Menjadikan Rumah Sekolah Kehidupan Bagi Anak Kita

“APAPUN SEKOLAHNYA, YANG PENTING ORANG TUANYA!”

Sebagus apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menjadikan anak kita sholih dan sholihah, anak yang berakhlak mulia.

KELUARGA ADALAH SEKOLAH KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA.

Ayah bunda adalah guru pertama dan utama ananda.
Adalah sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan anak-anak kita “cerdas berakhlak mulia” sedangkan ayah bunda :

● sering bertengkar
● sering marah-marah
● sering berkata kasar
● sering membiarkan

Ayah bunda adalah PANUTAN ananda. Tidak sedikit anak-anak yang ingin menjadi seperti orangtuanya.
Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah role model, sedang bagi anak perempuan Ayah adalah “first love” mereka.

Bunda… Terlebih seorang Bunda, baik anak laki-laki dan perempuan banyak yang menjadikan sosok bundanya sebagai “malaikat pelindung”.

Bukan rahasia lagi, para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur… maka mereka pertama akan menyalahkan diri mereka sendiri, bahkan menghukum diri mereka sendiri…

Kenapa anak-anak saya bisa seperti ini?

Apakah saya telah berbuat dosa?

Apakah ada makanan haram yang saya berikan untuk anak-anak saya?

Ayah
Bunda
Mari bersatu dan rebut kembali hak prerogratif sebagai GURU KEHIDUPAN. Guru yang akan terus mendapatkan doa dari anak shalih dan shalihah titipan Ilahi. Guru yang tidak hanya mengantarkan anak-anak menjadi sarjana, tapi lebih jauh mengantarkan mereka masuk ke gerbang Surga.

Kisah Teladan 01: Menyelamatkan

Dituturkan kembali dari kisah teladan yang beredar di wag.

Seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh memasuki sebuah toko untuk membeli selimut. Ia membutuhkan 5 buah selimut untuk keluarganya di musim hujan & dengan cuaca dingin. Tapi uang yang ia miliki hanya 100 ribu.

Lelaki tua tersebut sudah berkeliling di pasar tapi tidak ada penjual toko yang menjual harga 100 ribu untuk 5 selimut. Dengan langkah gontai, ia memasuki toko terakhir yang lebih megah di pasar tersebut.
“Saya membutuhkan 5 selimut… tapi saya hanya punya uang 100 ribu .. apakah bapak menjualnya ?” Tanya lelaki tua dengan suara ragu.

Pemilik toko berkata :
“Oh ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki, harganya juga murah, hanya 25 ribu per buah. Kalau bapak beli 4 buah akan mendapat bonus 1 buah.”

Lega…
Terpancar di wajah lelaki tua itu.
Segera ia mengulurkan lembaran uang 100 ribu miliknya.
Dengan wajah berseri sambil membawa selimut ia berlalu pergi.

Anak si pedagang yang sedari tadi duduk memperhatikan ini berkata :
“Ayah …. Koq bisa ?? bukankah kemarin Ayah mengatakan selimut itu jenis selimut termahal di toko ini, kalau tidak salah kemarin Ayah mengatakannya seharga 250 ribu per helainya..!?”

Si Ayah dari anak itu tersenyum dan menjawab :
“Benar sekali, kemarin kita menjualnya 250 ribu kepada pembeli yang lain tidak kurang sedikit pun. Kemarin kita berdagang dengan manusia. Hari ini kita berdagang dengan Tuhan.
Ayah ingin keluarga Bapak tua tadi dapat terhindar dari dingin di musim dingin ini
Ayah berharap Tuhan _menyelamatkan_ keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti.
Sesungguhnya.. kalaulah tidak karena menjaga harga diri lelaki tua tadi, Ayah tidak ingin menerima darinya uang sedikit pun. Namun, ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah sehingga merasa malu di hadapan kita disini.”

Si Anak tersenyum mengambil hikmah atas pelajaran berharga yang diperoleh hari ini dari Ayahandanya.

Sesampainya di rumah, Sang lelaki tua disambut istrinya dengan gembira, kemudian membuka bungkusan selimut. “Darimana ayah dapat uang beli selimut mahal ini ?”
“Dari uang yg ibu kasih tadi” jawabnya sambil merebahkan diri di lantai, kelelahan.
“Tidak mungkin dg 100rb, dapatkan selimut ini, jangankan 5, satu buah aja gak dapat.”
Percakapan ini didengar anak perempuab mereja. Ia menghampiri ayahnya dab memeriksa selimut tsb.
“Ini harganya 250rb, ayaahh”
Si ayah bangkit melihat label harga yg dilihatkan anaknya.
“Sepertinya si pemilik toko salah, tadi dia bilang harganya 25rb, karena ayah beli 4, dapat bonus 1”.
Cerita sang ayah.

Semua terpaku diam…

“Besok ayah hantarkan lagi ke toko itu, jangan dipakai dulu ya” sang ibu memecah kesunyian.
“Ayah kelihatan capek, aku saja yang antar sekarang. Di toko mana ayah beli selimut ini ?” Sahut anaknya.

“Kenapa harus sekarang nak? Tadi ibu lihat kamu lagi menjahit pesanan bu Kino untuk besok” tanya ibunya

“Ibu, kasihan si pedagang itu bu, kalau nanti dia jual lagi ke orang lain dg harga segitu, soal jahitan itu, bisa saya selesaikan nanti malam, ” jawab si anak.

Sang ayah tersenyum bahagia dan bangga, kemudian menjelaskan toko tempat Ia membeli selimut.

Sang anak mengayuh sepedanya menuju pasar.

“Silahkan masuk, Nona” sapa ramah pemuda penjaga toko saat melihat gadis muda celingak-celinguk di depan tokonya.
“Maaf, Bang, tadi adakah Abang menjual selimut ini kepada seorang lelaki tua? Saya anaknya mau mengembalikan selimut ini” tanyanya.
Dari bungkusannya si pemuda sudah tahu bahwa itu memang selimut yg dijual ayahnya tadi.
“Maaf nona, apakah ada barang yg rusak? Saya akan ganti dg yg lain”, sahutnya.
“Oh, tidak, saya mau mengembalikan selimut in bukan karena rusak, tapi Abang salah lihat harga, di label ini 250rb, bukan 25rb.” Jawab si Nona sambi menunjukkan label harga.

Si pemuda berpikir sejenak, sambil pura-pura memeriksa selimut tsb.

“Terimakasih.. nona telah _menyelamatkan_ saya dari kerugian besar, coba bayangkan jika semua itu (sambil menunjuk tumpukan selimut) saya jual 25rb, berapa besar kerugian saya? Saya hadiahkan selimut ini untuk ayah nona.”

“Benar yg dikatakan anak saya, harap diterima kembali uang ini.” Sang ayah yg dari tadi hanya menonton, menimpali sambil menyodorkan uang 100rb ke anak tsb.

“Eee”

“Jangan menolak, Nona, ini sekedar ucapan terimakasih saja, Nona telah _menyelamatkan_ kami jauh lebih besar dari ini, bawalah selimut tsb pulang, dan tolong kembalikan uang ini kepada ayahmu.”

Saudaraku…
sungguh untuk berjual beli yang benar dengan Allah, membutuhkan seni dan akhlak yang mulia dan penuh martabat ya

Peta Jalan Perubahan Menuju Keluarga IDAMAN

Wah deg-degan juga berbicara di depan para pakar pendidikan dan 500 peserta Seminar Pemetaan Guru PAUD dan SD di Universitas Malang. Saya tidak menyangka peserta yang masih muda-muda ini begitu antusias mengikuti acara. Pak Kentar orang dibalik kehadiran saya dan Dr. Umi berhasil membangun opini publik yang baik sehingga acara yang disiapkan dalam waktu seminggu ini berhasil menggoyang GOR UM.
“Semula kami memesan ruang yang lebih kecil, Bu. Tapi peserta yang mendaftar terus bertambah, “ketua panitia menjelaskan sebelum acara dibuka.

image

Agenda Acaranya Menarik

Motivator yang juga dosen kebanggaan UM ini menjadi faktor kunci antusiasme peserta. Ia hadir menepati jadwal yang tertera dalam agenda. Kepiawaian Dr. Umi menghidupkan seminar yang diikuti 500 peserta tersebut. Saya sempat tak yakin dapat mengimbanginya pada sesi berikutnya. Syukur alhamdulillah, panitia menyajikan tarian energik dari 3 mahasiswi UM. Jeda waktu lebih dari cukup untuk menyesuaikan penyajian bahan presentasi yang disiapkan dini hari tadi.

image

Pertanyaan definisi anak menjadi pembuka yang mengundang partisipasi peserta. Bu Yeti guru SD yang menjawab benar menjadi titik masuk ke materi presentasi yang sudah disiapkan. Slide pertama tentang jumlah anak menurut sensus 2010 saya jadikan pembuka diskusi, “Ada yang bisa melihat keganjilan data ini?” Tanya saya kepada beberapa peserta. Saya hampiri mereka satu per satu. Belum.ada yang lihat. Saya goda mereka dengan pengetahuan baru yang sebelumnya diperoleh, bahwa anak sampai usia 18 tahun. Ya. Pengelompokan usia 15-19 tahun.menjadi tantangan tersendiri. Kita perlu memetakan kembali jumlah anak yang sebenarnya.

Ancaman dan Kerentanan

Pengarusutamaan PRB menjadi penanda penting dalam.setiap presentasi saya. Penemuan tentang ancaman bersama peserta menggiring pemahaman yang sama mengenai kerentanan atau setidaknya prevalensi kekerasan terhadap anak laki-laki dan perempuan. Beberapa informasi terkait kejahatan seksual anak yang disampaikan pada sesi sebelumnya menjadi penghubung yang menarik. Penuh harap suasana belajar yang menyenangkan bersama motivator menambah keberterimaan peserta terhadap sajian saya.
image

Beberapa pertanyaan yang sempat saya catat disini menunjukkan hal tersebut.

1. Guru dari Kab Pasuruan? PNS TK, anak2 di TK sangat dekat dg orangtua komunikasi hubungan dekat, biaya perlu bekerja, jarang orangtua memberikan 20 menit, problem, pembiasaan perkembangan lari ke guru TK. Orangtua memberikan beban kepada pengasuh di TK. Sebagai ortu dg jam tatap muka dengan anak lebih lama, tanggung jawab 80% di orang tua dan guru membantu, kondisi spt ini, bagaimana caranya agar oramg tua mempunyai kesadaran dan tanggung jawab

2. Dini; orangtua kurang memberikan perhatian,  pendidikan yg otoriter, di rumah tidak dapatkan kasih sayang. Bagaimana membangun kesadaran orang tua tersebut.

3. Nadila penyelesaian problematika wanita karir untuk keluarga idaman. Apakah 20 menit itu cukup?

4. S1 PGSD 2015: banyak organisasi yg perjuangkan, apa  bentuk kontribusi langsung sehingga menjadi solusi dalam perlindunga  anak

5. Danisa prodi SD, pendidikan ramah anak di sekolah sulit dilakukan karena materi yang harus diajarkan cukup banyak di rumah ayah ibu bekerja dengan latar belakang pendidikan rendah

6. Simphoni TK-PAUD-SD dan pencegahan serta penanganan pemderita gagal ginjal usia anak akibat jajanan tidak sehat.

7. Bagaimana cara menghadapi anak tantrum.

Membangkitkan Kesadaran Hukum Warga Negara

Kenyataan bahwa tak ada satu pun peserta yang mengetahui UU Perlindungan Anak dan perubahan amandemen membuat saya terhenyak. Alih-alih menyiapkan pelatihan SRA bagi guru, nampaknya perlu diiringi dengan memastikan SKS khusus di iKIP atau Universitas eks IKIP.

Alhamdulillah dalam perjalanan, Bang Alpha, Sekjen Gerakan Indonesia Pintar mengundang saya masuk kedalam grup Sekolah Ramah Anak. Informasi ini segera saya bagi untuk memperkuat rencana kampanye dan advokasi Sekolah ramah Anak.
image