Mien Muntoro Mengajak Para Pendidik Bogor Membangun Jati Diri Bangsa Sejak Usia Dini

Sosialisasi Sekolah Ramah Anak di SD Islam Nurul Fatimah agak berbeda dari biasanya. Pertama, pelaksanaan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ditandai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza dan Pengenalan Buku Membangun Jati Diri Bangsa sejak Usia Dini. Kedua, menempatkan fasilitator SRA Nasional, YantiKerLiP sebagai moderator yang berupaya menjalin isu-isu makro terkait Cinta Tanah Air, Bangsa, Budaya, dan Perbedaan Budaya dengan  praktik-praktik baik Sekolah Ramah Anak yang menjadi dasar Percepatan Gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA). Kedua hal ini diperkuat oleh Elvi Hendrani,  Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, Budaya Kempppa yang menyampaikan bahwa cinta tanah air, bangsa, budaya dn perbedaan budaya adalah salah satu tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU Perlindungan Anak.

“Saya mengenalkan rasa hormat saat mendidik anak-anak kelas 4 dengan penerapan kerja sama. Upaya ini terbukti mendorong anak-anak di sekolah kami saling menghormati perbedaan masing-masing. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah cara kita menangkal informasi yang tidak layak anak di media sosial, “ujar salah satu guru SD Islam Nurul Fatimah saat diminta menyampaikan praktik baik oleh moderator.

Ketua Yayasan Dian, Soemintarsi Muntoro yang memaparkan isi bukunya secara sekilas menegaskan tentang pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 sejak usia dini melalui cara-cara yang menyenangkan dan membiasakannya di keluarga. Informasi yang tidak layak anak yang bertebaran di media sosial dan melemahkan rasa kebangsaan menurut Mien Muntoro tidak bisa dibendung. Namun dengan keteladanan dari orang tua dan semua orang dewasa di keluarga tempat anak-anak tumbuh dan dibesarkan, kita bisa berharap bahwa anak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi perubahan zaman.

Praktik baik di Paud Ar-Ridho yang disampaikan Minah, salah satu pendidik yang hadir dalam sosialisasi tersebut meneguhkan pernyataan penulis buku, Membangun Jati Diri Bangsa Sejak Usia Dini, tersebut. “Para pendidik di PAUD Ar-Ridho selalu menyampaikan apresiasi terhafap perubahan sekecil apapun yang ditunjukkan anak-anak setiap hari. Kami yakin anak-anak akan meniru sikap apresiatif ini manakala ia tumbuh dewasa kelak. Pada kegiatan manasik haji, peserta didik yang memeluk agama selain Islam tidak diwajibkan mengikutinya. Hal ini membuat anak-anak paham cara sederhana untuk menghormati teman yang berbeda agama, “ujar Minah saat diminta berdiri menjelaskan praktik baiknya. Pemaparannya menginspirasi YantiKerLiP untuk mengajak para peserta sosialisasi yang dilaksanakan oleh Yayasan pendiri SD Islam Nurul Fatimah di Kabupaten Bogor melakukan penguatan pendidikan karakter kebangsaan. Literasi sejarah yang dipraktikkan secara sederhana mulai dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan 3 stanza adalah salah satu upaya untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak kepada tanah air dan bangsa Indonesia dengan tetap menghormati perbedaan budaya, bahasa, agama.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s