Mendorong SRA di Desa Nanggerang Menuju Desa Layak Anak

“Alhamdulillah, persahabatan kami dengan Desi yang bekerja di Yayasan GNI setelah lulus dari STKS berlanjut pada upaya untuk mendorong SRA menuju Desa Layak Anak, “ujar Yanti Sriyulianti, Ketua KerLiP, di sela-sela kesibukannya memfasilitasi workhop yang diselenggarakan GNI di aula resto Rairaka pada 26-27 Juli 2018. Bapak/Ibu kepala sekolah dan madrasah terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Pembelajaran bermakna yang dikemas dalam suasana belajar yang dialogis membuat peserta aktif menunjukkan praktik-praktik baik dan beragam isu terkait.

Merintis POTLUCK

Perempuan yang akrab disapa dengan panggilan YantiKerLiP ini mengenalkan istilah quick win dalam penyusunan rencana tindak lanjut. Aksi seratus hari mulai dari sekarang disusun dalam format khusus yang sudah tersedia. Isu-isu yang mengemuka selama workshop berlangsung mengisi kolom masalah. Praktik baik yang diungkapkan oleh Unang, Sekretaris Desa Nanggerang menjadi modal utama. Apalagi Sekdes juga menawarkan kesempatan pertemuan para peserta workshop dengan perangkat desa dalam waktu dekat.

Para peserta sepakat untuk memeriahkan kampanye global belajar di luar kelas 1 November 2018 dalam upaya peecepatan SRA. Target 100% satuan pendidikan di Desa Nanggerang sudah MAU menuju SRA bukan hal yang muluk-muluk. para kepala sekolah juga menunjukkan komitmennya untuk memastikan setiap kelaa membentuk Potluck Paguyuban Orang Tua Lahirkan Anak Cerdas dan Berkarakter. Keprihatinan mereka mengenai kebiasaan anak jajan sembarangan akan menjadi agenda prioritas. potluck juga akan mendorong ayah bunda membantu Ananda mengerjakan tugas menemukenali teman sebaya mereka yang tidak sekolah.

Semoga komitmen Desa Nanggerang menuju Desa Layak Anak benar-benar dirasakan manfaatnya oleh semua anak disana ya.

Advertisements

SEKOLAH RAMAH ANAK, MENGELIMINIR KELEMAHAN SISTEM ZONASI DALAM PPDB

Suasana MPLS di SMA Advent Klabat Manado

Pemerintah telah menerapkan sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah. Banyak positifnya sistem zonasi, namun kalau tidak dikelola dengan baik sistem zonasi justru akan menurunkan kualitas pendidikan. Tulisan ini bertujuan bukan untuk menentang sistem zonasi, namun bagaimana membatasi, bahkan kalau bisa menghilangkan sama sekali kelemahan dan dampak negatif dari sistem zonasi.
Sistem zonasi adalah sistem penerimaan peserta didik baru yang mengacu pada domisili peserta didik sebagai kriteria utama, sehingga meski nilai ujian/ijazah lebih tinggi namun bila tempat tinggalnya lebih jauh, maka yang diterima adalah peserta didik yang lokasi rumahnya lebih dekat. Dalam penerapannya ada yang murni mengacu pada domisili saja seperti contoh di atas, namun adapula yang tidak hanya mengacu pada domisili semata namun memberi bobot tertentu antara domisili, nilai ujian negara, nilai ijazah dan raport pada mata pelajaran tertentu.
Salah satu kelebihan sistem zonasi adalah setiap anak mendapatkan haknya untuk mendapat layanan pendidikan sesuai dengan lokasi tempat tinggalnya. Pendidikan adalah hak anak, bukan diberikan oleh negara, karena itu sewajarnyalah bila anak mendapatkan layanan pendidikan di dekat domisilinya.

Kelebihan yang lain adalah berkurangnya biaya yang ditanggung oleh orangtua dalam transportasi. Selain menghemat biaya transportasi, juga menghemat biaya berupa tenaga, waktu dan stamina. Dengan sekolah berada dekat rumahnya maka jangka waktu anak ke dan dari sekolah dipersingkat sehingga tiba di sekolah dalam kondisi masih segar bugar, dan yang lebih penting dalam kepentingan umum adalah bisa mengurangi kesibukan lalu lintas pada saat jam berangkat dan pulang sekolah.
Kelebihan lain (yang dalam pandangan saya juga memiliki potensi kelemahan) adalah membiasakan anak dan guru hidup dalam keberagaman. Dengan hidup dalam keberagaman di lingkungan keseharian sekolah, diharapkan akan memperkuat ikatan antar siswa dan siswa, antar siswa dan guru yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Yang kaya akan memahami bagaimana sulitnya hidup kaum yang tidak beruntung, anaknya pejabat dan selebriti akan terbiasa dengan anak dari keluarga biasa, demikian pula sebaliknya sehingga sekat sosial antara status sosial ekonomi bisa dihilangkan, minimal bisa dikurangi.
Namun kalau tidak dikelola dengan baik, keberagaman itu akan menimbulkan kelompok-kelompok sosial tertentu dalam sekolah. Adalah manusia dari sononya memiliki sifat homofilius, selalu mencari kesamaan dan menghindari perbedaan dalam kehidupan sosialnya. Kalau tanpa dirancang, dalam kehidupan keseharian sekolah akan muncul kelompok-kelompok berdasarkan kesamaan ini, yang pintar berkumpul dengan yang pintar, yang kaya kumpul dengan yang kaya dan akibatnya malah keberagaman menimbulkan suasana yang tidak nyaman, khususnya bagi kelompok siswa yang kurang beruntung. Harus ada intervensi sekolah dalam merancang kehidupan kebersamaan. Antara lain mengadakan acara anjangsana-anjangsini antar anak sekelas, bahkan kalau bisa membiarkan anak saling menginap di keluarga yang berbeda status sosial ekonominya pada akhir pekan dan sebagainya. Membentuk pasukan penyambut kedatangan siswa di pagi maupun saat pulang yang terdiri dari siswa senior/kelas atas untuk menyambut adik-adiknya di pintu gerbang sekolah dengan ditemani gurunya akan menghilangkan perundungan (bullying) siswa senior terhadap adik-adiknya.

Kelebihan lain dalam sistem zonasi, meski saya juga memandangnya potensial bisa sekaligus menjadi kelemahan sistem zonasi adalah semua siswa bisa masuk ke sekolah favorit di dekat rumahnya. Sekolah-sekolah favorit yang selama ini hanya menerima siswa yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi dipaksa untuk menerima semua siswa yang beragam, asal siswa tersebut domisilinya memenuhi syarat. Akan terjadi gejolak tidak hanya di kalangan siswa, tetapi juga di kalangan guru. Sekolah favorit yang selama ini seperti pabrik roti unggulan, memiliki tukang pembuat roti bersertifikat, alat-alatnya full modern, dan bahan-bahannya terjamin kualitasnya, tentu saja akan menghasilkan roti yang kualitas prima. Sekarang pabrik roti ini dengan segala kemodernan dan kecanggihannya dipaksa menerima tepung seadanya, tepung jagung, tepung sagu, bahkan tepung ketela pohon, mentega tanpa merk, dan bahan-bahan seadanya yang lain. Bisa dibayangkan betapa dampaknya sekolah favorit menerima anak dengan kualitas seadanya ini.
Pertama yang akan mengalami kesulitan adalah gurunya, yang biasanya memimpin pembelajaran anak-anak super dengan dukungan keluarga anak yang mumpuni, sehingga pembelajaran dengan metode apapun pasti bisa berjalan dengan baik. Kini guru harus menghadapi murid yang beragam kemampuannya. Bagi guru yang kerjanya hanya sebatas menjalankan kewajibannya mungkin tidak begitu mengganggu. Pokoknya sudah saya ajarkan, kalau nggak ngerti itu kesalahan pengambil kebijakan yang menentukan sistem zonasi. Namun bagi guru yang mendidik dengan hati, akan merana.

Dalam hal ini guru harus mampu merancang pembelajaran yang efektif dengan kondisi siswa yang beragam kemampuannya. Pertanyaan yang mudah dijawab adalah ketika murid-murid yang beragam itu belajar dalam kelompok, maka kelompok yang heterogen atau yang homogen yang lebih baik. Sebagian besar guru saya kira akan menjawab kelompok heterogen akan lebih baik, karena ada peer learning, yang cepat membantu yang lambat.

Pengalaman saya, tidak selalu kelompok yang heterogen lebih baik daripada kelompok yang homogen; dan sebaliknya pula. Dalam hal ini acuannya tidak hanya akdemik namun juga perkembangan jiwa sosial-emosional siswa. Dalam hal ini, pada beberapa mata pelajaran yang memiliki tata urutan yang ketat, artinya siswa tidak akan bisa menyerap pokok bahasan/tema kedua sebelum menguasai dengan tuntas pokok bahasan/tema pertama; seperti matematika dan IPA, sebaiknya anak dikelompokkan secara homogen, sementara untuk kelompok sosial dan rekreatif, lebih baik anak dikelompokkan secara heterogen. Sehingga pengelompokan siswa tidak bersifat permanen, melainkan temporal.

Selanjutnya pembelajaran harus acuan utamanya adalah timeless learning, pada mastery learning, bukan pada target waktu. Anak memiliki kecepatan dan kemampuan belajar yang berbeda-beda. Beri kesempatan pada anak yang memiliki kecepatan belajar yang cepat dan bimbing dengan penuh kesabaran anak-anak yang lebih lambat. Dengan menerapkan pembelajaran maju berkelanjutan (continuing progressive learning) maka anak akan menikmati pembelajaran yang diikutinya. Sistem ini sebenarnya telah teruji sangat efektif di kalangan pondok pesantren dengan sistem belajar sorogan atau setoran, mengapa tidak kita adopsi? Pengalaman mengelola Sekolah Garasi dengan sistem maju berkelanjutan yang timeless oriented ini anak-anak MI bisa menamatkan pembelajaran secara berbeda, beberapa anak ada yang cukup belajar 4 tahun, banyak anak yang bisa menamatkan 5 tahun dan 6 tahun, serta beberapa anak lagi memerlukan waktu lebih dari 6 tahun.

Prinsip pembelajaran yang lain yang perlu diterapkan adalah prinsip asahlah pisau pada sisi tajamnya, jangan pada sisi tumpulnya, apalagi pada gagangnya. Masing-masing anak memiliki kelebihan sekaligus kelemahan masing-masing, dalam bahasa ilmiahnya multiple intelligencies. Anak yang kurang bisa matematik tidak usah dipaksa harus KKM 70, tapi cari kehebatannya di bidang apa dan pupuk serta bimbinglah kehebatannya. Pengalaman saya di sekolah garasi, memiliki seorang anak yang mengalami disleksia, disgraphia dan diskalkula sekaligus, ketika dipaksa melengkapi kekurangan KKM dalam bidang bahasa, IPA dan matematika lewat remedial, menunjukkan gejala stress dan malas, namun anak ini memiliki potensi melukis yang hebat, dan mampu menjadi juara II Porseni MI tingkat kabupaten ketika dibina potensi seni lukisnya, belajar sampai jam 21 malam malah nggak mau pulang. Karena itu jangan dicari kelemahan siswa, namun harus dicari kelebihan masing-masing siswa. Konsekuensinya tentu saja pembelajarannya menjadi beragam, namun itu konsekuensi logis dari penerimaan siswa yang beragam.
Prinsip pembelajaran selanjutnya, rancanglah kelebihan dan kelemahan masing-masing siswa itu menjadi kerjasama antar roda bergigi, dimana tonjolan gerigi pada satu roda mengisi cekungan roda lainnya sehingga bisa saling memperkuat. Kembangkanlah jiwa empathi dan rasa ikhlas berbagi kelebihan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam segi materi dan mata pelajaran namun dalam semua sisi kehidupan keseharian.

Kembangkanlah jiwa kebersamaan, togetherness yang mendalam sehingga bener-bener tercipta
WE ARE THE ONE,
yang ada hanyalah KITA,
tidak ada AKU,
tidak ada KAU,
tidak ada KAMI,
tidak ada MEREKA,
yang ada hanya KITA YANG SATU
Dan ini hanya bisa dicapai dalam Sekolah Ramah Anak, dimana Guru ramah terhadap anak dan Guru juga diramahi oleh sekolah.
Insyaallah tulisan Bagaimana Mengelola Sekolah Ramah Anak menyusul kemudian
Turen, 7 Juli 2017
Direktur*) Sekolah Garasi

Kentar Budhojo
*) Direken Batur

Sebanyak 8.919 Satuan Pendidikan di 195 Kabupaten/Kota sudah MAU Menuju Sekolah Ramah Anak

Ananda dan Ayah Bunda tercinta

Saat ini, mencari sekolah yang tepat bagi Ananda jauh lebih mudah. Apalagi sebanyak 8.919 satuan pendidikan di 195 Kabupaten/Kota dari 31 provinsi di seluruh Indonesia sudah menyatakan MAU menuju Sekolah Ramah Anak. Semuanya siap menjadi mitra keluarga untuk mendidik anak-anak tumbuh kembang mandiri dan terlindungi.

Ternyata perlu gotong royong untuk mendorong warga sekolah/madrasah agar MAU menunjukkan komitmen tertulis di halaman depan. Apresiasi setinggi-tingginya bagi seluruh fasilitator nasional SRA yang dikukuhkan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Semangat kekeluargaan dan kegigihan Fasnas SRA memfasilitasi di wilayah kerja masing-masing meningkatkan jumlah SRA secara eksponensial sejak Pemerintah menerbitkan Peraturan Menegpppa No. 8 Tahun 2014 tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak .

 

Merayakan Belajar di Luar Kelas

Ratusan ribu  anak Indonesia mulai bergabung dalam #OutdoorClassroomDay ypada 7 September 2017 atas prakarsa Deputi Tumbuh Kembang Anak Kempppa, Lenny Rosalin. Sahabat-sahabat KerLiP yang menerima amanah dari Kempppa menggerakkan kampanye tersebut di Indonesia  dalam kerangka Percepatan  Sekolah Ramah Anak. Lebih dari 3 ribu satuan pendidikan yang merayakan belajar di luar kelas bersama jutaan anak dunia dan mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak pada kegiatan akhir kampanye tersebut. Aksi-aksi baik dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak menjadi rangkaian perayaan tersebut. Permainan tradisional bahkan membuat semua gembira menuju Sekolah Ramah Anak. Tidaklah mengherankan jika sampai saat ini lebih dari 500 satuan pendidikan yang MAU menuju SRA di Kabupaten Deli Serdang dan ribuan satuan pendidika di 30 provinsi lainnya tetap konsisten mengabadikan praktik-praktik baik mereka dengan berbagi termasuk melalui whatsappgroup.

Dukungan penuh para pemangku kebijakan terutama dalam bentuk komentar-komentar yang mengapresiasi setiap aksi-aksi baik yang dibagikan Kepala Sekolah/Madrasah menjadi sumber daya pendukung perluasan gerakan Sekolah Ramah Anak tersebut.  Ketua Sekber SRA, Elvi Hendrani menyatakan bahwa sebanyak 191 sekolah/madrasah yang memiliki SK SRA 2017 dan mengirimkan hasil pengisian kuisioner dampak SRA  siap untuk mengikuti seleksi penganugerahan SRA pada HAN 2018.

Salam SRA!

Anak senang

Guru tenang

Orangtua bahagia