Belajar dari Guru Profesional yang Ramah Anak

Untuk kesekian kalinya aku kagum dengan cara Tety mengelola kelas. Ia sangat piawai berbicara di depan kolega sesama guru. “Jawaban fasilitator sangat cerdas, Teh. Banyak yang perlu di highlight, caranya memfasilitasi sangat cerdas, “kata Mas Nanang di sebelahku mengomentari Tety, guru profesional yang ramah anak. Kesaksian guru yang juga pengurus PGRI itu sempat mengusik kegelisahanku. Hampir saja aku tak dapat menguasai diri. Mas Nanang, sahabat lama pegiat perlindungan anak yang juga Tim Penilai KLA menahanku untuk merespon. “Kita biarkan dinamika kelompoknya bekerja saling mengisi, “ujarnya perlahan.

image

“Disiplin bagi anak sangat perlu, tapi tak perlu main fisik seperti militer, “kata Bapak berpakaian hitam yang mewakili orangtua/wali. Ia berkali-kali menyampaikan teori Freud tentang tumbuh kembang anak dan pentingnya menerapkan SRA sesuai usia anak. Tety, guru SMAN 24 Jakarta yang kini menjabat Bendahara DPP FGII menunjukkan kepiawaiannya mengelola kelas. Ia makin apresiatif merespon kesaksian koleganya dari PGRI. “Idealisme guru yang menggebu di waktu muda dan terus melembut seiring dengan bertambahnya usia, benarkah Bapak/Ibu? Tak perlu menyangkal, saya juga mengalaminya. Organisasi profesi seperti FGII dan PGRI harus segera mengambil peran untuk menjadi tempat bertanya bagi anggotanya. FGII sudah memulai Klinik Guru di Way Kanan Lampung. Jangan-jangan yang perlu diterapi kita sendiri ya, “ujarnya sambil berjalan ke bagian belakang.

DPD FGII Jatim Keren

Pelatihan SRA bagi Guru dan Pendidik Jawa Timur ini terselenggara berkat kolaborasi yang dilakukan DPP FGII, Pak Bambang dengan Bu Bekti dari SD KITA yang bergegas menerima peluang yang kami giatkan bersama sahabat-sahabat KerLiP, GENTaskin, dan Gerakan Indonesia Pintar. Kemitraan KerLiP dengan Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan Kreativitas dan Budaya Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa dan DPP FGII sangat kondusif untuk menjangkau guru, kepala sekolah, dan para pendidik.

image

Pak Bambang, guru SMKN di Sampang yang juga DPP FGII memperkuat DPD FGII Jatim menjelamg kongres FGII pertengahan Mei nanti. “Ada tiga guru di sekolah kami yang bergabung dengan DPD FGII Jatim, Bu, “ujar salah seorang peserta. Peserta lainnya menyampaikan gagasannya untuk menindaklanjuti pelatihan ini dengan Forum Guru Ramah Anak Jatim. Alhamdulillah, keputusan yang sangat tepat mengajak Tety hadir sebagai Narasumber pelatihan SRA di Edotel SMKN Buduran Sidoarjo. Pelatihan ini diikuti 40 guru, pendidik, orang tua/wali dari Kabupaten Malang, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Surabaya. Seluruh pendanaan disediakan oleh Kempppa melalui Bu Elvi, Asdep yang merakyat dan baik hati.

Advertisements

Safari GeMBIRA di SDN Cirateun Kulon

“Ada yang gangguin, tapi seneng koq. Bisa jadi mentor buat adik-adik keren, “kata Anggi dengan senyum manisnya memulai evaluasi siang tadi. Kegembiraan anak-anak GSB Bersinar Kelas Digital binaan Bu Nia mendapatkan kesempatan untuk memfasilitasi Roadshow Sekolah Aman di SDN Cirateun Kulon terpancar selama evaluasi dilaksanakan. “Aku juga seneng. Ini pertama kalinya aku mengajar anak-anak SD, “kata anak lainnya.

image

Pengelolaan Sampah Berbasis Sekolah

Tidak perlu menunggu tong cantik warna warni memikat hati untuk memulai pengelolaan sampah berbasis sekolah. Sahlan dan kawan-kawan dari GSB Bersinar menyiapkan 4 plastik sampah hitam berukuran besar yang ditandai dengan kertas bertuliskan jenis sampah.

Sampahku ada dua
Organik an organik
Organik sampah busuk
An organik tidak busuk

Bait pertama lagu pemilahan sampah yang Dina lantunkan memulai kegiatan memilah sampah pada Safari GeMBiRA kali ini. Yunita menjelaskan jenis-jenis sampah dilengkapi Cika dan kawan-kawannya. “Lihat! Anak itu sampai bergegas menghabiskan air minum dalam kemasan plastik agar bisa memilah sampah dengan  kakak mentor keren-keren dari GSB Bersinar SMPN 11 Bandung, “kataku kepada Tahan dari Wahana Visi setengah berseru. Keasyikan anak-anak memilah sampah jadi kegiatan primadona. Bahkan anak-anak yang terlihat menyendiri pun terlihat aktif memilah sampah.

image

Sekolah Aman Komprehensif

Maulina dari Save The Children yang menjadi salah satu anggota Tim ASEAN Safe School Innitiative, mengingatkan pentingnya 3 pilar sekolah aman. Penjelasan Bu Sari sebagai koordinator Roadshow Sekolah Aman dari Bencana dari KerLiP Kota Bandung saya perkuat berdasarkan pengalaman roadshow GERA SHIAGA yang melengkapi penerapan Sekolah/Madrasah Aman dafi Bemcana dalam DAK Pendidikan 2011-2012.

Kali ini kami memutuskan menyederhanakan kegiatan penilaian fisik sekolah oleh-anak-anak dan guru serta memperkuat inisiatif pengintegrasian pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah dan pentingnya manajemen kebencanaan sesuai rekomendasi Kadisdik Kota Bandung. SDN Cirateun Kulon adalah piloting sekolah aman gempa dari LIPI dan PMB iTB 2007. Bu Euis Nani, Kepala sekolah menyampaikan informasi tersebut dalam sambutannya. Beliau juga meminta bantuan fisik untuk menambah ruang kelas baru bagi 4 kelas yang dibuka siang hari. Kegiatan simulasi dari bencana pun sudah rutin dilaksanakan. Namun demikian, tak ada dokumentasi apapun yang dapat menunjukkan praktik-praktik baik mereka. Kami mengingatkan pentingnya menerbitkan surat keputisan Kepala Sekolah tentang Tim/Satgas PB di SDN Cirateun Kulon lengkap dengan protap, peta, jalur dan rambu evakuasi dan penggalangan sumber daya untuk menerapkan sekolah aman bencana.

image

Pendidikan PRB dalam kerangka Gerakan KerLiP Bersinar

image

Adik-adik peserta roadshow menyimak penjelasan kakak mentor sambil membuka brosur YES for Safer School karya Fitry dari Green SMile Inc. Alhamdulillah, WVI dengan dukungan ASSI memfasilitasi kegiatan roadshow yang melibatkan 17 SDN dan 3 SLB yang direkomendasikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung.

GSB Bersinar dibantu Dina dari SeKAM melakukan mentoring sebaya untuk membuat kolase sekolah idaman anak. Di tempat lain Bu Nia memfasilitasi perwakilan guru dari SDN Cirateun Cirateun Kulon, Cibeureum, dan Komara Budi untuk menyusun rencana aksi sekolah aman dari bencana di sekolah masing-masing. Menarik menyimak rencana aksi sekolah ABG (Aman Bencana Gempa) dari Komara Budi lengkap dengan dukungan sumber daya sari KerLiP dan Save the Children. SDN Cibeureum merancang Gesit menuju sekolah aman, gerakan sehat dan bersih yang menarik dijalin dengan pendidikan karakter berhiber. Kedua kegiatan ini merupakan kegiatan inti dari roadshow sekolah aman bencana ini.

image

image

image

image

Menyimak Prof Arif dalam Diskusi Kawal Sekolah Aman-Anti Kekerasan

Sudah lama kami tidak duduk berhadapan seperti ini. “Alhamdulillah, inisiatif sekolah aman meluas ke anti kekerasan ya Prof, “sapa saya sambil mengiringi beliau duduk di kursi depan. Ingatan saya melayang ke akhir tahun 2010 ketika kami bertemu di ruang Wamendiknas. “Pak Fasli sudah benar, mengundang Mbak Yanti dari Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana. Saya Dewan Pengarah Planas PRB,”ujar Prof Arif menanggapi salah satu wakil Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) yang segera memperkenalkan Ninil sebagai wakil KPB ketika Pak Fasli meminta saya menyampaikan beberapa hap terkait strategi nasional pengarusutamaan PRB di sekolah.

Saat-saat indah mengawal sekolah/madrasah aman dari bencana bersama Pak Fasli Jalal yang membuka pintu silaturahmi dengan para pejabat publik takkan pernah terlupakan. Saya sepakat dengan anggota presidium KPB lainnya untuk mengawal sekolah aman setelah diluncurkan oleh Wamendiknas bersama Kepala BNPB, Menkokesra, Menkes difasilitasi Planas PRB pada tanggal 29 Juli 2010. Pertemuan yang diinisiasi SCDRR bersama Balitbangdiknas pada akhir 2010 tersebit dijalin dengan kemitraan khas Perkumpulan KerLiP dengan Wamendiknas yang saat itu dijabat Pak Fasli. Setelah pertemuan tersebut saya berkomitmen untuk memperkuat basis KerLiP di Jawa Barat. Apalagi pada tanggal 7 Agustus 2010, Presiden didampingi Kepala BNPB, Mendikbud, Gubernur Jabar memperkuat komitmen Pak Asep Hilman, Kabid Dikmen yang kini menjadi Kepala Disdik Jabaruntuk memastikan 1.374 SMK di Jawa Barat menjadi rujukan Sekolah Aman. 

Yes For Safer School Initiatives (YESSI)

Paparan Prof Arif yang berjudul Sekolah Aman Anti Kekerasan (Sekolah Ramah Anak) menjawab itikad kami untuk mengawal sekolah aman terintegrasi ke dalam Gerakan Sekolah Ramah Anak bersama praktik-praktik baik Sekolah Bersih dan Sehat, Adiwiyata, Hijau, Inklusif, Layak Anak, CFS, CLASSE, Pesantren Ramah Anak, Pendidikan Anak Merdeka, Rumah KerLiP, Qoriyah Thoyibahn Sekolah Siaga Bencana. Fitry dari Green SMile Inc mengemasnya dalam YESSI menggantikan istilah GERASHIAGA Gerakan aman, sehat, hijau,  idaman anak dan keluarga.

image
image

Kawal sekolah aman-anti kekerasan yang diatur dalam Permendikbud No 82 tahun 2015 dipresentasikan Direktur PSMP yang membagikan buku biru yang disusun saat kami berkoordinasi dengan Ditjen Dikdasmen menyiapkan draft Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak, Modul ToT SRA, Juknis SRA, dan Modul untuk diintegrasikan ke dalam Agenda Rutin Pelatihan Guru  oleh Kemendikbud.

image

image

image

Semangat Advokasi Prof Arif

Mas Chozin, staf khusus Mendikbud, moderator diskusi, mempersilakan Prof Arif untuk presentasi di depan. “Saya akan memulai presentasi ini untuk mengingatkan kembali kondisi yang mendorong kekerasan terhadap anak di sekolah, “kata Prof Arif sambil menulis di kertas plano.

image

Perubahan nilai tradisional yang menjadi ciri khas Nusantara, budaya materialisme yang mengubah keseharian kita menjadi materi pembahasan beliau setelah menunjukkan UN sebagai bukti bullying oleh Kemendikbud ketika menjadi penentu kelulusan. Prof Arif menyampaikan bahwa dalam mengawal sekolah aman anti kekerasan ini ada 4 tahap yang umum di pendidikan, yakni:
1. Informatif – sosialisasi
2. Edukasi
3. Rehabilitatif
4. Represif

Prof Arif juga menyampaikan keprihatinnya mengenai ketertinggalan program-program kebudayaan dan olah raga dalam Sistem Pendidikan Nasional. Kebudayaan adalah pengemudi kehidupan bangsa, enable and driver for sustainable development. Beliau meminta guru- dan kepala sekolah untum mengubah tatib menjadi lebih positif. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sebaiknya membentuk tim untuk mereview tata tertib yang disepakati di sekolah. “Terlalu banyak kasus pendidikan yang tidak disapa PGRI, “kata Prof Arif sebelum menutup presentasinya denga  menunjukkan indikator Sekolah Ramah Anak dari UNICEF.

image

image

image