Mengembalikan Jiwa Guru Kita kepada Fitrah

Umat Islam baru saja menyelesaikan ibadah shaum bulan Ramadhan. Ucapan selamat idul fitri 2017 pun bertebaran di media sosial. Lebih dari 100 sms dan wa masuk sejak H-2 sampai H+2 Idul Fitri 2017. Alhamdulillah harapan untuk bisa kembali kepada fitrah kita yang suci makin bermakna sejak kembali terhubung melalui media sosial. Semangat yang sama juga muncul pada saat yang bersamaan untuk mengembalikan jiwa guru kepada fitrah anak bangsa yang penuh rasa ingin tahu dan tak ragu mengekspresikan kegembiraannya bermain dan belajar bersama teman sebaya di sekolah/madrasah.

Pesan terusan dari sahabat guru di SMAN 8 Bandung saya abadikan disini dengan beberapa penyesuaian untuk menggugah kembali kesadaran kritis kita tentang hal terpenting dalam mendidik anak bangsa.

Continue reading “Mengembalikan Jiwa Guru Kita kepada Fitrah”

Nia Kurniati dan Inisiatif Kelas Ramah Anak

19059082_10209122928737344_8352989031836567696_nNia Kurniati adalah guru PNS di SMPN 11 Bandung  yang telah berhasil melahirkan tiga orang pembaharu muda Ashoka. Ia mulai mengembangkan kelas ramah anak menyiasati segala pembatasan yang dialaminya setelah pergantian kepemimpinan.

Pendampingan sekolah aman di daerah aliran sungai Citarum yang dilaksanakan sahabat KerLiP atas dukungan multipihak mempertemukan gagasan, harapan,dan praktik baik yang dilakukan sahabat-sahabat KerLiP dengan bu Nia. Perjalanan panjang melembagakan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) di tempat bu Nia mengajar itu akhirnya sampai pada GSB MeSRA lalu GSB Bersinar dengan Kelas Ramah Anaknya yang keren sekali.

Beruntung

Bu Nia, begitu kami memanggilnya, mengaku sangat sensitif. Suaranya selalu bergetar menahan isak tangis setiap kali menyampaikan haru biru perjuangannya untuk keluar dari kebiasaan lama. Guru IPA yang gemar belajar ini sangat dicintai murid-muridnya. Ketekunannya untuk menemukenali potensi peserta didik di serta menuliskan prosesnya dengan cara yang khas selalu memperkaya OPeRA kami di wa. Saya sering tak sabar menyebarluaskannya dalam narasi-narasi panjang di blog ini. Tidaklah mengherankan jika bu Nia selalu mengingatkan saya untuk tidak memublikasikan catatan yang belum rampung.

Ragam metode yang dikenalkan bu Nia, yakni Book of me, dreamsboard, T R U S T, champion-change-connect memperkaya pendampingan terhadap anak, guru, kawula muda, orang tua yang kami laksanakan di berbagai tingkatan. Sahabat-sahabat KerLiP yang mendapatkan ilmu dari bu Nia makin banyak. Bu Nia yang tak pernah berhenti berkreasi menjadi sumber inspirasi utama dalam upaya kami mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Indonesia.

 

Belajar dari Guru Profesional yang Ramah Anak

Untuk kesekian kalinya aku kagum dengan cara Tety mengelola kelas. Ia sangat piawai berbicara di depan kolega sesama guru. “Jawaban fasilitator sangat cerdas, Teh. Banyak yang perlu di highlight, caranya memfasilitasi sangat cerdas, “kata Mas Nanang di sebelahku mengomentari Tety, guru profesional yang ramah anak. Kesaksian guru yang juga pengurus PGRI itu sempat mengusik kegelisahanku. Hampir saja aku tak dapat menguasai diri. Mas Nanang, sahabat lama pegiat perlindungan anak yang juga Tim Penilai KLA menahanku untuk merespon. “Kita biarkan dinamika kelompoknya bekerja saling mengisi, “ujarnya perlahan.

image

“Disiplin bagi anak sangat perlu, tapi tak perlu main fisik seperti militer, “kata Bapak berpakaian hitam yang mewakili orangtua/wali. Ia berkali-kali menyampaikan teori Freud tentang tumbuh kembang anak dan pentingnya menerapkan SRA sesuai usia anak. Tety, guru SMAN 24 Jakarta yang kini menjabat Bendahara DPP FGII menunjukkan kepiawaiannya mengelola kelas. Ia makin apresiatif merespon kesaksian koleganya dari PGRI. “Idealisme guru yang menggebu di waktu muda dan terus melembut seiring dengan bertambahnya usia, benarkah Bapak/Ibu? Tak perlu menyangkal, saya juga mengalaminya. Organisasi profesi seperti FGII dan PGRI harus segera mengambil peran untuk menjadi tempat bertanya bagi anggotanya. FGII sudah memulai Klinik Guru di Way Kanan Lampung. Jangan-jangan yang perlu diterapi kita sendiri ya, “ujarnya sambil berjalan ke bagian belakang.

DPD FGII Jatim Keren

Pelatihan SRA bagi Guru dan Pendidik Jawa Timur ini terselenggara berkat kolaborasi yang dilakukan DPP FGII, Pak Bambang dengan Bu Bekti dari SD KITA yang bergegas menerima peluang yang kami giatkan bersama sahabat-sahabat KerLiP, GENTaskin, dan Gerakan Indonesia Pintar. Kemitraan KerLiP dengan Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan Kreativitas dan Budaya Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa dan DPP FGII sangat kondusif untuk menjangkau guru, kepala sekolah, dan para pendidik.

image

Pak Bambang, guru SMKN di Sampang yang juga DPP FGII memperkuat DPD FGII Jatim menjelamg kongres FGII pertengahan Mei nanti. “Ada tiga guru di sekolah kami yang bergabung dengan DPD FGII Jatim, Bu, “ujar salah seorang peserta. Peserta lainnya menyampaikan gagasannya untuk menindaklanjuti pelatihan ini dengan Forum Guru Ramah Anak Jatim. Alhamdulillah, keputusan yang sangat tepat mengajak Tety hadir sebagai Narasumber pelatihan SRA di Edotel SMKN Buduran Sidoarjo. Pelatihan ini diikuti 40 guru, pendidik, orang tua/wali dari Kabupaten Malang, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Surabaya. Seluruh pendanaan disediakan oleh Kempppa melalui Bu Elvi, Asdep yang merakyat dan baik hati.

Guru, Perempuan dan Anak Didik dalam Federasi Guru Independen Indonesia

Inspirasi bincang 3 wanita# catatan musywil DPD FGII Jabar, @ 04.am 28 February 2016

Oleh: Nur Afiatin, Kepala SMK Nurul Imam

Menunggu Adzan subuh, hasratku untuk berbagi apa yg diperoleh dari aktivitas hati kemarin dan semalam kedalam tulisan INI adalah pilihan yg ingin terus dibiasakan. Musyawarah wilayah DPD FGII yang berlangsung hari Rabu tanggal 27 Februari 2016 di SMKN 2 Bandung, berlanjut menjenguk istri pak Taufan demisioner Ketua DPD FGII jabar dan  berakhir di meja makan Restoran Glosis Ciliwung bersama 2 angels FGII Mba teti dan Bu Lise.

Ada banyak hal menarik dan pembelajaran dari ketiga kegiatan tersebut. Musywil berakhir dengan terpilihnya Pak Iwan Hermawan sebagai ketua DPD FGII Jabar, dan saya sendiri sebagai sekretarisnya. FGII dengan keunikan, kedinamisan dan Problematikanya :), menjadi salah satu jalan yang Alloh berikan untuk belajar memahami peran guru yang sesungguhnya.

Bahwasanya organisasi profesi guru hadir, bukan hanya melulu berbicara persoalan kesejahteraan dan advokasi terkait perlindungan guru tetapi lebih jauhnya menjadi tempat tumbuh kembang bergerak memiliki kompetensi, wawasan Dan kesadaran membimbing dan memfasilitasi anak didik menemukan konsep diri yang benar  dihadapan Alloh. Wacana ini nyaris hilang di dalan kajian forum guru seperti ini, padahal posisi guru hampir sama dengan misi KENABIAN.

image

Wacana dominan uang dan ketidakadilan ke guru yang dimutasi, seragam guru, Jam beban kerja guru, KKG, DLL menjadi perbincangan seksi di sebagian besar aktivis profesi guru. Hal ini bukan sebuah kesalahan, tetapi alangkah baiknya kita bergerak ke wacna yg tidak jauh pentingnya yaitu Anak didik, kita sering lupa bahwa tidak akan ada guru kalau tanpa anak didik. Karena mereka sejatinya adalah subjek dari adanya sebutan guru.

image

Saya sebagai guru dan perempuan ingin menyampaikan bahwa keberadaan anak sering mali terlupakan menjadi bagian penting untuk diadvokasi pemenuhan HAK Terbaiknya, disadari ataupun tidak kita sering atau pernah menjadi bagian pelaku dari kekerasan kepada anak sehingga terganggu bahkan hilangnya pemenuhan hak anak. Praktek belajar mengajar kita didominasi oleh egoisme guru sebagai orang dewasa, salah satu indikasinya adalah keinginan atau target kita ke anak yg kuat untuk memahami pengetahuan atau pelajaran yg disampaikan. Anak juga dituntut untuk memperoleh nilai akademis yang memenuhi standar, terlebih kita punya keyakinan sudah menggunakan metode dan cara mengajar yang terbaik.

Arghhh…. Sering kita lupa bahwa yang memahamkan, memintarkan dan membuka pintu hati  Anak didik sejatinya adalah bukan kita tetapi yang Maha Pemilik yaitu Alloh swt. Sehingga marah, kecewa dan alhasil menjadi warna emosi kita saat menyaksikan anak didik kita belum memenuhi target pembelajaran. Andaikan saja Alloh menjadi orientasi dan ibadah menjadi niat saat kita melangkahkan kaki menuju sekolah dan kelas, tentunya hati ini tidak akan lepas berdoa supaya Alloh memberikan pertolongan kepada kita agar dapat mendampingi anak didik dengan lancar, menyampaika ilmu dengan lisan yg mudah terpahami oleh Anak dan mendoakan anak- anak didik kita bahagia selalu belajar ditemani kita.

Yayaayaa….sesi berbagi bagaimana nikmatnya berinteraksi dengan beragam keunikan anak dikuatkan dimoment makan malam santai di Glosis cafe bersama bu Tety dan bu Lise. Bu Tety dengan semangatnya berbagi bagaimana beliau menemukan pola terbaik memfasilitasi tumbuh kembang anak didiknya, masih dengan gayanya yang nyeplos tetapi renyah membawa kita sering kali tertawa bersama. Bu Lise yang berkali-kali mengelus dada karena tersadarkan dengan rekam jejak beliau bagaimana memperlakukan anak didiknya selama INI :).

Alhamdulillah, hanya dengan Rahman dan Rahim Alloh lah saya dan kedua sahabat pejuang guru ini dapat ditakdirkan bersilaturahmi dan mendapatkan banyak pembelajaran dan hikmah. Akhirnya kita menyadari bahwa FGII sebagai organisasi profesi punya tanggung jawab berkontribusi dan berikhtiar mendorong kesadaran guru guru untuk menemukan prinsip dan pola terbaik mendampingi tumbuh kembang anak didik kita. Hal  lain yang taj kalah penting ternyata perempuan lah yang harus memulai bahwa kepentingan terbaik  anak menjadi mainstream dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak guru guru Indonesia baik dalam ruang gerak individu ataupun organisasai. Hidup Guru Perempuan,, Hidup FGII, #eeeehhhh tetaaap:)

image

Relawan Berkarakter Panutan Perintis Tampan

Mendidik anak dengan mengekalkan rasa ingin tahu menjadi tantangan bagi guru setiap hari. Merujuk pada asas Taman Siswa yang diberikan oleh Ki Hajar, pendidik adalah among bagi anak-anak untuk menikmati hak mengatur diri sendiri berdiri bersama dengan tertib dan damai (orde en vrede) dan bertumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei).

Konsep Pendidikan Anak Merdeka yang dirintis dan dikembangkan Tim Litbang KerLiP di SD Hikmah Teladan merupakan “living document”. Dalam praktiknya, memelihara kemerdekaan batin, pikiran, dan tenaga bagi anak-anak memerlukan guru yang tak berhenti belajar. Pendidik dalam konteks Pendidikan Anak Merdeka tidak dibenarkan untuk “memberi” ilmu pengetahuan, tetapi mendidik anak-anak untuk mandiri dan merdeka dalam mengekalkan rasa ingin tahu sesuai kodratnya. Untuk itulah kami menyediakan program pendampingan forum guru paralel yang ditangani langsung oleh Pak Aripin. Pak Aripin diminta secara khusus untuk pindah dari Darussalam dan mendapatkan keleluasaan penuh dalam mengembangkan praktik kelas yang merdeka.

Penyelarasan pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan kodrat bangsa terus ditemukan dan dikenali bersama. Kami meyakini bahwa keselarasan dengan alam dimulai saat guru siap menjadi teladan dalam unjuk peduli diri, peduli sesama, dan peduli semesta.  Keikhlasan pendidik untuk.mengikatkan lahir dan batin  tumbuh bersama menerapkan pendidikan anak merdeka membuahkan kepercayaan yang besar dari masyarakat.

image

Kini dalam perjalanan 5 tahun keempat, Pak Aripin membawa praktik-praktik baik yang sudah diperkuat di Sekolah Semesta Hati menjadi rujukan utama dalam Sosialisasi Relawan Berkarakter Menuju Indonesia Pintar melalui Taman Pendidikan Anak Negeri (TamPaN) yang diinisiasi oleh Pak Kamsol, Ketua Gerakan Indonesia Pintar.

OPeRA tentang TamPAN

Haryono, Presiden Orang Laut Riau menyampaikan hasratnya untuk terus memajukan Riau dengan Gerakan Indonesia Pintar melalui TamPAN dan Sekretariat Bersama.

image

[19/11 19:21] Haryono Orang Laut: aslkm, kak yanti apa kbr sehat?
[19/11 19:22] yanti kerlip: Wa’alaikum salam..
Alhamdulillah
[19/11 19:22] yanti kerlip: Apakabar di pekanbaru?
[19/11 19:40] Haryono Orang Laut: kita sedang mempersiapkan sekretariat kak yanti.
[19/11 20:00] yanti kerlip: Wah keren
[19/11 20:00] yanti kerlip: Sekber pemenuhan hak pendidikan anak Riau ya
[19/11 20:03] Haryono Orang Laut: iya kak yanti, setelah itu kita fokus ke konten kurikulum, mohon petunjuk kak, apa kami perlu kesana untuk belajar kak.
[19/11 20:12] yanti kerlip: Sebaiknya sih ada yg belajar di semesta hati selama 3 minggu
[19/11 20:13] Haryono Orang Laut: semesta hati bg aripin? dimana itu kak?
[19/11 20:14] yanti kerlip: Di Cimahi

Tindak lanjut sosialisasi TaMPAN yang melibatkan 250 relawan berkarakter dan didukung Disdik Riau, Dekan STKIP, dan Polda Riau terus bergulir. Pak Kamsol menyampaikan dukungan media sosial khusus untuk TaMPAN.

image

[19/11 21:01] yanti kerlip: oranglautindonesia – https://oranglautindonesia.wordpress.com/
[19/11 21:02] yanti kerlip: Pak Kamsol ternyata dampingi orang laut mulai rajin menulis di blog sangat mudah…apalagi presiden orang laut ini dosen unri dan senang menulis.

Senang sekali jika 250 relawan masing2 punya blog dan menulis kegiatan hariannya…
[19/11 21:36] Pak KAMSOL lg: Ya coba nanti kita sosialisasikan ya
[19/11 21:36] Pak KAMSOL lg: Twiternya sudah ada
[19/11 21:37] Pak KAMSOL lg: email
tamanpendidikananaknegeri@gmail.com
[19/11 21:37] Pak KAMSOL lg: twiter kita ini bg :
@tampanriau
[19/11 21:38] Pak KAMSOL lg: Klw instagram kita ini bg :
taman_pendidikan_anak_negeri
[19/11 21:38] Pak KAMSOL lg: Blog yg belum
[19/11 21:56] yanti kerlip: Siip…kita share terus ya Pak