Menjadikan Rumah Sekolah Kehidupan Bagi Anak Kita

“APAPUN SEKOLAHNYA, YANG PENTING ORANG TUANYA!”

Sebagus apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menjadikan anak kita sholih dan sholihah, anak yang berakhlak mulia.

KELUARGA ADALAH SEKOLAH KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA.

Ayah bunda adalah guru pertama dan utama ananda.
Adalah sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan anak-anak kita “cerdas berakhlak mulia” sedangkan ayah bunda :

● sering bertengkar
● sering marah-marah
● sering berkata kasar
● sering membiarkan

Ayah bunda adalah PANUTAN ananda. Tidak sedikit anak-anak yang ingin menjadi seperti orangtuanya.
Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah role model, sedang bagi anak perempuan Ayah adalah “first love” mereka.

Bunda… Terlebih seorang Bunda, baik anak laki-laki dan perempuan banyak yang menjadikan sosok bundanya sebagai “malaikat pelindung”.

Bukan rahasia lagi, para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur… maka mereka pertama akan menyalahkan diri mereka sendiri, bahkan menghukum diri mereka sendiri…

Kenapa anak-anak saya bisa seperti ini?

Apakah saya telah berbuat dosa?

Apakah ada makanan haram yang saya berikan untuk anak-anak saya?

Ayah
Bunda
Mari bersatu dan rebut kembali hak prerogratif sebagai GURU KEHIDUPAN. Guru yang akan terus mendapatkan doa dari anak shalih dan shalihah titipan Ilahi. Guru yang tidak hanya mengantarkan anak-anak menjadi sarjana, tapi lebih jauh mengantarkan mereka masuk ke gerbang Surga.

Menulislah dan Kita Pun Makin MeSRA

[2/27, 14:02] Mbak Dewi Bappeda Wonosobo: selamat siang, mohon info apakah masih aktif di SRA?
[2/27, 14:03] Mbak Dewi Bappeda Wonosobo: sy dpt no dari sekolahramahanak.com
[2/27, 14:50] Mbak Dewi Bappeda Wonosobo: Waalaikumsalam wr wb, kami dari bappeda kab wonosobo
[2/27, 14:52] Mbak Dewi Bappeda Wonosobo: sudah 2 th ini kami merintis sekolah ramah anak utk Sd dan smp

Sengaja saya kutip obrolan pembuka di atas dengan penuh rasa syukur. Catatan terakhir yang saya posting di blog ini tertanggal 7 Oktober.  Seminggu setelah gempabumi dan likuifaksi meluluhlantakkan Pasigala. Saya pun sibuk menggalang bantuan untuk mendukung relawan Sigap KerLiP memberikan dukungan psikososial di Pasigala Parimo. Catatan saya pun beralih ke https://m.kitabisa.com/bantutimsigappalu sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para donatur dan relawan.

Pelembagaan Sigap KerLiP Indonesia

“Saya bersyukur mengenal Ibu meski bersahabat dengan orang-orang penting di Negeri ini tapi Ibu memperlakukan semua sama 😍,”kata Nurlinda Taco, Ketua Yayasan Sigap KerLiP Indonesia yang saya terima melalui wa di sela-sela obrolan dengan Dewi dari Bappeda Wonosobo. Kak Linda memang selalu sigap dan menambah semangat dengan kata-kata apresiatifnya. Sementara itu, saya juga meminta Ekasari untuk membenahi administrasi KerLiP agar siap menjadi pelopor untuk menempatkan anak dan remaja memimpin Perkumpulan yang akan genap berusia 20 tahun pafa 25 Desember 2019.

Penerbitan akta Yayasan Sigap KerLiP Indonesia pada 12 Januari 2019 menjadi momentum bagi saya untuk kembali membangun basis mengembangkan model-model pendidikan anak merdeka, bermutu, dan bebas pungutan. Posisi Kak Linda sebagai salah satu fasilitator Sekolah Ramah Anak yang mendapatkan penetapan dari Kementerian PPPA, bersama saya, Zamzam, Bagus, Ekasari, dan KerLiPers lainnya membuat kami makin MeSRA.

Bersiap Tinggal Landas

IMG_20190303_162945

Foto ini saya ambil sesaat sebelum boarding memenuhi undangan Mbak Dewi untuk berbagi praktik baik Sigap KerLiP Indonesia menuju SRA dari tanggap darurat. Tadi sempat berkenalan dengan Ibu Woro, Kepala SMPN 28 Surabaya pegiat inklusi, adiwiyata, aman bencana, dan ramah anak. Saking semangatnya pertemuan singkat ini langsung diikat dalam wag Gerashiaga. Ibu Woro pun senang bergabung di wag Seknas SPAB.

Rasanya hanya sekejap menikmati langit dari dalam pesawat Lion Air. Terbang pukul 16.25 sampai di tempat penjemputan pukul 17.50 WIB. Sayang sekali travel yang dipesan Mbak Dewi pukul 19.00 baru menjemput saya di bandara Adi Soetjipto pukul 21.45 WIB.  Saya posting hasil edit tulisan ini setiba di Hotel Surya Asia pukul 00.45 WIB.