Penjangkauan Tim Pokja TPPO dan KTPA Kemensos di Indramayu

Hujan deras mengguyur Jakarta saat Ia tiba di Kementerian Sosial jelang pukul 6 pagi pada 27 September 2017. Rupanya hujan merata di tanah Jawa. Sepanjang jalan menuju Indramayu sampai pukul 13 tiba di Dinas Sosial Kabupaten Indramayu hujan tak kunjung berhenti. Bumi pertiwi seolah turut menangis pilu menunjukkan hampir tak ada desa yang luput dari korban perdagangan orang bahkan pada usia anak. “Koran Pikiran Rakyat mengabarkan upaya Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk mendorong pencegahan dan penanganan  tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan peraturan desa, “kata Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Indramayu saat menerima Tim Pokja TPPO KTPA Kemensos di kantornya selepas makan siang.

20170927_125019.jpg

Veni,  Direktur LBH Apik kembali mengajukan pertanyaan yang sebelumnya disampaikan kepada bu Er, Kasi Rehsos Tuna Sosial dan Trafficking. “Adakah perbedaan penanganan KPO karena eksploitasi seksual dengan undocument?”. Kabid Rehsos menjelaskan bahwa dinas sosial baru dipisahkan dari Dinsosnaker Mei lalu. “Staf kami langsung memulangkan semua KPO yang diterima dari Dinsos Jabar lengkap dengan berita acara dan komitmen tertulis dari keluarga KPO, “katanya.  Menurut Kabid Rehsos, koordinasi penanganan TPPO di Indramayu di bawah pimpinan Dinas PPPA. Ia menyampaikan gagasan untuk menyerahkan urusan perempuan dan anak sepenuhnya kepada Dinas PPPA. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan. Veni langsung menyampaikan urgensi rehabilitasi sosial dan kode etik yang harus diterapkan dalam penanganan KPO.

Migrant Care di Indramayu

Desa Juntinyuat adalah salah satu desa asal butuh migran dengan jumlah TKI ilegal dan TPPO  yang tinggi. Migran Care melembagakan Desbumi di desa tersebut  sejak tahun lalu. Merekalah yang memfasilitasi penjangkauan yang dilaksanakan empat anggota Tim Pokja TPPO dan KTPA Kemensos di Indramayu,yakni Yanti-KerLiP,  Veni-LBH Apik,  Ika-Migrant Care,  Sandra-Seknas Jokowi.  Ahmad dari Kemensos mendampingi Tim Pokja  bertemu dengan KPO di sekretariat Migrant Care.  Eko dan istrinya,  Esin serta staf Migrant Care yang hadir dalam pertemuan koordinasi di Dinsos Kabupaten Indramayu sudah menyiapkan pertemuan di komunitas. Rencana pertemuan di komunitas terpaksa dibatalkan karena waktu penjangkauan yang terbatas. Eko menjelaskan bahwa Migrant Care lebih banyak menerima pengaduan terkait keluarga yang kehilangan kontak dengan istri atau anak yang menjadi buruh migran bahkan sampai belasan tahun. “Perlu kesabaran extra untuk menangani KPO,  apalagi saya tinggal di desa yang sama. Tidak jarang muncul komentar-komentar miring. Alhamdulillah sampai sekarang kami tetap semangat. Kontrak kami dalam program Desbumi  selama 3 tahun, “ujar staf Migrant Care.

Pada pertemuan tersebut hadir dua perempuan muda yang menjadi korban perdagangan orang di sekolah. Keduanya mengaku awalmya tertarik dengan penawaran pekerjaan di pabrik elektronik  di Malaysia yang disosialisasikan oleh Guru BK.  Namun, setelah sampai di Malaysia mereka “dijual” ke perusahaan lain untuk mencabut bulu-bulu dari sarang burung walet. Mereka dipaksa bekerja tanpa istirahat yang cukup di tempat yang sangat kotor. Seluruh identitas mereka pun ditahan oleh perusahaan penyalur awal. “Saya sedang istirahat karena sakit saat polisi Malaysia menggerebek kami di pabrik dan asrama. Setelah itu kami dipulangkan ke tanah air. Seluruh dokumen kami dikembalikan dengan bantuan Pemerintah. Sekarang saya membantu ibu berjualan di rumah, “ujar salah satu di antara mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa TPPO juga sudah mulai masuk ke sekolah.

YantiKerLiP memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk menjangkau komunitas di tempat pelembagaan Desbumi sebelum memenuhi undangan KerLiP Jabar untuk sosialisasi Pendidikan Keluarga di Bandung.

Desa Juntinyuat Piloting Desbumi

Kantor Desa Juntinguat terlihat sudah tutup. “Alhamdulillah ada Pak Rendi, “kata Esin. Ia mengajak YantiKerLiP masuk melihat PPIT dan beberapa papan informasi Desbumi di Juntinguat. Buku panduan Desbumi dari Eko dan brosur yang dipajang di kantor desa serta foto-foto display pun siap  dibawa pulang melengkapi laporan tim pokja.

Kesempatan bagi YantiKerLiP untuk  mengundang Eko dan Pak Kuwu untuk menyampaikan praktik baik Desbumi pada sosialisasi pendidikan pencegahan TPPO di Cianjur 4 Oktober 2017. Pada pertemuan dengan Rendy, Sekretaris Desa,  Yanti juga mengajak aparat desa untuk melengkapi berbagai indikator terkait Desa Layak Anak. Sayang sekali anggota komunitas sudah kembali ke rumah masing-masing.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s