Mengembalikan Jiwa Guru Kita kepada Fitrah

Umat Islam baru saja menyelesaikan ibadah shaum bulan Ramadhan. Ucapan selamat idul fitri 2017 pun bertebaran di media sosial. Lebih dari 100 sms dan wa masuk sejak H-2 sampai H+2 Idul Fitri 2017. Alhamdulillah harapan untuk bisa kembali kepada fitrah kita yang suci makin bermakna sejak kembali terhubung melalui media sosial. Semangat yang sama juga muncul pada saat yang bersamaan untuk mengembalikan jiwa guru kepada fitrah anak bangsa yang penuh rasa ingin tahu dan tak ragu mengekspresikan kegembiraannya bermain dan belajar bersama teman sebaya di sekolah/madrasah.

Pesan terusan dari sahabat guru di SMAN 8 Bandung saya abadikan disini dengan beberapa penyesuaian untuk menggugah kembali kesadaran kritis kita tentang hal terpenting dalam mendidik anak bangsa.

Continue reading “Mengembalikan Jiwa Guru Kita kepada Fitrah”

Memulai Penerapan SRA di Maluku Utara

Jalan menuju bandara Soetta tanpa hambatan berarti malam itu. Saya tiba di Terminal 2F sebelum pukul 10 malam. Sayang sekali charger HP yang dibawa dari rumah tidak berfungsi sama sekali. “Abdi calik diantawis counter Garuda sareng Gate 4 ya Bu. Batere HP kantun 1% teu nyandak powerbank, “pesan ini terkirim ke Bu Elvi persis sebelum HP mati.

HP yang sudah hampir mati perlahan menghisap energi yang tersisa dari laptop yang saya pangku. Sebelumnya saya minta print tiket di counter Garuda. Tak lama kemudian saya melihat Putri di bangku depan. Bu Elvi, Pak Agus, Pak Soleh datang menyusul. Kami siap terbang pukul 01.40 ke Ternate untuk memfasilitasi Pelatihan SRA bagi pendidik dan tenaga kependidikan di Ternate dan Halmahera Barat.

Semangat Advokasi

“Teh, langsung dibawa kesana aja ya, Insya Allah ibu pulang membawa materi yang diperlukan”kata saya kepada putri sulung kami tadi siang sambil memeluknya pamit. Saya beruntung mendapat kesempatan emas untuk mengawal pemenuhan hak pendidikan anak sampai ke daerah-daerah tertinggal, terpencil dan terdepan di seluruh pelosok Nusantara.

Kemitraan khas yang terjalin antara Perkumpulan KerLiP dan Kempppa sejak mengawal Sekolah Madrasah Aman Bencana tahun 2011 memungkinkan saya untuk bekerja sambil menikmati indahnya zamrud khatulistiwa. Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas  Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya,  Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa berkomitmen penuh menjalankan good governance dalam setiap tahap kegiatan. Tak heran jika kami menikmati rasa keberlimpahan tumbuh pesat dalam kampanye dan advokasi sampai sekarang. “Bu Yanti mitra tetap kami untuk mengawal SRA dan RKA menuju KLA, “kalimat ini disampaikan bu Elvi setiap kali mengenalkan saya kepada mitra di daerah.  

Kini sudah ada 912 Sekolah Ramah Anak dari 82 Kota/Kabupaten di 7 Provinsi yang kami fasilitasi bersama Kempppa melalui Sosialisasi dan pelatihan SRA menuju Kabupaten/Kota Layak Anak. Kegiatan ini sudah menjangkau ribuan guru, kepala sekolah, orang tua, peserta didik dan tenaga kependidikan.

Foto: Refleksi 1 tahun kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman, 27 Juli.2011.

Bu Elvi yang Ceria

Penerapan Sekolah Madrasah Aman Bencana dalam Kerangka Gerakan Sekolah Ramah Anak menjadi materi khas Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Peserta pelatihan  biasanya kami ajak untuk menyanyikan jingle evakuasi gempa. 

Kalau ada gempa, lindungi kepala

Kalau ada gempa, jauhilah kaca

Kalau ada gempa, bersiaplah antri

Berbaris keluar kumpul di lapangan

Energi kebaikan memancar dari tawa riang  Bu Elvi bersama para peserta pelatihan mendorong semua orang gembira bersama KerLiP menghilangkan rasa lelah dan kecewa melihat ketidaksemangatan pelaksana di daerah. Tidak ada yang menghalangi kami untuk menyemangati 120 peserta pelatihan SRA.

Menuju Jailolo

Speedboat merah bermesin 2 buah itu cukup tangguh menerjang ombak di Laut Ternate. “Ini perahu langganan Pemkab Halmahera Barat, meski ombaknya sedang besar insya Allah tetap aman, “ujar Bu Nona yang duduk di sebelah saya. Cuaca sedang tidak begitu bersahabat saat kami menyeberang ke Jailolo Selatan sore itu. Pengalaman yang cukup menegangkan ini membuat kami jadi lapar.

Air mineral dalam kemasan membasahi kerongkongan kami saat magrib tiba dengan  pisang dan tahu goreng yang dibeli Bu Elvi di seberang Ternate Mall. Ikan bakar  dengan sambal segar khas Jailolo memenuhi perut kami. “Daging ikannya cakial banget, “ujar saya kepada bu Elvi sambil seuseuhah karena cabe rawit yang super pedas tergigit.

Bu Elvi duduk di antara saya dan Asda 1 Pemkab Halmahera Barat. Pelatihan SRA bagi pendidik dan tenaga kependidikan di Jailolo.adalah tindaklanjut dari Deklarasi KLA yang dilaksanakan Bupati Halmahera Barat yang dihadiri Ibu Meneg PPPA bulan Mei lalu. “Kami sudah menyelenggarakan pertemuan dengan 120 Kepala Sekolah sebagai persiapan pelatihan ini. Piloting di 4 sekolah model siap dilaksanakan bersama 100 sekolah dalam tanggung jawab kami. Kami akan pastikan Gerakan Sekolah Ramah Anak ini dalam penyusunan RKAS 2016-2017, “kata Pak Sony, Kadisdik Halmahera Barat dalam pertemuan semalam di lobby Hotel D’Hoex.

Paparan Kadisdik Kab Halmahera Barat menyampaikan Kerangka Strategis mengadopsi paparan Mendikbud. “Saya sangat mengidolakan Bapak Anies Baswedan yang sangat memahami karakteristik sampai ke desa-desa.”

Halmahera Barat merupakan kabupatem terluar dengan 176 desa. Ada 75 PAUD 175 SD (31 dikelola oleh masyarakat), 66 SMP. Ada 16.000 anak usia dini baru 3.000 anak yang terlayani. Jumpah murid SD 16.000 anak SMP ada 6.000 anak berarti ada 10.000 anak dari keluarga tidak mampu yang belum terlayani. Apakah terlalu mahal atau terlalu kasar cara mendidik kita. Kami akan mereviu RAPBS semua sekolah. 10.000 anak ini akan dicari dan dilayani dengan pendidikan bermutu yang mencerdaskan. Beberapa kata dan slide yang diadopsi oleh Pak Kadis, a.l:

Sekolah Sebagai Taman.

Guru adalah kunci.

Orang tuau pendidik pertama dan utama. Pendidikan sebagai gerakan.

Sudah 2 kali didemo karena pungutan dan putusan komite yang bertentangan dengan publik. Bergerak secara bersama-sama pendidikan murah yang terjangkau.

1. Memberdayakan pekaku pendidikan dan budaya

– Ada beasiswa 1.020 guru untuk peningkatan kualifikasi guru menjadi S1/D4

– Percepatan atau menghitung angka kredit

2. Memberdayakan pelaku budaya masuk ke sekolah melalui seni dan budaya serta mulok.

5. Memperkuat keluarga sebagai pendidik utama dan pertama

6. Memperjelas pembagian kewenangan Daerah dan masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD-Dikmas

Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti di SRA Khazanah SMAN Libels

Film yang ditayangkan Pak Iriansyah di facebook mendapat sambutan antusias dari berbagai kalangan. Alumni-alumni Libels Bandung pun menyatakan kebanggaannya bersekolah di almamater mereka. Sekolah yang didampingi KerLiP Bandung melalui Safari GemBIRA bersama Forum Anak Kota Bandung ini menerima bantuan SRA dari BP3AKB Jabar pada tahun 2014. Kami membawa praktik-praktik baik di SMAN 15 Bandung yang dipimpin langsung oleh Pak Sugiarto, kepala sekolahnya, dalam setiap kesempatan sosialisasi SRA. Film ini melengkapi materi KIE terkait SRA dan mengukuhkan SMAN Libels sebagai model Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti dari Kemendikbud. Pak Ir adalah guru BK yang menjadi PKS Kesiswaan saat bantuan dari Pemprov Jabar disampaikan yang tetap konsisten mengawal penerapan SRA bahkan setelah berhenti menjadi PKS Kesiswaan.

image

Kemitraan Khas KerLiP dengan BP3AKB Jabar

Sejak hadir memenuhi undangan BP3AKB Jabar mewakili Kempppa dalam kegiatan sosialisasi SRA di Garut, KerLiP mendapat kehormatan menjadi mitra lembaga masyarakat dalam percepatan KLA di Jabar khususnya kluster IV. Bu Nenny Kepala BP3AKB Jabar saat itu mempercayakan penyusunan naskah akademik Ranperda Jabar tentang Percepatan KLA. Proses penyusunan yang dipimpin Ibu Diana Handayani bersama tim Litbang KerLiP ini menyertakan seluruh SKPD dan dikonsultasikan langsung ke Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa. Konsultasi publik naskah akademik ini dilaksanakan bersamaan dengan sosialisasi Perda Ketahanan Keluarga.

Gerak cepat Bu Dian Kabid KPA BP3AKB memungkinkan saya menyampaikan praktik-praktik baik termasuk SRA di SMAN 15 saat menjangkau seluruh kota/kabupaten yang bergegas untuk diajukan dalam penilaian KLA tahun 2017 yad. Saya mewakili KerLiP bersama ahli dari Unpad dan IPB mendampingi Bu Dian memfasilitasi 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat untuk mengisi instrumen penilaian KLA terkait penganugerahan KLA dari Gubernur Jabar yang akan dilaksanakan 2016.

Kemitraan khas KerLiP di tingkat nasional sebagai mitra Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Deputi TKA Kempppa, Direktorat Pembinaan PKLK Ditjen Dikdasmen Kemendikbud, dan anggota Tim Pokja TPPO KTPA Kemensos memungkinkan kami untuk memperkuat inisiatif BP3AKB Jabar dan menjangkau kluster V perlindungan khusus. Inisiatif Sekretariat Bersama Pemenuhan hak Pendidikan Anak pun muncul dalam pendampingan penguatan Gugus Tugas KLA Kluster IV di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Undangan menjadi salah satu narasumber dalam penyusunan materi KIE untuk menggiatkan Gerakan Jabar melawan Kejahatan Seksual Anak yang diselenggarakan Bappeda mengukuhkan kemitraaan khas KerLiP dengan BP3AKB Jabar.

Meskipun sempat diwarnai conflict interest terkait “kepemilikan” SMA Libels sebagai percontohan SRA Jabar dan Nasional, saya dan tim Litbang KerLiP tetap memandang perlu untuk menyampaika praktik baik mereka dalam setiap kesempatan termasuk saat menyusun bahan presentasi Kadisdikprov Jabar dalam kegiatan talkshow pada peringatan Hari PRB di Surakarta. Beberapa kali Pak Ir dan Duta Anak di SMAN 15 Bandung kami undang untuk menyampaikannya langsung dalam Rapat Penyusunan Modul ToT SRA, Panduan SRA di Direktorat PSMA, dan Pembuatan Film untuk sosialisasi Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti dalam pelatihan Kurikulum Nasional.

Semoga upaya untuk menjalin kemitraan khas ini terus memperkuat seluruh warga SRA Khazanah SMAN Libels dalam menggiatkan Gerakan SRA di Indonesia.

image

Mari GeMBIRA bersama Keluarga Peduli Pendidikan

Mau Untung atau Malah Rugi?

Ini janji Allah swt dalam Kitab Suci Umat Islam. Q.S Al Ahqaf Ayat 15-18

15. Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku.dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”

16. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahannya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.

17. Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah. Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata, “Celaka kamu, berimanlah!Sungguh, janji Allah itu benar.” lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu.”

18. Mereka itu orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) bersama umat-umat dahulu sebelum mereka, dari golongan jin dan manusia. Mereka adalah orang-orang yang rugi.

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui Penerapan Sekolah/Madrasah Aman Bencana

Konsultasi Anak adalah tahap pertama dalam aksi Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (MeSRA). Pada tahap ini, sahabat-sahabat KerLiP menjadikan Safari GeMBIRA ke sekolah/madrasah mitra sebagai wahana untuk menyiapkan agen-agen MeSRA. Tujuan kegiatan Safari GeMBIRA mengenalkan prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak melalui gerak dan lagu yang dikemas dalam YES for Safer School.

Kemitraan khas KerLiP dengan INGO seperti Plan, WVI, Save the Children dan lembaga UN di Konsorsium Pendidikan Bencana, Kemendikbud, BNPB, Pemprov Jabar dan Pemkot.Bandung memperluas jangkauan Safari GeMBIRA dari sisi jumlah sekolah/madrasah, sebarannya dan penguatannya dalam bentuk pelatihan fasilitator.
image

Manfaat Berjejaring

15/02 14:12] Bevita WVI: Mau nanya… mas amin waktu itu pernah kontak mbak yanti kan yah
[15/02 14:12] Bevita WVI: Soal road show sekolah aman di bandung
[15/02 14:13] yanti kerlip: Oh iya tahun lalu ya
[15/02 14:13] Bevita WVI: Rencana aku mau follow up itu mbak
[15/02 14:13] yanti kerlip: Siap
[15/02 14:13] Bevita WVI: Kapan yah kita bisa ngomongin secara detail

Kami bertemu pertama kali di ruang-ruang pembelajaran yang dilaksanakan KPB. Saat itu Bevita masih mewakili PMI. Saya belajar banyak dari PMI dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana di Pendidikan di KPB. Pendidikan Kesiapsiagaan di PMR menjadi rujukan penting dalam Konsep Sekolah Siaga Bencana yang kami susun dalam gugus tugas khusus yang dibentuk KPB. Ragam materi KIE PMI pun menghiasi dinding rumah kerlip termasuk putri kami. Tak heran jika ananda Icha yang sekarang duduk di kelas 8 SMPN 35 Bandung memilih PMR sebagai ekstrakurikuler, bahkan memenangkan lomba-lomba antar sekolah dengan Asincan (Ayo Siaga Bencana) bersama timnya.

Mentoring Sebaya dalam Safari GeMBIRA

Bulan aksi MeSRA tahun ini ditandai dengan aksi-aksi nyata dari sahabat-sahabat KerLiP. Bu Sari menyediakan diri untuk menindaklanjuti obrolan saya dengan Bevita yang kini mewakili WVI.

image

Sertifikat ini diberikan kepada 16 SD dan 3 SLB yang mengikuti kegiatan roadshow ASEAN Safe School Initiative yang kami kemas dalam bentuk Safari GeMBIRA di 2 SD dan 1 SLB. Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Bersinar dari kelas digital 7-11 binaan Bu Nia menjadi mentor sebaya. Bu Nia menjadi narasumber dalam pelatihan singkat bagi guru-guru pendamping. “Bu Yanti, kolase anak-anak SLB saya kumpulkan untuk dipamerkan ya. Ada banyak hal yang menakjubkan dalam karya anak-anak tersebut. Mentoring sebaya di SLBN Pajajaran terbukti ampuh untuk meningkatkan pengetahuan anak-anak disabilitas yang mengikuti kegiatan tersebut, “kata Bu Muftiah dari Pokja Inklusi Kota Bandung yang mengajar di SLBN A Pajajaran. Bu Nia dan GSB Bersinar yang dipimpin Sahlan menjadi daya tarik yang penting dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana melalui model Mentoring Sebaya.

Kerja Hebat Bu Sari

image

Kepiawaian Bu Sari dalam menghubungkan antar pihak didukung oleh putri sulungnya, Syahna yang juga ketua Forum Anak Jawa Barat membuat Safari GeMBIRA 2016 makin sarat makna. Atas rekomendasi Bu Sari, SMK Multimedia Telkom dipercaya WVI mendokumentasikan roadshow di 2 SD dan 1 SLB tersebut. Dinas Pendidikan kota Bandung mendukung penuh dengan merekomendasikan sekolah-sekolah yang perlu diundang secara tertulis. Amanat Pak Elih, Kadisdik Kota Bandung untuk mengaktualkan model-model pembelajaran dengan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana menjadi catatan penting dalam proses yang difasilitasi WVI, STC, Plan, ASSI, Disdik Kota Bandung, SMK Multimedia dan KerLiP Bandung.

Pelatihan fasilitator Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana diikuti oleh perwakilan guru dan pengawas di 20 SD serta 3 SLB dilaksanakan oleh Plan dengan dukungan ASSI, BNPB, Kemdikbud, Disdik Kota Bandung dan KerLiP. Saya mendapat kesempatan untuk memberikan sambutan dalam pembukaan pelatihan yang dilaksanakan di Hotel Amarossa tanggal 8 Mei 2016 pagi. Sayang sekali Bu Rena, Direktur Pembinaan PKLK tidak jadi hadir karena terjadwal kegiatan Harmoni Bersama Masyarakat di Jakarta. Pak Harta-Kabid TK SD Disdik Kota Bandung menggarisbawahi pentingnya pengarusutamaan Sekolah Aman Bencana dalam menyiapkan Bandung Masagi yang akan dilaksanakan serentak pada awal tahun pelajaran baru. Mbak Ngurah dari Plan menyampaikan apresiasinya terhadap kerja hebat Bu Sari dan memperkenalkan para inisiator ASSI.

Teriring doa untuk kesungguhan para fasilitator dalam menerapkan dan mempromosikan praktik baik sekolah/madrasah aman bencana di Kota Bandung.

image

Kumpulan Hadits tentang Kemuliaan Mendidik Anak Perempuan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia berbuat baik pada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)
Dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan kedekatannya dengan orang tua yang memelihara anak-anak perempuan mereka dengan baik kelak pada hari kiamat:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ -وَضَمَّ أَصَابِعَهُ–

“Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini),” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya”. (HR. Muslim no. 2631)

Jabir bin Abdillah rahimahullahu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثَُ بَنَاتٍ، يُؤْوِيْهِنَّ، وَيَكْفِيْهِنَّ، وَيَرْحَمُهُنَّ، فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَعْضِ القَوْمِ: وَثِنْتَيْنِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَثِنْتَيْنِ

“Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dia jaga, dia cukupi dan dia beri mereka kasih sayang, maka pasti baginya surga.” Seseorang pun bertanya, “Dua juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dan dua juga.” (Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 58: “Hasan”)

Pendidikan Keluarga untuk Pencegahan Kekerasan

YY dan Potret Kelam Anak Indonesia

Saya heran/bingung/ngeri (apa lagi yah istilah yg pas) membayangkan perasaan para pelaku bisa2nya memperkosa  dan “membunuh” tanpa belas kasihan, mati rasa salah, dan tanpa beban (ikut mencari dan mengubur korban “menurut pemberitaan”) Bagaimana proses pengasuhan (keluarga) mereka  sehingga nurani mereka mati (hampa nurani/teralienasi/buta nurani). Kepribadian destruktif (patologis) dapat terbentuk bilamana anak dibesarkan dalam keluarga yang mengabaikan kasih sayang dan menelantarkan pembentukan rasa tanggungjawab, serta tak ada kehangatan sedikitpun–miskin emosi  (Berkowitz)
Program nawacita negara harus hadir, membangun dari pinggir, dan revolusi karakter sepertinya prioritaskan dilaksanakan di daerah2 bukan berarti mengabaikan dikota2 besar, karena saya yakin kasus2 kekerasan, pelecehan terhadap anak dr yg “sederhana” sampai seperti yg menimpa YY (fenomena gunung es) banyak terjadi didaerah2 dan justru kurang terekspose.
Pelaku juga menurut saya korban juga sangat mengenaskan (Bagaimana bisa memproduksi anak yg memperkosa dan membunuh ?), korban ketidaktahuan dan ketidakmautahuan, kegagalan dalam mengontrol hasrat, keretakan keluarga, kekerasan yang dilakukan sekitar, dan model buruk orang dewasa (kurang figur teladan).
Kita Harus hadir di tengah2 mereka, pendidikan keluarga harus hadir di tengah2 mereka, optimalisasi peran pkbm atau lembaga non formal lainnya perlu langsung terjun ke masyarakat dalam mengedukasi keluarga,

Selamat Pagi… Selamat Merenung dan Have a Nice Very Long weekend
Jangan didebat tulisan amatir ini tapi koreksilah si amatir ini

Pesan dari Mas Aria, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga sangat pas ditempatkan sebagai pembuka dari tulisan hari ini. Kemarin saya tidak bisa mengikuti kegiatan di depan istana Presiden bersama para sahabat karena harus menuntaskan pekerjaan sampai tengah malam di kantor.
image

Siapa ananda Yuyun yang menjadi korban kejahatan seksual yang sadis ini? Saya share disini informasi dari Zara Zettira penulis favorit saya di facebook.

image

image

image

image

Pengasuhan yang anti kekerasan merupakan salah satu strategi yang dipilih Republik tercinta ini dalam menggiatkan Gerakan Nasional Perlindungan Anak yang baru diluncurkan Menteri Yohana. Pernyataan keras dari Bu Menteri seperti yang diberitakan Kompas, menumbuhkan harapan adanya sikap tegas untuk.menghadirkan Negara bagi anak-anak bangsa.

Kita kawal dengan #NyalaUntukYY