Dr. Sowiyah: Tak Ada Liburnya Tingkatkan Mutu Sekolah di kota Metro dengan SRA

“Betul, Bu. SD ini saya buat unggul. Semula tidak dilirik masyarakat. Alhamdulillah akan saya jadikan SRA. Mohon do’anya ya bu. Hari Minggu pun kami ke sekolah. Cek tukang yang membangun kantin ramah anak dan sarana lainnya, “kata Dr. Sowiyah dalam penjelasan tertulisnya di wag Fasilitator SRA.

Menurut YantiKerLiP, mereka bertemu dalam kegiatan yang diselenggarakan di Surakarta oleh Direktorat Pembinaan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kemdikbud. Direktur PKLK Dikdasmen saat itu, Sri Renani, menindaklanjuti rekomendasi peserta rapat koordinasi di Bekasi menghubungkan Sekolah Ramah Anak, Pendidikan Inklusi, dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SeRAI). Ia mengundang para srikandi pegiat SPAB, SRA, dan Inklusi, yakni Elvi Hendrani Kempppa, Yossi Bappenas, YantiKerLiP, Dr. Sowiyah, dan TetyFGII untuk menyampaikan informasi mengenai perkembanbangan gerakan masing-masing dan berkoordinasi menyiapkan Sekretariat Bersama (Sekber) SeRAI.

Pelatihan Fasilitator SRA yang diselenggarakan Kempppa mempertemukan para pegiat tersebut dalam gerakan Sekolah Ramah Anak . Pendekatan khas Elvi Hendrani mendorong para fasilitator SRA terlatih ini melakukan giat MeSRA untuk mendukung percepatan gerakan SRA di daerah jangkauan masing-masing. Dr. Sowiyah berhasil menjangkau multipihak dalam upaya Penguatan Pendidikan Karakter melalui gerakan SRA di kota Metro, Bandar Lampung,  Waykanan dan provinsi Lampung.

 

 

Advertisements

Penguatan Pendidikan Karakter di Komite Sekolah Mulai dengan Belajar Di Luar Kelas

“Saya merasa panik melihat Bapak dan Ibu sudah antri memasuki ruangan saat kami menuju tempat sarapan,”ujar Ekasari pada awal presentasinya. Film  Semai2045   selalu menggugah semangat perubahan dengan sajian data dan fakta yang menarik serta konsep Pola Asuh yang baik untuk menghilangkan  BLAST menjadi BEST. Begitu juga saat Ekasari menyajikannya pada sesi kedua Diseminasi dan pelatihan Sekolah Ramah Anak di Iscalton Cicurug Sukabumi, 2-3 November 2017. Ice Breaking dengan Baby Shark yang sedang nge-hit membuat peserta dan panitia kembali fresh.

20171103_102206_1509762026687

Biodata yang lengkap dengan paparan yang menarik tentang praktik-praktik baik pengasuhan positif yang melahirkan dua anak perempuan pegiat hak anak menjadi daya tarik tersendiri. Syahna, putri sulungnya, masih tercatat sebagai ketua Forum Anak Daerah Jawa Barat, baru pulang dari kegiatan pertukaran pelajar di Hungaria. Adiknya, Nabila yang terpilih menjadi Wakil Ketua Forum Anak Nasional dari Jawa_Bali-NTB dan penerima anugerah TMPI, Tunas Muda Pemimpin Indonesia dengan aksi CDEF nya relevan dengan materi Penguatan Pendidikan Karakter di keluarga yang disajikan Ekasari.

 

Memulai PPK dengan Belajar Di Luar Kelas

IMG-20170827-WA0036

Kampanye Belajar di Luar Kelas yang diinisiasi oleh Project Dirt dan dibawa Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa ke Indonesia disebarluaskan sahabat-sahabat Keluarga Peduli Pendidikan melalui berbagai media sosial. lebih dari 1.600 satuan pendidikan di Indonesia melakukan kegiatan sederhana untuk penguatan pendidikan karakter dengan cara yang menyenangkan melalui belajar di luar kelas. sebagian besar di antaranya menjadikan kampanye tersebut momentum yang tepat untuk mendeklarasikan SRA. Sebanyak 450 satuan pendidikan di Deli Serdang mendapatkan SK SRA dari Kepala Dinas Pendidikannya dan sertifikat T3MU MeSRA dari Kempppa pasca kampanye.

Kehadiran Tim fasilitator MRA dalam Diseminasi dan Pelatihan SRA membuka kesempatan untuk menampilkan praktik baik Outdoor Classroom Day di MAN 1 Kabupaten Sukabumi  langsung oleh pemrakarsanya, Andriyani, Wakamad Kurikulum. “Lima nilai utama dalam penguatan pendidikan karakter yang diatur dalam Perpres No.87 tahun 2017, yakni relijius, nasionalisme, mandiri, integritas, dan gotong royong, dipelajari anak dengan pembelajaran yang menyenangkan. bahkan bukan hanya anak yang gembira di sekolah/madrasah, orang tua dan guru pun bernostalgia dengan permainan tradisional di masa kecil, “ujar YantiKerLiP dalam penutupan sesi kedua.

20171102_134620_1509762087972 (1).jpg

 

79 SD/MI/TK/RA Cicurug Bergembira dengan MeSRA Bertuah

“Bagasi citicar sudah penuh oleh tiga dus berisi majalah, tabloid, dan koran bekas berkualitas pemberian Inong, sahabat sejati di SMA sejak 32 tahun yang lalu. Masih ada puluhan majalah dari rumah orang tua Bu Sari. Alhamdulillah, saatnya berangkat memenuhi undangan GNI di Cicurug Sukabumi,”kata YantiKerLiP dalam perjalanan ke Sukabumi. Mobil kecil yang ditumpanginya berjalan merayap pada kecepatan di bawah 40 Km/jam. OPeRA on Citicar kali ini tentang anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus yang sedang ditangani Ekasari, Ketua DPD KerLiP Jabar. Seru dan Asyik menemani sopir di sepanjang perjalanan. Estimasi 3,5 jam ternyata keliru. Mereka berangkat pukul 15.30 dari Bandung dan tiba di Iscalton Cicurug pukul 21.30 WIB. Bandung-Cicurug padat merayap.

MeSRA Bertuah Memperkuat KLA di Cicurug

20171103_165246

Aning, DP3A Kabupaten Sukabumi menyerahkan prasasti deklarasi KLA di Cicurug kepada Sekretaris Camat setelah memaparkan komitmen pemkab Sukabumi dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Ia hadir bersama UPTD, Penilik PAUDikmas, dan 150 an kepala sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah, dan guru atas undangan Yayasan GNI. Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) didirikan pada 1991 di Korea Selatan dan bekerja membantu warga Sukabumi di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi sejak 7 tahun yang lalu. GNI mengundang YantiKerLiP dan Ekasari  sebagai fasilitator diseminasi dan pelatihan MeSRA Bertuah bagi satuan pendidikan di daerah binaan.

Bapak/Ibu guru  mengikuti setiap sesi  dengan gembira. Cara  Asyik Cari Tahu YantiKerLiP untuk persepsi mereka tentang anak diiringi dengan tepuk hak anak membuat kegiatan diseminasi dan pelatihan singkat ini terlihat berbeda. Apalagi ketika masuk pada materi kebijakan Sekolah Ramah Anak dari Kementerian PPPA. “Tenang saja Bapak, Ibu. Hampir semua pendidik yang mengikuti pelatihan SRA belum menjadikan peraturan perundang-undangan sebagai sumber belajar. Kita hanya perlu membiasakannya ya, “kata YantiKerLiP saat mendengar jawaban beragam mengenai pengertian anak dan pendidikan serta tak ada seorang pun yang mengetahui pengertian dai UUPerlindungan Anak dan UU Sistem Pendidikan Nasional. Waktu dua jam terasa sangat singkat dengan metode pembelajaran yang partisipatif. Peserta diseminasi hanya bisa menyajikan 1-2 contoh praktis terkait 4 prinsip hak anak, 5 kluster hak anak dalam Konvensi Hak Anak dan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak, 5 prinsip SRA serta 6 komponen utamanya. Penekanan pada perubahan pradigma orang dewasa tentang anak dan harapan gerakan SRA untuk menumbuhkembangkan kepekaan serta sikap tanggap terhadap perubahan kebutuhan anak dalam belajar disambut dengan pertanyaan klasik: mengedepankan hak nanti melupakan kewajiban dan ramah anak tidak memberikan efek jera. Kedua pertanyaan klasik ini menjadi pintu masuk bagi YantiKerLiP untuk menunjukkan pentingnya keteladanan sehingga kemitraan antara sekolah dan rumah tempat tinggal anak perlu diperkuat berdasarkan prinsip kepentingan terbaik anak.

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Bersama Masyarakat, Orang tua dan Sekolah/Madrasah atau MeSRA Bertuah adalah gerakan yang dinisiasi ketua pokja pendidikan keluarga, Miska di Deli Serdang bersama para pegiat hak anak dan keluarga peduli pendidikan di Sumatera Utara. Lebih dari 500 satuan pendidikan di Deli Serdang sudah mendeklarasikan SRA, memiliki tim pelaksana SRA, dan mendapatkan SK penetapan SRA dari Kadisdik Kab Deli Serdang setelah mengikuti kampanye belajar di luar kelas pada 7 September 2017 serentak di Asia Pasifik. Keberhasilan Deli Serdang dengan MeSRA Bertuahnya mendorong para kepala sekolah Mau menerapkan SRA mendorong YantiKerLiP untuk menyebarluaskan gerakan tersebut ke seluruh pelosok Indonesia. Kekhasan MeSRA Bertuah yang mendorong Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah/madrasah, keluarga, dan masyarakat menjadi pertimbangan utama YantiKerLiP meminta Desy dari GNI agar menghadirkan fasilitator SRA sekaligus fasilitator pendidikan keluarga dan PPK di komite sekolah/keluarga, Ekasari Widyati, dalam kegiatan yang dilaksanakan pada 2-3 November 2017.

Partisipasi orang tua/wali adalah komponen utama keenam yang mendapatkan perhatian khusus pada pemerintahan Pak Jokowi-JK. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kemdikbud pun berdiri dan menghimpun serta melatih para fasilitator yang handal termasuk dari KerLiP. Tidaklah mengherankan jika diseminasi dan pelatihan SRA yang difasilitasi duo srikandi KerLiP ini mendorong penguatan pendidikan karakter di keluarga dan sekolah/madsrasah.