Belajar dari Guru Profesional yang Ramah Anak

Untuk kesekian kalinya aku kagum dengan cara Tety mengelola kelas. Ia sangat piawai berbicara di depan kolega sesama guru. “Jawaban fasilitator sangat cerdas, Teh. Banyak yang perlu di highlight, caranya memfasilitasi sangat cerdas, “kata Mas Nanang di sebelahku mengomentari Tety, guru profesional yang ramah anak. Kesaksian guru yang juga pengurus PGRI itu sempat mengusik kegelisahanku. Hampir saja aku tak dapat menguasai diri. Mas Nanang, sahabat lama pegiat perlindungan anak yang juga Tim Penilai KLA menahanku untuk merespon. “Kita biarkan dinamika kelompoknya bekerja saling mengisi, “ujarnya perlahan.

image

“Disiplin bagi anak sangat perlu, tapi tak perlu main fisik seperti militer, “kata Bapak berpakaian hitam yang mewakili orangtua/wali. Ia berkali-kali menyampaikan teori Freud tentang tumbuh kembang anak dan pentingnya menerapkan SRA sesuai usia anak. Tety, guru SMAN 24 Jakarta yang kini menjabat Bendahara DPP FGII menunjukkan kepiawaiannya mengelola kelas. Ia makin apresiatif merespon kesaksian koleganya dari PGRI. “Idealisme guru yang menggebu di waktu muda dan terus melembut seiring dengan bertambahnya usia, benarkah Bapak/Ibu? Tak perlu menyangkal, saya juga mengalaminya. Organisasi profesi seperti FGII dan PGRI harus segera mengambil peran untuk menjadi tempat bertanya bagi anggotanya. FGII sudah memulai Klinik Guru di Way Kanan Lampung. Jangan-jangan yang perlu diterapi kita sendiri ya, “ujarnya sambil berjalan ke bagian belakang.

DPD FGII Jatim Keren

Pelatihan SRA bagi Guru dan Pendidik Jawa Timur ini terselenggara berkat kolaborasi yang dilakukan DPP FGII, Pak Bambang dengan Bu Bekti dari SD KITA yang bergegas menerima peluang yang kami giatkan bersama sahabat-sahabat KerLiP, GENTaskin, dan Gerakan Indonesia Pintar. Kemitraan KerLiP dengan Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan Kreativitas dan Budaya Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa dan DPP FGII sangat kondusif untuk menjangkau guru, kepala sekolah, dan para pendidik.

image

Pak Bambang, guru SMKN di Sampang yang juga DPP FGII memperkuat DPD FGII Jatim menjelamg kongres FGII pertengahan Mei nanti. “Ada tiga guru di sekolah kami yang bergabung dengan DPD FGII Jatim, Bu, “ujar salah seorang peserta. Peserta lainnya menyampaikan gagasannya untuk menindaklanjuti pelatihan ini dengan Forum Guru Ramah Anak Jatim. Alhamdulillah, keputusan yang sangat tepat mengajak Tety hadir sebagai Narasumber pelatihan SRA di Edotel SMKN Buduran Sidoarjo. Pelatihan ini diikuti 40 guru, pendidik, orang tua/wali dari Kabupaten Malang, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Surabaya. Seluruh pendanaan disediakan oleh Kempppa melalui Bu Elvi, Asdep yang merakyat dan baik hati.

Safari GeMBIRA di SDN Cirateun Kulon

“Ada yang gangguin, tapi seneng koq. Bisa jadi mentor buat adik-adik keren, “kata Anggi dengan senyum manisnya memulai evaluasi siang tadi. Kegembiraan anak-anak GSB Bersinar Kelas Digital binaan Bu Nia mendapatkan kesempatan untuk memfasilitasi Roadshow Sekolah Aman di SDN Cirateun Kulon terpancar selama evaluasi dilaksanakan. “Aku juga seneng. Ini pertama kalinya aku mengajar anak-anak SD, “kata anak lainnya.

image

Pengelolaan Sampah Berbasis Sekolah

Tidak perlu menunggu tong cantik warna warni memikat hati untuk memulai pengelolaan sampah berbasis sekolah. Sahlan dan kawan-kawan dari GSB Bersinar menyiapkan 4 plastik sampah hitam berukuran besar yang ditandai dengan kertas bertuliskan jenis sampah.

Sampahku ada dua
Organik an organik
Organik sampah busuk
An organik tidak busuk

Bait pertama lagu pemilahan sampah yang Dina lantunkan memulai kegiatan memilah sampah pada Safari GeMBiRA kali ini. Yunita menjelaskan jenis-jenis sampah dilengkapi Cika dan kawan-kawannya. “Lihat! Anak itu sampai bergegas menghabiskan air minum dalam kemasan plastik agar bisa memilah sampah dengan  kakak mentor keren-keren dari GSB Bersinar SMPN 11 Bandung, “kataku kepada Tahan dari Wahana Visi setengah berseru. Keasyikan anak-anak memilah sampah jadi kegiatan primadona. Bahkan anak-anak yang terlihat menyendiri pun terlihat aktif memilah sampah.

image

Sekolah Aman Komprehensif

Maulina dari Save The Children yang menjadi salah satu anggota Tim ASEAN Safe School Innitiative, mengingatkan pentingnya 3 pilar sekolah aman. Penjelasan Bu Sari sebagai koordinator Roadshow Sekolah Aman dari Bencana dari KerLiP Kota Bandung saya perkuat berdasarkan pengalaman roadshow GERA SHIAGA yang melengkapi penerapan Sekolah/Madrasah Aman dafi Bemcana dalam DAK Pendidikan 2011-2012.

Kali ini kami memutuskan menyederhanakan kegiatan penilaian fisik sekolah oleh-anak-anak dan guru serta memperkuat inisiatif pengintegrasian pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah dan pentingnya manajemen kebencanaan sesuai rekomendasi Kadisdik Kota Bandung. SDN Cirateun Kulon adalah piloting sekolah aman gempa dari LIPI dan PMB iTB 2007. Bu Euis Nani, Kepala sekolah menyampaikan informasi tersebut dalam sambutannya. Beliau juga meminta bantuan fisik untuk menambah ruang kelas baru bagi 4 kelas yang dibuka siang hari. Kegiatan simulasi dari bencana pun sudah rutin dilaksanakan. Namun demikian, tak ada dokumentasi apapun yang dapat menunjukkan praktik-praktik baik mereka. Kami mengingatkan pentingnya menerbitkan surat keputisan Kepala Sekolah tentang Tim/Satgas PB di SDN Cirateun Kulon lengkap dengan protap, peta, jalur dan rambu evakuasi dan penggalangan sumber daya untuk menerapkan sekolah aman bencana.

image

Pendidikan PRB dalam kerangka Gerakan KerLiP Bersinar

image

Adik-adik peserta roadshow menyimak penjelasan kakak mentor sambil membuka brosur YES for Safer School karya Fitry dari Green SMile Inc. Alhamdulillah, WVI dengan dukungan ASSI memfasilitasi kegiatan roadshow yang melibatkan 17 SDN dan 3 SLB yang direkomendasikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung.

GSB Bersinar dibantu Dina dari SeKAM melakukan mentoring sebaya untuk membuat kolase sekolah idaman anak. Di tempat lain Bu Nia memfasilitasi perwakilan guru dari SDN Cirateun Cirateun Kulon, Cibeureum, dan Komara Budi untuk menyusun rencana aksi sekolah aman dari bencana di sekolah masing-masing. Menarik menyimak rencana aksi sekolah ABG (Aman Bencana Gempa) dari Komara Budi lengkap dengan dukungan sumber daya sari KerLiP dan Save the Children. SDN Cibeureum merancang Gesit menuju sekolah aman, gerakan sehat dan bersih yang menarik dijalin dengan pendidikan karakter berhiber. Kedua kegiatan ini merupakan kegiatan inti dari roadshow sekolah aman bencana ini.

image

image

image

image

Menyimak Prof Arif dalam Diskusi Kawal Sekolah Aman-Anti Kekerasan

Sudah lama kami tidak duduk berhadapan seperti ini. “Alhamdulillah, inisiatif sekolah aman meluas ke anti kekerasan ya Prof, “sapa saya sambil mengiringi beliau duduk di kursi depan. Ingatan saya melayang ke akhir tahun 2010 ketika kami bertemu di ruang Wamendiknas. “Pak Fasli sudah benar, mengundang Mbak Yanti dari Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana. Saya Dewan Pengarah Planas PRB,”ujar Prof Arif menanggapi salah satu wakil Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) yang segera memperkenalkan Ninil sebagai wakil KPB ketika Pak Fasli meminta saya menyampaikan beberapa hap terkait strategi nasional pengarusutamaan PRB di sekolah.

Saat-saat indah mengawal sekolah/madrasah aman dari bencana bersama Pak Fasli Jalal yang membuka pintu silaturahmi dengan para pejabat publik takkan pernah terlupakan. Saya sepakat dengan anggota presidium KPB lainnya untuk mengawal sekolah aman setelah diluncurkan oleh Wamendiknas bersama Kepala BNPB, Menkokesra, Menkes difasilitasi Planas PRB pada tanggal 29 Juli 2010. Pertemuan yang diinisiasi SCDRR bersama Balitbangdiknas pada akhir 2010 tersebit dijalin dengan kemitraan khas Perkumpulan KerLiP dengan Wamendiknas yang saat itu dijabat Pak Fasli. Setelah pertemuan tersebut saya berkomitmen untuk memperkuat basis KerLiP di Jawa Barat. Apalagi pada tanggal 7 Agustus 2010, Presiden didampingi Kepala BNPB, Mendikbud, Gubernur Jabar memperkuat komitmen Pak Asep Hilman, Kabid Dikmen yang kini menjadi Kepala Disdik Jabaruntuk memastikan 1.374 SMK di Jawa Barat menjadi rujukan Sekolah Aman. 

Yes For Safer School Initiatives (YESSI)

Paparan Prof Arif yang berjudul Sekolah Aman Anti Kekerasan (Sekolah Ramah Anak) menjawab itikad kami untuk mengawal sekolah aman terintegrasi ke dalam Gerakan Sekolah Ramah Anak bersama praktik-praktik baik Sekolah Bersih dan Sehat, Adiwiyata, Hijau, Inklusif, Layak Anak, CFS, CLASSE, Pesantren Ramah Anak, Pendidikan Anak Merdeka, Rumah KerLiP, Qoriyah Thoyibahn Sekolah Siaga Bencana. Fitry dari Green SMile Inc mengemasnya dalam YESSI menggantikan istilah GERASHIAGA Gerakan aman, sehat, hijau,  idaman anak dan keluarga.

image
image

Kawal sekolah aman-anti kekerasan yang diatur dalam Permendikbud No 82 tahun 2015 dipresentasikan Direktur PSMP yang membagikan buku biru yang disusun saat kami berkoordinasi dengan Ditjen Dikdasmen menyiapkan draft Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak, Modul ToT SRA, Juknis SRA, dan Modul untuk diintegrasikan ke dalam Agenda Rutin Pelatihan Guru  oleh Kemendikbud.

image

image

image

Semangat Advokasi Prof Arif

Mas Chozin, staf khusus Mendikbud, moderator diskusi, mempersilakan Prof Arif untuk presentasi di depan. “Saya akan memulai presentasi ini untuk mengingatkan kembali kondisi yang mendorong kekerasan terhadap anak di sekolah, “kata Prof Arif sambil menulis di kertas plano.

image

Perubahan nilai tradisional yang menjadi ciri khas Nusantara, budaya materialisme yang mengubah keseharian kita menjadi materi pembahasan beliau setelah menunjukkan UN sebagai bukti bullying oleh Kemendikbud ketika menjadi penentu kelulusan. Prof Arif menyampaikan bahwa dalam mengawal sekolah aman anti kekerasan ini ada 4 tahap yang umum di pendidikan, yakni:
1. Informatif – sosialisasi
2. Edukasi
3. Rehabilitatif
4. Represif

Prof Arif juga menyampaikan keprihatinnya mengenai ketertinggalan program-program kebudayaan dan olah raga dalam Sistem Pendidikan Nasional. Kebudayaan adalah pengemudi kehidupan bangsa, enable and driver for sustainable development. Beliau meminta guru- dan kepala sekolah untum mengubah tatib menjadi lebih positif. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sebaiknya membentuk tim untuk mereview tata tertib yang disepakati di sekolah. “Terlalu banyak kasus pendidikan yang tidak disapa PGRI, “kata Prof Arif sebelum menutup presentasinya denga  menunjukkan indikator Sekolah Ramah Anak dari UNICEF.

image

image

image

Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah Keren

Kota Cimahi terlihat berbeda sekali dalam 10 tahun terakhir. Jalan Pesantren makin ramai dan terhubung langsung dengan pusat pemerintahan kota. Jalan baru melalui Fajar Raya Estate membantu kami terbebas dari kemacetan jalan menuju alun-alun Kota Cimahi setelah menembus jalan Gunung Batu yang menghubungkan Kota Bandung dengan Cimahi yang masih macet seperti tahun 2005 lalu. Waktu terasa begitu singkat ya.

Mencari Titik Kumpul Aman

Kegiatan safari gembira Semesta Hati ke SLBN Citeureup disambut hangat dengan sajian tari anak-anak SDLB dengan iringan lagu tradisional dari Sumatera.

image

Pak Widdy, Kepala Sekolah Semesta Hati menyampaikan kata sambutan dengan menjelaskan tujuan gerakan keluarga peduli pendidikan mempersaudarakan anak-anak Semesta Hati dengan SLBN Cicendo dan bersama-sama menggiatkan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih, Sehat, Hijau, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak (KerLiPBersinar).

image

Kata-kata sambutan Pak Widdy kembali dipertegas Bu Ninuk sebelum mengajak anak-anak bergerak bersama. Di sudut lain terlihat Ibu Guru menjelaskan dengam bahasa isyarat kepada anak-anak tuna rungu di sebelahnya.

image

Anak-anak terlihat gembira saat bergerak bersama sebelum melaksanakan CACT titik kumpul aman secara kolaboratif.

image

“Ini guiding block, Bu Ninuk. Tanda ini menuntun penyandang tuna netra untuk lebih berhati-hati karena ada turunan. Bagian yang bercorak panjang berarti aman untuk jalan terus, “saya menjelaskan dengan penuh semangat saat tiba disambut Bu Ninuk di SLBN Citeureup tadi pagi.

image

Pengalaman belajar bersama Pak Aden, pemerhati disabilitas Kota Bandung sangat berharga.

“Mari Bu, saya temani melihat jejak-jejak pendidikan pengurangan risiko bencana yang kami laksanakan dengan dukungan bansos dari PKLK Dikmen tahun 2013 dan 2015, “kata Bu Kusmini, ketua PRB SLBN Citeureup. Tanda titik kumpul aman terpampang di atas tiang di pinggir lapangan rumput. Ram bagi penyandang tuna netra melingkari lapangan hijau tersebut.

Bu Kusmini menjelaskan bahwa rambu-rambu evakuasi, lampu kerlap-kerlip, titik kumpul aman sudah dilepas setelah pelatihan dilaksanakan dengan narasumber dari BPBD Jawa Barat dan Tagana dari Dinas Sosial Jawa Barat. “Mohon maaf Bu Yanti, kami kira kegiatan hari ini hanya kegiatan main-main anak-anak Semesta Hati bersama anak-anak kami, “imbuh Bu Yani sambil mempersilakan kami masuk ke ruang tamu. Pak Utin, Pak Haji Dayat, Bu Kusmini terlihat antusias menyimak beberapa rencana pendampingan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SLBN Citeureup. Pak Enjang, wakasek sarpras pun bergabung bersama kami.

Anak-anak terlihat melakukan CACT tentang zona aman, hati-hati, dan bahaya dari aula tempat mereka berkumpul menuju lapangan hijau saat kami mengobrol di ruang tamu.

“Karya anak-anak kami sudah terjual sampai ke Malaysia dan beberapa tamu dari negara sahabat yang datang berkunjung, “Bu Kusmini berkali-kali menegaskan praktik-praktik baik di SLBN Citeureup. Saya sampaikan apresiasi yang tinggi terhadap layanan pendidikan dari guru-guru yang istimewa ini. 

Antusiasme Pak H. Dayat, Pak Utin, Pak Enjang dan Bendahara sekolah menumbuhkan kembali harapan saya untuk menjadikan Sekolah Sumber PKLK ini Sekolah Rujukan yang Keren bagi pendidikan inklusif di Kota Cimahi bahkan Jawa Barat. Guru-guru hebat ini merekomendasikan untuk segera bertemu dengan Pak Sudarman, Kepala Sekolah untuk menindaklanjuti obrolan hari ini.

image

SLB Citeureup Sekolah Rujukan yang Keren

Pak H. Dayat begitu sigap meminta guru kelompok A, B, C, D untuk mendampingi perwakilan 10 anak yang mengisi questioner Sekolah Ramah Anak dari Asdep PHPA KPPPA. Saya juga meminta Bu Ninuk untuk menyebarkan kepada semua anak Semesta Hati. Hasilnya akan saya serahkan hari ini kepada Bu Elvy, Asdep PHPA Kemppa untuk bahan kajian kategorisasi Sekolah Ramah Anak.

Anak-Anak Istimewa

“Ayo ada yang berani tampil menghibur teman-teman dan guru-guru hebat setelah belajar bersama!” Ajak saya saat diminta Bu Ninuk untuk memberikan kata-kata penutup. Lagu Muse yang dinyanyikan anak penyandang tuna grahita diiringi organ tunggal dari penyandang tuna netra menjadi tampilan perdana. Tepukan tangan anak-anak begitu membahana di aula yang memiliki panggung nan luas ini. “Ayo anak Semesta Hati tampil juga!” Ajakan Pak Utin segera disambut salah satu penyandang down syndrome dari Semesta hati. Anak yang memeragakan pencak silat ini makin asyik tampil dengam hentakan musik organ tunggal yang dimainkan temannya dari SLBN Citeureup.

Tepukan tangan anak-anak perempuan Semesta Hati sambil tersipu-sipu saat 2 anak tuna rungu yang ganteng-ganteng dari SLBN Citeureup tampil dengan pantomimnya menghangatkan suasana. Saya mempersilakan Bu Kusmini untuk menjelaskan  pendidikan PRB yang pernah dilaksanakan di SLBN Citeureup. Brosur berwarna pink lengkap dengan foto-foto kegiatan latihan penanganan korban saat simulasi evakuasi terpampang jelas. “Ada 200 orang yang mengikuti pelatihan simulasi dengan narasumber-narasber hebat dari BPBD Jabar dan Dinsos Jabar. Orangtua/wali peserta didik mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh semangat. Mereka membantu anak-anak saar menyelamatkan diri dari bahaya gempa bumi dan kebakaran, “kata Bu Kusmini menjelaskan isi brosur tersebut.

Bu Ninuk menyampaikan tulisan braile dari anak SLBN Citeureup dan testimoni anak Semesta Hati. Kata-kata pantang menyerah dan kebersamaan yang diungkap kedua anak istimewa tersebut mengikat makna gerakan keluarga peduli pendidikan bersinar di Kota Cimahi.

image

Sungguh membahagiakan melihat anak-anak SLBN Citeureup bergembira bersama keluarga-keluarga pendidikan dari Semesta Hati. Kegembiraan ini terasa makin lengkap menerima sambutan hangat dan penuh kekeluargaan dari guru-guru SLBN Citeureup dan orangtua peserta didik yang hadir menjemput anak-anak mereka.

Kebersamaan nan indah dari kedua sekolah di Kota Cimahi ini akan jadi model sister school.yang keren dalam gerakan keluarga peduli pendisikan bersinar.

Efektivitas Panduan Bimtek Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah

Sejak awal gerakan keluarga peduli pendidikan bersinar ini dirancang, kami sepakat untuk menjangkau SLB-SLB pemerima bansos pendidikan pengurangan risiko bencana dari Kemdikbud tahun 2013 dan 2015. “Ada 5 SLB yang menerima bansos dari PKLK Dikmen tahun 2015 di kota Cimahi, Bu, “ujar Bu Yani, guru SLBN Citeureup. Saya bertemu Bu Yani saat diminta Bu Lilik Kasubdit Program dan Evaluasi Dit Bina PKLK Dikmen pada tahun 2013 di Yogyakarta.

SLBN Citeureup adalah sekolah sumber PKLK yang mendampingi penerapan pendidikan inklusif di SD Hikmah Teladan Cimahi pada tahun 2003. Tim Litbang KerLiP didukung oleh Pak Zulfikri Anas dan Pak Faisal Madani dati Puskur mengembangkan konsep Pendidikan Anak Merdeka sebagai model pemenuhan hak pendidikan anak di SD Hikmah Teladan.

Menurut Bu Kusmini, Ketua PRB di SLBN Citeureup, sebanyak 200 orang yang mengikuti pelatihan simulasi dengan narasumber-narasumber dari BPBD Jabar dan Dinsos Jabar. Orangtua/wali peserta didik, masyarakat, guru, dan anak-anak mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh semangat. Orang tua membantu anak-anak saat menyelamatkan diri dari bahaya gempa bumi dan kebakaran. Guru-guru juga berlatih penanganan korban bencana dengan sungguh-sungguh.

Sayang sekali jejak pendidikan PRB ini hampir tak terlihat lagi. Rencana Aksi PRB di SLBN Citeureup didokumentasikan dalam brosur pink lengkap dengan foto-foto kegiatan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Rambu-rambu evakuasi diamankan oleh wakasek sarana prasarana. Kenyataan ini membuat saya bergegas untuk mendorong Pak Praptono menyusun panduan Bimtek yang lebih efektif.

[10/02 11:20] yanti kerlip: Assalamu’alaikum wr.wb Pak Praptono
[10/02 11:20] yanti kerlip: Saya sedang pendampingan di SLBN Citeureup
[10/02 11:21] yanti kerlip: Nampaknya perlu perbaikan panduan terkait PRB atau sekolah aman bencana di SLB
[10/02 11:21] yanti kerlip: Insya Allah besok saya ke Cipete bertemu dg Bu Rikka
[10/02 11:21] yanti kerlip: Mudah2an Bapak juga sedang di Cipete ya
[10/02 11:51] Pak Praptono Pklk: Sekolah aman Di program bu. Dg mas aswin
[10/02 11:52] yanti kerlip: Mudah2an rencana penyusunan panduan Bimtek 5 x 120 orang bisa dilaksanakan segera ya
[10/02 11:56] Pak Praptono Pklk: Ini anggaran siap. Tinggal butuh skenario
[10/02 11:58] yanti kerlip: Siap bantu Pak, mudah2an besok siang bisa bertemu
[10/02 12:00] Pak Praptono Pklk: Ditunggu bu

Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Makin Dibutuhkan

“Asumsi kita jumlah ABK sebanyak 1,5 juta. 160-170 ribu sudah menikmati bermain dan belajar di SLB dan Sekolah Inklusif, baru 11%, “kata Dirjen Dikdasmen dalam pembukaan Rakor Pembinaan PKLK Dikdasmen. Saya dan Aas diminta menemani Zamzam untuk memfasilitasi rakor menggantikan fasilitator yang berhalangan hadir. Kehormatan bagi kami bertiga mewakili Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan untuk mengemas agenda prioritas yang disusun oleh 33 Ketua LPMP dan Kabid PKLK dari seluruh Dinas Pendidikan Provinsi.

Sejak memutuskan beralih ke Cipete menemani Bu Lilik, Bu Rikka, dan Bu Rinj di PKLK Dikmen kemudian intens berdiskusi dengan Bu Rena sebagai Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen, berbagai penanda yang kami inisiasi bersama sahabat-sahabat KerLiP mendapat kesempatan untuk diperluas. Pemenuhan hak pendidikan anak di Indonesia secara umum sudah dapat diakses dan dijangkau oleh anak-anak Indonesia. Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus mulai mendapat perhatian serius sejak jargon Negara hadir bagi mereka yang terpinggirkan berkumandang setelah Presiden Jokowi terpilih karena blusukannya yang memikat.

Saya sangat beruntung menjadi bagian dalam proses perencanaan dan penetapan rumusan pendidikan sebagai gerakan semesta dibantu Zamzam. Gerakan Sekolah Ramah Anak yang diusung keluarga peduli pendidikan dengan kekhasannya merajut praktik-praktik baik gayung bersambut dengan kegembiraan menemukan dan mengenali penanda-penanda baru.

Merajut Praktik Baik untuk Inovasi Sosial

Inisiatif Dirjen Dikdasmen yang mengusulkan draft Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak nampaknya diawali Mendikbud dengan menerbitkan Permendikbud tentang penanaman budi pekerti serta pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak di sekolah. Gerakan literasi 15 menit pun membahana di seluruh pelosok Nusantara.

Kini penanaman budi pekerti menjadi prioritas program. Saya menyambut antusias dengan membungkus Zero Waste Event-nya Arlian, Jamban Bersih, Sehat, dan Jujur nya Ria, book of me Bu Nia, Anugerah KILAUNusantara, Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar, komunitas literasi sejarah ekologi, sosial, budaya masyarakat adat terpencil bersama sekolah inklusif menjadi bagian dari inisiasi penanaman budi pekerti. Fokus kegiatan Perkumpulan KerLiP pun diarahkan untuk memperkuat komitmen pemerintah menjangkau ABK dan anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus menukmati hak atas pendidikan inklusif, aman, dam ramah anak.

Pak Praptono, Kasubdit Program dan Evaluasi mengemas 8 agenda prioritas PKLK hasil rakor yang dilaksanakan tanggal 1-4 Februari di Bekasi ini. Ia langsung meminta saya bergegas mendampingi penyusunan panduan dan modul Bimtek Pendidikan Kebencanaan untuk LPMP dan Disdikprov. Dukungan Bu Ning dalam pemodelan sister school antara SLB dan Sekolah Inklusif sangat bermakna. Kami bergegas menggiatkan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih, Sehat, Hijau, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak (KerLiP Bersinar) di Jawa Barat. Anugerah KILAUNusantara untuk keluarga-keluarga idaman yang melahirkan anak-anak unik juga muncul dalam rekomendasi hasil rakor yang dipresentasikan Pak Praptono.

Alhamdulillah.

image

Catatan Bu Ninuk: Memulai YES4SaferSchool di Sekolah Bersinar Semesta Hati

Minggu kedua bulan desember  sekolah semesta hati memulai project yes4saferschool.

CACT di Sekolah Semesta Hati
Kami memulainya dengan melihat tayangan tentang bencana gempa yg pernah terjadi di beberapa tempat. Lalu, bu Elsa, guru yang pernah melakukan penelitian  tentang patahan lembang, menyampaikan pengetahuan kepada anak-anak tentang beberapa fakta dan antisipasi yg harus dipikirkan bersama. Hari ini adalah hari setelah ujian akhir semester dilakukan. Sebagian besar siswa absen, maka diputuskan besok akan dilakukan kegiatan lanjutan.

CACT selanjutnya

Senang sekali, hari ini lebih banyak siswa yang hadir. Gilm kembali diputar. anak-anak serius memperhatikan. sambil mata nya berkeliling ke sudut-sudut ruang. Beberapa anak berkomentar sambil menunjuk ‘itu nggak aman bu’, ‘banyak barang di atas lemari’.

Anak-anak kemudian dikelompokkan. satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. anak-anak reguler bergabung dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka diminta untuk  beberapa anak SD terlibat diskusi. Mereka mencoba membuat denahsekolah,  tanda peringatan, titik aman, zona hati-hati , jalur evakuasi dan rambu-rambu. dalam diskusi kelompok ditemukan pertanyaan, “Bagaimana dengan S?”

Ananda S adalah salah satu siswa berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan untuk berjalan.  Beberapa teman yang istimewa membuat anggota kelompok berpikir untuk menemukan ide-ide yang kreatif. Ananda A dan kelompoknya membuat tanda peringatan dengan suara dan gambar dengan alasan ada diantara teman-temannya yang belum bisa mengenal aksara. Ananda R dan kelompoknya lebih suka jika menggunakan sirine, untuk membantu teman-teman yang autis dan kurang fokus.

Pertemuan berikutnya tentunya akan ada ide-ide baru yang mengejutkan 🙂