Hak Anak untuk Mengembangkan Sikap Hormat Kepada Orang Tua dan Guru Melalui Pendidikan

Judul ini terinspirasi obrolan pendidikan ramah anak antara Bu Elvy, Asdep PHPA Kempppa dengan Kepala Sekolah SMAN 24. Kami berdua diajak Bu Tety untuk menunggu di ruang Kepala Sekolah Pelatihan SRA bagi guru dimulai.

“Maaf ibu-ibu, saya merasa semua pihak termasuk kejaksaan terlalu mengedepankan tentang hak anak tanpa menyampaikan bahwa anak wajib menghormati orang tua dan guru, ” sergah Pak Sunaryanto, Kepala Sekolah yang baru di SMAN 24, saat kami menjawab pertanyaan beliau tentang maksud pelatihan.

Bu Elvy dengan bijak menjelaskan, “Saat audiens kita mempunyai kewajiban untuk memenuhi dan melindungi hak-hak anak. Saat audiensnya anak, maka materinya terkait hak anak untuk mendapatkan pembelajaran  tentang belajar mengembangkan sikap hormat kepada orang tua, guru, budaya, dan lingkungan alam.”

Bu Elvy yang Baik Hati

Terus terang saya benar-benar angkat topi untuk Asdep PHPA ini sejak menggantikan bu Niken yang bergegas menerbitkan Permenegpppa No 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Penerapan Sekolah Ramah Anak. Ada banyak hal yang perlu disempurnakan dari dokumen tersebut setelah kami mendukung upaya Bu Ninin, Asdep PHPA sebelumnya. Kami mulai bekerja sama dengan Kempppa dengan Bu Ninin pada tahun 2010-2013 untuk menerbitkan Pedoman Pendidikan Ramah Anak.

Kebaikan hati Bu Elvy membuat kemitraan khas kami terus berlanjut dan bermuara pada perluasan Sekolah Ramah Anak sebagai wahana pemersatu praktik-praktik baik yang sudah berkembang di Indonesia.

image

Anak-Anak Keren

“Kami menghukum anak tersebut untuk meminta maaf kepada teman yang dibullynya setelah upacara bendera, ” ucapan yang menggelitik ini membuat saya lupa minta ijin Bu Dewi. Langsung saja mengambil mikrofon dan meminta Dita untuk menyampaikan pandangannya. “Menurut saya hukuman itu mempermalukan anak, “Dita, peserta didik SMAN 24 menjawab dengan lirih. Saya memanfaatkan momentum ini untuk meminta guru dan tenaga kependidikan yang hadir mengganti kata hukuman menjadi konsekuensi.

Menarik menyimak pendapat yang berbeda dari Pattrick, Abang None Duta Buku Jakarta yang hadir bersama ibunda tercinta. Ia menyatakan bahwa pelaku bullying sepantasnya menerima konsekuensi tersebut. Bagi Pattrick permintaan maaf sangat penting dan semua anak perlu belajar menyampaikan maaf apabila berbuat salah dan kemudian memperbaiki sikapnya. Menurut ibu Tuti Sukarni, Guru BK yang ternyata kawan seperjuangan kami mengadvokasi korban UN 2006, perkembangan kepercayaan diri Pattrick buah dari pengasuhan yang baik di rumah dan pembelajaran di sekolah. Tentu saja informasi ini perlu diperkuat dari Bunda Pingkan, ibu Patrick. Peserta pun menyimak pola asuh keren yang memberikan kesempatan anak untuk berani mencoba dan kembali memperbaiki jika melakukan kesalahan.

Sekolah Bukan Lembaga Yudikatif

Pertanyaan ibu Lucy dari SMAN 24 tentang kebiasaan guru-guru yang tidak menyukai anak nakal dijawab Bu Elvy dengan lugas.

Guru sekarang mendapat tantangan berat. Anak-anak dulu nurut banget sama ancaman dari orang dewasa. Paradigma lama ini terbawa oleh guru-guru lama juga. Anak-anak yang mendapatkan kekerasan di rumah dan di sekolah sulit untuk tumbuh kembang dengan baik.

Sekolah bukan lembaga hukum yang dapat memberikan penjeraan seperti
3 jenis hukuman badan, denda, restitusi yang memberikan efek penjeraan kepada pelaku perdagangan orang. Hukuman hanya bisa ditetapkan lembaga yudikatif melalui pengadilan yang seadil-adilnya. Sekolah adalah lembaga pembinaan wahana yang dirindukan untuk membangun kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara sejak usia anak.

Bu Elvy mengajak guru-guru untuk mengembangkan sikap hormat anak-anak kepada orang tua, guru, budaya, dan lingkungan alam melalui SRA.

Advertisements

Praktik Baik: #1. Cafe Ilmu GeMBIRA

Cafe Ilmu GeMBIRA menjadi salah satu praktik baik yang masuk ke dalam kajian pengembangan kreativitas Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan di Indonesia.

Studi kasus tersebut disusun berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Zamzam sebagai peneliti ahli. Mari kita simak hasilnya.

image

Menurut pendapat dan pengalaman bapak/ibu, apa yang dimaksud dengan kreativitas dan ruang kreativitas?

Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide , pemikiran dan karya yang bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dan semesta bahkan daribarang bekas atau sampah yang dipandang tak berguna menjadi lebih bermanfaat, dapat digunakan kembali.

Ruang Kreativitas adalah wahana yang dapat diakses semua pihak termasuk anak penyandang difable, suku masyarakat adat terpencil, dan kelompok yang terpinggirkan untuk mengembangkan ide baru, pemikiran dan terobosan baru, serta karya yang bermanfaat.

Bisa tolong diceritakan bagaimana pengalaman bapak/ibu memulai aktivitas/program yang berkaitan dengan penumbuhan kreativitas anak?

Kami memanfaatkan ruang terbuka di depan SMANSA Dago setiap waktu Car Free Day hari Minggu pukul 06.00-10.00 WIB. Café Ilmu dibuka Iyen, mahasiswi UIN dengan dukungan anak, sobat muda, dan keluarga mitra Perkumpulan KerLiP:

1. KerLiP menyediakan ragam pustaka untuk para pengunjung Café Ilmu GeMBIRA disediakan untuk membaca buku setelah mengisi daftar pengunjung yang sudah disediakan.

2. Setelah mereka membaca buku, lalu membuat 100 kata sinopsis buku favorit anak dan keluarga yang sudah dibaca dan memilih belajar 1 stand kursus 1 jam idaman anak dan keluarga.

3. Sinopsis diserahkan kepada panitia penjaga stand Pengumpulan Data (IYEN)

4. Lalu mereka bisa menukarkan sinopsis yang telah dibuat dengan stand kursus yang mereka sukai.

5. Pengunjung mendaftar terlebih dahulu ke setiap stand yang mereka pilih

6. Setelah mereka mengikuti kegiatan belajar di stand yang mereka pilih lalu mereka membuat narasi asyik mengikuti Cafe Ilmu

7. Narasi dikumpulkan ke stand pilihan masing-masing

Kegiatan Café Ilmu GeMBIRA dipilih sebagai wahana pengembangan minat baca dan kreativitas anak. Sebelum Café Ilmu GeMBIRA dibuka, teh Iwang, Sahabat setia KerLiP membuka stand GERASHIAGA untuk kampanye Gerakan Aman, Sehat, Hijau, Inklusif, Ramah Anak, dengan dukungan Keluarga di lapangan parkir Bank Muamalat. Sumber belajar GERASHIAGA terus disajikan bahkan setelah Bapusipda Kota Bandung menyediakan mobil perpustakaan keliling di Cafe Ilmu GeMBIRA.

Bagaimana dampaknya terhadap anak? Terhadap lingkungan atau yang lain?

Kegiatan 3R merupakan primadona yang diminati anak dan keluarga, juga ular tangga hak anak dan kesiapsiagaan bencana. Kampanye Sajam Ameng di luar kelas menggunakan tali dari jalinan karet gelang, congklak, dan permainan beklen menambah keramaian café Ilmu GeMBIRA pada 2 tahun pertama.

Beberapa kegiatan kampanye Sekolah Ramah Anak memanfaatkan café Ilmu GeMBIRA yang dilanjutkan teh Iwang, setelah Iyen mengundurkan diri dari KerLiP. Penganugerahan Komunitas Ramah Anak hasil aksi CDEF Nabila di SMPN 7 Bandung, Deklarasi Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak SMAN SRA Khazanah SMAN 15 Bandung, kampanye Hari Pengurangan Risiko Bencana se-dunia bersama anak-anak SMP Terbuka GAPURA, Peluncuran SPeAKnACT: Saya Pelajar Anti kekerasan dan Amat Cinta Teman, tanah Air, dan Keluarga adalah beberapa kegiatan penting yang dilaksanakan bersama Forum Anak Jawa Barat, Fokab, dst di Cafe Ilmu GeMBIRA. Inisiatif Nareta dengan dukungan Ksatria dari SeKAm untuk membuka pojok Sahabat Anak menjadi wahana curhat dan konseling sebaya yang menarik.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam mensukseskan program/aktivitas? Apa saja peran dari masing-masing pihak tersebut? Bagaimana hubungan diantara para pihak tersebut?

GSSI oleh Dina dan IbuTini
FOKAB oleh Nabila dkk,
Bahasa Jepang oleh Teh Fitry, dari Green SMile
Planet Sains oleh Pak Hari,
SILAT oleh  Joko
Pojok Sahabat Anak oleh Naretta
SPeAKnAct oleh Bilqis, Nirwan, Sendra, Faridz dkk Forum Anak
Mobil perpustakaan kelililing oleh Bapusipda Jabar
SMAN 15 bandung
BP3AKB Jabar
SMAN 1
Bank Muamalat
Yayasan GAPURA
SeKAM
Papita
Disdik Kota Bandung
BdgCleanAction

Apa saja faktor-faktor yang mensukseskan program tersebut?

1. Adanya relawan yang memfasilitasi pembukaan, pelaksanaan, dokumentasi, hubungan masyarakat.
2. Kemitraan khas KerLiP dengan multi pihak
3. Kesempatan memanfaatkan ruang publik terbuka selama Car Free Day event

Apa saja hambatan dalam penyelenggaraan program tersebut?

1. Konsistensi relawan
2. Kemitraan yang belum terprogram dengan Forum Anak

Dukungan yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan program/aktivitas tsb? Termasuk infrastruktur sarana prasarana

1. Komitmen dan dukungan untuk relawan
2. Dana stimulan untuk event tertentu seperti Bulan Aksi MeSRA, Bulan Anti kekerasan, dst
3. Ijin penggunaan pinggir jalan untuk menyajikan pustaka keliling dan gelar tikar lengkap dengan stand-stand kreasi anak dan kawula muda

Kalau pemerintah mau mendukung dan atau membuat program dalam upaya meningkatkan kreativitas anak, program dan dukungan seperti apa yang dibutuhkan?

1. Perpustakaan keliling dengan BBM dan Sopir
2. Kursi dan meja portable ringan lengkap dengan payung untuk setiap stan unjuk kreasi dan inovasi anak
3. Doorprize mingguan
4. Transport dan konsumsi relawan
5. Alat dan bahan pengembangan kreativitas 3R, menulis, seni bela diri, dst

4 Langkah Persiapan SLB Bersinar

Konsultasi Anak merupakan gerbang menuju Sekolah Ramah Anak. Hak anak untuk berpartisipasi didengarkan dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu prinsip yang menjadikan gerakan sekolah berprogram khas menuju Sekolah Ramah Anak. Empat langkah persiapan SLB Bersinar disusun berdasarkan praktik baik pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MeSRA) di SMPN 11 Bandung.

image

Langkah Pertama: Latihan #YES4SaferSchool

Youth Evacuation Simulation atau YES for Safer School merupakan inisiatif sobat muda pendiri Green SMile Inc. Guru pendamping diharapkan menerjemahkan langkah-langkah dalam brosur #YES4SaferSchool dalam praktik pendampingan berikut:

1. Cara Asyik Cari Tahu (CACT)

Kesepakatan waktu dan Ketua Tim sebagai bentuk komitmen awal anak bersama fasilitator. Perwakilan anak dari OSIS SMPN 11 Bandung berkomitmen menginvestasikan waktu 1 jam pendampingan untuk melakukan CACT. Kamil terpilih menjadi pemimpin. Ia memastikan observasi lapangan selama 15 menit agar semua tim menyelesaikan CACT Titik Kumpul Aman dalam waktu 1 jam. Setiap tim berhasil membuat denah sekolah yang sederhana dilengkapi rambu-rambu evakuasi dan foto-foto kegiatan saat melakukan observasi sekolah. Hampir semua anak merasakan manfaat dari kegiatan dengan mendapat ilmu baru yang sangat penting dan tentu saja menyenangkan.

Setelah fasilitator memberi dukungan 101% untuk menemukan momentum dalam CACT 1, maka nilai momentum tersebut dimaksimalkan pada CACT 2.

Bu Nia, guru pemdamping GSB MeSRA SMPN 11 menggunakan pendekatan “T R U S T” dalam CACT 2

Time (waktu)
Luangkan waktu untuk mendengar dan merespon CACT tiap kelompok.

Respect (rasa hormat)
Hormati pendapat anak dari hasil CACT tiap kelompok, karena tidak ada temuan yang sia-sia.

Unconditinal Positive Regard (Penerimaan yang tulus)
Tunjukkan sikap penerimaan dan berpikir positif.

Sensitivity (Sensitivitas)
Peka terhadap perasaan dan kebutuhan.

Touch (Motivasi)
Memberikan motivasi melalui jabat tangan, tepukan di punggung atau bahkan pelukan sayang.

Catatan penting Bu Nia pada tahap CACT:

a. Karena fokus pendampingan dilakukan setelah pulang sekolah dengan memanfaatkan waktu luang menjadi berdaya. Kebetulan kesepakatan waktunya hanya 1 jam setelah pulang sekolah. Dan ternyata CACT tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka fasilitator membuatnya dalam beberapa tahap CACT. Antara CACT 1 dan 2 sebaiknya dilakukan refleksi agar bisa bersama-sama anak melakukan evaluasi dan menemukan solusi perbaikan.

b. Banyak temuan menarik dalam tahap CACT ini. Pelatihan CACT untuk guru atau fasilitator yang akan memperkuat pendampingan anak melaksanakan #YES#Safer School di sekolahnya.

c. Guru sebagai orang dewasa dan lebih banyak pengalaman serta pengetahuannya diharapkan memiliki dan menunjukkan sikap keterbukaan. Saat CACT ini dilakukan maka kesalahan akan menyertainya pula. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahannya, menyadari bahwa sudah terjadi kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, maka CACT akan menjadi sarana belajar yang sangat mengasyikkan.

d. CACT merupakan penentu kesuksesan #YES4SaferSchool. Kesuksesan CACT terjadi jika guru pendamping maupun fasilitator mampu menemukan momentum “AHA”. Jangan lupa, buatlah rencana proses belajarnya dan lakukan refleksi ketercapaiannya. Kunci dari semuanya adalah harus banyak berlatih dan bersabar menunggu.

2. Menetapkan dan menandai Titik Kumpul Aman zona aman, hati-hati,dan bahaya sebagai jalur evakuasi menuju titik kumpul aman
3. Simulasi evakuasi drill
4. Membuat peta evakuasi
5. Mendokumentasikan semua tahap
6. Mengunggah dokumentasi ke youtube

Langkah Kedua: SPeAKnACT

Guru pendamping memfasilitasi GSB MeSRA menyampaikan proses YES4SaferSchool kepada Dewan Guru dan menyajikan dokumen foto/film praktik baik pelembagaan GSB Mewujudkan Sekolah Aman SMPN 11 angkatan sebelumnya melengkapi Lembar Inspirasi Belajar Ramah Anak (LIBRA).

image

GSB MeSRA SMPN 11 Bandung 2015-2016 beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan SPeAKnACT mereka pada Lokakarya Pengintegrasian Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan dalam pengelolaan BOS SMP. Lokakarya tersebut prakarsa Pengawas SMP Kota Bandung wilayah Bandung Selatan dan dihadiri perwakilan kepala Sekolah, bendahara, dan Komite Sekolah dari 20 SMP dan SLB. Mereka menyimak antusias paparan Fina dan kawan-kawan GSB MeSRA dari OSIS SMPN 11 Bandung. Bu Nia melengkapi paparan tersebut dengan praktik baik jamban Bersih, Sehat, Jujur karya Ria Putri Primadanti dan Ratu Sampah, Amilia Agustin dari dokumentasi Kick Andy.

Saya berkesempatan mempresentasikan langkah kampanye dan advokasi Indonesia Bersinar (Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak) sebagai model perluasan praktik baik GERASHIAGA di SMPN 11 Bandung ke Nusantara. Kepala SMPN 34 melengkapi dengan praktik baiknya belajar dari SMPN 11 Bandung.

Langkah Ketiga: Penobatan Duta Anak

Green SMile Inc dengan dukungan Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Rena, Perkumpulan KerLiP, Kadisdikprov Jabar, BNPB, dan multi pihak mendapat kesempatan untuk memperluas inisiatif #YES4SaferSchool 2015 melalui penyerahan Sertifikat Duta Anak dan hadiah khusus Tas Aman SHIAGA serta Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual untuk sekolah mitra.

Kamil dan Fina dari SMPN 11 Bandung menerima Tas Aman SHIAGA dan Sertifikat yang diserahkan Kepala Sekolah seusai upacara bendera hari Senin.

image

Langkah Keempat: Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar

Antusiasme Kepala SLB Cijawura pada lokakarya di SMPN 11 Bandung menginspirasi kami untuk memobilisasi sumber daya mendampingi SLB tersebut sebagai piloting Indonesia Bersinar. Dukungan Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Ning, PKLK Disdik Provinsi Jabar, serta Kadisdik Kota Bandung membantu mewujudkan impian kami bersama Bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, dan Ksatria dari SeKAM.

Saya mendiskusikan rencana SLB Bersinar dengan bu Nia, Bu Sari dan pak Aripin dari Semesta Hati. Bu Nia langsung menindaklanjuti memfasilitasi Fina untuk menyusun agenda Open Class di kelas digital yang diikuti peserta didik yang memiliki keistimewaan khusus.

Kegiatan yang kami sebut Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Disabilitas setiap 3 Desember. Fina sangat antusias melakukan CACT tentang keistimewaan dari para penyandang difable. Ia menyusun serta melaksanakan agenda Safari GeMBIRA berikut:

1. Paparan latihan #YES4SaferSchool lengkap dengan catatan-catatan proses yang dianggap penting untuk diperhatikan termasuk dari observer.

2. Bu Nia sebagai Co Fasilitator mengajak anak-anak untuk mendiksusikan langkah-langkah #YES4SaferSchool yang disusun Fina dan tim sesuai dengan sumber daya khusus di kelas digital

3. Anak-anak menemukenali 3 cara untuk melindungi kepala dan jauhilah kaca di kelas digital, antara lain: (a) masuk kolong meja dan menarik kursi untuk melindungi kepala sambil mendekap tas, (b) berlari merapat ke dinding yang aman dengan melindungi kepala dengan tas, dan (c) mengangkat kursi dan berlindung di kolong meja dilindungi kursi sambil memeluk tas.

4. Anak-anak dibagi 3 kelompok untuk menemukan karakteristik anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar.

5. Presentasi hasil diskusi kelompok menunjukkan temuan anak bahwa perlu sistem peringatan dini selain sirine seperti lightstick untuk tuna rungu, sirine dengan bunyi-bunyi khusus seperti ringstone, dan penggunaan alat peraga yang diminati anak-anak.

6. Sahabat-sahabat kerLiP yang akan melaksanakan pendampingan secara mandiri di sekolah mitra menyampaikan apresiasi dan masukan hasil pengamatan masing-masing.

7. Anak-anak menuliskan jawaban untuk 4 hal: (a)Apakah pengetahuan baru yang kamu peroleh, (b) Bagaimanakah perasaan kamu setelah mengikuti kegiatan, (c)Hal-hal apalagi yang ingin kamu ketahui setelah kegiatan ini, dan (d)Kapankah kamu menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan berikutnya.

8. Jawaban tertulis anak-anak diundi oleh observer sesuai dengan 3 (tiga) doorprize yang disediakan anak-anak pada kegiatan sebelumnya. Ternyata ketiga anak yang mendapatkan doorprize sangat gembira bisa mengikuti kegiatan ini dan masih ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak difable dan cara membantu mereka menyelamatkan diri. ketiga anak tersebut menyampaikan perlu 3 (tiga) kali pertemuan lagi sebelum Safari GeMBIRA ke SLB Cijawura minggu depan

9. Refleksi dan rencana Tindak Lanjut bersama Sahabat KerLiP. Fina kembali memukau kami dengan testimoninya selama merencanakan dan memfasilitasi teman-teman sebayanya hari ini.

Secara paralel, Aas dan Bu Sari menyiapkan jejaring pendukung dalam bentuk Semiloka Partisipasi Anak difable dalam kerangka Indonesia Bersinar di SLB dan Rakor pembentukan Sekber Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Disdik Jawa Barat.

image