Pemanfaatan Media Sosial dalam Percepatan Gerakan SRA

Media sosial adalah sebuah media daring yang memudahkan para penggunanya berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”

Sosial media dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian besar yaitu :
1. Social Networks, media sosial untuk bersosialisasi dan berinteraksi (facebook, myspace, hi5, Linked in, beebo, dll)
2. Discuss, media sosial yang memfasilitasi sekelompok orang untuk melakukan obrolan dan diskusi (google talk, yahoo! M, skype, phorum, dll)
3. Share, media sosial yang memfasilitasi kita untuk saling berbagi file, video, music, dll (youtube, slideshare, feedback, flickr, crowdstorm, dll)
4. Publish (wordpredss, wikipedia, blog, wikia, digg, dll)
5. Social game, media sosial berupa game yang dapat dilakukan atau dimainkan bersama-sama (koongregate, doof, pogo, cafe.com, dll)
6. MMO (kartrider, warcraft, neopets, conan, dll)
7. Virtual worlds (habbo, imvu, starday, dll)
8. Livecast (y! Live, blog tv, justin tv, listream tv, livecastr, dll)
9. Livestream (socializr, froendsfreed, socialthings!, dll)
10. Micro blog (twitter, plurk, pownce, twirxr, plazes, tweetpeek, dll)

WA, BBM, Line, WeChat, yang berdiri sendiri merupakan media kirim pesan point to point dan digolongkan sebagai messanger. Akan tetapi jika sudah dalam bentuk group, meski grup terbatas, sudah termasuk media sosial (Kaplan, Andreas M.; Michael Haenlein (2010) “Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media”. Business Horizons 53(1): 59–68)

Percepatan Gerakan SRA 

Pendekatan apresiatif yang mengemuka dalam gerakan SRA bagai dua sisi mata uang. Beberapa pihak yang menjunjung tinggi kerangka kerja otentik dalam merumuskan konsep gerakan berpandangan bahwa kompilasi praktik baik yang diusung pegiat SRA kehilangan orisinalitas. Di sisi lain, aneka ragam inisiatif dalam pemenuhan hak dan perlindungan  anak di satuan pendidikan menimbulkan sikap apriori terutama di kalangan pendidik. Tidak sedikit yang menganggap inisiatif baik tersebut hanya sebatas proyek atau bahkan sekadar lomba sesaat. Hal ini terjadi pada berbagai inisiatif termasuk usaha kesehatan sekolah. “Inilah salah satu alasan mengapa kami bersikeras mengawal gerakan SRA “hanya” menghimpun praktik-praktik baik dalam 6 komponen SRA. Bahkan, Bu Elvi (asdep PHPA Kempppa red) menghindari poin-poin terkait sarana prasarana untuk memperkuat rencana pentahapan percepatan gerakan SRA yang dikemas dalam T3MU MeSRA,Mau-Mampu-Maju Menuju SRA, “ujar YantiKerLiP di sela-sela kesibukannya memfasilitasi Bimtek SLB Rujukan dan PLA di Yogyakarta, 17 Oktober 2017.

20170930_084017_1506761399299

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang diinstruksikan Presiden Jokowi membuka ruang untuk meningkatkan usaha kesehatan sekolah dan mendorong Sekolah Ramah Anak. Angin segar bagi para pegiat gerakan SRA. “Saya menginvestasikan waktu sedikitnya 3 jam setiap hari untuk mengapresiasi praktik-praktik baik yang dibagikan para Kepala Sekolah dari Deli Serdang, Jawa Barat, Jayawijaya, Manggarai Barat, Bojonegoro,Lampung,Maros, dst dalam wag setiap hari. Saya juga menulis narasi perjalanan mengawal percepatan gerakan SRA sekurang-kurangnya sekali setiap selesai kegiatan atau 2-3 kali per minggu. Narasi ini dipublikasikan melalui blog sekolahramahanak.com dan dibagikan melalui fb, twitter, dan wag, “ujar YantiKerLiP menambahkan.

Upaya percepatan gerakan SRA menunjukkan hasil yang menggembirakan. “Menurut catatan kami,sebanyak 2.535 satuan pendidikan di 31 provinsi sudah menunjukkan kemauan yang kuat untuk mewujudkan SRA dengan menunjukkan penanda sekurang-kurangnya dalam bentuk spanduk, SK Kepala Sekolah yang menetapkan tim pelaksana SRA,dan pengukuhannya sebagai SRA melalui SK Kepala Dinas Pendidikan atau DP3A, atau bahkan Bupati/Walikota, “kata Elvi Hendrani dalam keterangan tertulisnya.

Tim.fasilitator SRA yang terlatih memanfaatkan media sosial untuk mendampingi penerapan SRA oleh satuan pendidikan yang mengikuti pelatihan SRA bagi guru dan warga sekolah lainnya. Kampanye belajar di luar kelas menjadi wahana yang tepat  untuk mendorong 1.619 satuan pendidikan yang melaksanakan kampanye pada 7 September untuk berkomitmen mewujudkan SRA. Tercatat 450 satuan pendidikan di Deli Serdang yang mendapatkan Sertifikat Menuju SRA dari Elvi Hendrani selaku penanggung jawab percepatan gerakan SRA

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s