Bu Nia Membuka Ruang Kreativitas Anak di Kelas Digital 7-11 SMPN 11 Bandung

Alhamdulillah proses pemilahan sampah ala GSB Bersinar perlahan tp pasti mulai terlihat kemana arahnya. Ada peluang ke arah penggunaan teknologi tepat guna & inovasi sederhana. Hari ini ada 4 desain tempat sampah inovatif karya anak2 keren hebat. Mohon doanya ya bu..

Kabar gembira dari Bu Nia Kurniati, guru para pembaharu muda yang selalu semangat dan ikhlas menemani tumbuh kembang para juara di SMPN 11 ini sudah saya terima beberapa minggu yang lalu. Kreativitas Bu Nia untuk bergiat dalam pengelolaan sampah berbasis sekolah makin keren. Anak-anak bimbingannya berhasil merintis GSB Bersinar selalu gembira belajar bersama di kelas digital 7-11 mendapatkan ruang kreativitas yang tanpa batas.

image

image

Alhamdulillah, saya diijinkan untuk menunjukkan beberapa bagian dari proses pengembangan kreativitas anak dalam kerangka aksi pengelolaan sampah berbasis kelas yang luar biasa. Sungguh menakjubkan melihat bu Nia guru PNS di SMPN 11 ini tak berhenti berkreasi di tengah segala tantangan yang harus dihadapinya setiap hari.

Selamat berkarya dan menjadi pemenang sejati menggiatkan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersih, Sehat, Hijau,Inklusif, Aman, AntiKekerasan, dan Ramah Anak (KerLiP Bersinar)

Advertisements

Menikahkan Politik, Ekonomi, dan Pendidikan

image

[23/03 00:20] Dan Satriana: Sebenarnya ideologi dan prespektif pendidikan s23endiri bisa ditelusuri jelas meski memang rumit dan panjang. Tetapi ketika pendidikan dicampuri kepentingan politik dan ekonomi jadi kelihatan seperti benang kusut. Kenapa? Karena yang membuat kusut adalah kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi yang menutupi warna indah pendidikan sebenarnya.

[23/03 00:27] yanti kerlip: Politik-ekonomi-pendidikan sudah lama menikah Kang Dan. Sulit menceraikannya. Kita perlu cari solusi agar jadi “keluarga” harmonis

[23/03 00:34] Dan Satriana: Betul ibu @yanti. Saya sih optimis karena banyak sekolah yang berhasil menikah dengan lebih sehat. Di salatiga, di Blitar, di Bandung sudah cukup. Jika kita belum siap merubah persepsi kita, cukup negara memberi ruang bagi eksperimen seperti itu tanpa tuntutan kesergaman. Bukankah Pa Anies punya jargon mencari Champion, mengoleksi best practise….ini….di sini

[23/03 00:38] yanti kerlip: Kita dorong buat semacam festivalnya yuk…mulai dari pelatihan menulis praktik2 baik. Dulu kayaknya pernah dilakukan untuk wapik.

http://jendela.data.kemdikbud.go.id/jendela/ ini dibuat anak2 muda Paska yg bisa dimanfaatkan disdik kota Bandung untuk exposure best practices ya

[23/03 04:15] Taufan fgii: Kang Ben, siswa sekolah favorit baik Swasta pun negeri mulai sd – sma, yg saya tahu umum nya mrk ikut bimbel, OK jgan dilihat sekolah negeri, kita lihat sekolah Swasta yg umumnya Gurunya msh muda enerjik, kreatifitas, selalu dlm pantauan yayasan, jika cara mengajar Dan kinerja buruk ada sangsi yg merugikan dirinya, Dan akhirnya terkondisi bagus pelayanannya, namun tetap saja anak2 didik nya bimbel

[23/03 04:19] Taufan fgii: Bener Kang Dan, di sekolah ada proses yg menyenangkan ada nilai silaturahmi siswanya ktk praktik apapun di sekolah lebih menyenangkan, apalagi berdasarkan kurikulum nasional, penilaian siswa lebih kpd prosesnya bukan hasilnya, guru harus melihat kesungguhan siswa ktk mengerjakan tugas atau lembar kerja bukan pd hasil

Mas eko, seandainya  kembali spt orang tua kita dulu ktk menyekolahkan kita orientasinya ke sekolah yg terdekat mulai SD- SMA, Dan saat itu belum muncul sekolah favorit, buktinya orang sukses yg kita lihat skrg tidak lahir dari sekolah dan PTN favorit, krn kunci sukses adalah kesungguhannya dlm meraih mimpi, hal inilah yg harus secara masif ditanamkan kepada anak Dan ortu siswa.

OPeRA di wa grup GMPP Indonesia selalu menarik untuk disebarluaskan. Kang Dan adalah pegiat pendidikan yang sudah kawakan dan jadi mentor bagi sahabat-sahabat KerLiP seperti Zamzam, Ova, Nur juga Ilah, Okha, dan anak-anak muda yang bergiat di Kalyanamandira. Satuan Aksi Pembelajaran yang mereka susun untuk anak-anak berhadapan hukum di LPKA Kebonwaru lengkap dengan berbagai praktik baiknya. Setahu saya sekolah-sekolah yang disebutkan berhasil menikahkan politik, ekonomi, dan pendidikan secara sehat seperti Qoryah Thoyibah, Hikmah Teladan, SMA PGRI Cibinong, Sekolah Alam beberapa kali diliput jurnalis Kompas.

Mediator Aktif
image

Pertemuan saya dengan FGII dan para pegiat hak atas pendidikan di Jakarta tahun 2005 mendorong kamk untuk menggiatkan gerakan keluarga peduli pendidikan di ranah advokasi non litigasi menjadi litigasi. Advokasi korban UN 2006 menyadarkan saya tentang pentingnya kerja sebagai mediator aktif untuk mengubah wajah sekolah/madrasah lebih ramah anak. Kampanye dan advokasi Education for All yang kami usung sejak 2003 untuk memastikan tersedianya anggaran yang memadai dalam pemenuhan hak konstitusional rakyat atas pendidikan mendapatkan penguatan. Praktik-praktik baik pendidikan anak merdeka di sekolah berprogram khas dengan bangunan fisik seperti sekolah “negeri” serta kemitraan khas dengan Pak Fasli Jalal yang memimpin perubahan di Kementerian Pendidikan Nasional membuka jalan baru sebagai mediator aktif dalam pemenuhan hak atas pendidikan. Apalagi dengan dukungan sahabat-sahabat KerLiP dari UPI Bandung dan guru-guru kritis di FGII.

“Mbak, banyak yang bilang lu tuh murahan banget, tanpa dibayar pun bisa, “kata Susi Fitri saat kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun saya meninggalkan keramaian advokasi di Jakarta. Kata-katanya menyadarkan saya untuk mempertimbangkan kegelisahan Zamzam. Posisi mediator aktif dalam pemenuhan hak atas pendidikan mempercepat upaya advokasi yang kami buka melalui pelembagaan Sekretariat Nasional Sekolah Aman. Saya memutuskan untuk bergeser memperkuat advokasi bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak setelah berkenalan dengan Bu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak. Kampanye dan penerapan sekolah aman pun kami rangkai dengan praktik-praktik baik lainnya yang sudah diusung ribuan bahkan ratusan ribu sekolah. Penyusunan direktori sekolah aman 2013 bersama BNPB menjadi media penting dalam pengumpulan praktik-praktik baik tersebut.

Saya dan Zamzam tetap menjalankan mediasi antar kementerian dan lembaga sampai ke pemerintah kota/kabupaten. Sosialisasi Pedoman Pendidikan Ramah Anak ke 17 provinsi pada tahun 2012 membuka kesempatan untuk menjangkau mitra KerLiP di daerah. Kesempatan emas untuk menikahkan politik, ekonomi dan pendidikan makin terbuka saat Bu Ida, kasubdit sarpras Ditme Ditjen Pendis Kemenag mengajak kami untuj mengarusutamakan sekolah/madrasah aman dari bencana dalam rehabilitasi 7 ribu madrasah pada tahun 2011-2012 lalu perluasan MAN Insan Cendekia ke 20 provinsi sebagai model penerapan pendidikan ramah anak yang diusung 7 kementerian/lembaga.

Alhamdulillah, upaya harmonisasi dan perluasan jangkauan pemenuhan hak anak atas pendidikan mulai diperkuat dengan penyediaan Ruang Kreativitas Anak untuk pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. Bu Elvi, asdep pemenuhan hak anak atas pendidikan pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya menjadi penanda penguatan reformasi birokrasi dalam pemenuhan hak atas pendidikan ini. Kemitraan khas yang kami jalankan memungkinkan percepatan penerapan Sekolah Ramah Anak sebagai salah satu indikator Kota/Kabupaten Layak Anak di Kemdikbud. Direktorat Pembinaan SMP sudah menerbitkan panduan Gerakan Sekolah Sehat, Aman, Ramah Anak, dan Menyenangkan selama proses advokasi yang kami jalankan bersama Bu Elvi 2014 lalu. Saat ini Direktorat Pembinaan SMA dan Pembinaan SD sudah menuntaskan Panduan Sekolah Ramah Anak dalam dampingan Zamzam dan Susi Fitri.

Keputusan saya untuk mendampingi Bu Rena, Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus memungkinkan isu lintas sektor untuk memperkuat kemitraan yang dulu diusung melalui Seknas Sekolah Aman. Istilah Anak Berkebutuhan Khusus Bersih, Sehat, Ramah Anak, dan inklusif (Berseri) dikeluarkan Bu Ning, Kasubdit Peserta Didik Bina PKLK. Gerakan KerLiP Bersinar (Bersih, Sehat,Hijau, Inklusif, Aman, Antikekerasan dan Ramah Anak) pun mendapatkan momentumnya. Hasil Rakor Bina PKLK memunculkan SeRAI sekolah Ramah Anak dan Inklusif serta SeMAI 3T menggantikan ADEM 3T. Penanda-penanda baru ini melengkapi kegiatan GeMBIRA bersama KerLiP di sekolah yang kami sebarluaskan melalui kitabisa.com.

Intimacy, passion dan commitment adalah tiga elemen tringular theory of love dari Sternberg. Intimacy merupakan elemen emosi yang berhubungan dengan kedekatan yang mengarah pada hubungan, kepercayaan dan kehangatan, passion merupakan elemen motivasi dan commitment merupakan elemen kognitif yang mendasari untuk saling menyayangi dan mempertahankan hubungan. Ketiganya merupakan elemen penting dalam pernikahan. Kami jalin dalam upaya tumbuh bersama mewujudkan Pendidikan Ramah Anak, Bermutu, dan Bebas Pungutan (Panutan).

Membangun Kesadaran Kritis yang Responsif Anak

FGII-Federasi Guru Independen Indonesia, menjadi rumah saya ketika memilih advokasi kritis mendoring perbaikan layanan pemenuhan hak atas pendidikan di tingkat nasional. Kesadaran kritis sebagai warga negara mulai tumbuh saat diperkenalkan dengan Education for All yang disepakati NKRI di Dakkar bersama 100 an kepala negara sedunia. Namun demikian, pertemuan dengan FGII lah yang membuat motto Berani Gagal.yang kami usung dari Cimahi mendapatkan penguatannya.

Berani Berkata Benar

Ini bukan B3 limbah beracun ya. Berani berkata benar atau B3 yang inj perlu perjuangan untuk out of the box dan keluar dari zona nyaman. Waktu itu tanpa sengaja bertemu dengan para pendirinya di ICW. Ada hal yang menggelitik pikiran saya dalam dialog-dialog saling belajar yang saya ikuti dengan antusias di Koalisi Pendidikan. Saya merasa sangat tertinggal jauh karena menganggap cukup dengan membantu menyediakan pendidikan alternatif untuk kelompok menengah kaya di Indonesia khususnya di Jawa Barat.

Kampanye Education for All pun akhirnya dilengkapi dengan advokasi litigasi untuk korban Ujuan Nasional. Kesadaran kritis saya sebagai warga negara benar-benar terasah di Jakarta. Analisa berita pendidikan di Kompas mendorong saya untuk melakukan B3 dengan menulis artikel. Sata jadi mudah geram melihat ketimpangan dan indikasi pelanggaran hak anak atas pendidikan. Rasa geram,  gemat membaca dan kebiasaan menggunakan bahasa halus sejak kecil, bermuara pada tulisan-tulisan kritis di harian umum nasional. Tidak tanggung-tanggung. Semua tulisan saya yang dimuat Kompas setia0 2.minggu sekali sejak 15 Januari sampai Mei itu dibukukan bersama tulisan-tulisan jurnalis keren Kompas. Bahkan sampai dicetak ulang saat 2 tulisan terakhir saya kembali dimuat paa bulan Juli.

Para Pelayan Publik Responsif Anak di Kemenag

Saya memutuskan berhenti menulis di Harian Umum elit itu setelah mempelajari kemudahan-kemudahan menulis di blog. Beberapa blog terkait tema kampanye dan advokasi EFA yang sedang kami usung pun terbit. Blog ini salah satu media untuk menghadirkan wacana mikro ke ranah publik. Perlu keberanian ekstra untuk memilih jalan senyap setelah gegap gempita didukung para jurnalis independen dalam kerja advokasi litigasi.

[

15/03 19:27] Bu Ida Xl: Bu Yanti u tahun ini PPDB Man IC siap menerima siswa 1728 pada 17 propinsi
[15/03 19:27] yanti kerlip: Alhamdulillah…1.728 anak
[15/03 19:28] yanti kerlip: Jadi seperti MAN IC Serpong ya Bu?
[15/03 19:28] yanti kerlip: Dibiayai penuh oleh Kemenag
[15/03 19:30] Litbang Kerlip Diana: Salut dengan perjuangan bu Yanti…
[15/03 19:31] yanti kerlip: Bu Diana…memperluas dampak mimpi kita dulu… di Kota Cimahi Bu
[15/03 19:31] Litbang Kerlip Diana: Iya..kereeennn…
[15/03 19:31] yanti kerlip: Kl buat sekolah sendiri terbatas jangkauannya
[15/03 19:32] yanti kerlip: Dg ibu2 dan bapak2 hebat di birokrasi pelayanannya bisa se nusantara
[15/03 19:32] yanti kerlip: Alhamdulillah birokrat2 kita peduli anak
[15/03 19:33] Litbang Kerlip Diana: Betul… kl kebijakan bisa menjangkau rakyat banyak pasti memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan warga
[15/03 19:33] Ibu Dr. Sowiyah Unila: Bu Yanti. Sy sdh sosialisasi SRA dan Kerlib. Peserta antosias
[15/03 19:36] Bu Ida Xl: Iya bu. Hanya biaya kita bebankan u biaya personal ke siswa
[15/03 19:37] Litbang Kerlip Diana: Sekarang sy akan coba membantu TPQ di rumah menjadi TPQ ramah anak
[15/03 19:38] yanti kerlip: Alhamdulillah
[15/03 19:38] Litbang Kerlip Diana: Nanti di share indikatornya ya bu Yanti
[15/03 19:38] yanti kerlip: Mau dong Bu ceritanya
[15/03 19:38] yanti kerlip: Saya boarding dulu ya
[15/03 21:13] yanti kerlip: Siap Bu

Obrolan di wa grup Gerakan Sekolah Ramah Anak ini adalah salah satu bentuk appresiative inquiries yang kami lakukan bersama para pelayan publik yang responsif anak. Saya sangat beruntung bisa tumbuh bersama Pak Fasli Jalal mengawal kampanye dan advokasi EFA dalam beragam judulnya.

Bu Ida kini menjabat Kasubdit Kesiswaa Ditma Ditjen Pendis. Saya bertemu dengan pelayan publik yang berani memastikan madrasah dinyatakan tegas dalam kebijakan-kebijakan pendidikan pada saat memimpin Sekretariat Nasional Sekolah Aman. Saat itu Bu Ida menjadi Kasubdit Sarpras di Direktorat yang sama. Hubungan kami.makin intensif ketika memperluas MAN Insan Cendekia ke seluruh Indonesia. Saya mendapat kehormatan menyiapkan Grand Design nya bersama Pak Abu Ammar dari ITI Serpong. Secara paralel saya juga menyiapkan instrumen monev bersama konsultan arsitek dan bangunan madrasah.

MAN IC menjadi model Madrasah Bersinar lengkap di Indonesia yang diusung sekretaris Jenderal dari berbagai kementerian dengan diterbitkannya Nota Kesepahaman pada tanggal 20 Agustus 2012. Pedoman Pendidikan Ramah Anak yang kami susun bersama Bu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan anak di bawah Deputi Tumbuh Kembang Anak yang dijabat Pak Wahyu, menjadi rujukan utama. Instrumen monev yang menjadi lampiran Perka BNPB no 4 tahun 2012 tentablng Pedoman Peneraoan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana disesuaikan dengan rencana pengembangan dan pembangunan MAN IC.

Alhamdulillah inisiatif baik ini sudah mulai menjangkau  ribuan anak di Indonesia.