Safari GeMBIRA di bulan November

Perjalanan dini hari ke Kota Tasik 28 November 2016 memenuhi undangan untuk menjadi salah satu fasilitator Pelatihan Sekolah Ramah Anak (SRA) bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Kabar GeMBIRA dari Raja Ampat diterima dari Bagus, Ketua DPC KerLiP Maros yang melaksanakan kegiatan serupa atas undangan Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kempppa. Safari GeMBIRA menutup Bulan November dengan memperbanyak guru dan tenaga kependidikan yang terlatih SRA. Di sela-sela pelatihan, sahabat KerLiP melaksanakan pembinaan pendidikan keluarga di Jabar dan Riau. Penyusunan juknis Kartu Riau Panutan dan pelembagaan SMAB di SLBN B Garut melengkapi Gerakan Mewujudkan SRA.

Rasa berkelimpahan atas rahmat Allah SWT berkesempatan tumbuh bersama menghimpun dan menebarkan praktik-praktik baik menambah semangat. Sesekali menyimak semangat bela Islam dari para yunior di ITBMotherhood dan pemberitaan mengenai longmarch kaum muslimin dari Ciamis ke Jakarta untuk berdoa bersama di Monas.

Tetap fokus bekerja demi kepentingan terbaik anak mulai dengan tepuk hak anak lalu kata anak tentang sekolah/madrasah masing-masing. Irama lagu pelangi-pelangi menjadi selingan yang menggembirakan peserta pelatihan. Lirik lagu pengganti untuk menggugah kesadaran pentingnya pencegahan kejahatan seksual anak, evakuasi gempa tanpa masuk ke kolong bangku, dan cuci tangan pakai sabun. Kepala sekolah, guru BK, komite sekolah diajak untuk mendengarkan kata anak-anak saat menyusun praktik-praktik baik pemenuhan hak pendidikan anak yang sedang berjalan.

Kejeniusan dilahirkan dari kegembiraan bukan sekadar paparan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kelompok. Setiap sekolah diberi kesempatan untuk.mempresentasikan hasil apreciative inquiries masing-masing. Penilaian mandiri pun dilaksanakan untuk menetapkan sekolah piloting yang paling siap menjadi rujukan Sekolah Ramah Anak.

Kunjungan ke sekolah terpilih menambah kegembiraan tersendiri. Insya Allah Jawa Barat siap untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak.

 

Catatan Dina: YESSI di SLB G Baleendah Bersama GSB Bersinar SMPN 11, KerLiP, dan SeKAM

Pagi ini menjadi pagi yang sibuk di grup line SeKAM, ya sibuk. Sibuk ngebangunin personil SeKAM yang lain. Meski cara ini gak ampuh 100% tapi 3 dari 8 anggota SeKAM merespon alarm yang dibuat oleh Ksatria ketua SeKAM. Semalam kami berdiskusi akan berangkat bersama dari kampus jam 6.30 pagi karena harus berada di SLB jam 8 pagi. Tetapi, ekspektasi tidak selamanya sesuai dengan realita yang ada. Karena mimpi kami semalam terlalu indah, kami berangkat jam 7.30 pagi. Anggota SeKAM yang hadir ada 5 orang termasuk Ksatria

Jam 8.30 kami tiba di SLB, ini kali kedua saya dan Dita datang ke SLB-G YGMU Baleendah.  Saat kami tiba di Aula ternyata sudah siap anak-anak SLB-G YGMU Baleendah, 29 duta anak dari SMPN 11 Bandung, Teh Fitry, Bu Nia dan Ami. Saat kami membaur kami mencoba berkomunikasi dengan anak-anak dari SLB-G, bisa sih tapi agak sedikit bingung karena saya sendiri ada d itengah anak-anak tuna (aduh, maaf masih nyebut tuna di undang-undang masih tuna -_-) grahita plus rungu. Mereka berkomunikasi dengan melihat gerakan tubuh dan gerak bibir, dalam memberi respon pun saya harus melihat dulu gerak bibir mereka.

Kegiatan hari ini adalah menentukan jalur evakuasi, dari mulai keluar aula lalu menuruni tangga, menyusuri lorong hingga berkumpul ke lapangan. Sebelumnya Fina dkk mengenalkan lagu ‘kalau ada gempa’ dan menjelaskan rambu jalur evakuasi kalau jalur evakuasi berwarna merah itu berarti kita harus hati-hati, kalau yang berwarna hijau itu aman, dan terakhir rambu titik kumpul. Saya menerangkan kembali kepada anak-anak tuna rungu:

hati-hati dengan tangan disilangkan,

aman menunjukan jempol ‘oke’,

titik kumpul tangan membentuk lingkaran menunjukkan lapangan.

Penentuan titik pun dimulai dengan Firdi dan Farhan (tuna grahita) yang mengkoordinir teman-temannya. Pertama, mereka berbaris sambil menyanyikan lagu ‘kalau ada gempa’, lalu mereka berbaris rapi ke luar aula sambil melindungi kepala.  Mereka pun menempelkan rambu jalur evakuasi berwarna merah karena jalur tersebut menuju ke arah tangga. Selanjutnya mereka jalan menyusuri lorong dan menempelkan rambu jalur evakuasi berwarna hijau yang menandakan jalur tersebut aman untuk dilalui dan terakhir mereka berkumpul ke lapangan dan menempelkan rambu titik kumpul disana.

Setelah selesai menentukan jalur anak-anak kembali ke aula, SeKAM, anak-anak SLB-G dan SMP 11 melepaskan rasa narsis kami, yap selfie di aula. Anak-anak SLB-G ternyata sangat senang difoto. Saat kami sedang asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba. “Tringgg… Tringgg…..Gempa….Gempa….” anak-anak berbaris sambil melindungi kepala dan berjalan keluar aula karena jalur yang dilalui tidak terlalu besar mereka pun harus antri yang mandiri berada di depan dan yang memerlukan bantuan bersama duta anak dan SeKAM di belakang. Sampai akhirnya kita di lapangan dan melakukan simulasi jika tidak ada lapangan dengan bersembunyi di bawah meja, tetapi meja disana tidak seperti meja di kebanyakan sekolah kolongnya lebih kecil. Saat simulasi karena seringnya naik turun tangga, Noval dkk yang memiliki hambatan di bagian kaki mereka cepat lelah dan sesekali mereka beristirahat mereka berjalan dengan memegang benda di sekitar karena kekuatan kaki yang tidak seperti orang kebanyakan.

Simulasi selesai waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, dilanjutkan dengan testimoni dari Farhan, Raisa, Lala, Alfi, Noval,Cepi (SLB-G YGMU Baleendah) lalu ada 2 orang duta anak SMP 11. Mereka semua senang dalam berkegiatan hari ini mendapat teman baru yang seru, harus melindungi kepala saat gempa, anak-anak dari SLB-G juga menceritakan bencana banjir yang sering terjadi di wilayah mereka. Selesai testimoni anak dan selesailah pula kegiatan pada hari ini.

Eiitt, belum beres. SeKAM, duta anak SMPN 11, teh Fitri, Bu Nia dan Ami melanjutkan sesi selanjutnya yaitu evaluasi dimulai dari kesan pesan dan aksi apa yang ingin diberikan kepada kegiatan selanjutnya dari 29 duta anak salah satunya dari Syahlan “saya merasa senang, beryukur bisa ada disini, disini saya mendapatkan inspirasi mereka (red: anak SLB) bisa semangat dalam keterbatasan sedangkan kita yang lengkap malah bermalas-malasan” dan mereka semua menginginkan kegiatan ini bisa dilakukan di seluruh SLB di Kota Bandung. Setelah mendengar cerita dari 29 duta anak lanjut kepada perkenalan dari 5 anggota SeKAM dan ada saran dari Yurika “kalau bisa sebelum kegiatan diadakan briefing agar satu persepsi saat ditanya oleh anak-anak SLB-G, dan jangan dulu main handphone saat kegiatan”. Lalu Ami yang meminta kegiatan seperti ini  harus terus dijalankan. Semoga, keinginan kami dari anak-anak ini dapat terwujud, amiin….

Catatan Bu Ninuk: Mandala Diri di Semesta Hati

Kami ditemani Aas dan teman-teman guru saat kegiatan  berlangsung. Saya meminta Aas untuk memulai kegiatan lebih pagi, dengan pertimbangan perlu lebih banyak waktu bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk melakukan kegiatan ini.  Aas menyepakati, begitu juga anak-anak yang selalu ingin tahu jika ada kegiatan baru. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang, siswa reguler dengan satu atau dua anak berkebutuhan khusus. cukup lama bagi beberapa anak untuk menyelesaikannya, suasananya sangat menyenangkan, anak yang lain membantu temannya  mengungkapkan perasaan lewat bahasa tulisan, mengomentari, meralat, membantu menuliskan. riuh sekali. jam istirahat kami sepakati untuk berhenti sejenak. Setelah ini rencananya akan membuat dreamsboard.” Anak-anak biasanya lebih suka berekspresi melalui gambar,” kata saya pada Aas. Biasanya mereka lebih ‘keluar’ ekspresinya,  lebih ‘hidup’. Asyik sekali mengamati mereka sibuk mencari gambar dari lembaran koran dan menambahkan gambar. Situasinya kembali riuh.  Anak-anak seperti berlomba untuk mengatakan bahwa ‘aku istimewa’ melalui gambar pada dreams board mereka. Selalu ada kejutan, saat presentasi B mengatakan  bahwa sekolah di Semesta Hati adalah keinginan terbesarnya, disini katanya ‘aku bisa lebih banyak membantu teman’. Untuk  sekolah Bersinar, E, ingin membaca menjadi budaya di sekolah ini. E, siswa kami yang  autis juga ingin ‘membangun SH’ dengan latar gambar bangunan yang besar.

#100 Kebiasaan Baik Anak Semesta Hati.

Di Semesta Hati, saya ajak anak-anak merumuskan kebiasaan apa saja yang akan dibudayakan di sekolah. “apa ya bu?” begitu pertanyaan selanjutnya. jawab saya ” apa saja yang kamu rasa belum ada, perlu dilakukan, dan dibiasakan di Semesta Hati.

Ini hasil rumusan anak-anak :

Membuang sampah pada tempatnya,  memilah sampah,menabung, mencuci tangan sebelum makan, menghargai teman, tidak membully teman, hidup sehat dengan berolahraga, gemar membaca, ramah kepada semua anak.
Belum genap 100 sih..baru 2 kelas yg merumuskan. Berikutnya akan dilanjutkan lagi di kelas yang lain. mudah-mudahan kami istiqomah menerapkannya, dan seluruh warga di semesta kecil kami tumbuh dan  bersinar bersama : )