Ibu Sari Membangun Basis Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Kota Bandung

Cafe Ilmu GeMBIRA di Dago Car Free Day menjadi saksi pertemuan perdana kami dengan sosok perempuan yang hebat ini. Ibu Sari, begitu saya memanggilnya, mendampingi kedua putrinya, Nabila dan Syahna yang saya ajak untuk bergabung di Ruang Kreativitas Anak tersebut. “Saya harus tahu dulu, Bu, siapa yang mengajak anak-anak saya beraktivitas, “kalimat yang disampaikannya berkali-kali itu konsisten dengan perjalanannya tumbuh bersama Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan.

image

Memperjuangkan Hak Anak Bersama Anak-Anak Tercinta

Saya dan Fitry, berkomitmen untuk menyisihkan pendapatan kami untuk memulai fellowship KerLiP dengan memberikan beasiswa gerakan kepada keluarga peduli pendidikan penerima anugerah KILAUNusantara. Penerima anugerah perdana versi kami berdua adalah Nurasiah Jamil (Aas) yang menjadi volunteer KerLiP sejak lulus dari Akademi Kebidanan. Kami berdua memberikan dukungan sejumlah dana kepada Aas agar dapat mewujudkan impiannya untuk Indonesia Sehat Semua dengan menumbuhkembangkan Rumah Cita Kita bersama teman-temannya.

Istilah Keluarga Idaman Lahirkan Anak Unggulan yang kemudian diperbaiki menjadi Keluarga Idaman Lahirkan Anak Unik atau KILAUNusantara nampaknya sangat pas dilekatkan kepada Bu Sari sekeluarga.Keunikan Syahna dan Nabila, kakak beradik pejuang hak anak yang tak henti mengukir prestasi ini keren banget. Pengasuhan ayah bundanya yang luar biasa memikat hati. Saya mengapresiasi keluarga hebat ini dengan meminta Pak Gunandar, suami Bu Sari untuk menjadi Direktur KerLiP pada tahun 2015. Namun rencana ini terpaksa batal karena usaha yang dirintis keluarga kami baru dimulai. Apalagi kemudian manajemen Wisma Kodel yang baru meminta kami segera keluar dari ruang yang sudah kami tempati atas kebaikan almarhum Apa Utomo Dananjaya sejak 2005.

Anugerah KILAUNusantara kembali kami perdengarkan dengan model fundraising melalui penjualan Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual. Inisiatif ini belum terprogram dengan baik karena berbagai keterbatasan. Saya dan Fitry akhirnya sepakat untuk menyerahkan 1 paket ELSI kepada Nabila sebagai salah satu Duta Anak YES for Safer School atas upayanya bersama ibunda tercinta melakukan Safari GeMBIRA di SDN Merdeka dalam program yang didukung oleh Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen Kemendikbud. Selain itu, kami juga memberikan kesempatan kepada Nabila dan Allisa untuk mewakili KerLiP di World Conference of Disaster Risk Reduction di Sendai Jepang dengan dukungan penuh dari Direktorat Pembinaan SMP Kemendikbud pada tahun 2015.

Bu Sari yang Rendah Hati

Waktu kecil, almarhumah ibu selalu memuji saya dengan istilah “tangan dingin” karena setiap menanam di halaman rumah pasti tumbuh subur. Kepiawaian Bu Sari untuk mendampingi Teh Iwang selama bekerja di KerLiP serta beragam kegiatan penting yang berhasil dilaksanakannya di Bandung mengingatkan saya pada istilah tersebut. Keputusan bu Sari untuk tidak bekerja di luar rumah dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sebagai alumni Planologi ITB untuk mendidik, merawat, mengasuh kedua putrinya tanoa bantuan asisten menempatkan Bu Sari sebagai ikon yang pantas mewakili KerLiP di Direktorat Bindikel.

Inisiatif Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan indonesia muncul dari pertemuan kami dengan Pak Hary, Bu Elvyra dan Dahrina. Ketiganya dibawa bu Sari menyampaikan pengaduan PPDB 2014 ke Perkumpulan KerLiP. Sebelumnya Bu Sari membantu anak-anak lulusan SMP yang mengalami hal serupa dengan Syahna dan mendapatkan koreksi nilai UN Bahasa Indonesia yang menentukan keberlanjutan sekolah mereka. Bu Sari pun resmi mewakili KerLiP Bandung di GMPP Indonesia untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak atas pendidikan ramah anak, bermutu, bebas pungutan yang dikemas Bu Sari dengan istilah Panutan. Saya dan Zamzam, Tim Litbang KerLiP membawa semangat Panutan ke Riau atas dukungan para perintis Gerakan Indonesia Pintar.

image

Peluncuran Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di SLBN Cicendo pada tanggal 18 Desember oleh Ketua P2TP2A Jawa Barat,Ibu Netty Prasetyani dan Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak pada Hari Ibu, 22 Desember 2016 terlaksana berkat tangan dingin Bu Sari. Pengawalan roadmap KerLiP di Direktorat Bindikel diserahkan sepenuhnya kepada Bu Sari sampai ke Kuala Lumpur bersama tokoh-tokoh Bindikel. Bu Sari juga yang menjalankan tawaran WVI dengan tim ASSI kepada KerLiP untuk melaksanakan roadshow sekolah aman bencana dan pelatihan fasilitator SMAB bagi guru di kota Bandung. Sebelumnya Bu Sari juga melaksanakan Safari GeMBIRA bersama forum anak di SMAN 15 Bandung, SD Plus Marhamah Hasanah dan SMAN 1 Margahayu Kabupaten Bandung serta SDN Merdeka Bandung.
Beragam portofolio yang hebat ini makin terasa bermakna dengan kerendahhatian Bu Sari membangun basis Getakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar di kota kelahirannya Bandung tercinta.

Selamat bekerja demi kepentingan terbaik anak bangsa ya Bu

image

#Bangga Menjadi Bagian dari Keluarga Besar KerLiP

Menutup Tahun 2015 Dengan KerLiPan



Saya adalah ibu yang sangat bahagia dan bangga dengan karier saya sebagai  ibu rumah tangga .  Satu demi satu rencana dan target yang saya, suami dan anak anak susun alhamdulilah  dapat dilampau.  Semua itu berjalan dengan “cukup sempurna” selama 17 tahun pernikahan kami.

Pada bulan Juni 2014 saya bertemu dengan Ibu Yanti KerLiP.  Saat itu Ibu Yanti membantu saya dalam memperbaiki kesalahan nilai UN Bahasa Indonesia anak-anak SMP Negeri 7 Bandung. Sejak saat itu cukup intens juga kami bertemu dalam berbagai kesempatan.

Hingga akhirnya Agustus 2014 adalah waktu saat saya merasa yakin ingin Keluar dari Zona Nyaman saya di rumah dan bergabung dengan KerLiP Bandung.  Keasyikan  berprofesi sebagai  ibu rumah tangga membuat saya tidak terlalu yakin akan kemampuan saya.  Bu Yanti KerLiP memberi keyakinan bahwa saya memilki kemampuan dan kekhasan sebagai seorang ibu rumah tangga. Berkali kali-kali Ibu Yanti berkata bahwa Praktek Baik yang sudah  saya sudah lakukan   di keluarga harus “ditularkan” pada banyak keluarga di Indonesia. Dan ini dibuktikan oleh bu Yanti dengan menempatkan saya sebagai wakil KerLiP untuk membantu Direktorat Pendidkan Keluarga  Oktober 2015 hingga sekarang. (baca # Bangga Menjadi Bagian dari Keluarga Besar KerLiP  … Bertemu dengan banyak pakar parenting)

Pada awal bergabung dengan KerLiP kesulitan utama saya adalah “berlari” mengikuti pemikiran Ibu Yanti yang dalam hitungan detik dapat mengeluarkan banyak Ide yang diluar dugaan.  Rentetan kalimat yang terkirim  via BBM, WA dan Email membuat saya terkaget kaget bahkan sedikit syok dan memiliki PR baru untuk dipelajari.  Kesulitan kedua adalah pembagian waktu.  Walaupun Suami dan anak anak tidak pernah komplain namun komitmen pribadi pada keluarga membuat saya sangat sulit membagi waktu dan ini   membuat beberapa kegiatan KerLiP tidak dapat saya ikuti.   Namun seiring dengan berjalannya waktu kedua kesulitan tersebut Alhamdulilah dapat diatasi.
Terimakasi Ibu Yanti KerLip …atas kesempatannya …saya merasa nyaman serta Bangga menjadi bagian dari Keluarga Besar KerLiP dalam memperjuangkan berbagai hal dengan berprinsip pada kepentingan terbaik anak anak Indonesia.

Saya menutup tahun 2015 dengan berbagai KerLiPan yang sangat bermakna besama Keluarga Besar KerLiP

EKASARI WIDYATI ST. Ibu rumah Tangga, Ibu dari Syahna Rahmah F dan Nabila Ishma N,  KerLiP Bandung

Piknik di Bandung

Ama tiba di rumah di penghujung tahun 2015. Ia menyetir sendiri dari Jakarta selepas kerja setengah hari. Tak lama kemudian Inong menyusul membawa persediaan makan kami bertiga di rumahnya. Piknik di Bandung lebih asyik dengan kuliner. Bertiga kami mencicipi 3 paket makan malam di De Kiosk’me-nya Wendi, sahabatku di Fa88, yang baru Grand Launching Tahun Baru 2016.

image

Tertidur

Ajakan Nur Rina teman Inong lewat, foto bareng di Taman Vanda terhambat pilihan jalan, bahkan rencana nikmati langit Bandung bertabur percikan kembang api dari loteng Inong pun tak kesampaian. “Feel likes home ya, “kata Inong. Ama dan aku langsung merebahkan diri di atas sofa. Barang-barang di atasnya sudah tersingkir. Entah kapan Inong menghamparkan kasur depan TV. Tahu-tahu pas aku terbangun lewat tengah malam melihat Ama dan Inong tidur.

“Kalian mah, padahal suara petasan dan terompet bergantian di TV dan dari kejauhan, “Inong menghardik kami yang tertidur di malam tahun baru 2016. Aku terbangun, mandi, dan menikmati sarapan buah dan batagor yang dihangatkan Inong. Nikmatnya.

Nyonyah Inong

Sopir spesial sudah siap membawa Nyonyah Inong dan aku jalan-jalan. “Jadi kita kemana nih?” tanya Ama dengan sabar. “Kayaknya Tenno keterusan manggil nyonyah karena ada teman yang selalu menyampaikan alasan terlambat hadir suka menyebut dirinya Ijah bla bla bla, “jelas Inong sambil menunjukkan jalan yang dilalui Ama.

Inong berkali-kali memberikan beberapa alternatif jawaban setiap kali ditanya Ama mau ke arah mana. “Ayo Nong. Berani ambil keputusan. Hampir tanpa resiko koq! “seruku dari kursi belakang. “Ama dengan senang hati ikuti Inong kan?”tanyaku pada Ama. “Aku bukan peragu, tapi penuh pertimbangan, “kata Inong. Jawaban Inong jadi pintu masuk obrolan yang lebih serius. Inong yang baik hati, penyayang, dan penuh pertimbangan, masih belum menemukan pasangan hidup. “Sekali ini Nong, berani gagal berani mencoba, tapi yakinkan diri dulu kalau Inong sangat menginginkan menikah,”akhirnya kalimat ini meluncur juga dari pikiranku.

Menikmati Liburan

“Yaah…kirain Inong pernah ke Puncak Bintang!” seru Ama sambil  tancap gas. Jalan sempit dan mendaki sepanjang 10 km berhasil ditaklukkan Ama dengan mulus. Bukit Bintang sudah dipenuhi anak-anak muda berpasangan. Beberapa keluarga juga terlihat membawa anak-anak mereka bahkan yang masih bayi.

Alhamdulillah hujan baru turun setelah kami selfie di Puncak Bintang dengan kamera HP Ama yang canggih. Ama benar-benar hebat. Ia membawaku dan Inong langsung ke Diva di jalan Sumatera. Huda turun di pintu gerbang rumahnya. Hujan yang mengguyur Kota Bandung tidak mengurungkan niat nyanyi bareng di tempat karaoke. Ama juga berbaik hati mencarikan lagu-lagu favorit untuk kami nyanyikan selama 2 jam di Diva.

image

Selfie di Almamater

Keuntungan terbesar piknik di Kota Bandung adalah kesempatan untuk selfie di SMAN 3 dan ITB, tempat kami bermain dan belajar bersama. Niat  sarapan di Sari-sari terpaksa dialihkan. Sari-sari, Moms kitchen dan beberapa tempat makan favorit warga Bandung masih tutup. Kami pun memilih sarapan di Two Cents. Mug titipan Andri pun diabadikan disana. Sayang sekali Oding-panggilan akrab Andri, sudah sarapan di tempat lain

 

SMAN 3 Bandung terletak di jalan Belitung No.8, hanya 10 menit dari tempat kami sarapan. Satpam sekolah mengijinkan kami untuk berselfie ria di almamater. Inong menata gaya di beberapa sudut yang menarik untuk diabadikan.

 

Setelah puas selfie di sekolah, kami mengantar Inong ke lokasi proyeknya di Ciumbuleuit. Apartemen Parahyangan berlantai 31 sudah berdiri tegak di Bandung Utara. “Semuanya sold out dalam waktu 6 bulan lho!” Kata Inong saat mengajak kami naik ke lantai 26. Tentu saja selfie dengan latar belakang Bandung di waktu pagi tak terlewatkan.

Hari ini, aku dan Ama menikmati layanan pijat Bersih Sehat di Jl. Tirtayasa. Inong bekerja setengah hari. Ama mengajakku selfie di area Teknik Lingkungan, tempatnya kuliah sambil menunggu Inong. Kami bertiga kembali bertemu di depan pitstop ITB88 di kampus biru. Ama penasaran mengajak kami selfie depan Aula Barat dan Timur.

Piknik 2 hari di Bandung kami tutup dengan makan siang di Rasa. Hujan deras di luar restoran membuat kami enggan beranjak keluar. Akhirnya Ama dan Inong kembali ke rumah masing-masing dari rumahku di Kanayakan. Seluruh file lagu favorit Ama sudah disimoan di flash disk khusus sebelum kedua sahabat dekatku pamit.

Selfie dengan Sahabat di Puncak Bintang Bandung

Alhamdulillah doa dari Bu Rena dan sahabat-sahabat di facebook terkabul. Sore ini alam berbaik hati menunda hujan. Kami berencana menikmati puncak gunung di Bandung Utara.

Home Sweet Home

Ama masih menikmati hangatnya mentari yang menerobos jendela rumah Inong. “Nti udah sarapan manggis, jeruk, batagor bumbu kacang dan bumbu pempek, Alhamdulillah, “ujarku saat melihat Ama menggeliat bangun dari hamparan tempat tidur di depan TV. Sinar mentari sudah sampai di dagunya. Saatnya jalan-jalan di kota tempat kami bermain dan belajar bersama selama 3 tahun di SMAN 3 Bandung.

“Bener nih jalannya nanjak terus? Ama ganti mobil manual dulu ya, “tanya Ama sambil memacu mobilnya menuju Gunung Batu. Inong membawa bekal jeruk, roti, dan kacang atom dua rasa untuk bekal kami naik gunung. Rencana semula kami bertiga akan jalan-jalan ke Stone Garden, tapi batal demi selfie di Puncak Bintang.

image

Adzan Zhuhur sudah berkumandang saat kami duduk di ruang tamu rumah Ama. “Nti ikut sholat dulu ya Ma, ” aku meminta ijin kepada Ama yang sedang memarkirkan mobil Avanza di teras rumah. “Rumahnya nyeni banget ya. Banyak pintu dan jendela. Setiap sudut benar-benar fungsional, “imbuhku. Tak lupa kuabadikan beberapa sudut rumah tempat tinggal orang tua Ama. “Hawanya dingin ya, ” Inong yang Arsitek pun tertarik. “Adik ibu Ama yang mendesain rumah, “sahut Ama. “Tanahnya kotak, Nti, “kata Inong lagi.

Index of Happiness

Jalan Dago masih sepi, namun beberapa ruas jalan sudah dialihkan. Kami putuskan melewati jalan Cipaganti untuk melihat Teras Cikapundung yang akan diresmikan Walikota Bandung pada malam tahun baru 2016. Keinginan untuk mampir melihat hasil penataan kota yang mengedepankan peningkatan index of happiness ini baru terlaksana keesokan harinya.

 

Alhamdulillah, hanya diperlukan sedikit sentuhan agar warga Kota Bandung bergembira di ruang publik yang inklusif dan ramah anak. Wahana baru di daerah aliran sungai Citarum ini sudah ramai dipenuhi pengunjung. Momen-momen menarik di beberapa sudut Teras Cikapundung pun kami abadikan bersama dengan gembira. Akhirnya kami beranjak pergi meninggalkan Allisa, putriku yang tak kunjung tiba bersama sepupu-sepupunya.

Sopir Spesial

Iringan kendaraan sudah memadati jalan Dago. Kunjungan ke Lawang Wangi dan makan siang di Kantin Salse pun batal melihat kemacetan di Dago Giri. Ama memacu mobil menuju Galeri Sunaryo dituntun Inong. “Sebentar lagi masuk ke belokan tajam dan menanjak, Ma, “kata Inong. Sopir spesial kami ini tumbuh di Kota Kembang juga tapi sudah lama tinggal di luar kota.

“Lho WatuBatunya tutup. Galeri Sunaryanya juga. Kita terus ke atas aja. Ada rumah saudara Inong di sana, “ujar Inong. Terlihat beberapa cafe dan resto melengkapi bangunan megah di kanan kiri jalan. “Masih banyak juga yang membangun disini ya, Nong, “kataku melihat beberapa bangunan baru yang sedang dibangun di kiri jalan. “Iya, padahal sudah sulit mendapatkan ijinnya, “jawab Inong. Kawasan Bandung Utara sumber mata air kehidupan warga Kota Bandung sudah lama menjadi kawasan elit dengan jalan beraspal dan bangunan megah di berbagai resort barunya.

Nyanyian Ama mengikuti irama lagu Yovie, Kahitna, KLA, dan lagu-lagu favorit yang dinyalakannya mengiringi perjalanan kami menuju Taman Hutan Raya. Inong menuntun Ama yang setia menjadi sopir spesial kami. Aku sibuk mengunggah beberapa foto cantik di Teras Cikapundung ke grup keluarga, instagram, dan facebook. Banyak yang suka lho!

Puncak Bintang Penuh Kenangan

Aku mengajak Ama dan Inong mampir di Kanayakan. Waktu sudah masuk shalat Ashar saat kami turun dari Ranca Kendal. Perutku sudah penuh dengan Yamin manis dan jeruk nipis panas dari Warung Lela. Sayang sekali Icha belum pulang ke rumah. Fitry dan bapaknya juga masih enggan beranjak ke luar rumah. Aku pun kembali pamit pergi menikmati liburan bertiga saja di rumah Inong.

Huda belum terlihat saat mobil yang disopiri Ama lewat di depan rumahnya. “Berapa kilo sampai ke Puncak Bintang?”tanya Ama. “Sekitar 4 kilo-an, “jawab Inong. Jalan menanjak menuju Caringin Tilu cukup sempit. Mobil sempat berdecit kencang saat berpapasan dengan iringan kendaraan yang turun dari Puncak Bintang. Sore itu cuaca masih cerah. Huda jadi navigator. Terlihat bintang besar di belakang tulisan Perhutani saat kami bertanya kepada anak-anak di pinggir jalan.

Jarak tempuh dari Saung Angklung Udjo lebih dari 10 km. Ama memarkirkan mobilnya di deretan kanan bawah. Kami jalan kaki ke Puncak Bintang. Sesekali sejenak selfie mengabadikan keindahan alam yang terhampar di atas Kota Bandung.

 

Oh ya semuanya bisa gratis lho! kalau kamu mau jalan kaki dan bekal makanan dari rumah terus ngga masuk ke wahana berbayar di Puncak Bintang, mau?
Kirim email ke gembirabersamakerlip@gmail.com ya.

GeMBIRA bersama KerLiP

Senang sekali melihat Syahna antusias menyambut rencana perluasan dampak beberapa kegiatan yang dilaksanakan KerLiP bersama Fokab dan FAD Jabar. 
image

Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak (GeMBIRA) tercetus ketika bu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PHPA TKA KPPPA) memasukkan KerLiP sebagai salah satu anggota panitia peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2013. Kegiatan Sehari GeMBIRA Bersama Presiden menjadi salah satu kegiatan terpenting yang disiapkan bu Ninin untuk menggairahkan pemenuhan hak dan perlindungan anak di sekolah. Ternyata Syahna sangat beruntung terpilih sebagai perwakilan dari Forum Anak Daerah Jawa Barat mengikuti kwgiatan Sehari Bersama Presiden SBY

Beningnya Suara Anak

Kemitraan KerLiP dengan anak dan sobat muda sudah berjalan sejak Lobby Akbar Anak bersama walikota Bandung dan berlanjut dengan para calon Presiden RI pada tahun 2004. Temuan Hafiyan murid SD Hikmah Teladan Cimahi dalam kegiatan children missing out mapping memikat hati audiens. Hafiyyan menyampaikan bahwa di keluarganya alokasi untuk pendidikan disediakan dalam 1 amplop. Ayah bunda Hafiyyan membagi rata penerimaan bulanan mereka dalam 5 amplop terpisah. Kami pun diundang ke rumah ketua MPR bersama alumni Gamais ITB yang memfasilitasi Lobby Akbar Anak dengan capres di Hotel Panghegar. Tidak lama setelah pertemuan tersebut kami mendengar amandemen keempat UUD 1945 menetapkan alokasi anggaran sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk membiayai pendidikan. Sejak saat itu dalam setiap kesempatan kampanye dan advokasi Education for All yang dilaksanakan KerLiP selalu memperdengarkan beningnya suara anak.

Pada tahun 2010 sahabat-sahabat KerLiP menggelar GERASHIAGA menjadikan anak dan kawula muda mitra dalam penerapan sekolah aman, sehat, hijau, inklusi, ramah anak dengan dukungan keluarga. Gerakan ini diperkuat dengan pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Mewujudkan Sekolah Aman (MSA) yang merupakan praktik baik GERASHIAGA di SMPN 11 Bandung. Para pembaharu muda seperti Arlian Puri, Ria Putri Primadanti dalam dampingan ibu Nia Kurniati dan Amilia Agustin menjadi sumber inspirasi tiada henti dalam GERASHIAGA. Berbagai seminar, pelatihan, FGD di tingkat sekolah, komunitas, kota/kabupaten, provinsi, nasional, Asia Pasifik sampai tingkat dunia tak pernah absen memperdengarkan suara anak. Anak sebagai agent of change dalam mewujudkan dunia yang lebih layak anak. Kami mendapat kehormatan mengirimkan Nabila Ishma dari SMPN 7 dan Allisa Putri Maryam untuk mengikuti World Conference of Disaster Risk Reduction dalam dampingan Nurul Fitry Azizah alumni UI Direktur Green SMile Inc pada bulan Maret 2015 lalu dengan dukungan penuh Direktorat PSMP Ditjen Dikdas Kemdikbud RI dan keluarga sahabat Zamzam Muzaki yang tinggal di Sendai serta Prof Ishami.

image

Cafe Ilmu GeMBIRA

Kami sangat beruntung mendapat kesempatan mendampingi SMANSA Dago dalam menerapkan pengurangan risiko bencana di sekolah. Saat itu Siti Azizah Namirah mahasiswi Kesos UI magang di KerLiP dan bersedia menjadi pendamping pelembagaan GSB MSA di SMANSA dan MAN 1 Kota Bandung difasilitasi Iwang Supartika dan Aldissain Jurizat mahasiswa berprestasi dari UPI Bandung.

Posisi strategis SMANSA di Dago CFD dan dukungan Pak Cucu Saputra sebagai Kepala Sekolah mendorong sahabat KerLiP untuk membuka Cafe Ilmu bersama anak-anak yang aktif di Forum Anak Kota Bandung (Fokab) dan Forum Anak Jawa Barat (FAD Jabar). Teh Iwang memindahkan stand GERASHIAGA di halaman Bank Muamalat dengan dukungan bu Nia dan GSB MSA SMPN 11 dan relawan dari STKS. Dukungan Bapusipda Kota Bandung dengan mobil perpustakaan keliling dan kreativitas 3R dari Bu Nia, GSSI, sobat sains dan pencak silat dari YKPA kabupaten Bandung turut memeriahkan Cafe Ilmu GeMBIRA. Harapan kami anak-anak dan keluarga mampir membaca buku dan menikmati sajian dari anak dan kawula muda yang menggiatkan #AbadikanIlmudenganBerbagi praktik baik.

Safari GeMBIRA

Komitmen KerLiP untuk mengawal kampanye sejuta sekolah dan rumah sakit aman sejalan prakarsa UNISDR melalui aksi-aksi #MeSRA mewujudkan Sekolah Ramah Anak terus kami laksanakan. Safari GeMBIRA adalah reinkarnasi dari roadshow GERASHIAGA yang diperkenalkan Nirwan ketua OSIS SMAN 19 Bandung yang bergabung menjadi Agen MeSRA pada tahun 2013. Nirwan memulai Safari GeMBIRA ke SDN Kordon di Kabupaten Bandung Barat bersama Bilqis, Naretta, Sendra dan Faridz. Nirwan pula yang mendukung Bilqis untuk meluncurkan #SPeAKnACTBdg pada tanggal 20 Mei 2014 di Cafe Ilmu GeMBIRA bersama Kadisdik Bandung dan Ibu Atalia Ridwan Kamil sertavKrpala BP3AKB Jabar.

Kegiatan Safari GeMBIRA mengemas kampanye Youth Evacuation Simulation for Safer School # YES4SS transisi kampanye sekolah aman bencana ke MeSRA, sosialisasi hak-hak anak, konselor sebaya melalui Pojok Sahabat Anak, Sajam Ameng diluar Kelas, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan pojok GeMBIRA.

Saat ini kami bekerjasama dengan Fokab dan FADJabar yang diketuai Syahna menggiatkan #GeMBIRAbersamaKerLiP melalui Safari GeMBIRA dan SPeAKnACT di Cafe Ilmu GeMBIRA. Besar harapan setidaknya 5 sekolah menengah penerima bansos SRA dari BP3AKB Jabar menjadi mitra strategis FADJabar dan Forum Anak di Kabupaten/Kota setempat.

Aksi MeSRA di SMAN 15 Bandung

Kedatangan Bu Enis dan Pak Bahar dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur bertepatan dengan kunjungan lapangan Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak (PHPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) ke SMAN 15 Bandung. Pagi-pagi sekali saya menjemput keduanya di Hotel Majestik di samping Universitas Maranatha diantar kakak sepupu.

Sekolah Ramah Anak-Khazanah

Saya datang pertama kali ke SMAN 15 Bandung (SMANLibels) saat mendampingi BP3AKB Jabar dalam kegiatan monitoring bantuan sosial Sekolah Ramah Anak (SRA). Sekolah tersebut berada di perbatasan antara kota Bandung, kabupaten Bandung Barat dan kota Cimahi. Pak Toto kepala sekolah SMANLibels berkali-kali menegaskan bahwa ia berkomitmen penuh untuk meningkatkan sarana prasarana agar memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kemudahan termasuk kelayakan bagi penyandang difable sejak ditempatkan disana pada tahun 2013.

Sarana belajar diluar kelas yang nyaman dan asri, UKS yang bersih, lengkap dan sehat, display karya anak dan keramahan kepala sekolah, guru dan anak-anak SMANLibels memikat hati kami. Kunjungan perdana ini dilanjutkan dengan Safari GeMBIRA menghadirkan anak-anak hebat dari Forum Anak Kota Bandung dan Forum Anak Daerah Jawa Barat beberapa hari kemudian. Perwakilan anak sebanyak 10% dari berbagai ekstrakurikuler, kelas dan alumni hadir dalam Safari GeMBIRA yang difasilitasi ibu Sari dan teh Iwang dari KerLiP. Hadir bersama kami, Nabila Ishma (SMPN 7), Sylvia Regina Bilqis (SMPN 49) dan Allisa Putri Maryam (SMPN 35) anggota FOKAB dan Syahna Rahmah dari FAD Jabar dengan Zakky sebagai pengantar kami. Para tutor sebaya ini mengajak kandidat GSB MeSRA melakukan tepuk hak anak, lagu dan praktik #YES4SaferSchool, deteksi warna #MeSRA dan menyusun #visionboard Sekolah Idaman Anak Keluarga.

Sejak saat itu komunikasi dilakukan secara intensif untuk memastikan SMANLibels menjadi model pelembagaan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (GSB MeSRA). SMANLibels pun bergegas mendeklarasikan GSB MeSRA di Dago Car Free Day pada tanggal 29 Maret 2015 ditandai dengan pembacaan ikrar oleh anak mengadopsi ikrar #KomunitasRamahAnak yang disusun sebagai hasil aksi CDEF karya Nabila Ishma dan #Story7 dari SMPN 7 Bandung. Lalu diikuti dengan penandatanganan banner dukungan oleh Kepala Sekolah, Kepala BP3AKB Jabar, KerLiP dan GSB MeSRA. Selanjutnya kami mengiringi devile GSB MeSRA melakukan kampanye aksi-aksi #MeSRA di SMANLibels sepanjang Dago CFD. Sejak saat itu mereka resmi menggunakan nama SRA-Khazanah SMAN 15 Bandung.

image

Aksi-aksi #MeSRA SMANLibels dikukuhkan dalam rencana kegiatan Pokja SRA yang dipimpin Pak Robi dari Komite Sekolah beranggotakan PKS Kesiswaan, kurikulum, humas, sarana prasarana, guru, alumni, dan duta anak. Sk Pokja SRA ditandatangani langsung oleh Kepaka Sekolah dan digerakkan oleh Pak Iryansyah dan duta SRA dalam dampingan KerLiP. Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan antara lain: Bakti Lingkungan, Simulasi evakuasi kebakaran, deteksi warna MeSRA, kampanye anti bullying dalam pelajaran PKn, mengaktifkan ruang konseling sahabat anak di ruang Bimbingan Konseling, peduli pendidikan di 10 sekolah imbas adiwiyata, foto essay, narasi pembelajaran, konselor sebaya dst.

Duta SRA-Khazanah

Pendekatan multikultur dalam kampanye dan advokasi pemenuhan hak pendidikan anak sudah lama saya kembangkan bersama sahabat-sahabat KerLiP. Istilah GSB MeSRA sebenarnya muncul dalam kaderisasi GSB Mewujudkan Sekolah Aman di SMPN 11 Bandung. Beberapa kegiatan terkait GSB MeSRA pun terus kami lakukan. Hasil roadshow gerashiaga di Man 1 kota Bandung melahirkan GSB Mansaba dengan kegiatan rutin simulasi evakuasi gempa dan kebakaran. Pelembagaan GSB MeSRA mendapat sambutan hangat dan dikukuhkan menjadi pendamping bansos SRA dari BP3AKB Jabar.

image

Duta SRA-Khazanah SMANLibels mendapatkan kesempatan untuk.mempresentasikan praktik-praktik baik aksi-aksi #MeSRA dalam FGD penyusunan juknis penerapan SRA yang diselenggarakan KPPPA menghadirkan perwakilan dari 15 K/L terkait dan KerLiP. Kepiawaian Diva dkk dalam dampingan Pak Iryansyah PKS Kesiswaan ketika mempresentasikan aksi-aksi #MeSRA tersebut mendorong Asdep PHPA KPPPA untuk melakukan kunjungan lapangan pada 30 April 2015.

image

Dalam kunjungan lapangan tersebut, duta SRA-Khazanah mendampingi kami berkeliling melihat penanda-penanda baru mulai dari hasil kemitraan dengan BJB dalam bentuk biodigestator, kantin yang memiliki alat pemadam kebakaran dan tempat cuci tangan pakai sabun lengkap dengan bangku merah beratapkan tanaman merambat dan saung bambu yang sejuk dan nyaman. Kelas yang dihiasi karya-karya anak. Bangku kuning di dekat komposter dan tempat pembibitan yang terpelihara. Toilet terpisah yang bersih dan nyaman. Laboratorium dan kebun TOGA. UKS, lapangan basket, aula, masjid yang sedang dibangun, display karya anak di berbagai sudut, fasilitas air siap minum, dst. Mereka juga mempresentasikan aksi-aksi #MeSRA serta pelembagaan pokja SRA yang terus konsisten menjalankan kegiatan pemenuhan hak dan perlindungan anak.

image

Guru-guru SMANLibels yang ramah dan penuh semangat ternyata juga sangat peduli pendidikan. Bu Rosyani, guru Bahasa Indonesia salah satu diantaranya bahkan mengundang kami untuk sosialisasi SRA di Rumah Belajar yang didirikannya 2012 lalu di daerah Cisarua Lembang. Ia telah mendidik puluhan anak putus sekolah disana.

image

Mobilisasi Sumber Daya

Bu Dewi dari Asdep PHPA KPPPA menyampaikan pentingnya pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA) bagi guru dalam sambutannya setelah menyimak paparan Duta SRA-Khazanah dan Kepala Sekolah. Pak Iryansyah menyambut antusias rencana tindak lanjut dalam bentuk pelatihan KHA bagi guru ini. Aksi-aksi #MeSRA di SMANLibels menambah keyakinan kami bahwa penerapan SRA melalui penguatan prinsip-prinsip hak anak dan tata kelola yang baik memperkuat inisiatif yang sudah berjalan di sekolah sehat, peduli lingkungan, anti narkoba, adiwiyata dll.

image

Kami mendapat kehormatan ketika Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Dr. Elih Sudiapermana berkenan menerima kami di kantor beliau sebelum memimpin rapat pukul 13.00 wib. Kesempatan emas ini kami manfaatkan untuk menggalang dukungan Dinas Pendidikan Kota Bandung agar model SRA di SMANLibels dapat disebarluaskan di kota Bandung. Pak Elih menyambut baik gagasan tersebut dengan harapan upaya MeSRA bersenyawa dengan peningkatan mutu layanan pendidikan di kota Bandung. Koordinasi multipihak sangat diperlukan agar inisiatif tersebut dirasakan manfaatnya demi kepentingan terbaik anak.

image

Insya Allah

Bulan Aksi MeSRA

Agen-agen Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (MeSRA) yang terdiri dari anak-anak.serta kawula muda di Bandung dan Tanah Karo memulai Bulan Aksi MeSRA pada tahun 2013. Berbagai kegiatan yang dikemas dalam GeMBIRA Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak direncanakan, dilaksanakan dan dilaporkan bersama KerLiP. Mulai dari Safari GeMBIRA ke SDN Kordon di Kabupaten Bandung Barat, SMPN 49 Bandung, SDS Al Amin Bandung lalu #SajamAmengdiTamanKota bersama 50 mahasiswa magang dari UNISBA dan SMAN 20 Bandung dan #AbadikanIlmudenganBerbagi praktik-praktik baik di Cafe Ilmu GeMBIRA di Dago Car Free Day.

Safari GeMBIRA dikemas Nirwan ketua OSIS SMAN 19 aktivis forum anak kota Bandung dan Jawa Barat bersama teman sekolahnya Faridz dan Sendra lalu Bilqis  ketua OSIS SMPN 49 dan Naretta.

Cafe Ilmu GeMBIRA dibuka oleh Yenny, relawan dari UIN Sunan Gunung Jati Bandung dan dibantu serta dilanjutka  sampai sekarang oleh Iwang. Iwang juga mendirikan SekolahKecilQBKBKerLiP untuk keluarga yang memiliki balita dan tinggal di sekitar Kanayakan dan Dago Barat Bandung.

Naretta dari SMAN 1 kota Bandung yang aktif di Forum Komunikasi Anak Kota Bandung (Fokab) didampingi Ksatria dari BEM STKS membuka Posko Sahabat Anak di Cafe Ilmu GeMBIRA saat #SPeAKnACTBdg diluncurkan 20 Mei 2013.  Formulir pengaduan anak yang disusun Ksatria membantu keluarga-keluarga Bandung saat melaporkan dugaan kekeliruan kunci jawaban Ujian Nasional 2013-2014 yang mengakibatkan terganggunya hak anak untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang diminati.

Pendampingan oleh Ksatria terhadap keluarga pelapor dugaan menghadirkan Syahna kini peserta didik SMAN 1 kota Bandung dan bari terpilih menjadi ketua Forum Anak Daerah Jawa Barat. Syahna beruntung karena mendapatkan dukungan penuh dari ayah bunda dan adinda tercinta, Nabila.

Saat ini pak Gunandar, ayahanda Syahna dan Nabila menjadi direktur Perkumpulan KerLiP. Ibu Ekasari ibunda Syahna lebih dulu menjadi ketua DPC KerLiP kota Bandung dan aktif mendampingi Nabila, Syahna, Allisa dan Bilqis melakukan Safari GeMBIRA ke SMAN 15 kota Bandung,  SD Plus Marhas dan TK Binekas.
Praktik-praktik baik SMAN 15 penerima stimulan dalam bentuk bansos Sekolah Ramah Anak dari BP3AKB Jabar menjadi model dalam penyusunan modul ToT Sekolah Ramah Anak di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Saat ini SMAN 15 juga sudah melaksanakan sosialisasi SRA kepada guru-guru dan membentuk pokja MeSRA serta mendeklarasikan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak GSB MeSRA di Dago CFD.
Rencana tindak lanjut GSB MeSRA SMAN 15 mendapatkan dukungan penuh dari kepala sekolah, guru-guru, komite sekolah dan seluruh peserta didik. Komunitas ramah anak  di DMAN 15 dalam dampingan Pak Iryansyah, PKS Kesiswaan menandai rencana aktivasi Bulan Aksi MeSRA 2015 dengan kampanye Ujian Nasional Jujur di Dago CFD tanggal 12 April 2015.

OPERA obrolan pendidikan ramah anak

Undangan terbuka OPERA kamisan untuk anak-anak yang berminat berpartisipasi di Bulan Aksi MeSRA sudah disampaikan melalui facebook diharapkan dapat menjangkau lebih banyak anak dan keluarga peduli pendidikan untuk membangun kebiasaan mendengar, menyimak dan menanggapi gagasan/harapan/ide perubahan sosial yang disampaikan anak-anak.

Pelatihan OPERA akan dilaksanakan setiap Kamis di Kanayakan A19 jam 16.00-17.30 wib mulai 16 April.2015. Penggalangan dukungan untuk setiap rencana aksi MeSRA yang disusun sebagai hasil OPERA kamisan akan memeriahkan Cafe Ilmu GeMBIRA di Dago CFD. Setiap anak dan keluarga diharapkan dapat menggalang dukungan untuk mengaktifkan Pojok Sahabat Anak sebagai wahana bagi para konselor sebaya untuk melakukan aksi CDEF yang digagas Nabila.

Mari GeMBIRA bersama KerLiP