Sekolah Ramah Anak Pasti Responsif Gender

Menjelajahi praktik-praktik baik  di sekolah/madrasah mengantarkan kita pada kearifan dalam bersikap. Beragam istilah yang ternyata saling beririsan dalam indikatornya membuat kita lebih menghargai ragam warna dan corak kebajikan. Pintu-pintu kebajikan ini sudah lama terbuka menunggu para pihak yang bersedia meluruhkan ego dan melebur dalam semesta.

Pada saat pedoman Sekolah Ramah Anak mulai disusun,  Dr. Yusuf, ahli Sekolah Responsif Gender mengawal agar dalam setiap komponen utamanya, SRA benar-benar responsif gender.  Istilah Responsif Gender sudah akrab dalam keseharian para pegiat dan pelayan publik di NKRI tercinta.

Bagaimana kita mendefinisikan Gerakan Sekolah Ramah Anak yang Responsif Gender?

Mari kita mulai dengan pengertian pendidikan responsif gender pendidikan yang memperhatikan perbedaan aspirasi, kebutuhan dan pengalaman perempuan dan laki-laki dalam mendapatkan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat pembangunan pendidikan secara adil dan setara.

Nah, sekarang kita melangkah ke pengertian sekolah responsif gender. Sekolah responsif gender adalah sekolah dimana aspek akademik, sosial, lingkungan fisik maupun lingkungan masyarakatnya memperhatikan secara seimbang kebutuhan spesifik anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada sekolah responsif gender, maka guru/pendidik, tenaga kependidikan, orangtua, tokoh dan anggota masyarakat disekitarnya, serta peserta didik laki-laki dan perempuan menyadari akan pentingnya keadilan dan kesetaraan gender dan oleh karena itu mempraktekkan tindakan-tindakan yang setara dan adil gender (Depdiknas, 2008: 5-6).

Kemudian kita jawab pertanyaan, apa sih tujuan pembentukan sekolah seperti ini? Ini jawabannya, tujuan yang pertama adalah untuk menciptakan iklim belajar yang adil, setara, aman dan nyaman bagi peserta didik, yang kedua: mendorong prestasi belajar secara optimal karena diperlakukan adil dan dihargai perbedaannya, yang ketiga: menjunjung tinggi harkat dan martabat para pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik secara kodrati dan sosial, dan yang terakhir adalah mengurangi risiko peserta didik terhadap ancaman pergaulan bebas, pelecahan seks, kejahatan seksual lainnya, kekerasan fisik dan psikis, bullying dan perlakuan salah lainnya.

Selanjut kita lanjutkan mengenai komponennya, apa saja sih yang harus dimiliki oleh Sekolah ya Resfonsif Gender? Berikut jawabannya.

  1. Aspek Pembelajaran, mencakup: materi bahan ajar, proses belajar mengajar, interaksi guru/pendidik-peserta didik dan evaluasi pembelajaran memperhatikan secara seimbang kebutuhan spesifik anak laki-laki dan perempuan.
  2. Aspek Sosial, mencakup: interaksi antar peserta didik, interaksi antar guru/pendidik-orangtua dan kegiatan intra serta ekstra kurikuler memperhatikan secara seimbang kebutuhan spesifik anak laki-laki dan perempuan.
  3. Aspek lingkungan, mencakup: lingkungan sekolah, penyediaan fasilitas peserta didik-guru/pendidik, alat peraga dan media KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) memperhatikan secara seimbang kebutuhan spesifi k anak laki-laki dan perempuan.
  4. Aspek lingkungan masyarakat, mencakup: apakah masyarakat telah mendukung adanya integrasi keadilan dan kesetaraan gender di bidang pendidikan.

 

Tentunya pelaksanaan sekolah yang responsif gender ini harus memiliki persyaratan minimal berikut:

  1. Sekolah memiliki visi dan misi yang berperspektif gender.
  2. Kepala sekolah memiliki karakteristik yang profesional dan sensitif gender.
  3. Sekolah memiliki guru/pendidik yang profesional dan sensitif gender.
  4. Sekolah mengembangkan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang responsif gender.
  5. Sekolah memiliki lingkungan sekolah yang sensitif gender.
  6. Sekolah memberikan layanan pendidikan yang ramah terhadap perbedaan gender.
  7. Memiliki manajemen sekolah yang responsif gender;
  8. Memiliki Komite Sekolah responsif gender.

Yang terakhir mungkin ada pertanyaan “apakah sudah ada sekolah responsive gender di Indonesia?”

Menurut hasil penelusuran kami, Sekolah Responsif Gender sudah diterapkan di SDN Meger I di Kab Klaten, Jateng. Sekolah dasar ini melakukan hal-hal sebagai berikut:
1)Kepala sekolah mendekonstruksi kembali visi dan misi sekolah dengan mengintegrasikan nilai kesetaraan gender.
2)Sekolah membuat media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) berisi pesan-pesan kesetaraan gender pada tempat yang mudah dilihat.
3)Sekolah mensosialisasikan keadilan dan kesetaraan gender pada semua guru/pendidik, tenaga kependidikan dan orangtua peserta didik.
4)Sekolah mengintegrasikan nilai keadilan dan kesetaraan gender pada beberapa silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) pada beberapa mata pelajaraan seperti IPS, bahasa Indonesia, muatan lokal, dan lain-lain.
5)Sekolah memberi kesempatan sama kepada peserta didik laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan berbagai potensi akademik dan non akademik tanpa terkendala oleh jenis kelaminnya.
6)Sekolah memisahkan fasilitas kamar kecil peserta didik laki-laki dan perempuan

 

Advertisements

Pemanfaatan Media Sosial dalam Percepatan Gerakan SRA

Media sosial adalah sebuah media daring yang memudahkan para penggunanya berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”

Sosial media dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian besar yaitu :
1. Social Networks, media sosial untuk bersosialisasi dan berinteraksi (facebook, myspace, hi5, Linked in, beebo, dll)
2. Discuss, media sosial yang memfasilitasi sekelompok orang untuk melakukan obrolan dan diskusi (google talk, yahoo! M, skype, phorum, dll)
3. Share, media sosial yang memfasilitasi kita untuk saling berbagi file, video, music, dll (youtube, slideshare, feedback, flickr, crowdstorm, dll)
4. Publish (wordpredss, wikipedia, blog, wikia, digg, dll)
5. Social game, media sosial berupa game yang dapat dilakukan atau dimainkan bersama-sama (koongregate, doof, pogo, cafe.com, dll)
6. MMO (kartrider, warcraft, neopets, conan, dll)
7. Virtual worlds (habbo, imvu, starday, dll)
8. Livecast (y! Live, blog tv, justin tv, listream tv, livecastr, dll)
9. Livestream (socializr, froendsfreed, socialthings!, dll)
10. Micro blog (twitter, plurk, pownce, twirxr, plazes, tweetpeek, dll)

WA, BBM, Line, WeChat, yang berdiri sendiri merupakan media kirim pesan point to point dan digolongkan sebagai messanger. Akan tetapi jika sudah dalam bentuk group, meski grup terbatas, sudah termasuk media sosial (Kaplan, Andreas M.; Michael Haenlein (2010) “Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media”. Business Horizons 53(1): 59–68)

Percepatan Gerakan SRA 

Pendekatan apresiatif yang mengemuka dalam gerakan SRA bagai dua sisi mata uang. Beberapa pihak yang menjunjung tinggi kerangka kerja otentik dalam merumuskan konsep gerakan berpandangan bahwa kompilasi praktik baik yang diusung pegiat SRA kehilangan orisinalitas. Di sisi lain, aneka ragam inisiatif dalam pemenuhan hak dan perlindungan  anak di satuan pendidikan menimbulkan sikap apriori terutama di kalangan pendidik. Tidak sedikit yang menganggap inisiatif baik tersebut hanya sebatas proyek atau bahkan sekadar lomba sesaat. Hal ini terjadi pada berbagai inisiatif termasuk usaha kesehatan sekolah. “Inilah salah satu alasan mengapa kami bersikeras mengawal gerakan SRA “hanya” menghimpun praktik-praktik baik dalam 6 komponen SRA. Bahkan, Bu Elvi (asdep PHPA Kempppa red) menghindari poin-poin terkait sarana prasarana untuk memperkuat rencana pentahapan percepatan gerakan SRA yang dikemas dalam T3MU MeSRA,Mau-Mampu-Maju Menuju SRA, “ujar YantiKerLiP di sela-sela kesibukannya memfasilitasi Bimtek SLB Rujukan dan PLA di Yogyakarta, 17 Oktober 2017.

20170930_084017_1506761399299

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang diinstruksikan Presiden Jokowi membuka ruang untuk meningkatkan usaha kesehatan sekolah dan mendorong Sekolah Ramah Anak. Angin segar bagi para pegiat gerakan SRA. “Saya menginvestasikan waktu sedikitnya 3 jam setiap hari untuk mengapresiasi praktik-praktik baik yang dibagikan para Kepala Sekolah dari Deli Serdang, Jawa Barat, Jayawijaya, Manggarai Barat, Bojonegoro,Lampung,Maros, dst dalam wag setiap hari. Saya juga menulis narasi perjalanan mengawal percepatan gerakan SRA sekurang-kurangnya sekali setiap selesai kegiatan atau 2-3 kali per minggu. Narasi ini dipublikasikan melalui blog sekolahramahanak.com dan dibagikan melalui fb, twitter, dan wag, “ujar YantiKerLiP menambahkan.

Upaya percepatan gerakan SRA menunjukkan hasil yang menggembirakan. “Menurut catatan kami,sebanyak 2.535 satuan pendidikan di 31 provinsi sudah menunjukkan kemauan yang kuat untuk mewujudkan SRA dengan menunjukkan penanda sekurang-kurangnya dalam bentuk spanduk, SK Kepala Sekolah yang menetapkan tim pelaksana SRA,dan pengukuhannya sebagai SRA melalui SK Kepala Dinas Pendidikan atau DP3A, atau bahkan Bupati/Walikota, “kata Elvi Hendrani dalam keterangan tertulisnya.

Tim.fasilitator SRA yang terlatih memanfaatkan media sosial untuk mendampingi penerapan SRA oleh satuan pendidikan yang mengikuti pelatihan SRA bagi guru dan warga sekolah lainnya. Kampanye belajar di luar kelas menjadi wahana yang tepat  untuk mendorong 1.619 satuan pendidikan yang melaksanakan kampanye pada 7 September untuk berkomitmen mewujudkan SRA. Tercatat 450 satuan pendidikan di Deli Serdang yang mendapatkan Sertifikat Menuju SRA dari Elvi Hendrani selaku penanggung jawab percepatan gerakan SRA

 

Nia Kurniati dan Inisiatif Kelas Ramah Anak

19059082_10209122928737344_8352989031836567696_nNia Kurniati adalah guru PNS di SMPN 11 Bandung  yang telah berhasil melahirkan tiga orang pembaharu muda Ashoka. Ia mulai mengembangkan kelas ramah anak menyiasati segala pembatasan yang dialaminya setelah pergantian kepemimpinan.

Pendampingan sekolah aman di daerah aliran sungai Citarum yang dilaksanakan sahabat KerLiP atas dukungan multipihak mempertemukan gagasan, harapan,dan praktik baik yang dilakukan sahabat-sahabat KerLiP dengan bu Nia. Perjalanan panjang melembagakan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) di tempat bu Nia mengajar itu akhirnya sampai pada GSB MeSRA lalu GSB Bersinar dengan Kelas Ramah Anaknya yang keren sekali.

Beruntung

Bu Nia, begitu kami memanggilnya, mengaku sangat sensitif. Suaranya selalu bergetar menahan isak tangis setiap kali menyampaikan haru biru perjuangannya untuk keluar dari kebiasaan lama. Guru IPA yang gemar belajar ini sangat dicintai murid-muridnya. Ketekunannya untuk menemukenali potensi peserta didik di serta menuliskan prosesnya dengan cara yang khas selalu memperkaya OPeRA kami di wa. Saya sering tak sabar menyebarluaskannya dalam narasi-narasi panjang di blog ini. Tidaklah mengherankan jika bu Nia selalu mengingatkan saya untuk tidak memublikasikan catatan yang belum rampung.

Ragam metode yang dikenalkan bu Nia, yakni Book of me, dreamsboard, T R U S T, champion-change-connect memperkaya pendampingan terhadap anak, guru, kawula muda, orang tua yang kami laksanakan di berbagai tingkatan. Sahabat-sahabat KerLiP yang mendapatkan ilmu dari bu Nia makin banyak. Bu Nia yang tak pernah berhenti berkreasi menjadi sumber inspirasi utama dalam upaya kami mewujudkan Sekolah Ramah Anak di Indonesia.