Mengenal Mendikbud Anies Baswedan Lebih Dekat

Nama Anies Baswedan dan Indonesia Mengajar-nya sudah lama saya dengar sebelum bekerja sama merumuskan penanda perbaikan Sistem Pendidikan Nasional jelang akhir tahun 2014 lali. Penerimaannya yang tulus terhadap 88 relawan gayung bersambut dengan semangat tinggi kedua belah pihak untuk mengedepankan kebaikan. Kami pun bergabung dengan relawan Mas Anies yang sudah lebih dulu bekerja di sana.

Kesadaran Berbangsa

Beberapa profesional muda menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikiran dalam arahan Philia, alumni Matematika ITB yang memimpin McKinsey Indonesia dan diminta menjadi tangan kanan Mas Anies. Kami bekerja tanpa pamrih dalam lingkungan yang sangat dinamis. Kecurigaan dan sikap nyinyir dari sebagian orang terhadap yang lainnya berjalin kelindan dengan sikap para profesional muda yang tak jarang dipandang menyebalkan ternyata menebalkan rasa kebangsaan dalam diri masing-masing. Motif apapun yang melatarbelakanginya jadi tak terasa penting.

Saya dan para relawan plus Mas Imam bersepakat mengawal Indonesia Pintar dalam wadah gerakan. Berbagai manuver untuk mendapat kepercayaan Mas Anies sudah diupayakan Pak Kamsol, Bang Alpha, dan Bang Feber dengan penuh kesungguhan. Sementara itu, Mas Anies makin sibuk melakukan konsolidasi internal sesaat setelah diangkat menjadi Mendikbud. Saya dan Zamzam kembali bekerja demi kepentingan terbaik anak menggiatkan keluarga-keluarga peduli pendidikan inklusif, aman, dan ramah anak. Kami sepakat mendukung inisiatif Pak Kamsol.untuk melembagakan Gerakan Indonesia Pintar secara resmi.

image

Kesadaran berbangsa dan harapan kebaikan kembali memimpin negeri ini kami wujudkan dalam kerjasama yang indah hasilkan ELSI Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual. Dukungan Mas Anies sebagai Mendikbud yang kami peroleh dalam bentuk Kata Pengantar pada masterpiece yang berhasil terbit Juli 2015 menjadi bukti kebersamaan yang indah di antara kami. Saat ini sahabat-sahabat KerLiP mulai mengemas program penyediaan ELSI untuk KerLiP dan menawarkan ke sekolah-sekolah berprogram khas. Hasilnya dipersembahkan untuk sahabat-sahabat anak di Sinabung, Alor, ADEM Papua, Tampan Riau, Sekolah Garasi Malang, GERASHIAGA di 48 sekolah di Bandung Selatan, juga mendukung sasaran program yang diusung bersama Tim Pokja PPO KTPA yang dikukuhkan Mbak Khofifah, Mensos RI

Sahabat-sahabat relawan Gerakan Indonesia Pintar terus menemukan dan mengenali alasan anak-anak putus sekolah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Riau. Taman Pendidikan Anak Negeri sudah disosialisasikan Pak Kamsol di Riau. Praktik-praktik baik Pak Aripin dari Semesta Hati dengan beragam model pendidikan layanan khusus sudah kami hubungkan dengan Orang Laut Indonesia. Instrumen lampiran panduan Indonesia Pintar yang disusun Raka Pare sudah kami sebarluaskan ke relawan berkarakter. Kolaborasi sahabat-sahabat KerLiP dengan Direktorat PKLK Dikdasmen melalui Bu Renani terus berlanjut menjangkau mereka yang terpinggirkan.

image

Insya Allah seluruh kegiatan ini lahir dari kesadaran berbangsa untuk tumbuh bersama mencerdaskan kehidupan melalui pemenuhan hak pendidikan anak bersinergi dengan Mas Anies sebagai Mendikbud saat ini.

Belajar Berinteraksi di Keramaian

Zakky sudah menggunakan kaos #YES4SaferSchool saat Arya, pelajar kelas 3 SD di Jakarta menceritakan game fire ranger yang dibuatnya. Ibunda Arya sesekali menambahkan informasi tentang lomba di Indosat yang dimenangkan putranya, Arya. Omar kakaknya Arya terlihat lebih pendiam. Kata ibunya, Omar sedang mempersiapkan diri ikut tes masuk ke SMA Taruna Nusantara.

Ibunda Arya langsung tertarik mengetahui Zakky yang kini belajar di Fisika ITB semester 3 menawarkan #ELSI untuk #YES4SaferSchool. Ya, selama 2015-2016 kami melakukan fundraising dengan cara setiap penjualan 10 paket #ELSI disediakan 3 paket senilai @Rp 2.250.000 untuk ibu penerima anugerah KILAUNusantara, Duta Anak, dan Guru PANUTAN.

Menemani Ananda Belajar

Mendidik anak untuk berani gagal memerlukan kesabaran dan ketekunan. Berapapun usia kita, jika ia baru pertama kali menjual pasti akan terasa kagok. Saya masih ingat ketika menitipkan penganan yang dikemas kecil-kecil ke ibu pemilik kantin di SMP. Perlahan namun pasti, keterampilan saya pun meningkat terutama menjual ide melalui kampanye dan advokasi pemenuhan hak pendidikan anak.

Hari ini, Zakky memulai fundraisingnya di Dago Car Free Day. Dokumentasikan rekam proses tumbuh bersama Zakky dengan perangkat yang ada mengajak keluarga yang lewat di depan kami untuk memanfaatkan fotobooth cukup lengkap. Kami memberikan kalender 2016 untuk setiap anak yang difoto atas ijin ibu/ayahnya. Zakky menyimak cara saya menjelaskan keterkaitan #YES4SafErSchool dengan penjualan #ELSI kepada ayah/ibu anak yang berani difoto. Kartu nama kosong disodorkan setelah ayah/ibu tertarik mendengar penjelasan tentang Gerakan yang diusung KerLiP.

Sila simak foto proses Zakky di Dago CFD.

image

Masih mencari ide

image

Hampir saja…

image

Mendekat

image

Bertukar nomor kontak

image

Memotret

Arya

image

Menjangkau

Peta Jalan Perubahan Menuju Keluarga IDAMAN

Wah deg-degan juga berbicara di depan para pakar pendidikan dan 500 peserta Seminar Pemetaan Guru PAUD dan SD di Universitas Malang. Saya tidak menyangka peserta yang masih muda-muda ini begitu antusias mengikuti acara. Pak Kentar orang dibalik kehadiran saya dan Dr. Umi berhasil membangun opini publik yang baik sehingga acara yang disiapkan dalam waktu seminggu ini berhasil menggoyang GOR UM.
“Semula kami memesan ruang yang lebih kecil, Bu. Tapi peserta yang mendaftar terus bertambah, “ketua panitia menjelaskan sebelum acara dibuka.

image

Agenda Acaranya Menarik

Motivator yang juga dosen kebanggaan UM ini menjadi faktor kunci antusiasme peserta. Ia hadir menepati jadwal yang tertera dalam agenda. Kepiawaian Dr. Umi menghidupkan seminar yang diikuti 500 peserta tersebut. Saya sempat tak yakin dapat mengimbanginya pada sesi berikutnya. Syukur alhamdulillah, panitia menyajikan tarian energik dari 3 mahasiswi UM. Jeda waktu lebih dari cukup untuk menyesuaikan penyajian bahan presentasi yang disiapkan dini hari tadi.

image

Pertanyaan definisi anak menjadi pembuka yang mengundang partisipasi peserta. Bu Yeti guru SD yang menjawab benar menjadi titik masuk ke materi presentasi yang sudah disiapkan. Slide pertama tentang jumlah anak menurut sensus 2010 saya jadikan pembuka diskusi, “Ada yang bisa melihat keganjilan data ini?” Tanya saya kepada beberapa peserta. Saya hampiri mereka satu per satu. Belum.ada yang lihat. Saya goda mereka dengan pengetahuan baru yang sebelumnya diperoleh, bahwa anak sampai usia 18 tahun. Ya. Pengelompokan usia 15-19 tahun.menjadi tantangan tersendiri. Kita perlu memetakan kembali jumlah anak yang sebenarnya.

Ancaman dan Kerentanan

Pengarusutamaan PRB menjadi penanda penting dalam.setiap presentasi saya. Penemuan tentang ancaman bersama peserta menggiring pemahaman yang sama mengenai kerentanan atau setidaknya prevalensi kekerasan terhadap anak laki-laki dan perempuan. Beberapa informasi terkait kejahatan seksual anak yang disampaikan pada sesi sebelumnya menjadi penghubung yang menarik. Penuh harap suasana belajar yang menyenangkan bersama motivator menambah keberterimaan peserta terhadap sajian saya.
image

Beberapa pertanyaan yang sempat saya catat disini menunjukkan hal tersebut.

1. Guru dari Kab Pasuruan? PNS TK, anak2 di TK sangat dekat dg orangtua komunikasi hubungan dekat, biaya perlu bekerja, jarang orangtua memberikan 20 menit, problem, pembiasaan perkembangan lari ke guru TK. Orangtua memberikan beban kepada pengasuh di TK. Sebagai ortu dg jam tatap muka dengan anak lebih lama, tanggung jawab 80% di orang tua dan guru membantu, kondisi spt ini, bagaimana caranya agar oramg tua mempunyai kesadaran dan tanggung jawab

2. Dini; orangtua kurang memberikan perhatian,  pendidikan yg otoriter, di rumah tidak dapatkan kasih sayang. Bagaimana membangun kesadaran orang tua tersebut.

3. Nadila penyelesaian problematika wanita karir untuk keluarga idaman. Apakah 20 menit itu cukup?

4. S1 PGSD 2015: banyak organisasi yg perjuangkan, apa  bentuk kontribusi langsung sehingga menjadi solusi dalam perlindunga  anak

5. Danisa prodi SD, pendidikan ramah anak di sekolah sulit dilakukan karena materi yang harus diajarkan cukup banyak di rumah ayah ibu bekerja dengan latar belakang pendidikan rendah

6. Simphoni TK-PAUD-SD dan pencegahan serta penanganan pemderita gagal ginjal usia anak akibat jajanan tidak sehat.

7. Bagaimana cara menghadapi anak tantrum.

Membangkitkan Kesadaran Hukum Warga Negara

Kenyataan bahwa tak ada satu pun peserta yang mengetahui UU Perlindungan Anak dan perubahan amandemen membuat saya terhenyak. Alih-alih menyiapkan pelatihan SRA bagi guru, nampaknya perlu diiringi dengan memastikan SKS khusus di iKIP atau Universitas eks IKIP.

Alhamdulillah dalam perjalanan, Bang Alpha, Sekjen Gerakan Indonesia Pintar mengundang saya masuk kedalam grup Sekolah Ramah Anak. Informasi ini segera saya bagi untuk memperkuat rencana kampanye dan advokasi Sekolah ramah Anak.
image