SEKOLAH RAMAH ANAK, MENGELIMINIR KELEMAHAN SISTEM ZONASI DALAM PPDB

Suasana MPLS di SMA Advent Klabat Manado

Pemerintah telah menerapkan sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah. Banyak positifnya sistem zonasi, namun kalau tidak dikelola dengan baik sistem zonasi justru akan menurunkan kualitas pendidikan. Tulisan ini bertujuan bukan untuk menentang sistem zonasi, namun bagaimana membatasi, bahkan kalau bisa menghilangkan sama sekali kelemahan dan dampak negatif dari sistem zonasi.
Sistem zonasi adalah sistem penerimaan peserta didik baru yang mengacu pada domisili peserta didik sebagai kriteria utama, sehingga meski nilai ujian/ijazah lebih tinggi namun bila tempat tinggalnya lebih jauh, maka yang diterima adalah peserta didik yang lokasi rumahnya lebih dekat. Dalam penerapannya ada yang murni mengacu pada domisili saja seperti contoh di atas, namun adapula yang tidak hanya mengacu pada domisili semata namun memberi bobot tertentu antara domisili, nilai ujian negara, nilai ijazah dan raport pada mata pelajaran tertentu.
Salah satu kelebihan sistem zonasi adalah setiap anak mendapatkan haknya untuk mendapat layanan pendidikan sesuai dengan lokasi tempat tinggalnya. Pendidikan adalah hak anak, bukan diberikan oleh negara, karena itu sewajarnyalah bila anak mendapatkan layanan pendidikan di dekat domisilinya.

Kelebihan yang lain adalah berkurangnya biaya yang ditanggung oleh orangtua dalam transportasi. Selain menghemat biaya transportasi, juga menghemat biaya berupa tenaga, waktu dan stamina. Dengan sekolah berada dekat rumahnya maka jangka waktu anak ke dan dari sekolah dipersingkat sehingga tiba di sekolah dalam kondisi masih segar bugar, dan yang lebih penting dalam kepentingan umum adalah bisa mengurangi kesibukan lalu lintas pada saat jam berangkat dan pulang sekolah.
Kelebihan lain (yang dalam pandangan saya juga memiliki potensi kelemahan) adalah membiasakan anak dan guru hidup dalam keberagaman. Dengan hidup dalam keberagaman di lingkungan keseharian sekolah, diharapkan akan memperkuat ikatan antar siswa dan siswa, antar siswa dan guru yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Yang kaya akan memahami bagaimana sulitnya hidup kaum yang tidak beruntung, anaknya pejabat dan selebriti akan terbiasa dengan anak dari keluarga biasa, demikian pula sebaliknya sehingga sekat sosial antara status sosial ekonomi bisa dihilangkan, minimal bisa dikurangi.
Namun kalau tidak dikelola dengan baik, keberagaman itu akan menimbulkan kelompok-kelompok sosial tertentu dalam sekolah. Adalah manusia dari sononya memiliki sifat homofilius, selalu mencari kesamaan dan menghindari perbedaan dalam kehidupan sosialnya. Kalau tanpa dirancang, dalam kehidupan keseharian sekolah akan muncul kelompok-kelompok berdasarkan kesamaan ini, yang pintar berkumpul dengan yang pintar, yang kaya kumpul dengan yang kaya dan akibatnya malah keberagaman menimbulkan suasana yang tidak nyaman, khususnya bagi kelompok siswa yang kurang beruntung. Harus ada intervensi sekolah dalam merancang kehidupan kebersamaan. Antara lain mengadakan acara anjangsana-anjangsini antar anak sekelas, bahkan kalau bisa membiarkan anak saling menginap di keluarga yang berbeda status sosial ekonominya pada akhir pekan dan sebagainya. Membentuk pasukan penyambut kedatangan siswa di pagi maupun saat pulang yang terdiri dari siswa senior/kelas atas untuk menyambut adik-adiknya di pintu gerbang sekolah dengan ditemani gurunya akan menghilangkan perundungan (bullying) siswa senior terhadap adik-adiknya.

Kelebihan lain dalam sistem zonasi, meski saya juga memandangnya potensial bisa sekaligus menjadi kelemahan sistem zonasi adalah semua siswa bisa masuk ke sekolah favorit di dekat rumahnya. Sekolah-sekolah favorit yang selama ini hanya menerima siswa yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi dipaksa untuk menerima semua siswa yang beragam, asal siswa tersebut domisilinya memenuhi syarat. Akan terjadi gejolak tidak hanya di kalangan siswa, tetapi juga di kalangan guru. Sekolah favorit yang selama ini seperti pabrik roti unggulan, memiliki tukang pembuat roti bersertifikat, alat-alatnya full modern, dan bahan-bahannya terjamin kualitasnya, tentu saja akan menghasilkan roti yang kualitas prima. Sekarang pabrik roti ini dengan segala kemodernan dan kecanggihannya dipaksa menerima tepung seadanya, tepung jagung, tepung sagu, bahkan tepung ketela pohon, mentega tanpa merk, dan bahan-bahan seadanya yang lain. Bisa dibayangkan betapa dampaknya sekolah favorit menerima anak dengan kualitas seadanya ini.
Pertama yang akan mengalami kesulitan adalah gurunya, yang biasanya memimpin pembelajaran anak-anak super dengan dukungan keluarga anak yang mumpuni, sehingga pembelajaran dengan metode apapun pasti bisa berjalan dengan baik. Kini guru harus menghadapi murid yang beragam kemampuannya. Bagi guru yang kerjanya hanya sebatas menjalankan kewajibannya mungkin tidak begitu mengganggu. Pokoknya sudah saya ajarkan, kalau nggak ngerti itu kesalahan pengambil kebijakan yang menentukan sistem zonasi. Namun bagi guru yang mendidik dengan hati, akan merana.

Dalam hal ini guru harus mampu merancang pembelajaran yang efektif dengan kondisi siswa yang beragam kemampuannya. Pertanyaan yang mudah dijawab adalah ketika murid-murid yang beragam itu belajar dalam kelompok, maka kelompok yang heterogen atau yang homogen yang lebih baik. Sebagian besar guru saya kira akan menjawab kelompok heterogen akan lebih baik, karena ada peer learning, yang cepat membantu yang lambat.

Pengalaman saya, tidak selalu kelompok yang heterogen lebih baik daripada kelompok yang homogen; dan sebaliknya pula. Dalam hal ini acuannya tidak hanya akdemik namun juga perkembangan jiwa sosial-emosional siswa. Dalam hal ini, pada beberapa mata pelajaran yang memiliki tata urutan yang ketat, artinya siswa tidak akan bisa menyerap pokok bahasan/tema kedua sebelum menguasai dengan tuntas pokok bahasan/tema pertama; seperti matematika dan IPA, sebaiknya anak dikelompokkan secara homogen, sementara untuk kelompok sosial dan rekreatif, lebih baik anak dikelompokkan secara heterogen. Sehingga pengelompokan siswa tidak bersifat permanen, melainkan temporal.

Selanjutnya pembelajaran harus acuan utamanya adalah timeless learning, pada mastery learning, bukan pada target waktu. Anak memiliki kecepatan dan kemampuan belajar yang berbeda-beda. Beri kesempatan pada anak yang memiliki kecepatan belajar yang cepat dan bimbing dengan penuh kesabaran anak-anak yang lebih lambat. Dengan menerapkan pembelajaran maju berkelanjutan (continuing progressive learning) maka anak akan menikmati pembelajaran yang diikutinya. Sistem ini sebenarnya telah teruji sangat efektif di kalangan pondok pesantren dengan sistem belajar sorogan atau setoran, mengapa tidak kita adopsi? Pengalaman mengelola Sekolah Garasi dengan sistem maju berkelanjutan yang timeless oriented ini anak-anak MI bisa menamatkan pembelajaran secara berbeda, beberapa anak ada yang cukup belajar 4 tahun, banyak anak yang bisa menamatkan 5 tahun dan 6 tahun, serta beberapa anak lagi memerlukan waktu lebih dari 6 tahun.

Prinsip pembelajaran yang lain yang perlu diterapkan adalah prinsip asahlah pisau pada sisi tajamnya, jangan pada sisi tumpulnya, apalagi pada gagangnya. Masing-masing anak memiliki kelebihan sekaligus kelemahan masing-masing, dalam bahasa ilmiahnya multiple intelligencies. Anak yang kurang bisa matematik tidak usah dipaksa harus KKM 70, tapi cari kehebatannya di bidang apa dan pupuk serta bimbinglah kehebatannya. Pengalaman saya di sekolah garasi, memiliki seorang anak yang mengalami disleksia, disgraphia dan diskalkula sekaligus, ketika dipaksa melengkapi kekurangan KKM dalam bidang bahasa, IPA dan matematika lewat remedial, menunjukkan gejala stress dan malas, namun anak ini memiliki potensi melukis yang hebat, dan mampu menjadi juara II Porseni MI tingkat kabupaten ketika dibina potensi seni lukisnya, belajar sampai jam 21 malam malah nggak mau pulang. Karena itu jangan dicari kelemahan siswa, namun harus dicari kelebihan masing-masing siswa. Konsekuensinya tentu saja pembelajarannya menjadi beragam, namun itu konsekuensi logis dari penerimaan siswa yang beragam.
Prinsip pembelajaran selanjutnya, rancanglah kelebihan dan kelemahan masing-masing siswa itu menjadi kerjasama antar roda bergigi, dimana tonjolan gerigi pada satu roda mengisi cekungan roda lainnya sehingga bisa saling memperkuat. Kembangkanlah jiwa empathi dan rasa ikhlas berbagi kelebihan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam segi materi dan mata pelajaran namun dalam semua sisi kehidupan keseharian.

Kembangkanlah jiwa kebersamaan, togetherness yang mendalam sehingga bener-bener tercipta
WE ARE THE ONE,
yang ada hanyalah KITA,
tidak ada AKU,
tidak ada KAU,
tidak ada KAMI,
tidak ada MEREKA,
yang ada hanya KITA YANG SATU
Dan ini hanya bisa dicapai dalam Sekolah Ramah Anak, dimana Guru ramah terhadap anak dan Guru juga diramahi oleh sekolah.
Insyaallah tulisan Bagaimana Mengelola Sekolah Ramah Anak menyusul kemudian
Turen, 7 Juli 2017
Direktur*) Sekolah Garasi

Kentar Budhojo
*) Direken Batur

Advertisements

Safari GeMBIRA di bulan November

Perjalanan dini hari ke Kota Tasik 28 November 2016 memenuhi undangan untuk menjadi salah satu fasilitator Pelatihan Sekolah Ramah Anak (SRA) bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Kabar GeMBIRA dari Raja Ampat diterima dari Bagus, Ketua DPC KerLiP Maros yang melaksanakan kegiatan serupa atas undangan Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kempppa. Safari GeMBIRA menutup Bulan November dengan memperbanyak guru dan tenaga kependidikan yang terlatih SRA. Di sela-sela pelatihan, sahabat KerLiP melaksanakan pembinaan pendidikan keluarga di Jabar dan Riau. Penyusunan juknis Kartu Riau Panutan dan pelembagaan SMAB di SLBN B Garut melengkapi Gerakan Mewujudkan SRA.

Rasa berkelimpahan atas rahmat Allah SWT berkesempatan tumbuh bersama menghimpun dan menebarkan praktik-praktik baik menambah semangat. Sesekali menyimak semangat bela Islam dari para yunior di ITBMotherhood dan pemberitaan mengenai longmarch kaum muslimin dari Ciamis ke Jakarta untuk berdoa bersama di Monas.

Tetap fokus bekerja demi kepentingan terbaik anak mulai dengan tepuk hak anak lalu kata anak tentang sekolah/madrasah masing-masing. Irama lagu pelangi-pelangi menjadi selingan yang menggembirakan peserta pelatihan. Lirik lagu pengganti untuk menggugah kesadaran pentingnya pencegahan kejahatan seksual anak, evakuasi gempa tanpa masuk ke kolong bangku, dan cuci tangan pakai sabun. Kepala sekolah, guru BK, komite sekolah diajak untuk mendengarkan kata anak-anak saat menyusun praktik-praktik baik pemenuhan hak pendidikan anak yang sedang berjalan.

Kejeniusan dilahirkan dari kegembiraan bukan sekadar paparan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kelompok. Setiap sekolah diberi kesempatan untuk.mempresentasikan hasil apreciative inquiries masing-masing. Penilaian mandiri pun dilaksanakan untuk menetapkan sekolah piloting yang paling siap menjadi rujukan Sekolah Ramah Anak.

Kunjungan ke sekolah terpilih menambah kegembiraan tersendiri. Insya Allah Jawa Barat siap untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak.

 

ELSI menghidupkan Gerakan Literasi Keluarga Pak Gino Vanolie

Aang (kelas 2 SD) bolak-balik membuka  Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual (ELSI) yang sedang kami bahas. “Alhamdulillah. Senang sekali melihat anak-anak tertarik dengan ELSI. Beberapa orang mengira buku seri ini hanya untuk anak yang lebih besar atau orang dewasa, “kata saya.  Raut muka Pak Gino, ayah Aang, langsung berubah. Sebelumnya ia meminta putranya membuka buku dengan hati-hati. “Sini, Ang! Baca ELSI bersama ayah!” Serunya memanggil putra bungsunya yang sedang bermain dengan 2 anak tetangga. Aang menghampiri ayahnya dengan riang gembira. kedua temannya pun mendekat. Mereka terlihat antusias melihat setiap halaman yang dibuka  Aang bersama ayahnya. “Gambarnya bagus-bagus!” Seru teman Aang. “Ini sedang tiarap, ya?”Tanya Aang kepada ayahnya. Keduanya asyik membaca bersama.

20161114_192211

Bu Ani,  ibunda Aang mengabadikan keasyikan mereka berempat membaca ELSI. “Sekolah Ibu seharusnya membeli buku ini. Lihat Aang saja senang sekali membacanya, “ujar Pak Gino kepada istrinya yang bekerja sebagai guru Biologi di SMPN 26 Bandar Lampung. Keluarga hebat ini mendidik anak merdeka bermain dan belajar bersama teman-teman sebaya di sekeliling mereka. “Sampai kelas 1 SMA, Ichan masih suka mengajak anak-anak tetangga bermain di halaman rumah. Kami sengaja tidak memasang pagar agar tersedia ruang bermain yang aman buat anak-anak, “ujar Bu Ani dibalik ayah dan anak yang sedang asyik membaca.  Saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan kegembiraan Aang dan keluarganya membaca ELSI.

20161114_192458