Ibu Sari Membangun Basis Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Kota Bandung

Cafe Ilmu GeMBIRA di Dago Car Free Day menjadi saksi pertemuan perdana kami dengan sosok perempuan yang hebat ini. Ibu Sari, begitu saya memanggilnya, mendampingi kedua putrinya, Nabila dan Syahna yang saya ajak untuk bergabung di Ruang Kreativitas Anak tersebut. “Saya harus tahu dulu, Bu, siapa yang mengajak anak-anak saya beraktivitas, “kalimat yang disampaikannya berkali-kali itu konsisten dengan perjalanannya tumbuh bersama Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan.

image

Memperjuangkan Hak Anak Bersama Anak-Anak Tercinta

Saya dan Fitry, berkomitmen untuk menyisihkan pendapatan kami untuk memulai fellowship KerLiP dengan memberikan beasiswa gerakan kepada keluarga peduli pendidikan penerima anugerah KILAUNusantara. Penerima anugerah perdana versi kami berdua adalah Nurasiah Jamil (Aas) yang menjadi volunteer KerLiP sejak lulus dari Akademi Kebidanan. Kami berdua memberikan dukungan sejumlah dana kepada Aas agar dapat mewujudkan impiannya untuk Indonesia Sehat Semua dengan menumbuhkembangkan Rumah Cita Kita bersama teman-temannya.

Istilah Keluarga Idaman Lahirkan Anak Unggulan yang kemudian diperbaiki menjadi Keluarga Idaman Lahirkan Anak Unik atau KILAUNusantara nampaknya sangat pas dilekatkan kepada Bu Sari sekeluarga.Keunikan Syahna dan Nabila, kakak beradik pejuang hak anak yang tak henti mengukir prestasi ini keren banget. Pengasuhan ayah bundanya yang luar biasa memikat hati. Saya mengapresiasi keluarga hebat ini dengan meminta Pak Gunandar, suami Bu Sari untuk menjadi Direktur KerLiP pada tahun 2015. Namun rencana ini terpaksa batal karena usaha yang dirintis keluarga kami baru dimulai. Apalagi kemudian manajemen Wisma Kodel yang baru meminta kami segera keluar dari ruang yang sudah kami tempati atas kebaikan almarhum Apa Utomo Dananjaya sejak 2005.

Anugerah KILAUNusantara kembali kami perdengarkan dengan model fundraising melalui penjualan Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual. Inisiatif ini belum terprogram dengan baik karena berbagai keterbatasan. Saya dan Fitry akhirnya sepakat untuk menyerahkan 1 paket ELSI kepada Nabila sebagai salah satu Duta Anak YES for Safer School atas upayanya bersama ibunda tercinta melakukan Safari GeMBIRA di SDN Merdeka dalam program yang didukung oleh Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendikbud. Selain itu, kami juga memberikan kesempatan kepada Nabila dan Allisa untuk mewakili KerLiP di World Conference of Disaster Risk Reduction di Sendai Jepang dengan dukungan penuh dari Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud pada tahun 2015.

Bu Sari yang Rendah Hati

Waktu kecil, almarhumah ibu selalu memuji saya dengan istilah “tangan dingin” karena setiap menanam di halaman rumah pasti tumbuh subur. Kepiawaian Bu Sari untuk mendampingi Teh Iwang selama bekerja di KerLiP serta beragam kegiatan penting yang berhasil dilaksanakannya di Bandung mengingatkan saya pada istilah tersebut. Keputusan bu Sari untuk tidak bekerja di luar rumah dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sebagai alumni Planologi ITB untuk mendidik, merawat, mengasuh kedua putrinya tanoa bantuan asisten menempatkan Bu Sari sebagai ikon yang pantas mewakili KerLiP di Direktorat Bindikel.

Inisiatif Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan indonesia muncul dari pertemuan kami dengan Pak Hary, Bu Elvyra dan Dahrina. Ketiganya dibawa bu Sari menyampaikan pengaduan PPDB 2014 ke Perkumpulan KerLiP. Sebelumnya Bu Sari membantu anak-anak lulusan SMP yang mengalami hal serupa dengan Syahna dan mendapatkan koreksi nilai UN Bahasa Indonesia yang menentukan keberlanjutan sekolah mereka. Bu Sari pun resmi mewakili KerLiP Bandung di GMPP Indonesia untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak atas pendidikan ramah anak, bermutu, bebas pungutan yang dikemas Bu Sari dengan istilah Panutan. Saya dan Zamzam, Tim Litbang KerLiP membawa semangat Panutan ke Riau atas dukungan para perintis Gerakan Indonesia Pintar.

image

Peluncuran Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SLBN Cicendo pada tanggal 18 Desember oleh Ketua P2TP2A Jawa Barat,Ibu Netty Prasetyani dan Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak pada Hari Ibu, 22 Desember 2016 terlaksana berkat tangan dingin Bu Sari. Pengawalan roadmap KerLiP di Direktorat Bindikel diserahkan sepenuhnya kepada Bu Sari sampai ke Kuala Lumpur bersama tokoh-tokoh Bindikel. Bu Sari juga yang menjalankan tawaran WVI dengan tim ASSI kepada KerLiP untuk melaksanakan roadshow sekolah aman bencana dan pelatihan fasilitator SMAB bagi guru di kota Bandung. Sebelumnya Bu Sari juga melaksanakan Safari GeMBIRA bersama forum anak di SMAN 15 Bandung, SD Plus Marhamah Hasanah dan SMAN 1 Margahayu Kabupaten Bandung serta SDN Merdeka Bandung.
Beragam portofolio yang hebat ini makin terasa bermakna dengan kerendahhatian Bu Sari membangun basis Getakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di kota kelahirannya Bandung tercinta.

Selamat bekerja demi kepentingan terbaik anak bangsa ya Bu

image

Model Surat untuk Rintisan Forum SRA di Kota Bandung dan Cimahi

Assalamu’alaikum wr.wb Pak Elih

Alhamdulillah Pak Raya dan staf SMPN 11 berkomitmen penuh untuk menerapkan sekolah ramah anak yang kami kemas dalam Gerakan keluarga peduli pendidikan Bersinar.

Saat ini sahabat KerLiP membantu Bu Nia, guru pembaharu nuda Ashoka yg juga guru PNS, guru IPA SMPN 11 dan duta anak YES for Safer School melaksanakan mentoring sebaya di kelas digital SMPN 11.

Ibu-ibu di kelas tersebut mendukung penuh 27 anak yang investasikan waktu 3 kali per pekan untuk merintis Gerakan Siswa Bersatu Bersinar.

Pak Raya berinisiatif meminta saya untuk melatih perwakilan dr seluruh kelas @ 3 anak dan pengurus OSIS untuk memulai GSB bersinar.
Insya Allah kegiatan perdana tgl 27 Jan 2016 lokalatih 6 jam bersama alumni2 SMPN 11 yang menjadi youngchangemaker Ashoka, Ami, Ria, Arlian. Dilanjutkan pembuatan mading keluarga peduli pendidikan Bersinar di seluruh kelas. Lalu YES for safer School 7 kelas digital dan lanjut simulasi evakuasi gempa bumi inklusif akhir Februari 2016.

Selama proses tersebut, duta anak dr kelas digital ini melakukan safari GeMBIRA ke SLBN Cicendo,Pajajaran, Kasih Ibu, Citeureup, Baleendah yang hadir dan menyambut gerakan KerLiP Bersinar waktu Seminar di SLBN Cicendo.

Hasil belajar bersama ini akan ditampilkan sebagai sosio drama KerLiP Bersinar Happening Art dlm acara BP3AKB Jabar di Graha Manggala Siliwangi bulan Maret 2016.

Keluarga-keluarga peduli pendidikan di SMPN 11 juga menyambut gembira permintaan bu Rena untuk bersiap menerima 170 anak berkebutuhan khusus yg akan homestay di Bandung pada legiatan SEAMEO SEN September 2016.

Pokja pembentukan Forum SRA kota Bandung akan diaktifkan Pak Raya di SMPN 11 seiring dengan gerakan tersebut.

Catatan perjalanan KerLiP Bersinar di SLB bersama SMPN 11 Bandung saya publikasikan setiap hari di sekolahramahanak.com. tahap pertama sudah dibukukan sebanyak 246 halaman dan dilaporkan ke Bu Rena.

Mohon perkenan dan dukungannya ya Pak. Saya menyambut gembira kabar bahwa Mas Menteri sudah diminta menyiapkan draft penerbitan perpres Gerakan SRA dalam ratas kabinet senin lalu.

Insya Allah Mas Menteri sedang diupayakan melalui staf khususnya untuk dijadwalkan hadir dalam Inclusif YES FOR Safer School di SMPN 11.Bandung akhir Februari 2016.

Jazakumullah khoiron katsiiron

Model surat ke Pemkot Cimahi

Assalamu’alaikum wr.wb
Beny.

Alhamdulillah kegiatan Seminar di SLBN Cicendo ditindaklanjuti Pak Widdi dan staf Sekolah Semesta Hati yang berkomitmen penuh menerapkan sekolah ramah anak yang dikemas dalam Gerakan keluarga peduli pendidikan Bersinar.

Saat ini sahabat KerLiP membantu Bu Ninuk, psikolog Semesta Hati untuk melaksanakan YES for Safer School di Semesta Hati.

Anak-anak dan guru-guru sangat antusias. Semesta Hati sudah menyiapkan Safari Gembira utk memulai mentoring sebaya Gerakan KerLiP Bersinar di SLBN Citeureup.

Insya Allah proses belajar dan model simulasi evakuasi gempa bumi inklusif di kedua sekolah rintisan sister school di kota Cimahi tersebut akan ditampilkan dalam beauty contest akhir Februari 2016 di SMPN 11 Bandung.

Hasil belajar bersama di Kota Cimahi, Bandung, dan Kab Bandung ini akan ditampilkan sebagai rangkaian KerLiP Bersinar Happening Art dlm acara BP3AKB Jabar di Graha Manggala Siliwangi bulan Maret 2016.

Penuh harap Keluarga-keluarga peduli pendidikan di Kota Cimahi ini juga menyambut gembira permintaan Direktur Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendikbud untuk bersiap menerima 170 anak berkebutuhan khusus yg akan homestay di Bandung pada kegiatan SEAMEO SEN September 2016.

Semesta Hati dan SLBN Citeureup.juga diharapkan dapat merintis pembentukan Forum SRA kota Cimahi dengan dukungan Beni tentunya seiring dengan gerakan KerLiP Bersinar ya

Catatan perjalanan KerLiP Bersinar di SLB bersama SMPN 11 Bandung saya publikasikan setiap hari di sekolahramahanak.com. Tahap pertama sudah dibukukan sebanyak 246 halaman dan dilaporkan ke Bu Rena.

Mohon perkenan dan dukungannya ya Ben. Kabar gembira rencana penerbitan perpres Gerakan SRA sudah dibahas dalam ratas kabinet yang dipimpin Presiden senin lalu.

Insya Allah Mas Menteri sedang diupayakan melalui staf khususnya dijadwalkan hadir dalam Inclusive YES FOR Safer School di SMPN 11 Bandung akhir Februari dan SEAMEO SEN September 2016.

Oh ya Gerakan Siswa Bersatu Bersinar ini juga menjadi inisiator penerapan Sekolah Ramah Anak di sekolah masing-masing mulai dg menyusun rencana aksi dan mengintegrasikannya ke dalam RKAS dan MBS Ramah Anak di sekolah/madrasah masing2

Jazakumullah khoiron katsiiron

Alhamdulillah respon cepat dari Pak Elih sangat menggembirakan. Kita simak ya.

[23/01 06:21] Pak Elih: Wass makasih bu info dan gerakannya….klu berkenan mohon pokja pend inklusif bdg diajadiajak spy di bdg ada keberlanjutan dan meluas…..htr nhn

[23/01 06:24] yanti kerlip: Alhamdulillah parantos Pak. Sejak di SLBN Cicendo lalu pameran bersama di kongres nasional guru BK, Rakor pembentukan sekber phpa di disdik provinsi. Rencananya Forum SRA ini sesuai amanat permenegpppa yg akan menjadi perpres menaungi semua inisiatif baik di sekolah mulai dari sekolah bersih sehat, inklusif, aman, adiwiyata, hebat, dan ramah anak.

Neda bantosanna kanggo sinergi pembentukan Forum SRA Kota Bandung seperti yg dimaksud pada akhir Februari di smpn 11 ya Pak

Catatan Ksatria: Memulai SLB Bersinar di SLB Baleendah

08 januari 2015, Saya (satria) bersama Dina melakukan kegiatan pertama SLB BERSINAR di SLB Baleendah yakni pertemuan awal dengan pihak sekolah dan adik-adik di SLB-G YBMU Baleendah. Sesampainya di sekolah, kami di sambut dengan sangat ramah oleh adik-adik dan kami bingung dimana ruangannya Bu Uus (kepsek SLB Baleendah).  Namun saking ramahnya adik-adik, kami diantarkan ke ruangan Bu Uus. Ada juga adik yang memanggil Bu Uus dari lantai dua gedung sekolahan. Selanjutnya bertemulah kami dengan Bu Uus.

SLB G

Saat kami akan memulai perbincangan, tiba-tiba ada dua adik-adik dari SLB masuk ke ruangan Bu Uus. Mereka  bertanya-tanya tentang kami berdua mulai dari kampus mana, rumahnya dimana dan di SLB mau ngapain. Salah satu adik ada yang ingin bernyanyi dan saat kami ijinkan untuk bernyanyi adik tersebut meyanyikan lagunya “ayu ting-ting_sambal lado”. Dia bernyanyi dengan energiknya sampai dihentikan oleh Bu Uus untuk memulai obrolan dengan kami. Jika banyak orang yang datang,  biasanya adik-adik langsung berkumpul menginginkan kue atau permen karena menurut mereka ada tamu berarti ada kue.

SLB G 1

Selanjutnya oleh Bu Uus kami diarahkan untuk bertemu Pak Daus untuk membahas siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB-Bersinar. Siswa secara keseluruhan sebanyak 64 siswa terdiri dari 42 SD, 13 SMP dan 9 SMA dengan 4 golongan grahita netra, rungu, grahita dan daksa. Di SLB ini tidak ada pendamping melainkan yang ada hanya guru kelas. Kelas dibedakan menurut golongan disabilitas.  Tidak ada guru per mata pelajaran juga. Siswa yang akan mengikuti kegiatan SLB Bersinar ada 26 siswa terdiri dari 8 siswa golongan A, 12 siswa golongan B, 10 siswa golongan C dan 1 siswa golongan D. Kegiatan akan dilakukan tiap hari Sabtu pagi dan dilanjtukan pada tanggal 16 Januari 2015.

Kegiatan ke 2

16 Januari 2016, pukul 09.15 WIB saya dan teh Fitri, telat lima belas menit dari waktu perjanjian untuk pelaksanaan kegiatan. Sesampainya di SLB kami bertemu dengan Bu Uus dan langsung di arahkan ke ruangan tempat berkumpulnya adik-adik. Tidak disangka-sangka, saya dan teh Fitri sangat ditunggu dan disambut dengan sangat meriah oleh adik-adik. Di awal kami berkenalan dengan adik-adik dan memulai dengan bertanya tentang bencana “ada yang tahu apa itu bencana ?” adik-adik dengan semangatnya langsung angkat tangan mau maju ke depan bercerita apa itu bencana. Adik Farhan langsung maju dan bercerita tentang rumahnya yang sering kebanjiran, “kalau rumah kebanjiran langsung bantuin orang tua angkatin barang-barang ke atas dan barang-barang Farhan juga angkat ke atas”.

SLB G 6

Selanjutnya kami mengelompokan adik-adik dalam kegiatan ini, yakni adik-adik yang disabilitas netra dibimbing dengan teh Fitri bernyanyi “kalau ada gempa” dan mendengarkan cerita mengenai bencana apa saja yang pernah adik-adik alami, sedangkan adik-adik yang disabilitas rungu, grahita dan daksa dibimbing oleh saya (Satria) menggambar mengenai apa itu bencana. Ada yang menggambar angin tornado yang sangat bagus dari adik Wildan (disabilitas rungu) dan ternyata dia juga juara menggambar tingkat kabupaten. Wildan akan mengikuti perlombaan menggambar SLB tingkat Jabar pada bulan Februari.  Ada juga yang menggambar gunung meletus, banjir dan rumah yang hancur. Tidak lama kemudian bu Nia dan Sahlan datang. Keduanya sangat membantu dalam proses kegiatan dengan pengalaman yang sudah teruji ketika di SMP 11 Bandung

SLB G 7

Saat adik-adik yang lainnya belajar bernyanyi “kalau ada gempa” yang dipandu oleh Nisa (disabilitas netra), ada yang saya lihat, yakni adik-adik disabilitas rungu yang tidak bisa mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-teman yang lainnya. Lalu saya menghampiri mereka dan mulai bertanya apakah mengerti apa yang dinyanyikan oleh teman-temannya. Adik-adik itu pun menjawab tidak mengerti. Akhirnya saya mencoba dengan cara gerak tubuh yang saya pahami untuk berbicara sampai adik-adik tersebut paham dengan apa yang dimaksud dalam lagu tersebut. Saya mulai dengan berbicara dengan gerak bibir yang dipelankan, gerak tubuh lindungi kepala jauhilah kaca, menulis di hp, memberikan contoh dengan gambar-gambar yang ada di buku dan foto-foto bencana yang ada di internet. Terlihat adik-adik sangat ingin mengerti apa yang saya maksudkan. Mereka pun memberikan informasi antar teman satu sama lain yang sudah mengerti.

Ketika dengan adik-adik yang disabilitas runggu saya mendapatkan hal yang sangat berharga yakni bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan adik-adik dan untuk memberikan mereka pemahaman sampai tidak ada kesalahpahaman antar apa yang saya maksud dengan apa yang mereka tangkap dan memiliki tekad yang kuat untuk belajar lagi berbicara bahasa isyarat.

Dan terakhir kegiatan hari ini ditutup dengan cerita adik-adik dari hasil gambar yang dibuat dan cerita dari nisa tentang banjir yang pernah dialami dirumahnya. Adik-adik sangat antusias saat diminta untuk maju siapa yang ingin bercerita.  Akhirnya  kami pun memilih adik-adik yang maju,  mulai dari Nisa yang menceritakan pengalamannya ketika banjir di rumahnya. Nisa harus menyelamatkan diri dari banjir dan menyelamatkan barang-barang.  Cerita dari Nauval dengan gaya pak Ustadz berceramah membawa suasana menjadi asyik. Adik-adik fokus mendengarkan cerita Nauval tentang banjir juga kisahnya saat ingin berangkat sekolah meskipun banjir belum surut. Menurut Nauval  banjir tersebut berasal dari hujan yang tidak berhenti sejak malam sebelumnya.

SLB G 8

Minggu depan tanggal 23 kami akan berkegiatan lagi di SLB-G Baleendah dengan agenda transektor yang akan dibantu juga oleh adik-adik dari SMP Negeri 11 Bandung dan kakak-kakak dari SeKAM.

Kami Berbeda Bukan Berarti Tidak Mampu

Film Temple Grandin selalu membuat saya  tak kuasa menahan haru padahal saya sudah menontonnya berulang kali. Saat ini terasa sangat istimewa karena tayang ulang di hari pertama setelah  Gerakan KerLiP BERSINAR disusun bersama sahabat dan mitra KerLiP.

Segera saja info film yang mengisahkan perjuangan penyandang autis berhasil meraih gelar profesor di Colorado ini saya share ke teman-teman Kawal  Indonesia Pintar,  Alor, dan grup Gerakan KerLiP Bersinar. Rasa haru sedikit mereda tergantikan rasa kaget menerima informasi mengenai Veny dari Aas. Semoga  tak ada kejadian buruk yang menimpa sahabat baru KerLiP ini.

Sistem Pembangunan yang Inklusif

“Apa perbedaan difable dan autis? ” tanya Ibu Pingkan, mamanya Patrick yang hadir dalam Obrolan Pendidikan Ramah Anak  di Omah Cafe.  Menurut diskusi tersebut, penggunaan kata difable lebih personal, sedangkan disabilitas terkait sistem yang memberikan dorongan kuat mengenai pentingnya inklusivitas dalam pembangunan. Penyusunan UU Disabilitas sebagai pengganti UU Penyandang Cacat perlu dikawal bersama agar semua penyandang difable dapat menikmati hak hidup bermartabat dengan adanya aksesibilitas.

Penekanan terhadap aksesibilitas juga muncul dalam paparan pembukaan dari Kabid PKLK Disdik Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadang Rachman dalam Rapak Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak. Beliau mengatakan bahwa Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar mulai di SLB dan Sekolah inklusi di Jawa Barat merupakan pintu masuk pembangunan di Jawa Barat yang lebih inklusif. Rapat Koordinasi yang dilaksanakan KerLiP bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk memperingati Hari Ibu dalam menginisiasi Gerakan KerLiP Bersinar yang didukung oleh Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendibud. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Pendidikan Menengan di Diadikprov Jabar menghadirkan Kabid KPA BP3AKB Jabar sebagai keynote speaker, Kabid Advokasi PHPA Deputi TKA Kempppa, BPBD Jabar, Duta Anak, dan pemerhati disabilitas. AKtivasi Gugus Tugas KLA Jawa Barat melalui pembentukan Sekber PHPA makin mengemuka. Hal ini sejalan dengan Gerakan Sekolah Ramah Anak yang merupakan salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak.

Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak

Inisiatif sekretariat bersama diperkenalkan KerLiP untuk memperkuat sosialisasi dan advokasi pemenuhan hak pendidikan anak di Jawa Barat dan Riau yang diinisiasi Asdep PHPA, bu Elvy.  Mitra utama KerLiP di Kempppa ini menjadi inisiator pembentukan Forum SRA nasional yang melibatkan 12 Kementerian/Lembaga dan KerLiP. Rintisan Forum SRA Kota Bandung pun sudah kami mulai dalam pertemuan dengan Pak Elih, Kadisdik Kota Bandung yang dihadiri oleh Duta Anak SMPN 11, sekolah piloting SRA Jabar, SMAN 15 dan SDN Merdeka. Pak Elih menyambut baik gagasan pembentukan Forum SRA di Kota Bandung.

Saya merespon informasi pertemuan Dinas Pendidikan Riau dan Kanwil Kemenag Riau yang diposting relawan TAMPAN Riau untuk segera meresmikan pembentukan Sekretariat Bersama.PHPA Riau. Mas Imam langsung menyambut antusias dan diperkuat oleh bang Alpha dan Zamzam. Kata Mas Imam, “Keren banget sahabat2…setuju banget dengan usul bu Yanti. Patut ditiru Menag dan Mendikbud. Sekretariat bersama pemenuhan Hak pendidikan untuk anak Indonesia yanpa terkecuali, dimana pun mereka bersekolah. Jangan sampai ada diskriminasi hak antara yg bersekolah d ibawah naungan Kemenag dan Kemdikbud. “Riau menjadi pioneer dan role model 👍👍👍” Bang Alpha menegaskan lagi.

Mulai dari SLB Bersinar

Posisi saya sebagai anouncer sekaligus moderator dalam Rapat Penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar memberikan peluang besar uang menggalang dukungan sahabat dan mitra KerLiP. Kehadiran Asmoro yang membawa Riswan ahli statistik dan Yanti ahli filantropi,  Tety, Bu Pingkan dan Patrick memberi arti tersendiri pada kegiatan OPeRA perdana di Omah Cafe. Saya memutuskan untuk mengembangkan diskusi informal dengan Sukma di sela-sela rapat kerja tadi siang. Kami berdua mendikusikan hasil kajian perencanaan dan penganggaran responsif anak yang dilaksanakan Zamzam di Bappenas dan upaya memberantas kemiskinan yang mendapatkan tantangan berat.

Berita peningkatan jumlah kelompok miskin di Indonesia sampai lebih dari 750 ribu orang pada September 2015 menjadi sumber obrolan kami. Hal ini mengingatkan kembali pada tekad awal gerakan keluarga peduli pendidikan yang memilih moto educate to end poverty pada tahun 2002. Saya mengajak teman-teman yang hadir untuk mendiskusikan secara rutin upaya pemberantasan kemiskinan melalui pendidikan dan dihubungkan dengan piloting SLB Bersinar yang sedang dirintis sahabat-sahabat KerLiP di Jawa Barat serta upaya filantropi di Indonesia.

OPeRApun makin asyik.  Fakta stigmatisasi yang melekat pada guru SLB yang disampaikan Tety, pengurus FGII dan kenyataan bahwa stigma tersebut juga masih melekat pada diri wakil dari Filipina dalam lokakarya konselor LGBT di Thailand seperti yang disampaikan Susi Fitry  membangkitkan kesadaran kritis kami. Para penggerak KerLiP Bersinar dalam konteks Generasi Pemberantas Kemiskinan harus berani “bunuh diri” kelas berkali-kali. Saya memahaminya untuk membangun kesiapan menjadi pejalan sunyi dirundung stigma buruk. Asmoro menegaskan arti penting penggunaan istilah apa adanya merespon info tentang sebutan keistimewaan lebih bagi anak-anak berkebutuhan khusus oleh duta anak di SMPN 11 yang saya ungkapkan sebelum menutup obrolan.

Asyik Bisa Masuk Daftar Sekolah Ramah Anak

Sekolah Ramah Anak bukan istilah atau program baru. Gerakan keluarga peduli pendidikan ini berupaya mengumpulkan praktik-praktik baik di satuan pendidikan yang sudah menerapkan pemenuhan hak dan perlindungan anak. Perubahan kondisi layanan di sekolah/madrasah dalam upaya pemenuhan hak pendidikan anak.

Sekolah/Madrasah yang sudah mendapatkan predikat Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana, Sekolah Siaga Bencana, Sekolah Adiwiyata terutama Adiwiyata Mandiri Nasional, Sekolah Bersih dan Sehat, Madrasah Aliyah Insan Cendekia, Go Green School, Bandung Green School, Jakarta Green School, Sekolah Anti Kekerasan, Sekolah Hijau adalah beberapa praktik baik yang dimaksud.

Gerakan Sekolah Ramah Anak memberi penanda untuk setiap kategori Sekolah Ramah Anak. SRA merupakan salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak. Jika sekolah/madrasah kamu sudah memiliki predikat di atas, kamu bisa membantu dengan cara memeriksa apakah sekolah/madrasah kamu masuk kategori SRA 1,2,3,4, atau 5 seperti yang ada di sini https://sekolahramahanak.com/kategorisasi/

Ini model terbaru gerakan keluarga peduli pendidikan di Jawa Barat dan NTT

Selamat berlibur dan memeriksa bersama ayah bunda tercinta

Rencana Aksi SLB Bersinar di SLBN Baleendah

Ksatria adalah mahasiswa sahabat KerLiP yang merintis dan mengembangkan Pojok Sahabat Anak bersama Naretta dari Forum Anak Kota Bandung dan SeKolah Kecil Anak Merdeka (SeKAM) bersama Dina, Alda, dan Yurika dari STKS. Komitmen Ksatria dan kawan-kawan untuk menggiatkan Gerakan Indonesia Pintar bersama Raka Pare dan kegemaran belajarnya tumbuh bersama sahabat-sahabat KerLiP lainnya.

Kompetensi Ksatria tak perlu diragukan. Ia lolos seleksi peserta Front Liner Responder Trainer dan ToT Sistem Perlindungan Anak yang diselenggarakan UNICEF dan mitra. Kesungguhannya mendampingi penyintas korban kekerasan di sekolah menjadi inspirasi kegiatan Gembira di Sekolah yang berhasil mendapat dukungan kitabisa.com. Ksatria juga menjadi anggota tim Alor yang dipimpin Aas dan menjangkau satu-satunya SLB disana untuk memulai SLB Bersinar.

Kelompok Kecil

Rencana pendampingan Ksatria di SLBN Baleendah sudah didiskusikan bersama kepala sekolah dalam Seminar di SLBN Cicendo dan berlanjut dalam Rakor Pembentukan Sekber PHPA. Ksatria akan melakukan assesment pada tanggal 4 Januari 2016.
image

Ksatria semula bergabung dengan Semesta Hati dan SLBN Citeureup Cimahi dalam sesi penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar. Saya meminta Ksatria untuk membentuk kelompok kecil bersama Fitry dan Allisa yang sedang asyik diskusi di luar ruangan.

image

Sungguh menggembirakan mendengar Allisa terinspirasi untuk mengajak teman-teman dan gurunya di SMPN 35 menerapkan Sekolah Bersinar dalam diskusi di kelompok kecil tersebut. Allisa mempresentasikan hasil diskusi kelompok kecil ini dengan pengantar dari Fitry dan penguatan oleh Ksatria.

image

image

image

image

Penyusunan Rencana Aksi SLB Bersinar #1

Rifqi, Naretta, dan kawan-kawan dari Forum Anak Jawa Barat pamit untuk menyerahkan hadiah bunga bagi para pembina di BP3AKB Jabar. “Nabila dan Zahwa akan mengikuti agenda siang ini bersama Bu Tari, ya Bu. Kami harus menyerahkan hadiah pemenang foto selfiewithmom dan bunga ucapan selamat Hari Ibu, “kata Naretta sambil bersalaman. Suara Dina terdengar dari dalam memanggil peserta Rakor untuk kembali masuk dan menyusun kelompok.

Pembagian kelompok kami sesuaikan untuk menghasilkan Rencana Aksi SLB Bersinar, antara lain:

1. SMPN 11 dan SLB Kasih Ibu dari Kota Bandung
2. Semesta Hati dan SLBN Citeureup dari Kota Cimahi
3. TK-SD Plus Marhamah Hasanah dari Kabupaten Bandung
4. SLBN Baleendah Kabupaten Bandung dengan Duta Anak dari SMPN 35 Kota Bandung.

Diskusi Terfokus

Setiap kelompok mendiskusikan Rencana Aksi Sekolah Bersinar dengan mengintegrasikan Indikator Sekolah Ramah Anak ke dalam 8 Standar Nasional Pendidikan. Duta Anak YES4SaferSchool dan Forum Anak Jawa Barat menjadi konsultan anak di setiap kelompok untuk menetapkan langkah awal rintisan SLB Bersinar.

Kelompok 1 SMPN 11 Bandung difasilitasi oleh Ibu Nia Kurniati sangat beruntung karena mendapatkan input dari Kang Aden dan Zahwa, peserta didik SMAN 17 aktivis Forum Anak Jawa Barat. Sahlan dan Yunika yang terlatih YES4SaferSchool melalui model mentoring sebaya menjadi konsultan anak. Mereka sepakat menerima tawaran perwakilan orangtua peserta didik SLB Kasih Ibu di Kopo sebagai sekolah model.

Zahwa, Yunika, dan Sahlan mempresentasikan hasil diskusi terfokus kelompok pertama. Ada beberapa tahap kegiatan YES4SaferSchool di SLB Kasih Ibu yang mereka rumuskan. Selengkapnya kita simak foto di bawah ini.

image

image

image

image

image