Nyanyian Sunyi Hari Pertama di Sekolah Ananda

Putri sibuk menyiapkan perlengkapan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Uang yang dikumpulkannya pada hari Idul Fitri sudah habis dibelikan buku dan alat tulis. “Bu, kayaknya Adek harus beli sepatu dan tas baru, “ujar Putri kepada saya sambil menunjukkan sepatu yang sudah berlubang dan tas belel yang sudah sulit ditutup. “Uangnya dari Bapak Dek!”kata  Bapaknya anak-anak sambil menyerahkan uang Rp300.000 dan ATM. Alhamdulillah. Rizki anak shalih. Putri berhasil masuk ke SMAN pilihannya melalui jalur nonakademik atas prestasi yang diraihnya di tingkat Nasional.

Masuk SMA Pilihan Hati

Memberi kesempatan kepada anak kita untuk memilih sekolah adalah bagian penting dalam memenuhi partisipasi anak untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Continue reading “Nyanyian Sunyi Hari Pertama di Sekolah Ananda”

Advertisements

Planet Merkurius dan Pendaratan Manusia di Bulan

(Ugie, Bandung, 28 juni 2017)

Pagi tadi sekitar pukul 7, tumben-tumbenan hawa dingin tidak terasa menyengat seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari mulai nampak menyembul dari balik awan tipis. Rasa hangat pun mulai berasa di kulit yang selama beberapa hari lebaran ini seperti layu karena kurang vitamin E.

Continue reading “Planet Merkurius dan Pendaratan Manusia di Bulan”

Atas Izin Allah Swt

Bu Yanti: “Bu Nia doakeun abdi sakulawargi nya… supados tiasa sabar mayunan abah”

Bu Nia: “Amin YRA…
InsyaAllah bu, urang saling mendoakan. Ngke abdi nyungkeun mamih ngadoakeun oge nya bu.
Ari emut mah, ka bu Yanti emut wae….saur na teh, bageur pisan…. 👍🙏😍

Saya tak kuasa menahan air mata haru saat mengutip obrolan kedua perempuan pegiat gerakan keluarga peduli pendidikan tersebut. “Rasa sesal ini selalu memuncak setiap kali menuliskan nama almarhumah dalam aplikasi perbankan. Sampai sekarang masih mencari kue coklat batang yang dipesan Mamah saat masih hidup. Hanya doa yang bisa dipanjatkan dalam kesunyian mengenang segala kebaikan almarhumah mamah yang mendidik kami dengan keras, “ujar Bu Yanti pada saat kami bertemu. Sudah 8 tahun ia memutuskan kembali pindah ke Bandung dekat rumah Abahnya yang makin sering terkena pikun. “Saya hanya bisa menyediakan tempat Abah berkunjung dan mengambil makanan yang tersedia tanpa harus meminta. Beberapa kali mencoba “mendekat” namun masih kesulitan. Kebaikan adik bungsu saya dan istrinyalah yang membuat Abah leluasa mengatur ritme hidup tanpa dibebani kewajiban-kewajiban kepada pihak lain. Anak-anaknya tinggal mengasah kesabaran menghadapi Abah yang penuh intrik, “jawab Bu Yanti saat ditanya tentang hubungan dengan ayah kandungnya sepeninggal ibunda tercinta.

Jawaban bu Nia menjadi testimoni penting tentang perilaku Bu Yanti sehari-hari. Setahu saya, pertemuan bu Yanti dengan mamihnya bu Nia masih berbilang jari. Perempuan yang mendedikasikan diri dan keluarganya untuk tumbuh bersama Keluarga Peduli Pendidikan sejak didirikan 1999 ini, bahkan hanya menyempatkan menengok sekali selama 4 tahun Bu Nia merawat mamihnya. Pergolakan batinnya yang luar biasa dan perjalanan hidupnya memberikan sebersit harapan bahwa anak yang dibesarkan dengan caci maki, pukulan, cemoohan, dan perlakuan salah lainnya bisa tumbuh menjadi manusia dewasa yang penuh kasih sayang kepada keluarga, sesama, dan semesta. Keyakinannya bahwa Allah sebaik-baik pendidik yang membimbingnya sampai saat ini, menyadarkan saya, bahwa semuanya serba mungkin jika Allah menghendaki.

Insya Allah

Atas izin Allah