Orientasi PANUTAN tanggal 31 Maret 2016 malam.

image

Pak Kamsol adalah salah satu relawan pendukung setia Pak Jokowi dari unsur Jo-Man yang merumuskan pembumian Nawacita melalui perbaikan pendidikan sesuai RPJPN ketiga, Memperkuat Daya Saing Regional. Doktor lulusan Universitas Malang ini membukukan Disertasinya terkait ekonomi pendidikan di era otonomi daerah. Pak Kamsol intensif memfasilitasi relawan-relawan lainnya yang dulu bertemu dan bekerja di Pokja Pendidikan seperti Dr. Imam Nashrudin yang kini menjadi Eselon 1a sebagai anggota BRTI Kemkominfo, Alpha Amirrachman, PhD dosen Untirta ahli antropologi pendidikan yang menggiatkan Religion for Peace bersama Prof Dien Samsudin di CDCC, Feber Suhendra, M.Sc dan saya melembagakan Gerakan Indonesia Pintar. Jamjam Muzaky, Master Kebijakan Publik yang tumbuh bersama saya di Perkumpulan KerLiP menjadi wakil Sekjen GIP yang dapat diandalkan Pak Kamsol untuk merumuskan Renja Disdikprov Riau dan menyiapkan acara yang diikuti perwakilan 12 Kabupaten/Kota se-provinsi Riau.

Bu Dian yang membantu Bu Dewi Kabid PAUDNI Disdikprov Riau intensif menghubungi kami untuk memastikan KerLiP dan GIP bersama narasumber dari Kemdikbud, Kemensos, Kempppa, hadir memfasilitasi acara yang doikuti 298 peserta dari Bappeda, Disdik, Dinkes, BP3AKB, Dinsos, Dewan Pendidikan, Tampan, Forum Anak, Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan dari setiap Kab/kota dan provinsi Riau. Acara dibuka dengan tarian sekapur sirih yang menawan hati

image

Ada 5 kabupaten di Riau yang dipandang sudah memulai PANUTAN dengan memberikan Bosda ke semua sekolah dan honorarium bagi guru non PNS. Siak, Bengkalis, Pelalawan, Kampar, dan Dumai. Kelima Kabupaten ini membuat Riau layak menjadi inisiator gerakan Panutan. Apalagi Pak Kamsol sebagai Kepala Dinas Pendidikan berhasil menggalang ratusan relawan dari Perguruan Tinggi untuk memulai Gerakan Indonesia Pintar dengan membuka Tampan, Taman Pendidikan Anak Negeri. Ketidakhadiran Direktur K3S Kemensos dan Direktur Pembinaan PKLK Kemendikbud kami alihkan untuk menunjukkan inisiatif Tampan melalui testimoni ketianya dan anak-anak binaannya yang hebat. Pak Adolf, Ridlo dkk dari Tampan menunjukkan bahwa Riau siap menuju Panutan.

Sesi Menarik

Tampan disajikan melengkapi fasilitasi atraktif dari Guru Profesional dari SMAN 24 Jakarta yang juga Bendahara FGII, Ibu Tety Sulastri. Pada sesi tersebut keduanya memukau peserta dengan kekhasan masing-masing. Pengelolaan kelas yang profesional dan partisipatif berhasil disajikan dalam praktik oleh Bu Tety. Peserta yang berasal dari Dewan Pendidikan Riau akhirnya dapat menyampaikan kekecewaannya pada sesi ini. Ada polisi yang begitu hormat pada guru dan tak segan menyampaikan ragam laporan kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak di sekolah. Pertanyaan dari Forum Anak dijawab Kepala SD yang hadir dengan penuh semangat.

image

Testimoni Ridho, anak putus sekolah dari SMK.yang sudah bekerja dan bersiap mengikuti UNBK bersama peserta didik Tampan lainnya membuat saya terharu dan bangga. Gerakan Indonesia Pintar yang diinisiasi relawan Tampan berhasil menjangkau ratusan anak putus sekolah di Pekanbaru. Pak Adolf berkali-kali menawarkan kepada para peserta yang berminat untuk mengembangkan Tampan di Kota/Kabupaten masing-masing.

image

Sesi menarik ini sengaja saya tuliskan di awal catatan proses sosialisasi dan orientasi untuk menunjukkan Riau siap.menerapkan Panutan.

Bersambung…

Mengawal Bantuan Sosial PRB di SLB

image

“Pemindahan kegiatan dari Batam ke Pekanbaru dilaksanakan atas instruksi Bu Direktur untuk melihat langsung penerapan Sekolah Aman dari Asap di Riau, “ujar salah satu staf Bu Rena. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Agenda sosialisasi dan lokakarya PANUTAN oleh Dinas Pendidikan Riau sudah diagendakan berkali-kali dan disepakati tanggal 31 Maret sampai 2 April 2016. Saya juga sudah janji untuk mempresentasikan Konsep dan Implementasi Sekolah Darurat dalam Rakor Forum Komunikasi PKLK yang dilaksanakan Subdit Program dan Evaluasi dan memfasilitasi menghasilkan buku kerja Pendidikan PRB di SLB di akhir Maret. Sungguh, nikmat Allah yang mana yang bisa kamu dustakan? Alhamdulillah kegiatan tersebut dilaksanakan di Pekanbaru tanggal 28-31 Maret 2016. Pertemuan dengan Puslitjaknov bersama IGI, FSGI,dan FGII atas prakarsa bu Yendri pada tanggal 28 Maret di Jakarta pun mengawali kesibukan saya dan sahabat KerLiP di minggu terakhir bulan Maret 2016.

Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan

Nurasiah Jamil sebagai bendahara KerLiP menunjukkan komitmen penuh untuk menuntaskan laporan pajak Perkumpulan yang.saya dirikan pada Hari Natal tahun 1999 bersama sahabat-sahabat yang pernah bergiat di KARISMA ITB. Aas juga membantu melengkapi formulir pendaftaran anggota KPB sekaligus pemutakhiran profil KerLiP yang bergiat di PRB pasca gempa tsunami Aceh 2004 lalu. Penyusunan profil hak anak atas pendidikan, kreativitas, dan budaya juga dimulai Aas dengan mengumpulkan data dari jendela pendidikan dan neraca pendidikan. Rencananya hari minggu pagi, kami akan bertemu dengan Joko yang baru pulang dari Jepang untuk membentuk tim penyusun profil yang akan diterbitkan Bu Elvy. Aas juga menyiapkan rencana audiensi kami denvan Dirjen Dikdasmen dan Dirjen PAUDIKMAS.

Secara paralel persiapan school roadshow di Bandung dilaksanakan oleh Bu Ekasari atas permintaan WVI dan Plan dengan dukungan dari Pak Siroj Disdik Kota Bandung. Berikut daftar sekolah yang direkomendasikan akan menjadi peserta sosialisasi Sekolah Aman komprehensif yang diinisiasi Plan bersama UNICEF, WVI, UNESCO, dan Save the Children dengan dukungan penuh dari KPB dan Biro PKLN Setjen Kemendikbud RI.
image

Di tempat lain, Zamzam intens mendampingi Kadisdik Provinsi Riau untuk merevisi Renja Disdik Riau dan menyiapkan Sosialisasi Lokakarya Panutan yang diinisiasi Perkumpulan KerLiP dan Gerakan Indonesia Pintar serta dilaksanakan Bu Dian dari PAUDNI Disdikprov Riau. Kami menghadirkan narasumber eselon 2 dari Kemendikbud, Kempppa, dan Kemensos memperkuat inisiatif pembentukan Sekretariat Bersama untuk mengaktifkan Gugus Tugas Kabupaten/Kota Layak Anak kluster IV dan V di Riau. Inisiatif ini dilaksanakan setelah KPPPA membentuk Forum SRA Nasional yang didukung oleh 13 Kementerian/Lembaga bersama Perkumpulan KerLiP.

Kemitraan khas KerLiP dengan FGII juga memungkinkan persiapan peluncuran Sekolah Bersinar di Makasar dilaksanakan pada saat yang bersamaan. Kami bermaksud menghadirkan Meneg PPPA, Dirjen Dikdasmen Dirjen Pendis, Kepala BNPB dan beberpa eselon 2 di Kempppa Kemdikbud, BNPB, Kemenag, dan Kemensos untuk memulai Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih Sehat, Hijau, Inklusif, Aman, AntiKekerasan, dan Ramah Anak (Bersinar) di Indonesia Timur lalu ke Jabar, Jatim, Lampung, NTB, NTT, Papua, Maluku Utara, Palu, Deli Serdang, Jakarta, Kaltim, Sumbar, Jateng. Upaya untuk mengadvokasi perlindungan dan jaminan sosial serta persiapan pengintegrasian Gerakan Bersinar dalam Kongres FGII terus dilaksanakan Tety Sulastri, bendahara DPP FGII secara profesional.

Kemitraan di KPB

Senang sekali melihat foto pembukaan rakor yang dishare Bang Iskandar di wa grup KPB. Sinergi dengan KPB insya Allah lebih baik melalui kegiatan yang difasilitasi Kemendikbud. Saya memutuskan untuk mengawal kegiatan penyusunan buku kerja ini sampai tuntas. Ternyata Yusra yang baru digantikan Wahyu dari Plan Internasional Indonesia menghadirkan 2 fasilitator nasional sekolah madrasah aman dari bencana yang diangkat BNPB.

Foto-foto di bawah ini saya hadirkan untuk menunjukkan semangat gotong royong yang dilaksanakan multipihak untuk menghadirkan Negara bagi anak-anak yang terpinggirkan.

image

image

image

image

Menikahkan Politik, Ekonomi, dan Pendidikan

image

[23/03 00:20] Dan Satriana: Sebenarnya ideologi dan prespektif pendidikan s23endiri bisa ditelusuri jelas meski memang rumit dan panjang. Tetapi ketika pendidikan dicampuri kepentingan politik dan ekonomi jadi kelihatan seperti benang kusut. Kenapa? Karena yang membuat kusut adalah kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi yang menutupi warna indah pendidikan sebenarnya.

[23/03 00:27] yanti kerlip: Politik-ekonomi-pendidikan sudah lama menikah Kang Dan. Sulit menceraikannya. Kita perlu cari solusi agar jadi “keluarga” harmonis

[23/03 00:34] Dan Satriana: Betul ibu @yanti. Saya sih optimis karena banyak sekolah yang berhasil menikah dengan lebih sehat. Di salatiga, di Blitar, di Bandung sudah cukup. Jika kita belum siap merubah persepsi kita, cukup negara memberi ruang bagi eksperimen seperti itu tanpa tuntutan kesergaman. Bukankah Pa Anies punya jargon mencari Champion, mengoleksi best practise….ini….di sini

[23/03 00:38] yanti kerlip: Kita dorong buat semacam festivalnya yuk…mulai dari pelatihan menulis praktik2 baik. Dulu kayaknya pernah dilakukan untuk wapik.

http://jendela.data.kemdikbud.go.id/jendela/ ini dibuat anak2 muda Paska yg bisa dimanfaatkan disdik kota Bandung untuk exposure best practices ya

[23/03 04:15] Taufan fgii: Kang Ben, siswa sekolah favorit baik Swasta pun negeri mulai sd – sma, yg saya tahu umum nya mrk ikut bimbel, OK jgan dilihat sekolah negeri, kita lihat sekolah Swasta yg umumnya Gurunya msh muda enerjik, kreatifitas, selalu dlm pantauan yayasan, jika cara mengajar Dan kinerja buruk ada sangsi yg merugikan dirinya, Dan akhirnya terkondisi bagus pelayanannya, namun tetap saja anak2 didik nya bimbel

[23/03 04:19] Taufan fgii: Bener Kang Dan, di sekolah ada proses yg menyenangkan ada nilai silaturahmi siswanya ktk praktik apapun di sekolah lebih menyenangkan, apalagi berdasarkan kurikulum nasional, penilaian siswa lebih kpd prosesnya bukan hasilnya, guru harus melihat kesungguhan siswa ktk mengerjakan tugas atau lembar kerja bukan pd hasil

Mas eko, seandainya  kembali spt orang tua kita dulu ktk menyekolahkan kita orientasinya ke sekolah yg terdekat mulai SD- SMA, Dan saat itu belum muncul sekolah favorit, buktinya orang sukses yg kita lihat skrg tidak lahir dari sekolah dan PTN favorit, krn kunci sukses adalah kesungguhannya dlm meraih mimpi, hal inilah yg harus secara masif ditanamkan kepada anak Dan ortu siswa.

OPeRA di wa grup GMPP Indonesia selalu menarik untuk disebarluaskan. Kang Dan adalah pegiat pendidikan yang sudah kawakan dan jadi mentor bagi sahabat-sahabat KerLiP seperti Zamzam, Ova, Nur juga Ilah, Okha, dan anak-anak muda yang bergiat di Kalyanamandira. Satuan Aksi Pembelajaran yang mereka susun untuk anak-anak berhadapan hukum di LPKA Kebonwaru lengkap dengan berbagai praktik baiknya. Setahu saya sekolah-sekolah yang disebutkan berhasil menikahkan politik, ekonomi, dan pendidikan secara sehat seperti Qoryah Thoyibah, Hikmah Teladan, SMA PGRI Cibinong, Sekolah Alam beberapa kali diliput jurnalis Kompas.

Mediator Aktif
image

Pertemuan saya dengan FGII dan para pegiat hak atas pendidikan di Jakarta tahun 2005 mendorong kamk untuk menggiatkan gerakan keluarga peduli pendidikan di ranah advokasi non litigasi menjadi litigasi. Advokasi korban UN 2006 menyadarkan saya tentang pentingnya kerja sebagai mediator aktif untuk mengubah wajah sekolah/madrasah lebih ramah anak. Kampanye dan advokasi Education for All yang kami usung sejak 2003 untuk memastikan tersedianya anggaran yang memadai dalam pemenuhan hak konstitusional rakyat atas pendidikan mendapatkan penguatan. Praktik-praktik baik pendidikan anak merdeka di sekolah berprogram khas dengan bangunan fisik seperti sekolah “negeri” serta kemitraan khas dengan Pak Fasli Jalal yang memimpin perubahan di Kementerian Pendidikan Nasional membuka jalan baru sebagai mediator aktif dalam pemenuhan hak atas pendidikan. Apalagi dengan dukungan sahabat-sahabat KerLiP dari UPI Bandung dan guru-guru kritis di FGII.

“Mbak, banyak yang bilang lu tuh murahan banget, tanpa dibayar pun bisa, “kata Susi Fitri saat kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun saya meninggalkan keramaian advokasi di Jakarta. Kata-katanya menyadarkan saya untuk mempertimbangkan kegelisahan Zamzam. Posisi mediator aktif dalam pemenuhan hak atas pendidikan mempercepat upaya advokasi yang kami buka melalui pelembagaan Sekretariat Nasional Sekolah Aman. Saya memutuskan untuk bergeser memperkuat advokasi bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak setelah berkenalan dengan Bu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak. Kampanye dan penerapan sekolah aman pun kami rangkai dengan praktik-praktik baik lainnya yang sudah diusung ribuan bahkan ratusan ribu sekolah. Penyusunan direktori sekolah aman 2013 bersama BNPB menjadi media penting dalam pengumpulan praktik-praktik baik tersebut.

Saya dan Zamzam tetap menjalankan mediasi antar kementerian dan lembaga sampai ke pemerintah kota/kabupaten. Sosialisasi Pedoman Pendidikan Ramah Anak ke 17 provinsi pada tahun 2012 membuka kesempatan untuk menjangkau mitra KerLiP di daerah. Kesempatan emas untuk menikahkan politik, ekonomi dan pendidikan makin terbuka saat Bu Ida, kasubdit sarpras Ditme Ditjen Pendis Kemenag mengajak kami untuj mengarusutamakan sekolah/madrasah aman dari bencana dalam rehabilitasi 7 ribu madrasah pada tahun 2011-2012 lalu perluasan MAN Insan Cendekia ke 20 provinsi sebagai model penerapan pendidikan ramah anak yang diusung 7 kementerian/lembaga.

Alhamdulillah, upaya harmonisasi dan perluasan jangkauan pemenuhan hak anak atas pendidikan mulai diperkuat dengan penyediaan Ruang Kreativitas Anak untuk pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. Bu Elvi, asdep pemenuhan hak anak atas pendidikan pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya menjadi penanda penguatan reformasi birokrasi dalam pemenuhan hak atas pendidikan ini. Kemitraan khas yang kami jalankan memungkinkan percepatan penerapan Sekolah Ramah Anak sebagai salah satu indikator Kota/Kabupaten Layak Anak di Kemdikbud. Direktorat Pembinaan SMP sudah menerbitkan panduan Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan selama proses advokasi yang kami jalankan bersama Bu Elvi 2014 lalu. Saat ini Direktorat Pembinaan SMA dan Pembinaan SD sudah menuntaskan Panduan Sekolah Ramah Anak dalam dampingan Zamzam dan Susi Fitri.

Keputusan saya untuk mendampingi Bu Rena, Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus memungkinkan isu lintas sektor untuk memperkuat kemitraan yang dulu diusung melalui Seknas Sekolah Aman. Istilah Anak Berkebutuhan Khusus Bersih, Sehat, Ramah Anak, dan inklusif (Berseri) dikeluarkan Bu Ning, Kasubdit Peserta Didik Bina PKLK. Gerakan KerLiP Bersinar (Bersih, Sehat,Hijau, Inklusif, Aman, Antikekerasan dan Ramah Anak) pun mendapatkan momentumnya. Hasil Rakor Bina PKLK memunculkan SeRAI sekolah Ramah Anak dan Inklusif serta SeMAI 3T menggantikan ADEM 3T. Penanda-penanda baru ini melengkapi kegiatan GeMBIRA bersama KerLiP di sekolah yang kami sebarluaskan melalui kitabisa.com.

Intimacy, passion dan commitment adalah tiga elemen tringular theory of love dari Sternberg. Intimacy merupakan elemen emosi yang berhubungan dengan kedekatan yang mengarah pada hubungan, kepercayaan dan kehangatan, passion merupakan elemen motivasi dan commitment merupakan elemen kognitif yang mendasari untuk saling menyayangi dan mempertahankan hubungan. Ketiganya merupakan elemen penting dalam pernikahan. Kami jalin dalam upaya tumbuh bersama mewujudkan Pendidikan Ramah Anak, Bermutu, dan Bebas Pungutan (Panutan).