Menjadikan Rumah Sekolah Kehidupan Bagi Anak Kita

“APAPUN SEKOLAHNYA, YANG PENTING ORANG TUANYA!”

Sebagus apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menjadikan anak kita sholih dan sholihah, anak yang berakhlak mulia.

KELUARGA ADALAH SEKOLAH KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA.

Ayah bunda adalah guru pertama dan utama ananda.
Adalah sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan anak-anak kita “cerdas berakhlak mulia” sedangkan ayah bunda :

● sering bertengkar
● sering marah-marah
● sering berkata kasar
● sering membiarkan

Ayah bunda adalah PANUTAN ananda. Tidak sedikit anak-anak yang ingin menjadi seperti orangtuanya.
Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah role model, sedang bagi anak perempuan Ayah adalah “first love” mereka.

Bunda… Terlebih seorang Bunda, baik anak laki-laki dan perempuan banyak yang menjadikan sosok bundanya sebagai “malaikat pelindung”.

Bukan rahasia lagi, para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur… maka mereka pertama akan menyalahkan diri mereka sendiri, bahkan menghukum diri mereka sendiri…

Kenapa anak-anak saya bisa seperti ini?

Apakah saya telah berbuat dosa?

Apakah ada makanan haram yang saya berikan untuk anak-anak saya?

Ayah
Bunda
Mari bersatu dan rebut kembali hak prerogratif sebagai GURU KEHIDUPAN. Guru yang akan terus mendapatkan doa dari anak shalih dan shalihah titipan Ilahi. Guru yang tidak hanya mengantarkan anak-anak menjadi sarjana, tapi lebih jauh mengantarkan mereka masuk ke gerbang Surga.

Bersiap Merintis Asmara di Wonosobo

Masih ingat akronim Asmara yang saya bagikan selepas mengikuti kegiatan fasnas SRA santai di Bandung? Tadi siang, Pak Hadi dan kepala sekolah lainnya yang mengikuti rakor evaluasi KLA melalui SRA di Aula Bappeda Wonosobo menyambut antusias ajakan saya untuk merintis Asmara-Asosiasi Sekolah Madrasah Ramah Anak. Sudah MeSRA tambah Asmara ya. Insya Allah untuk mendorong kelekatan hubungan kasih sayang di keluarga yang siap unjuk peduli pendidikan anak merdeka, bermutu, dan bebas pungutan.

 

Kritis dan Tetap Santun

Pak Hadi terlihat sangat antusias menunjukkan kesadaran kritisnya untuk menularkan semangat pembaharuan yang luar biasa. “Sekolah kami berjuang sendiri untuk memperoleh predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Saya mengeluarkan ongkos sendiri saat menerima sertifikat penghargaan tanpa seremonial yang megah, “kata Pak Hadi, salah satu kepala sekolah rintisan SRA di Wonosobo.

Semangat Pak Hadi, bu Ranti Mbak Lintang, Pak Heru, Bu Umi Bu Siti Fatimah, Bu Endang saat menanggapi hasil evaluasi SRA yang disampaikan Bu Erna, arahan Pak Haris dari Bappeda, dan paparan saya selaku Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak menjadi modal kuat untuk tumbuh bersama Sigap KerLiP Indonesia. Saya mengajak Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan Disdik Kabupaten Wonosobo untuk merintis Asmara dari Wonosobo ke tingkat global. Saya mulai dengan mengajak peserta rakor tersebut melaksanakan Giat Edukasi Ramah Anak, Sehat, Hijau, Inklusi, Aman Bencana di Keluarga-Gerashiaga– untuk memperkuat komponen utama SRA yang kelima dan keenam.

Kepala Sekolah perintis SRA diharapkan segera mengarahkan guru-guru untuk memberikan pekerjaan rumah kepada murid mereka. Ada 5 langkah memulai Gerashiaga pada Sepekan Aksi MeSRA:

  1. Anak-anak bersama ibunda melaksanakan simulasi evakuasi mandiri di rumah pada Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 April 2019.
  2. Selanjutnya anak-anak membuat vlog atau papan mimpi untuk disajikan anak di hadapan ayah bunda tercinta pada Hari Pendidikan Nasional di sekolah/madrasah.
  3. Beningnya nurani anak dalam menyajikan gagasan, harapan, dan impian anak-anak diharapkan menggugah kesadaran kritis orangtua dan guru kelas untuk mendengarkan dan menanggapi dengan sungguh-sungguh dalam upaya mengedepankan kepentingan terbaik anak
  4. Orang tua pun diharapkan membentuk paguyuban orang tua di kelas untuk anak lebih cerdas berkarakter (Potluck).
  5. Kemudian kegembiraan anak ini ditanggapi menjadi Rencana Aksi MeSRA setiap Potluck

Jika seluruh satuan pendidikan di Wonosobo melaksanakannya, maka Gembira bersama KerLiP di Hari Pendidikan Nasional pun niscaya akan menjadikan 100% sekolah/madrasah di Wonosobo MAU menuju Sekolah Ramah Anak. Insya Allah Disdikbud Wonosobo akan menyiapkan SK SRA dengan lampiran daftar sekolah yang melaksanakannya dengan gembira.

Asmara pun terjalin memperkaya Sepekan Aksi MeSRA di Wonosobo

 

Bismillah tawakkaltu alallah.

Bincang Petang Keluarga Menuju SRA ini Kita Sebut Bintang Kejora

 

Kupandang langit penuh bintang bertaburan//berkerlap-kerlip seumpama intan berlian//tampak sebuah lebih terang cahayanya//itulah bintangku bintang kejora yang indah selalu

IMG_20190301_084151_188

Emak-emak dari RW03, 05, 06, dan 10 kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung serentak menyanyikan lagu anak ciptaan A.T. Mahmud di atas. Ya, hari ini, Rumah KerLiP memulai Bintang Kejora akronim dari  Bincang Petang Keluarga Menuju Sekolah Ramah Anak.

“Saat saya menerima bewara dari putri kami, Fitry pagi tadi, langsung teringat lagu anak ini. Saya ingin mengajak para perempuan di sekeliling Rumah KerLiP untuk menjadi Bintang Kejora yang berkerlip paling terang di malam penuh bintang,”kata YantiKerLiP yang kini menjadi pembina Yayasan Sigap KerLiP Indonesia. Perempuan berusia jelita ini-jelang 50 tahun-menceritakan perjalanan singkat merintis getakan keluarga peduli pendidikan sejak 25 Desember 1999. “Alhamdulillah, saat ini kami, Sigap KerLiP Indonesia bersiap mendirikan pesantren putra di Mamasa dan putri di Mamuju di atas lahan hibah yang kami terima pasca bencana NTB dan Pasigala Parimo, “imbuhnya sambil menatap wajah emak-emak tersebut. Satu per satu.

Begin With The End of Mind

“Ibu-ibu yang saya sayangi, terima kasih sudah menginvestasikan waktu untuk hadir dalam Bintang Kejora perdana. Seperti halnya hidup, kita ingin baik di hari akhir ya? Saya akan mulai dengan kata paling akhir dari #bintangkejora, anak. Ada yang tahu yang dimaksud anak itu usia berapa?” YantiKerLiP mulai menggugah kesadaran kritis emak-emak. Kasus anak SMK yang membakar sekolah pada malam hari sebelum ulang tahunnya uang ke-18. Karena dinyatakan tidak lulus, ibu yang tega membunuh ketiga anaknya dan dinyatakan bebas karena sakit jiwa, padahal perempuan tersebut lulusan perguruan tinggi terkemuka, bapak dan saudara kandung yang melakukan incest, dan beberapa kasus pelanggaran hak anak lainnya.

Berulang kali, Yanti KerLiP menegaskan bahwa kejadian-kejadian tersebut ternyata tidak jauh dari keseharian kita semua. Lalu, mengapa anak perlu didefinisikan dalam peraturan perundang-undangan? Menjelang hajat 5 tahunan bernegara, masyarakat kita sibuk mendefinisikan capres pilihannya. Namun, tidak banyak yang membaca hasil kerja wakil rakyat dan presiden terpilih yang disebut undang-undang, termasuk peserta #bintangkejora kemarin sore.

Hari ini yang ikut ngerumpi  tidak seramai JumatBarokah minggu lalu. Hujan menjadi alasan utama ketidakhadiran emak-emak dari Ciumbuleuit dkk. Inovasi MeSRA Bertuah dari Deli Serdang akan menjadi bahan ngerumpi berikutnya.