Fasilitator SRA Nasional Siap Bertemu di Bandung

Percepatan gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA) menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Dukungan tertulis dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, sampai ke satuan pendidikan diterima oleh Elvi Hendrani, Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kempppa untuk melengkapi persayaratan lulus dalam Diklat PIM II. Tentunya hal ini tidak terlepas dari upaya para fasilitator SRA Nasional di daerah

Provokator  MeSRA di Indonesia Timur

Tety Sulastri, DPP FGII mempertemukan Bagus Dibyo Sumantri dengan YantiKerLiP, Zamzam, dan para pegiat SRA di Jakarta beberapa saat setelah Elvi Hendrani memimpin gerakan SRA ini sebagai Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kempppa. Indonesia Timur menjadi prioritas pembangunan nasional pada Pemerintahan Jokowi-JK, termasuk  SRA sebagai salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak. Posisi Bagus sebagai ketua IGI Maros dan semangatnya mempercepat gerakan SRA di Indonesia Timur berjalin kelindan dengan prioritas pembangunan KLA di Indonesia Timur. Kepiawaian Koordinator KerLiP Indonesia Timur ini menghubungkan antarpihak serta penguatan penerapan SRA yang dilaksanakannya sebagai Kepala SMK Widya Nusantara menjadikan Bagus sebagai provokator gerakan SRA di Indonesia Timur.

Gerakan SRA di Maros terus meluas dan mendapat pengakuan pemerintah kabupaten Maros. Forum SRA Maros yang dibentuk Bagus bersama para kepala sekolah dan madrasah di Maros terus melaksanakan kampanye dan advokasi SRA. Bagus menjadi salah satu fasilitator SRA Nasional yang mendapat kepercayaan untuk memfasilitasi sosialisasi dan pelatihan SRA Indonesia Timur, antara lain di NTB,  NTT, Jayawijaya, Wamena, Sorong, Pangkep, Makassar, Bulukumba. Ia juga menggiatkan gerakan keluarga peduli pendidikan untuk mendukung percepatan gerakan SRA di Pangkalan Bun dan Sulawesi Selatan. SMK Widya Nusantara yang dipimpin Bagus pun menjadi sekolah ramah anak terbaik nasional pada peringatan Hari Anak Nasional di Pekanbaru 2017. Prestasi anak-anak didiknya dalam Ujian Nasional melesat, menempati ranking ke-2 di Sulawesi Selatan. Penerapan disiplin positif di sekolah yang bergaya pendidikan militer ini menempatkan Bagus pada posisi yang khas di antara para fasilitator SRA Nasional. Bagus terus memperluas gerakan SRA di Sulawesi Selatan  dan mengawal penerapannya di wilayah lain di Indonesia Timur melalui whatsappgroup.

bagus

Doktor Sowiyah Menggiatkan SRA di Lampung

Doktor yang satu ini memang luar biasa. Tiada hari tanpa SRA. Mulai dari sekolah dalam naungan yayasan yang dipimpinnya,  Metro,  Bandar Lampung, Pringsewu dan Provinsi Lampung bersama Parto Azhari,  fasilitator SRA lainnya di Lampung. Tak mengherankan jika Deputi Tumbuh Kembang Anak meluncurkan kampanye belajar di luar kelas pada  7 September 2017 di SD Muhamadiyah Metri Lampung.

Dr. Sowiyah hadir mewakili pokja inklusi provinsi Lampung dalam kegiatan di Surakarta atas inisiatif Sri Renani saat menjabat sebagai Direktur PKLK Dikdasmen Kemdikbud RI. Ia bertemu dengan Elvi Hendrani,  YantiKerLiP, dan Tety Sulastri yang diundang hadir menyampaikan praktik-praktik baik Sekolah Ramah Anak, Aman,dan Inklusi (SeRAI) di Surakarta.  Semangatnya untuk mendukung percepatan gerakan SRA khususnya di Lampung patut diacungi jempol.

Kedua fasilitator SRA Nasional ini terlihat sangat menonjol. Mereka akan bertemu kembali bersama para fasilitator SRA yang aktif lainnya di Bandung pada 10-11 Desember 2017. Pada peretemuan tersebut, para fasilitator siap meneguhkan komitmen masing-masing untuk mendukung percepatan gerakan SRA di Indonesia melalui pelembagaan Sekber SRA di Kempppa dengan dukungan Kemdikbud, Kemenag, dan Kemdagri.

 

Advertisements

Menyiapkan Temu Mesra Keluarga Peduli Pendidikan di Ujung Berung Bandung

Mohon maaf Ibu…
Amandemen UUD 1945 khususnya pasal 28 memberi perlindungan bagi setiap warga negara untuk hidup dan menjaga kelangsungan hidup serta tumbuh kembangnya. Khusus untuk anak hanya ada 1 poin saja.

UU Guru dan Dosen pun terbit pada 2005 memberikan perlindungan profesi guru sebagai warga negara yang memiliki hak asasi. Tunjangan profesi diberikan berdasarkan UU tersebut dan nilainya setiap tahun 70 T. Belum termasuk gaji dan tunjangan fungsional yang diterima guru PNS. Saat ini bahkan berdasarkan UU terkait HAM, perbaikan kondisi kerja guru non PNS terus diperjuangkan.

Ujaran kebencian akan HAM ini sudah jadi viral. Saya khawatir Ibu termasuk yang belum menelusuri isinya langsung seperti Kabar Sumatera atau berita2 lainnya yang disebutkan di sana apalagi membandingkan dengan hal-hal baik yang diterima guru-guru setelah HAM diatur dalam UUD 1945 dan amandemennya.

Mari kita hentikan membenturkan perlindungan hak asasi warga negara dan bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Ajakan simpatik ini disampaikan YantiKerLiP saat mengomentari isu viral tentang HAM dari salah seorang kepala sekolah di wag SRA Jabar. Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) tetap konsisten mengawal pemenuhan hak atas pendidikan dan perlindungan  hak anak sebagai bagian penting dalam penegakan HAM di Indonesia. YantiKerLiP adalah perintis dan pengawal setia gerakan keluarga peduli pendidikan yang dikukuhkan di kota Bandung pada 25 Desember 1999. Menjelang ulang tahun ke-18, gerakan ini bersiap mendirikan Kopsya Sahabat KerLiP untuk memayungi Arisan Keluarga Peduli Pendidikan.

Keluarga Peduli Pendidikan

20171126_093938

Pemenuhan hak atas pendidikan bermutu dan bebas pungutan merupakan amanat UUD 1945 dan amandemennya. “Arisan Keluarga Peduli Pendidikan kami gelar untuk menyediakan pustaka sahabat anak di rumah sambil mendukung gerakan literasi sekolah dan MeSRA Bertuah. Namun dalam perkembangannya kami bermaksud memperkuat semangat gotong royong keluarga peduli pendidikan dengan membuka paket-paket arisan lainnya, seperti arisan toilet, sepeda, kue lebaran, bahkan arisan sekolah sambil membantu perbaikan kondisi kerja guru terutama guru honorer. Keluwesan Kopsya yang membuka peluang untuk mendirikan baitul maal menjadi alasan kedua mengapa kami membungkus gerakan keluarga peduli pendisikan dengan Kopsya Sahabat KerLiP, “ujar YantiKerLiP dalam pembukaan pertemuan persiapan Temu MeSRA Keluarga Peduli Pendidikan di SDN Ujung Berung Bandung. Ia menegaskan tentang komitmen KerLiP untuk mengajak seluruh keluarga di kota Bandung memperkuat kemitraan tri sentra pendidikan. Istilah arisan menurut YantiKerLiP digunakan untuk menghindari perdebatan pungutan dan sumbangan serta membuka sekat antara keluarga dan sekolah.

Kampanye dan advokasi pendidikan untuk semua yang digiatkan KerLiP sejak 2002 terus tumbuh bersama meningkatnya kesadaran bangsa indonesia tentang pentingnya pendidikan dalam pemenuhan hak asasi warga negara. Kekhasan gerakan yang dipimpin Ibu dari 3 anak  yang beranjak dewasa ini tak jarang menimbulkan kontroversi. “Salah seorang aktivis perempuan senior mitra KerLiP begitu yakin jika YantiKerLiP adalah PKS  karena bahasa yang digunakannya sehari-hari formal dan kaku. Ia bahkan dengan lantang menyatakan bahwa YantiKerLiP ingin melakukan semuanya. KerLiP tidak memiliki kompetensi untuk menangani korban perdagangan orang dan kekerasan terhadap anak. Perempuan tersebut menyarankan agar saya fokus di pendidikan pencegahan saja, “kata Ekasari, Ketua KerLiP Jabar,  di sela-sela pertemuan tersebut. “Kita tidak akan mampu melakukan apa yang Bu Yanti lakukan. Saya dengar dari ibu Tuti bahwa keluarganya mengerahkan semua sumber daya untuk mendukung gerakan keluarga peduli pendidikan, “ujar Nani, Kepala SDN Ciporeat kepada Endah Guru SDN ujung Berung. Keduanya menjadi panitia Temu MeSRA Keluarga Peduli Pendidikan yang akan dipimpin Ekasari sebagai ketua pelaksana.

Temu Mesra keluarga peduli pendidikan akan dilaksanakan pada Hari HAM, 10 Desember 2017 dengan menghadirkan para fasilitator SRA Nasional dan tokoh-tokoh penerima anugerah Kilau Nusantara. Kepala.SDN Ujung Berung mendukung rencana tersebut dan siap memeriahkannya dengan mengundang seluruh orangtua/wali serta menampilkan 8 ekstrakurikuler juara mereka. Sedangkan Kepala SDN Ciporeat siap menampilkan 2 ekstrakurikuler dan mengerahkan guru-guru terpilih sebagai among tamu. Pengurus komite sekolah di 2 gugus Ujung Berung akan diundang untuk mengikuti acara tersebut. Selain itu, Temu MeSRA keluarga peduli pendidikan juga menyiapkan penandatanganan MoU antara BPJS Ketenagakerjaan dengan Dirjen Dikdasmen Kemdikbud RI. Bapak Wali Kota Bandung akan diundang untuk membuka acara yang akan dihadiri 3.000 keluarga peduli pendidikan.

 

 

 

Kemdikbud Membuat Panduan Sekolah Darurat yang Lebih Komunikatif

.…”Teman-teman pegiat sekolah aman komprehensif membuat 3 modul untuk 3 pilar sekolah aman bencana. Namun modul yang bagus tersebut perlu kami sederhanakan lagi agar lebih user-friendly, tidak banyak istilah asing,  tidak terlalu banyak tulisan”…

20171124_203511.jpg

Kalimat tersebut disampaikan oleh Dr. Praptono, Kasubditprogrev Ditpklk Ditjendikdasmen Kemdikbud dalam pembukaan lokakarya penyusunan panduan PKLK di Surabaya pada 23-25 November 2017. Pak Praptono juga menunjukkan beberapa contoh panduan dan profil yang komunikatif.

“Saya menghapus semua latar belakang dan menggantinya dengan paragraf pendek langsung pada inti masalah. Kondisi sekolah pasca bencana akan disajikan dalam bentuk infografis atau ilustrasi atau foto yang menggambarkan peristiwa terkini. Deskripsi mengenai koordinasi dari pusat ke daerah juga dihilangkan dan digantikan dengan memasukkan matriks prosedur tetap penyelenggaraan sekolah darurat serta standar-standar minimum pemenuhan hak anak atas pendidikan saat darurat bencana, “ujar YantiKerLiP yang menjadi salah satu peserta lokakarya. Ia masuk ke dalam kelompok Sekolah Darurat bersama Doni dari PMI,  Deni ASB, Ani YSTC,  LPBI NU, LPMP Jabar yang difasilitasi Yusra Unicef,  Jamjam Seknas SPAB, dan staf PKLK.

Panduan yang Komunikatif

Komunikasi adalah….Komunikator adalah..Ejaan adalah….

Penyajian materi Bahasa Indonesia pada sesi pertama lokakarya membuat para peserta lokakarya termangu. Hampir semua peserta adalah para praktisi di bidang masing-masing. Mereka terlihat tidak begitu antusias menyimak  Ibu Dosen yang hadir terlambat tersebut. “Kesannya menggurui banget! tanpa menunjukkan contoh yang relevan lagi, “ujar salah seorang peserta.  Peserta lainnya langsung bertanya, “Kami diundang untuk menyusun panduan yang lebih komunikatif. Apakah Ibu dapat menunjukkan contoh panduan seperti yang diharapkan oleh Direktorat? Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Ibu paparkan akan kami rujuk dalam penyusunan panduan ini. Namun kami belum mendapatkan gambaran tentang cara menyusun panduan yang komunikatif dari ibu”.

“Saya diundang untuk menjelaskan penggunaan ejaan yang baik. Contoh panduan yang komunikatif tersedia melimpah di google, “jawaban pemateri kembali membuat peserta termangu. Sesi pertama setelah pembukaan pun ditutup.

Sesi berikutnya dilaksanakan dalam kelompok. Setiap anggota kelompok bersepakat untuk menyusun panduan yang komunikatif dengan tips berikut:

1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta mudah dipahami pembaca

2. Dilengkapi gambar, ilustrasi,  atau infografis yang relevan dan menarik

3. Buku panduan tidak terlalu tebal. Maksimal 150 halaman

4. Dilengkapi mekanisme dan langkah-langkah praktis untuk menerapkan panduan tersebut.