Mojok


Catatan Akhir Pekan, Jumat 15.03.19, malam Untuk Pelopor Kebaikan

Weekend ini rasanya nikmat untuk menepi sejenak dari sudut keramaian. Mojok.

Malam ini, ditemani secangkir kopi, aku baca-baca lagi novel Paulo Cuelho “The Winner Stands Alone” (Sang pemenang berdiri sendirian). Seperti ada bagian yang terlewat ketika membacanya 4-5 tahun lalu, novel yang merefleksikan karakter manusia kontemporer yang hidup sehari-hari di sekitar kita ini, rasanya jadi lebih asyik dibaca. Berbeda dengan AL-Chemist — novel Cuelho yang terjual paling banyak sekaligus karya masterpiece yang menegaskan dirinya sebagai sastrawan besar Brazil – yang mengisahkan tentang perjuangan hidup yang tak kenal menyerah dari Santiago sang penggembala ketika terobsesi untuk menemukan harta karun, The Winner Stands Alone berkisah tentang absurditas.

“Mengapa kita harus mendengarkan kata hati kita?” tanya Santago pada al-Chemist.
“Dimana hatimu berada, disitulah letak harta karun yang kamu cari” jawab al-Chemist, sang Pandu yang ditemuinya dalam pengembaraannya di Tangier dan padang gurun di Mesir.

Begitu lah dialog simbolik yang sangat sastrawi di novel al-Chemist, yang kemudian menuntun Santiago berkelana bersama sang al-Chemist.

Di Winners Stands Alone, Cuelho menampilkan sifat-sifat kenaifan, kedangkalan dan kekerdilan pikiran manusia dalam upaya menggapai hasrat dan keinginannya. Bercerita tentang beberapa karakter para pesohor dunia di Festival Film Cannes di Perancis, yang saling bersaing untuk mendapatkan tahta kemasyhuran, Cuelho menggambarkan betapa ego demi mendapatkan pembenaran dan mengalahkan orang lain, hanya melahirkan kenestapaan jiwa manusia. Ego ini lantas menciptakan jalannya sendiri untuk menang, dengan cara apapun dan biaya berapapun, at all cost. Konflik yang tercipta, baik tersembunyi maupun terang-terangan, adalah konsekuensi logis dari syahwat berkuasa.

Persekutuan, pengkianatan, kemunafikan, dan perpecahan antar tokoh yang punya kepentingan temporer yang sama begitu gampangnya terjadi. Ini yang digambarkan Cuelho sebagai nestapa manusia modern, yang kadang mengorbankan prinsip dan jatidirinya ketika berkepentingan mengejar ego dan bayangan semunya.

Membaca novel Cuelho ini seakan menjadi penegas peristwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Bak pasar retorika, semua orang berkata-kata. Alih-alih membaikkan keadaan, atau mencegah keburukan (bahaya) yang terjadi di masyarakat yang semestinya beradab ini, justru sebaliknya ego dan syahwat mengalahkan lah yang ter-ekspresikan, lewat kata-kata tanpa makna.

Thomas Carlyle, penulis satire dan sejarawan asal Scotlandia pada abad 18 sudah mengingatkan bahwa tugas kita bukanlah melihat sesuatu yang samar-samar di kejauhan, tapi mengerjakan yang sudah ada (pasti) di depan mata. Itu bisa berarti, kita tidak boleh lengah dengan bayang-bayang kegemilangan masa depan, karena masih ada masalah-masalah fundamental (mendasar) yang menjadi pekerjaan rumah yang besar. Pekerjaan yang berkaitan dengan menemu-kenali jatidiri kita sebagai manusia. Pekerjaan untuk menemukan pondasi kemanusiaan yang kokoh.

Interaksi sosial memang bukan barang ideal yang maujud dari ruang hampa. Ia merupakan resultante dari berbagai kecenderungan dan pikiran, sehingga anomali sangat mungkin terjadi. Namun begitu, mencegah kemungkinan timbulnya anomali-anomali yang merusak (bahaya) mesti didahulan ketimbang hasrat untuk mendapatkan manfaat (benefit). Itu pula lah yang diajarkan dalam ushul fiqh.

Maka menjadi baik, dan terus berusaha menjadi manusia yang baik, orang baik adalah tanggungjawab individual kita. Ini bukan proyek politis, tapi proyek eksistensial. Tidak pernah rugi menjadi orang baik yang bisa mencegah kemungkinan terjadinya bahaya dan kerusakan di masyarakat kita. Baik disini bukan lah baik secara artifisial, juga bukan baik dalam jargon an sich, tapi baik dalam niat dan baik dalam berbagai bentuk tindakan (proses), sebagaimana Santiago sang penggembala yang berusaha menjaga hasrat untuk menemukan harta karun dengan terus bertanya dalam dalam sanubarinya, dalam hatinya, dalam dirinya sendiri.

  • # # # # –

Suatu hari, sesudah haji wada’ (perjalanan haji terakhir dari Rasulullah SAW), Nabi Muhammad memberi pesan/nasehat pada para sahabat : “Jika kalian hanya diam saja melihat orang zalim tanpa mau mencegahnya, maka tak akan lama nantinya Allah akan meratakan siksa-Nya kepada kalian semua”. (HR. Bukhari)

  • # # # # –

Jangan pernah lelah apalagi menyerah menjadi orang baik. Banyak orang akan mendekatimu karena punya kepentingan denganmu. Mereka akan datang dan pergi silih berganti sesuai kepentingannya. Ada yang menyusuri jalan panjang bersamamu, ada pula yang kandas di tengah jalan karena alam akan menyeleksi untukmu.

@ugie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s