Merumuskan Pesantren Bersinar di Kampung Qur’an Cendekia

Kiriman foto kunjungan ke Kampung Qur’an Cendekia dari Pak Rian mengingatkan saya pada saat-saat memukau jelang Zhuhur bersama para santrinya.  “Semua tamu yang berkunjung harus berbagi ilmu dulu sebelum keliling,” jelas ustadz yang sedang memfasilitasi anak-anak belajar anatomi tubuh manusia. “Hai anak-anak! Wah ibu jadi ingat waktu kuliah di farmasi lihat alat peraga yang sedang kalian pelajari, “seruku gembira melihat anak-anak belajar bersama di saung yang super keren. “Aku juga ingin kuliah di farmasi, Bu!” ujar seorang anak laki-laki di depanku.

Satu per satu aku memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan santri-santri perempuan. “Saya dari Sumatera Utara, Bu,”salah seorang anak menjelaskan asalnya saat kami bersalaman. “Alhamdulillah, ibu pernah ke Tanah Karo pasca erupsi Sinabung,”tanggapku segera. Anak perempuan berkerudung coklat itu memperhatikan wajahku lekat-lekat. “Saya ingat wajah ibu! Kita pernah bertemu di posko anak, Bu,”serunya sambil kembali memelukku. Sambutan gembira anak-anak dan keramahan para ustadz, ustadzah di pesantren yang dipimpin Pak Rian memikat hatiku. Suasana sejuk dengan lansekap nan indah permai di lembah hijau Cihanjuang ini membuatku nyaman berkeliling.

“Menurut Asep, Bersih itu ditandai dengan apa?”tanyaku pada Asep, salah satu sanri.

“Tertib menjaga kebersihan, Bu,”jawab Asep lugas

“Asep tahu tentang KAA, Konferensi Asep-asep?” tanyaku lagi. Anak-anak tertawa mendengar penjelasan singkatku tentang KAA. “Ada Dr. Asep disini, Bu, “ujar Pak Rian. OPeRA di pesantren pun berlanjut. Ali menyampaikan tentang bebas polusi sebagai penanda sehat dan hijau. Aku menceritakan gaya hidup hijau yang dilakukan anak-anak dan sobat muda KerLiP Bersinar di berbagai sekolah. Al kindi sampai menjawab semua bangunan bercat hijau sebagai penanda pesantren hijau.  Anak-anak  makin antusias.

“Pak Rian, Ramadhan nanti buka pesantren keluarga ya,”kataku sambil berjalan mengikuti Pak Rian. Bangunan asrama dan tempat tinggal Pak Rian yang terbuat dari bambu sangat kontras dengan gedung untuk masjid yang sedang dibangun di bawah. “masjid itu sumbangan MAWI, Bu. Pesantren kami menambah dana untuk memperkuat agar masjid tersebut dapat diperluas untuk kebutuhan santri dan jamaah shalat di perumahan. Di sana ada Darul Muthmainnah yang dipimpin teh Ninih Aa Gym, “jelas Pak Rian sambil menunjukkan beberapa fasilitas menarik di Kampung Qur’an Cendekia. Tebing tanah di sudut kiri pesantren menarik perhatianku. “bagian itu pernah longsor, Bu,”ujar Pak Rian sambil menunjuk bagian yang longsor. “Ayo kita undang Puskim untuk memberikan masukan perkuatan agar tidak terjadi longsor lagi. Anak-anak bisa diajak untuk lakukan Cara Asyik cari Tahu mitigasi dari longsor, “imbuhku sambil mendokumentasikan beberapa sudut pesantren.

Adzan zhuhur terdengar dari saung belajar anak-anak. kami pun bersiap shalat zhuhur berjamaah.

 

Catatan Ksatria: Memulai SLB Bersinar di SLB Baleendah

08 januari 2015, Saya (satria) bersama Dina melakukan kegiatan pertama SLB BERSINAR di SLB Baleendah yakni pertemuan awal dengan pihak sekolah dan adik-adik di SLB-G YBMU Baleendah. Sesampainya di sekolah, kami di sambut dengan sangat ramah oleh adik-adik dan kami bingung dimana ruangannya Bu Uus (kepsek SLB Baleendah).  Namun saking ramahnya adik-adik, kami diantarkan ke ruangan Bu Uus. Ada juga adik yang memanggil Bu Uus dari lantai dua gedung sekolahan. Selanjutnya bertemulah kami dengan Bu Uus.

SLB G

Saat kami akan memulai perbincangan, tiba-tiba ada dua adik-adik dari SLB masuk ke ruangan Bu Uus. Mereka  bertanya-tanya tentang kami berdua mulai dari kampus mana, rumahnya dimana dan di SLB mau ngapain. Salah satu adik ada yang ingin bernyanyi dan saat kami ijinkan untuk bernyanyi adik tersebut meyanyikan lagunya “ayu ting-ting_sambal lado”. Dia bernyanyi dengan energiknya sampai dihentikan oleh Bu Uus untuk memulai obrolan dengan kami. Jika banyak orang yang datang,  biasanya adik-adik langsung berkumpul menginginkan kue atau permen karena menurut mereka ada tamu berarti ada kue.

SLB G 1

Selanjutnya oleh Bu Uus kami diarahkan untuk bertemu Pak Daus untuk membahas siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB-Bersinar. Siswa secara keseluruhan sebanyak 64 siswa terdiri dari 42 SD, 13 SMP dan 9 SMA dengan 4 golongan grahita netra, rungu, grahita dan daksa. Di SLB ini tidak ada pendamping melainkan yang ada hanya guru kelas. Kelas dibedakan menurut golongan disabilitas.  Tidak ada guru per mata pelajaran juga. Siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB Bersinar ada 26 siswa terdiri dari 8 siswa golongan A, 12 siswa golongan B, 10 siswa golongan C dan 1 siswa golongan D. Kegiatan akan dilakukan tiap hari Sabtu pagi dan dilanjtukan pada tanggal 16 Januari 2015.

Kegiatan ke 2

16 Januari 2016, pukul 09.15 WIB saya dan teh Fitri, telat lima belas menit dari waktu perjanjian untuk pelaksanaan kegiatan. Sesampainya di SLB kami bertemu dengan Bu Uus dan langsung di arahkan ke ruangan tempat berkumpulnya adik-adik. Tidak disangka-sangka, saya dan teh Fitri sangat ditunggu dan disambut dengan sangat meriah oleh adik-adik. Di awal kami berkenalan dengan adik-adik dan memulai dengan bertanya tentang bencana “ada yang tahu apa itu bencana ?” adik-adik dengan semangatnya langsung angkat tangan mau maju ke depan bercerita apa itu bencana. Adik Farhan langsung maju dan bercerita tentang rumahnya yang sering kebanjiran, “kalau rumah kebanjiran langsung bantuin orang tua angkatin barang-barang ke atas dan barang-barang Farhan juga angkat ke atas”.

SLB G 6

Selanjutnya kami mengelompokan adik-adik dalam kegiatan ini, yakni adik-adik yang disabilitas netra dibimbing dengan teh Fitri bernyanyi “kalau ada gempa” dan mendengarkan cerita mengenai bencana apa saja yang pernah adik-adik alami, sedangkan adik-adik yang disabilitas rungu, grahita dan daksa dibimbing oleh saya (Satria) menggambar mengenai apa itu bencana. Ada yang menggambar angin tornado yang sangat bagus dari adik Wildan (disabilitas rungu) dan ternyata dia juga juara menggambar tingkat kabupaten. Wildan akan mengikuti perlombaan menggambar SLB tingkat Jabar pada bulan Februari.  Ada juga yang menggambar gunung meletus, banjir dan rumah yang hancur. Tidak lama kemudian bu Nia dan Sahlan datang. Keduanya sangat membantu dalam proses kegiatan dengan pengalaman yang sudah teruji ketika di SMP 11 Bandung

SLB G 7

Saat adik-adik yang lainnya belajar bernyanyi “kalau ada gempa” yang dipandu oleh Nisa (disabilitas netra), ada yang saya lihat, yakni adik-adik disabilitas rungu yang tidak bisa mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-teman yang lainnya. Lalu saya menghampiri mereka dan mulai bertanya apakah mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Adik-adik itu pun menjawab tidak mengerti. Akhirnya saya mencoba dengan cara gerak tubuh yang saya pahami untuk berbicara sampai adik-adik tersebut paham dengan apa yang dimaksud dalam lagu tersebut. Saya mulai dengan berbicara dengan gerak bibir yang dipelankan, gerak tubuh lindungi kepala jauhilah kaca, menulis di hp, memberikan contoh dengan gambar-gambar yang ada di buku dan foto-foto bencana yang ada di internet. Terlihat adik-adik sangat ingin mengerti apa yang saya maksudkan. Mereka pun memberikan informasi antar teman satu sama lain yang sudah mengerti.

Ketika dengan adik-adik yang disabilitas runggu saya mendapatkan hal yang sangat berharga yakni bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan adik-adik dan untuk memberikan mereka pemahaman sampai tidak ada kesalahpahaman antar apa yang saya maksud dengan apa yang mereka tangkap dan memiliki tekad yang kuat untuk belajar lagi berbicara bahasa isyarat.

Dan terakhir kegiatan hari ini ditutup dengan cerita adik-adik dari hasil gambar yang dibuat dan cerita dari nisa tentang banjir yang pernah dialami dirumahnya. Adik-adik sangat antusias saat diminta untuk maju siapa yang ingin bercerita.  Akhirnya  kami pun memilih adik-adik yang maju,  mulai dari Nisa yang menceritakan pengalamannya ketika banjir di rumahnya. Nisa harus menyelamatkan diri dari banjir dan menyelamatkan barang-barang.  Cerita dari Nauval dengan gaya pak Ustadz berceramah membawa suasana menjadi asyik. Adik-adik fokus mendengarkan cerita Nauval tentang banjir juga kisahnya saat ingin berangkat sekolah meskipun banjir belum surut. Menurut Nauval  banjir tersebut berasal dari hujan yang tidak berhenti sejak malam sebelumnya.

SLB G 8

Minggu depan tanggal 23 kami akan berkegiatan lagi di SLB-G Baleendah dengan agenda transektor yang akan dibantu juga oleh adik-adik dari SMP Negeri 11 Bandung dan kakak-kakak dari SeKAM.

Kabar GeMBIRA

Keasyikan beres-beres kerjaan yang tertunda di rumah sampai lupa jadwal koordinasi di tempat kerja di Jakarta. Tak ayal lagi terima berbagai pertanyaan seputar koordinasi tanpa tatap muka dengan para manajer. Alhamdulillah komunikasi via email didukung wa dan sms cukup efektif. Beberapa keputusan sensitif terpaksa diambil segera untuk memenuhi kewajiban kepada pihak lain.

Keluarga Peduli Pendidikan di Kelas Digital

image

OPeRA on fb dengan bu Nia kembali hadir di hari Senin. Gerakan keluarga peduli pendidikan di kelas digital yang dibina bu Nia memanfaatkan Edmondo dan sms. Saya sangat gembira membaca status bu Nia pagi ini yang menunjukkan penguatan praktik baik dalam menerapkan prinsip kepentingan terbaik anak.

Kelas apa pun di tangan guru pembaharu seperti Bu Nia insya Allah akan membuat anak-anak senang belajar. Apalagi ibu-ibu di kelas digital SMPN 11 Bandung ini mengedepankan sikap kritis, kreatif, dan peduli. Efektivitas partisipasi keluarga peduli pendidikan di kelas bu Nia terlihat dari prestasi dan semangat belajar anak-anak yang luar biasa. Mereka siap untuk menjadi Duta Anak YES4SaferSchool dan menjalankan mentoring sebaya untuk mewujudkan SLB Bersinar di SLB Kasih Ibu.

ELSI Untuk Keluarga Peduli Pendidikan

Kegembiraan saya makin bertambah hari ini. Salah seorang sahabat KerLiP merespon dengan baik tawaran kerjasama untuk menyediakan 22 paket ELSI bagi keluarga-keluarga peduli pendidikan di Jawa Barat. Kami sepakat untuk mendalami mekanisme kerjasama penyediaan sumber belajar berkualitas untuk mendidik karakter anak bangsa dengan literasi sejarah pembentukan bangsa.

Kemitraan khas yang kami bangun tumbuh bersama semangat perubahan yang lebih baik dalam tata hubungan public-private-partnership. Peluang untuk memperkuat gerakan keluarga peduli pendidikan yang sedang kami sebarluaskan menjadi KILAUNusantara makin terbuka.

SAnDI KerLiP

Sekolah Anak Mandiri berbasis Keluaega Peduli Pendidikan (SAnDi KerLiP) masih relevan untuk dikembangkan sebagai wahana untuk bermain dan belajar bersama memanfaatkan waktu luang di ruang-ruang publik terpadu ramah anak.

Kang Budhiana mentor saya di Karisma menunjukkan situs gandengtangan.org. saya langsung mengenalkan SAnDi KerLiP melalui formulir yang tersedia di situs tersebut. Banyak hal menarik di dalamnya. Sebelumnya saya merasa bangga bisa diterima di kitabisa.com untuk program GeMBIRA di Sekolah. Sayang sekali saya tidak menemukan cara yang tepat untuk mempromosikan program tersebut.

Fitry langsung mempelajari model voucher yang saya beli saat menunggu hujan reda di Alun-Alun Bandung. Kami sepakat untuk mengembangkan model voucher cashback Binar,SAnDi KerLiP dan produk-produk Sahabat KerLiP lainnya untuk ditawarkan dengan model buku voucher.

Geliat Sahabat KerLiP di Priamgan Timur

Alhamdulillah, malam ini ditutup dengan kabar gembira dari Pangandaran yang disampaikan Sahabat KerLiP. Ia juga menjelaskan tentang rencana menjangkau Priangan Timur dengan model kerjasama yang ditawarkan KerLiP.

Insya Allah sahabat-sahabat KerLiP siap tumbuh bersama demi kepentingan terbaik anak.

Hak Anak untuk Mengembangkan Sikap Hormat Kepada Orang Tua dan Guru Melalui Pendidikan

Judul ini terinspirasi obrolan pendidikan ramah anak antara Bu Elvy, Asdep PHPA Kempppa dengan Kepala Sekolah SMAN 24. Kami berdua diajak Bu Tety untuk menunggu di ruang Kepala Sekolah Pelatihan SRA bagi guru dimulai.

“Maaf ibu-ibu, saya merasa semua pihak termasuk kejaksaan terlalu mengedepankan tentang hak anak tanpa menyampaikan bahwa anak wajib menghormati orang tua dan guru, ” sergah Pak Sunaryanto, Kepala Sekolah yang baru di SMAN 24, saat kami menjawab pertanyaan beliau tentang maksud pelatihan.

Bu Elvy dengan bijak menjelaskan, “Saat audiens kita mempunyai kewajiban untuk memenuhi dan melindungi hak-hak anak. Saat audiensnya anak, maka materinya terkait hak anak untuk mendapatkan pembelajaran  tentang belajar mengembangkan sikap hormat kepada orang tua, guru, budaya, dan lingkungan alam.”

Bu Elvy yang Baik Hati

Terus terang saya benar-benar angkat topi untuk Asdep PHPA ini sejak menggantikan bu Niken yang bergegas menerbitkan Permenegpppa No 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Penerapan Sekolah Ramah Anak. Ada banyak hal yang perlu disempurnakan dari dokumen tersebut setelah kami mendukung upaya Bu Ninin, Asdep PHPA sebelumnya. Kami mulai bekerja sama dengan Kempppa dengan Bu Ninin pada tahun 2010-2013 untuk menerbitkan Pedoman Pendidikan Ramah Anak.

Kebaikan hati Bu Elvy membuat kemitraan khas kami terus berlanjut dan bermuara pada perluasan Sekolah Ramah Anak sebagai wahana pemersatu praktik-praktik baik yang sudah berkembang di Indonesia.

image

Anak-Anak Keren

“Kami menghukum anak tersebut untuk meminta maaf kepada teman yang dibullynya setelah upacara bendera, ” ucapan yang menggelitik ini membuat saya lupa minta ijin Bu Dewi. Langsung saja mengambil mikrofon dan meminta Dita untuk menyampaikan pandangannya. “Menurut saya hukuman itu mempermalukan anak, “Dita, peserta didik SMAN 24 menjawab dengan lirih. Saya memanfaatkan momentum ini untuk meminta guru dan tenaga kependidikan yang hadir mengganti kata hukuman menjadi konsekuensi.

Menarik menyimak pendapat yang berbeda dari Pattrick, Abang None Duta Buku Jakarta yang hadir bersama ibunda tercinta. Ia menyatakan bahwa pelaku bullying sepantasnya menerima konsekuensi tersebut. Bagi Pattrick permintaan maaf sangat penting dan semua anak perlu belajar menyampaikan maaf apabila berbuat salah dan kemudian memperbaiki sikapnya. Menurut ibu Tuti Sukarni, Guru BK yang ternyata kawan seperjuangan kami mengadvokasi korban UN 2006, perkembangan kepercayaan diri Pattrick buah dari pengasuhan yang baik di rumah dan pembelajaran di sekolah. Tentu saja informasi ini perlu diperkuat dari Bunda Pingkan, ibu Patrick. Peserta pun menyimak pola asuh keren yang memberikan kesempatan anak untuk berani mencoba dan kembali memperbaiki jika melakukan kesalahan.

Sekolah Bukan Lembaga Yudikatif

Pertanyaan ibu Lucy dari SMAN 24 tentang kebiasaan guru-guru yang tidak menyukai anak nakal dijawab Bu Elvy dengan lugas.

Guru sekarang mendapat tantangan berat. Anak-anak dulu nurut banget sama ancaman dari orang dewasa. Paradigma lama ini terbawa oleh guru-guru lama juga. Anak-anak yang mendapatkan kekerasan di rumah dan di sekolah sulit untuk tumbuh kembang dengan baik.

Sekolah bukan lembaga hukum yang dapat memberikan penjeraan seperti
3 jenis hukuman badan, denda, restitusi yang memberikan efek penjeraan kepada pelaku perdagangan orang. Hukuman hanya bisa ditetapkan lembaga yudikatif melalui pengadilan yang seadil-adilnya. Sekolah adalah lembaga pembinaan wahana yang dirindukan untuk membangun kesadaran kolektif berbangsa dan bernegara sejak usia anak.

Bu Elvy mengajak guru-guru untuk mengembangkan sikap hormat anak-anak kepada orang tua, guru, budaya, dan lingkungan alam melalui SRA.

Praktik Baik: #1. Cafe Ilmu GeMBIRA

Cafe Ilmu GeMBIRA menjadi salah satu praktik baik yang masuk ke dalam kajian pengembangan kreativitas Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan di Indonesia.

Studi kasus tersebut disusun berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Zamzam sebagai peneliti ahli. Mari kita simak hasilnya.

image

Menurut pendapat dan pengalaman bapak/ibu, apa yang dimaksud dengan kreativitas dan ruang kreativitas?

Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide , pemikiran dan karya yang bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dan semesta bahkan daribarang bekas atau sampah yang dipandang tak berguna menjadi lebih bermanfaat, dapat digunakan kembali.

Ruang Kreativitas adalah wahana yang dapat diakses semua pihak termasuk anak penyandang difable, suku masyarakat adat terpencil, dan kelompok yang terpinggirkan untuk mengembangkan ide baru, pemikiran dan terobosan baru, serta karya yang bermanfaat.

Bisa tolong diceritakan bagaimana pengalaman bapak/ibu memulai aktivitas/program yang berkaitan dengan penumbuhan kreativitas anak?

Kami memanfaatkan ruang terbuka di depan SMANSA Dago setiap waktu Car Free Day hari Minggu pukul 06.00-10.00 WIB. Café Ilmu dibuka Iyen, mahasiswi UIN dengan dukungan anak, sobat muda, dan keluarga mitra Perkumpulan KerLiP:

1. KerLiP menyediakan ragam pustaka untuk para pengunjung Café Ilmu GeMBIRA disediakan untuk membaca buku setelah mengisi daftar pengunjung yang sudah disediakan.

2. Setelah mereka membaca buku, lalu membuat 100 kata sinopsis buku favorit anak dan keluarga yang sudah dibaca dan memilih belajar 1 stand kursus 1 jam idaman anak dan keluarga.

3. Sinopsis diserahkan kepada panitia penjaga stand Pengumpulan Data (IYEN)

4. Lalu mereka bisa menukarkan sinopsis yang telah dibuat dengan stand kursus yang mereka sukai.

5. Pengunjung mendaftar terlebih dahulu ke setiap stand yang mereka pilih

6. Setelah mereka mengikuti kegiatan belajar di stand yang mereka pilih lalu mereka membuat narasi asyik mengikuti Cafe Ilmu

7. Narasi dikumpulkan ke stand pilihan masing-masing

Kegiatan Café Ilmu GeMBIRA dipilih sebagai wahana pengembangan minat baca dan kreativitas anak. Sebelum Café Ilmu GeMBIRA dibuka, teh Iwang, Sahabat setia KerLiP membuka stand GERASHIAGA untuk kampanye Gerakan Aman, Sehat, Hijau, Inklusif, Ramah Anak, dengan dukungan Keluarga di lapangan parkir Bank Muamalat. Sumber belajar GERASHIAGA terus disajikan bahkan setelah Bapusipda Kota Bandung menyediakan mobil perpustakaan keliling di Cafe Ilmu GeMBIRA.

Bagaimana dampaknya terhadap anak? Terhadap lingkungan atau yang lain?

Kegiatan 3R merupakan primadona yang diminati anak dan keluarga, juga ular tangga hak anak dan kesiapsiagaan bencana. Kampanye Sajam Ameng di luar kelas menggunakan tali dari jalinan karet gelang, congklak, dan permainan beklen menambah keramaian café Ilmu GeMBIRA pada 2 tahun pertama.

Beberapa kegiatan kampanye Sekolah Ramah Anak memanfaatkan café Ilmu GeMBIRA yang dilanjutkan teh Iwang, setelah Iyen mengundurkan diri dari KerLiP. Penganugerahan Komunitas Ramah Anak hasil aksi CDEF Nabila di SMPN 7 Bandung, Deklarasi Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak SMAN SRA Khazanah SMAN 15 Bandung, kampanye Hari Pengurangan Risiko Bencana se-dunia bersama anak-anak SMP Terbuka GAPURA, Peluncuran SPeAKnACT: Saya Pelajar Anti kekerasan dan Amat Cinta Teman, tanah Air, dan Keluarga adalah beberapa kegiatan penting yang dilaksanakan bersama Forum Anak Jawa Barat, Fokab, dst di Cafe Ilmu GeMBIRA. Inisiatif Nareta dengan dukungan Ksatria dari SeKAm untuk membuka pojok Sahabat Anak menjadi wahana curhat dan konseling sebaya yang menarik.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam mensukseskan program/aktivitas? Apa saja peran dari masing-masing pihak tersebut? Bagaimana hubungan diantara para pihak tersebut?

GSSI oleh Dina dan IbuTini
FOKAB oleh Nabila dkk,
Bahasa Jepang oleh Teh Fitry, dari Green SMile
Planet Sains oleh Pak Hari,
SILAT oleh  Joko
Pojok Sahabat Anak oleh Naretta
SPeAKnAct oleh Bilqis, Nirwan, Sendra, Faridz dkk Forum Anak
Mobil perpustakaan kelililing oleh Bapusipda Jabar
SMAN 15 bandung
BP3AKB Jabar
SMAN 1
Bank Muamalat
Yayasan GAPURA
SeKAM
Papita
Disdik Kota Bandung
BdgCleanAction

Apa saja faktor-faktor yang mensukseskan program tersebut?

1. Adanya relawan yang memfasilitasi pembukaan, pelaksanaan, dokumentasi, hubungan masyarakat.
2. Kemitraan khas KerLiP dengan multi pihak
3. Kesempatan memanfaatkan ruang publik terbuka selama Car Free Day event

Apa saja hambatan dalam penyelenggaraan program tersebut?

1. Konsistensi relawan
2. Kemitraan yang belum terprogram dengan Forum Anak

Dukungan yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan program/aktivitas tsb? Termasuk infrastruktur sarana prasarana

1. Komitmen dan dukungan untuk relawan
2. Dana stimulan untuk event tertentu seperti Bulan Aksi MeSRA, Bulan Anti kekerasan, dst
3. Ijin penggunaan pinggir jalan untuk menyajikan pustaka keliling dan gelar tikar lengkap dengan stand-stand kreasi anak dan kawula muda

Kalau pemerintah mau mendukung dan atau membuat program dalam upaya meningkatkan kreativitas anak, program dan dukungan seperti apa yang dibutuhkan?

1. Perpustakaan keliling dengan BBM dan Sopir
2. Kursi dan meja portable ringan lengkap dengan payung untuk setiap stan unjuk kreasi dan inovasi anak
3. Doorprize mingguan
4. Transport dan konsumsi relawan
5. Alat dan bahan pengembangan kreativitas 3R, menulis, seni bela diri, dst

4 Langkah Persiapan SLB Bersinar

Konsultasi Anak merupakan gerbang menuju Sekolah Ramah Anak. Hak anak untuk berpartisipasi didengarkan dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu prinsip yang menjadikan gerakan sekolah berprogram khas menuju Sekolah Ramah Anak. Empat langkah persiapan SLB Bersinar disusun berdasarkan praktik baik pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MeSRA) di SMPN 11 Bandung.

image

Langkah Pertama: Latihan #YES4SaferSchool

Youth Evacuation Simulation atau YES for Safer School merupakan inisiatif sobat muda pendiri Green SMile Inc. Guru pendamping diharapkan menerjemahkan langkah-langkah dalam brosur #YES4SaferSchool dalam praktik pendampingan berikut:

1. Cara Asyik Cari Tahu (CACT)

Kesepakatan waktu dan Ketua Tim sebagai bentuk komitmen awal anak bersama fasilitator. Perwakilan anak dari OSIS SMPN 11 Bandung berkomitmen menginvestasikan waktu 1 jam pendampingan untuk melakukan CACT. Kamil terpilih menjadi pemimpin. Ia memastikan observasi lapangan selama 15 menit agar semua tim menyelesaikan CACT Titik Kumpul Aman dalam waktu 1 jam. Setiap tim berhasil membuat denah sekolah yang sederhana dilengkapi rambu-rambu evakuasi dan foto-foto kegiatan saat melakukan observasi sekolah. Hampir semua anak merasakan manfaat dari kegiatan dengan mendapat ilmu baru yang sangat penting dan tentu saja menyenangkan.

Setelah fasilitator memberi dukungan 101% untuk menemukan momentum dalam CACT 1, maka nilai momentum tersebut dimaksimalkan pada CACT 2.

Bu Nia, guru pemdamping GSB MeSRA SMPN 11 menggunakan pendekatan “T R U S T” dalam CACT 2

Time (waktu)
Luangkan waktu untuk mendengar dan merespon CACT tiap kelompok.

Respect (rasa hormat)
Hormati pendapat anak dari hasil CACT tiap kelompok, karena tidak ada temuan yang sia-sia.

Unconditinal Positive Regard (Penerimaan yang tulus)
Tunjukkan sikap penerimaan dan berpikir positif.

Sensitivity (Sensitivitas)
Peka terhadap perasaan dan kebutuhan.

Touch (Motivasi)
Memberikan motivasi melalui jabat tangan, tepukan di punggung atau bahkan pelukan sayang.

Catatan penting Bu Nia pada tahap CACT:

a. Karena fokus pendampingan dilakukan setelah pulang sekolah dengan memanfaatkan waktu luang menjadi berdaya. Kebetulan kesepakatan waktunya hanya 1 jam setelah pulang sekolah. Dan ternyata CACT tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka fasilitator membuatnya dalam beberapa tahap CACT. Antara CACT 1 dan 2 sebaiknya dilakukan refleksi agar bisa bersama-sama anak melakukan evaluasi dan menemukan solusi perbaikan.

b. Banyak temuan menarik dalam tahap CACT ini. Pelatihan CACT untuk guru atau fasilitator yang akan memperkuat pendampingan anak melaksanakan #YES#Safer School di sekolahnya.

c. Guru sebagai orang dewasa dan lebih banyak pengalaman serta pengetahuannya diharapkan memiliki dan menunjukkan sikap keterbukaan. Saat CACT ini dilakukan maka kesalahan akan menyertainya pula. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahannya, menyadari bahwa sudah terjadi kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, maka CACT akan menjadi sarana belajar yang sangat mengasyikkan.

d. CACT merupakan penentu kesuksesan #YES4SaferSchool. Kesuksesan CACT terjadi jika guru pendamping maupun fasilitator mampu menemukan momentum “AHA”. Jangan lupa, buatlah rencana proses belajarnya dan lakukan refleksi ketercapaiannya. Kunci dari semuanya adalah harus banyak berlatih dan bersabar menunggu.

2. Menetapkan dan menandai Titik Kumpul Aman zona aman, hati-hati,dan bahaya sebagai jalur evakuasi menuju titik kumpul aman
3. Simulasi evakuasi drill
4. Membuat peta evakuasi
5. Mendokumentasikan semua tahap
6. Mengunggah dokumentasi ke youtube

Langkah Kedua: SPeAKnACT

Guru pendamping memfasilitasi GSB MeSRA menyampaikan proses YES4SaferSchool kepada Dewan Guru dan menyajikan dokumen foto/film praktik baik pelembagaan GSB Mewujudkan Sekolah Aman SMPN 11 angkatan sebelumnya melengkapi Lembar Inspirasi Belajar Ramah Anak (LIBRA).

image

GSB MeSRA SMPN 11 Bandung 2015-2016 beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan SPeAKnACT mereka pada Lokakarya Pengintegrasian Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan dalam pengelolaan BOS SMP. Lokakarya tersebut prakarsa Pengawas SMP Kota Bandung wilayah Bandung Selatan dan dihadiri perwakilan kepala Sekolah, bendahara, dan Komite Sekolah dari 20 SMP dan SLB. Mereka menyimak antusias paparan Fina dan kawan-kawan GSB MeSRA dari OSIS SMPN 11 Bandung. Bu Nia melengkapi paparan tersebut dengan praktik baik jamban Bersih, Sehat, Jujur karya Ria Putri Primadanti dan Ratu Sampah, Amilia Agustin dari dokumentasi Kick Andy.

Saya berkesempatan mempresentasikan langkah kampanye dan advokasi Indonesia Bersinar (Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak) sebagai model perluasan praktik baik GERASHIAGA di SMPN 11 Bandung ke Nusantara. Kepala SMPN 34 melengkapi dengan praktik baiknya belajar dari SMPN 11 Bandung.

Langkah Ketiga: Penobatan Duta Anak

Green SMile Inc dengan dukungan Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Rena, Perkumpulan KerLiP, Kadisdikprov Jabar, BNPB, dan multi pihak mendapat kesempatan untuk memperluas inisiatif #YES4SaferSchool 2015 melalui penyerahan Sertifikat Duta Anak dan hadiah khusus Tas Aman SHIAGA serta Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual untuk sekolah mitra.

Kamil dan Fina dari SMPN 11 Bandung menerima Tas Aman SHIAGA dan Sertifikat yang diserahkan Kepala Sekolah seusai upacara bendera hari Senin.

image

Langkah Keempat: Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar

Antusiasme Kepala SLB Cijawura pada lokakarya di SMPN 11 Bandung menginspirasi kami untuk memobilisasi sumber daya mendampingi SLB tersebut sebagai piloting Indonesia Bersinar. Dukungan Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Ning, PKLK Disdik Provinsi Jabar, serta Kadisdik Kota Bandung membantu mewujudkan impian kami bersama Bu Nia, Pak Widi dari Semesta Hati, dan Ksatria dari SeKAM.

Saya mendiskusikan rencana SLB Bersinar dengan bu Nia, Bu Sari dan pak Aripin dari Semesta Hati. Bu Nia langsung menindaklanjuti memfasilitasi Fina untuk menyusun agenda Open Class di kelas digital yang diikuti peserta didik yang memiliki keistimewaan khusus.

Kegiatan yang kami sebut Safari GeMBIRA untuk SLB Bersinar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Disabilitas setiap 3 Desember. Fina sangat antusias melakukan CACT tentang keistimewaan dari para penyandang difable. Ia menyusun serta melaksanakan agenda Safari GeMBIRA berikut:

1. Paparan latihan #YES4SaferSchool lengkap dengan catatan-catatan proses yang dianggap penting untuk diperhatikan termasuk dari observer.

2. Bu Nia sebagai Co Fasilitator mengajak anak-anak untuk mendiksusikan langkah-langkah #YES4SaferSchool yang disusun Fina dan tim sesuai dengan sumber daya khusus di kelas digital

3. Anak-anak menemukenali 3 cara untuk melindungi kepala dan jauhilah kaca di kelas digital, antara lain: (a) masuk kolong meja dan menarik kursi untuk melindungi kepala sambil mendekap tas, (b) berlari merapat ke dinding yang aman dengan melindungi kepala dengan tas, dan (c) mengangkat kursi dan berlindung di kolong meja dilindungi kursi sambil memeluk tas.

4. Anak-anak dibagi 3 kelompok untuk menemukan karakteristik anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar.

5. Presentasi hasil diskusi kelompok menunjukkan temuan anak bahwa perlu sistem peringatan dini selain sirine seperti lightstick untuk tuna rungu, sirine dengan bunyi-bunyi khusus seperti ringstone, dan penggunaan alat peraga yang diminati anak-anak.

6. Sahabat-sahabat kerLiP yang akan melaksanakan pendampingan secara mandiri di sekolah mitra menyampaikan apresiasi dan masukan hasil pengamatan masing-masing.

7. Anak-anak menuliskan jawaban untuk 4 hal: (a)Apakah pengetahuan baru yang kamu peroleh, (b) Bagaimanakah perasaan kamu setelah mengikuti kegiatan, (c)Hal-hal apalagi yang ingin kamu ketahui setelah kegiatan ini, dan (d)Kapankah kamu menyediakan waktu untuk melakukan kegiatan berikutnya.

8. Jawaban tertulis anak-anak diundi oleh observer sesuai dengan 3 (tiga) doorprize yang disediakan anak-anak pada kegiatan sebelumnya. Ternyata ketiga anak yang mendapatkan doorprize sangat gembira bisa mengikuti kegiatan ini dan masih ingin tahu lebih banyak tentang anak-anak difable dan cara membantu mereka menyelamatkan diri. ketiga anak tersebut menyampaikan perlu 3 (tiga) kali pertemuan lagi sebelum Safari GeMBIRA ke SLB Cijawura minggu depan

9. Refleksi dan rencana Tindak Lanjut bersama Sahabat KerLiP. Fina kembali memukau kami dengan testimoninya selama merencanakan dan memfasilitasi teman-teman sebayanya hari ini.

Secara paralel, Aas dan Bu Sari menyiapkan jejaring pendukung dalam bentuk Semiloka Partisipasi Anak difable dalam kerangka Indonesia Bersinar di SLB dan Rakor pembentukan Sekber Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Disdik Jawa Barat.

image

Mekanisme Penanganan Anak-Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus di SMA

Alhamdulillah perubahan cara pandang tentang Sekolah Ramah Anak dari guru-guru BK dan Wakasek Kesiswaan yang hadir dalam Raker Kesiswaan Direktorat Pembinaan SMA makin menggembirakan. GeMBIRA bersama KerLiP wujudkan Indonesia Bersinar yang saya paparkan sebelumnya tak lagi sekedar akronim. Kata Bersinar: Bersih Sehat Inklusif Aman dan Ramah Anak memang tidak terpilih menjadi judul panduan oleh kelompok 4B yang difasilitasi Zamzam. Namun demikian, saya senang dan bangga dengan keberanian anggota 4B memilih judul Sekolah Ramah Anak. Paparan bu Elvy Asdep Pemenuhan Hak dan Pendidikan Anak KPPPA mengenai perubahan kondisi sekolah sejalan dengan harapan dan praktik baik di sekolah sehat, adiwiyata, dst.

Kampanye dan advokasi pemenuhan hak pendidikan anak melalui Sekolah Ramah Anak sudah mulai menapak. Insya Allah seluruhnya demi kepentingan terbaik anak untuk tumbuh kembang sesuai minat, bakat, dan kemampuannya.

image

Konsekuensi bukan Sanksi

“Pendisiplinan bukan penghukuman tapi pemulihan, “kata Santoso membuka presentasinya kemarin pagi. Selama ini tidak sedikit guru dan tenaga kependidikan kita menganggap bahwa anak perlu diberi sanksi untuk setiap pelanggaran. Penyalahgunaan narkoba, hamil di luar nikah, melecehkan guru di media sosial, terlambat masuk kelas, dan pelanggaran lainnya yang menyebabkan anak mendapat poin 100 atau lebih pasti diakhiri dengan dikeluarkannya anak dari sekolah. Bahkan tidak sedikit guru yang menganggap bahwa anak pasti ngelunjak jika Sekolah Ramah Anak diterapkan. Gembira sekali mendengarwakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dari NTT memgatakan bahwa sekolah bukan lembaga hukum jadi tidak dapat memberikan sanksi tapi konsekuensi. Ia menegaskan kembali hal tersebut ksaat kami mereview praktik baik penanganan anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba di kelompok 1B. Hal ini sejalan dengan penjelasan Santoso wakil ketua KPAI saat menjawab pertanyaan perwakilan dari Gorontalo pada sesi diskusi panel pertama. Beberapa guru BK dan Wakasek Kesiswaan mulai meyakini jika tiap butir tata tertib sekolah dirumuskan bersama peserta didik, maka peserta didik akan memiliki kesadaran untuk menegakkan dengan segala konsekuensinya. Hal ini mengemuka dalam diskusi kelompok 1B dan 4B yang saya amati.

image

Saya memutuskan kembali ke kelompok 1B setelah memastikan pemenuhan hak dan perlindungan anak benar-benar menjadi pertimbangan utama di kelompok 4B. “Partisipasi anak dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah sangat diperlukan. Tidak bisa hanya sekadar memberikan usulan terkait kegiatan OSIS saja, “ujar salah satu anggota kelompok 4B. Saya menegaskan kembali bahwa konsekuensi logis memilih nama Sekolah Ramah Anak adalah adanya kepastian dan keterjaminan pemenuhan 31 hak dan perlindungan anak di sekolah.

Penanganan Penyalahgunaan NAPZA

Dua jam pertama dalam diskusi kelompok 1B diisi dengan mengumpulkan contoh kasus, pencegahan dan mekanisme penanganan penyimpangan perilaku di sekolah tempat anggota kelompok bekerja. Kelompok 1B bertugas menyusun mekanisme penanganan terhadap siswa. Dokumen UU yang disiapkan panitia masih teronggok rapi di depan meja masing-masing. “Bu, tolong kembali ke kelompok 1B ya, kami perlu mendapatkan arahan untuk mereview praktik-praktik di sekolah, “kata seorang Bapak yang duduk di meja sebelah kami saat makan siang tadi. “Kami tidak tahu cara menyusun SOP dalam mekanisme penanganan terhadap siswa dengan dokumen ini, “ibu Robiyatun notulen kelompok 1B sambil menunjuk 1 bundle UU di hadapannya. Teman-teman sekelompoknya masih belum banyak yang hadir. “Coba kita lihat penanganan peserta didik korban NAPZA. Ternyata keputusannya dikeluarkan. Jika ini diterapkan, apakah ada pelanggaran hak anak menurut UU Perlindungan Anak?” pertanyaan ini sengaja saya ajukan sambil membuka flipchart yang tersedia. Diskusi kelompok 1B pun mengalir dinamis mengarah pada penegakan prinsip-prinsip hak anak.

Kedua fasilitator kelompok 1B benar-benar powerfull. Kata-kata “anak dikeluarkan” diganti dengan komitmen untuk tetap memastikan keberlanjutan anak menikmati hak atas pendidikan dan tumbuh kembang setelah mendapatkan pemulihan akibat penyalahgunaan narkoba. Meskipun keputusannya anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba tetap dikembalikan kepada orang tua namun guru dan tenaga kependidikan di sekolah sepakat untuk memastikan hak-hak anak atas pendidikan, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang,serta partisipasi anak dalam penerapan konsekuensi dalam tata tertib sekolah.

Norma Bernegara

Zamzam dan Sufit berkali-kali menyampaikan dinamika asistensi yang dilakukan selama mereka mempersiapkan pengintegrasian Sekolah Ramah Anak ke dalam Raker Kesiswaan yang sudah disiapkan Direktorat PSMA. Dalam obrolan makan siang tadi, saya mengingatkan Zamzam tentang mimpi Arlian dan Devita tentang Global Student Union Movement serta kegembiraan saat kami mendampingi korban UN 2008 yang membentuk Gerakan Siswa Bersatu.

Susi Fitry: “Gejala umum penolakan bahkan anti HAM membuatku merasa aneh. Padahal hampir semua kebijakan pendidikan sebenarnya mengedepankan HAM. Ini tantangan besar. Literasi bangsa kita terhadap norma-norma bernegara dalam UU yang ada benar-benar parah ya.”

Saya: “Saya merasa mendapatkan alasan yang tepat saat Hilmar Farid menyampaikan pentingnya mengedepankan budaya inklusif. Budaya unggul yang diterapkan di sekolah menuntut kompetisi yang ketat dan tidaj menyisakan ruang untuk membangun kesadaran berwarga negara yang menjunjung keadilan sosiak bagi seluruh warga negara. Saya pikir penajaman visi Kemdikbud untuk mewujudkan ekosistem pendidikan berdasarkan gotong royong layak untuk kita usung bersama. “

Kutipan obrolan makan siang yang produktif bersama Litbang KerLiP menambah kegembiraan saya menyaksikan indahnya tumbuh bersama Zamzam menyiasati segala keterbatasan sumber daya KerLiP. Jelang 17 tahun gerakan KerLiP jadikan Indonesia lebih Bersinar siap untuk kaderisasi.

Insya Allah

image