Wali Kelas Digital 9-10 SMPN 11 Bandung Pelopor Kelas Ramah Anak

Kabar gembira dari Bu Nia Kurniati, wali kelas digital 9-10 SMPN 11 Bandung. Enam peserta didik terbaik di sekolah tersebut diraih oleh para perintis GSB Bersinar. IMG-20180530-WA0010

Advertisements

Mengajarkan Adab di Masjid

#ParentingEdisiRamadhan

Ayah bunda.
Bulan Ramadhan adalah waktu yg tepat untuk mengajarkan anak adab berada di mesjid.

Ada hal yg menggelitik hatik…melihat tingkah laku anak2 yg usianya masih 3-5thn saat sholat taraweh…
bercanda
berlari
bertengkar dg tmn kecil yg lain
naik kepunggung ibunya
main game sambil menjerit
Ayah Bunda
mereka begitu polos dan tak merasa bersalah krn tdk mengerti bahwa itu mengganggu yg lg sholat dan tidak pantas dilakukan di dalam mesjid.
Tapi itulah anak anak.
Kitalah sebagai orang tua yang harus memberitahu anak anak.

Beritahu si kecil agar tidak berisik saat di masjid…jgn bosan mengingatkan namun janganlah dimarahi
Lakukan dengan sabar agar tidak membuat anak “kapok” ke mesjid
Ayo…peluk, bisikan dan belai sambil diajak utk sholat..Kalaupun anak belum mau sholat mintalah untuk duduk dan tidak berlari-lari.

Hal yg lucu lainnya saat anak kecil di samping saya …tiba- tiba mengeluarkan suara “duuuuut”. Saat itu saya berusaha sekuat tenaga menahan tawa..dan tidak menutup hidung walau aromanya cukup menusuk. Saya berusaha membuat anak ini tidak takut dan malu. Saya elus kepalanya… terlihat awalnya ia ketakutan…tp dgn kasih sayang anak tersebut jadi tidak takut. Ia pun tersenyum dan menjawab dengan hangat. Alhamdullilah si kecil mau diajak wudhlu dan kembali sholat. Namun tak lama berselang terdengar bunyi duuut..
beruntun. Sepertinya ia masuk angin. Rupanya kali ini ia tidak takut lagi dan berani meminta maaf.
Masha Allah
Di mana ibumu nak…

Betapa bahagia dikelilingi anak2 kecil Mengingatkanku..pada anak-anak saat masih kecil…lucu,manis,polos dan menggemaskan

Ayah bunda ciptakan kenangan yang membuat mereka merindukan masa kecilnya.
Janganlah membuat mereka ketakutan dan trauma.
Berikan mereka ke nyamanan Kenangan…kenakalan akan menjadi lembaran yang indah saat mereka dewasa nanti.
Dampingi buah hati kita sehingga paham betul apa yg boleh dan tidak boleh dilakukan
Waktu begitu cepat, anak kita akan tumbuh semakin dewasa dan kerinduan itu akan terasa di saat kita tidak lagi bisa mendampingi mereka

Wachju Astuti

#iKerLiPParenting

Mendiskusikan Pedoman Aksi Guru dalam Mewujudkan Penguatan Pendidikan Karakter dalam Kerangka Gerakan SRA

Inspirasi menetes dari atas (Anies Baswedan, 2015)

 

IMG-20180307-WA0001

Guru sangat menentukan keberhasilan dan keberlangsungan pemenuhan hak pendidikan anak. Ia menjadi sumber inspirasi tiada henti bagi para peserta didik ketika mendidik menjadi panggilan jiwa. Guru yang mendidik sepenuh hati dengan memegang teguh prinsip kepentingan terbaik anak memerlukan kondisi kerja yang baik dan terlindungi. Perlindungan guru tanpa mengorbankan perlindungan anak menjadi tantangan besar dalam Penguatan Pendidikan Karakter dengan gerakan Sekolah Ramah Anak. Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah bergegas menjawab tantangan ini dengan menggelar Diskusi Terpumpun “Menyusun Pedoman Aksi Guru dalan Mewujudkan Penguatan Pendidikan Karakter pada 5-7 Maret 2018 di Jakarta.

 

Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) mendapat kehormatan untuk duduk bersama Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Asdep Perlindungan Anak atas Kekerasan dan Eksploitasi dan Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya KPPPA serta perwakilan dari Direktorat Pembinaan SMA,  SMK,  guru SMKN 13 Bandung, SLBN A Pajajaran, SMKN 7 Jakarta, SMK Widya Nusantara Maros. “Kami menyiapkan outline ini merujuk pada kebijakan dan pedoman yang sudah disusun oleh KPPPA  berdasarkan praktik-praktik baik pemenuhan hak pendidikan anak. Pada diskusi terpumpun ini, Bapak/Ibu akan merumuskan aksi guru dalam mewujudkan PPK dengan gerakan SRA di intra dan ko-kurikuler, ekstrakurikuler, dan keberlangsungan gerakan di dalam proses pembelajaran, “kata Jamjam Muzaki dari KerLiP  setelah Sri Renani, Direktur Guru Dikmen memberikan arahan dan meminta peserta diskusi memperkenalkan diri.

 

Yanti Sriyulianti, Ketua Umum KerLiP yang mengawal gerakan SRA sejak 2010 mulai dengan Sekolah/Madrasah Aman Bencana menyampaikan rasa syukurnya, “Bagi saya pertemuan ini menandai advokasi puncak sahabat-sahabat KerLiP. Kami mendedikasikan diri untuk menyerahkan seluruh praktik baik dalam pemenuhan hak pendidikan anak untuk memastikan  tersedianya pedoman yang renyah dan mudah dicerna guru di seluruh nusantara, “ujar Yanti. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang terjalin dengan Sri Renani sejak kampanye dan implementasi SMAB 2011 sampai pembentukan Seknas SPAB melanjutkan Seknas Sekolah Aman yang dipimpinnya bersama Jamjam pada 2011-2013.

 

Merumuskan Rencana Aksi Menyiapkan  Gerakan

 

Amanat Sri Renani untuk menyepakati Rencana Aksi menjadi agenda pertama. Asep dari Direktorat PSMA menyampaikan praktik baik bersama Jamjam dan tekad kuat PSMA untuk mewujudkan PPK dalam ekstrakurikuler. Rencana aksi-1

mewujudkan PPK dengan gerakan SRA mengintegrasikan percepatan SRA yang disiapkan Sekber SRA berdasarkan hasil pertemuan koordinasi di Bandung bersama Kemdikbud,  Kemenag, dan Kemdagri pada 2017.  Seluruhnya dibawa Asep ke Bandung dalam penyusunan panduan pelaksanaan Kawah Kepemimpinan Pelajar SMA.

 

Guru Pun Gembira

 

Ungkapan kegembiraan dari Muftiah Yulismi, guru BK di SLBNA Pajajaran yang aktif sebagai psikolog KerLiP di Jawa Barat mendapat sambutan dari teman-teman facebooknya. Tety Sulastri guru SMAN 7 Jakarta menghidupkan dialog saling belajar selama diskusi berlangsung. Istilah pengalaman bernilai sebagai pengganti praktik baik disampaikan Endang dari Direktorat PSMK dalam paparan hasil diskusi di kelompok keberlangsungan gerakan. Tety dan Bagus dari SMK Widya Nusantara adalah fasilitator SRA nasional yang mengikuti pelatihan fasilitator yang dilaksanakan KPPPA di Bekasi.

 

Kehadiran Rini Handayani, Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi memberikan gambaran mengenai 6 Strategi Nasional untuk Penghapusan Kekerasan. Hal ini sejalan dengan Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan. Agus, Kasubdit Pemenuhan Hak Pendidikan Anak menyampaikan hasil kajian dampak penerapan SRA. Saat ini sebanyak 3.000 sekolah/madrasah sudah mendeklarasikan SRA. Deputi Tumbuh Kembang Anak berencana menyusunan N, S,P, K  pemenuhan hak pendidikan Anak. Agus juga menyampaikan kiprah tim fasilitator SRA Nasional. Rini dan Agus menyampaikan kesiapan untuk berkoordinasi dalam pelatihan fasilitator SRA dan disiplin positif yang akan dilaksanakan pada 15-19 Maret 2018.

 

Rohayati guru dan manajer SDM SMKN 13 memberikan gambaran lengkap tentang kekhasan SMK yang menyiapkan anak dengan pendidikan vokasi dan revitalisasinya pada pemerintahan sekarang. Tantangan terbesar dalam PPK dengan  gerakan SRA di SMK menjadi pembahasan yang menarik.

 

“Draft Pedoman  hasil diskusi terpumpun akan dijahit  Pak Jamjam dan Bu Yanti bersama kami sepulang bu Direktur dari Vietnam. Bapak/Ibu diminta untuk menyampaikan usulan resep, suplemen, kontrasepsi untuk melengkapi pedoman tersebut, “ujar Tina, Kasubdit Program dan Evaluasi sebelum menutup diskusi. Tina juga menyampaikan ucapan terima kasih bertemu dengan orang-orang yang tepat yang menunjukka  komitmen dan semangat kerjasama untuk menyediakan pedoman yang mudah diterapkan oleh guru di seluruh Indonesia.