Presiden Menginstruksikan Mendikbud dan Menag untuk mendorong Sekolah/Madrasah Ramah Anak

Upaya Kementerian PPPA untuk melakukan percepatan gerakan Sekolah Ramah Anak dikukuhkan dalam Inpres No.1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Presiden menginstruksikan  kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  untuk a)meningkatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), mendorong sekolah sebagai (KTR), dan mendorong Sekolah Ramah Anak; b)meningkatkan kegiatan aktivitas fisik/olahraga di sekolah dan satuan pendidikan secara eksternal dan ekstrakurikuler serta penyediaan sarana sanitasi sekolah; dan c)meningkatkan pendidikan keluarga untuk hidup sehat.

Presiden juga menginstruksikan kepada Menteri Agama untuk a)melaksanakan bimbingan kesehatan pranikah untuk mendorong perilaku hidup sehat dan peningkatan status gizi calon pengantin serta mendorong pelaksanaan kegiatan rumah ibadah bersih dan sehat; b)memperkuat fungsi Pos Kesehatan Pesantren
dan Upaya Kesehatan Madrasah dan mendorong madrasah sebagai KTR dan Madrasah Ramah Anak; dan c)meningkatkan kegiatan aktivitas fisik/olahraga di madrasah dan penyediaan sarana sanitasi madrasah.

MeSRA Bertuah

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Bersama Orang tua dan Sekolah/Madrasah  atau #MeSRABertuah diluncurkan oleh 90 Kepala Sekolah yang dipimpin oleh Ibu Roslin bersama Kepala Dinas Pendidikan kabupaten Deli Serdang, Ketua DPD KerLiP Sumatera Utara, Ibu Miska, dan Ibu Sri di Bandung pada hari pertama kunjungan studi banding Sekolah Ramah Anak.  Lebih dari 250 sekolah di Kabupaten Deli Serdang bersama 1.376 sekolah/madrasah/PAUD/ SLB se- Indonesia mendeklarasikan MeSRA Bertuah pada penutupan kampanye gobal #OutdoorClassroomDay 7 September 2017.

Percepatan gerakan SRA di Deli Serdang terus menguat.  Kepala sekolah yang mendeklarasikan Sekolah Ramah Anak mulai mengajukan penetapan sebagai Sekolah Ramah Anak kepada Kadisdik Kab Deli Serdang. “Berbeda dengan inisiatif lainnya, gerakan Sekolah Ramah Anak “hanya” menghimpun semua praktik baik dalam pemenuhan hak atas pendidikan dan perlindungan anak di satuan pendidikan dilengkapi dengan 6 komponen utama SRA: a)Komitmen tertulis kebijakan SRA termasuk antikekekerasan dan perlakuan salah lainnya terhadap anak; b)pembelajaran ramah anak termasuk penegakan displin positif ;c)guru terlatih hak anak; d)sarana prasarana aman dan tidak mencelakakan; e)partisipasi anak; dan f)partisipasi orangtua/wali, alumni, lembaga masyarakat, dunia usaha. Mekanisme bottom up dalam penetapan MeSRA Bertuah di Kabupaten Deli Serdang diterapkan untuk menjaga keberlanjutan gerakan Sekolah Ramah Anak. Deklarasi SRA diperkuat dengan pembentukan Tim Pelaksana SRA yang menghimpun tim atau pokja yang sudah ada, “ujar Yanti dalam penjelasan tertulisnya. Yanti juga mengaku makin sering menyebut MeSRA Bertuah dalam pesan berantai yang disampaikannya melalui berbagai media sosial.

Gembira di Sekolah/Madrasah dengan Permainan Tradisional

“Hampir semua sekolah/madrasah yang melaksanakan kampanye #BelajardiLuarKelas pada 7 September 2017 menggelar permainan tradisional. Egrang adalah salah satu permainan tradisional yang diminati semua kalangan. Anak-anak dan guru terlihat gembira melestarikan permainan tradisional tersebut, “kata Nurul Fitry Azizah, manajer kampanye Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP). KerLiP mendapatkan rekomendasi dari Deputi Tumbuh Kembang Anak untuk bermitra dengan ProjectDirt dari Inggris untuk melaksanakan #OutdoorClassroomDay di Indonesia. “Kami mengajak semua sekolah/madrasah/PAUD/SLB yang melaksanakan kampanye OCD pada 7 September untuk melaksanakannya lagi pada 12 Oktober 2017 dan mengajak mitra-mitra sekolah/madrasah lainnya. Aktivitas belajar di Luar Kelas difokuskan pada penguatan pendidikan karakter mulai dengan sarapan sehat, berdoa sebelum dan sesudah makan, adaptasi perubahan iklim secara sederhana, simulasi evakuasi bencana, melestarikan permainan tradisional, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza dan literasi sejarahnya serta kegiatan tematik lainnya yang mendukung pembelajaran. Semuanya menandai percepatan gerakan SRA , “ujar Fitry.

egrang

 

Advertisements

Keluarga Peduli Pendidikan dan Percepatan Gerakan SRA

Peran fasilitator nasional  dalam Percepatan Gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA) sangat penting. “Sebelum Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya menyelenggarakan pelatihan fasilitator SRA dilaksanakan di Bekasi, saya bersama Zamzam mengandalkan jejaring KerLiP di beragam daerah untuk turut serta mendorong pemenuhan hak atas pendidikan dan perlindungan anak di satuan pendidikan, “kata Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan yang dikenal dengan nama YantiKerLiP.

Impian KerLiP_Dede Sunarya

Ia menuturkan bahwa kampanye dan advokasi SRA menyisir dari pinggiran, mulai dengan mengembangkan Pendidikan Anak Merdeka di SD Hikmah Teladan,  kampanye dan advokasi Pendidikan Untuk Semua, penguatan homeschooling sebagai model pendidikan alternatif,  advokasi korban Ujuan Nasional, uji materi beberapa kebijakan yang dianggap melanggar konstitusi NKRI seperti UU BHP,  kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman melalui Gerashiaga dan YES for Safer School sampai terlembagakannya Seknas SPAB,  pengembangan MAN Insan Cendekia, Madrasah Bersinar, Sekolah Panutan, Penguatan Pendidikan Karakter di keluarga dan komite sekolah, Gerakan Indonesia Pintar, ELSI untuk Pelopor Komunitas Literasi Sejarah (Kolase) Bangsa, kampanye belajar di luar kelas, dan beragam isu lainnya yang dikemas dalam Gembira bersama KerLiP.

Dari SMAB Menuju SRA

Keterlibatan Kempppa dalam kampanye SMAB (Sekolah/Madrasah Aman Bencana) sejak diluncurkan oleh Menkokesra, Wamendik, Kepala BNPB, Menkes, dan multi pihak yang dipimpin Planas PRB pada 29 Juli 2010 membuka kesempatan bagi DPP KerLiP untuk menghimpun praktik-praktik baik dalam pemenuhan hak pendidikan anak dan perlindungan anak di satuan pendidikan. Tanggapan miring dari berbagai pegiat hak atas pendidikan tidak menghalangi Yanti untuk mengajak DPP FGII,  IGI Maros, dan mitra kementerian/lembaga lainnya untuk mendorong komitmen pemerintah daerah dalam menerapkan SRA sebagai salah satu indikator Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA).

Kegigihan Deputi Tumbuh Kembang Anak untuk menetapkan istilah “Sekolah Ramah Anak” menjadi faktor pendorong utama seiring dengan percepatan KLA. Kajian dan pengembangan yang dilakukan Manajer Litbang KerLiP terutama dalam setiap kegiatan yang mendapat dukungan pendanaan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah,  lembaga donor, donatur, maupun perusahaan menjadi bahan utama dalam keseluruhan kampanye dan advokasi SMAB menuju SRA. Zamzam,manajer Litbang KerLiP,  tetap mengawal SMAB sebagai TA Direktorat PKLK yang ditempatkan di Seknas SPAB yang dipimpin Direktur PKLK, Ibu Rena. Ia juga memperluas jangkauan di Direktorat PSMA dan PSD. Saat ini perluasan ke ujung tombak pendidikan, guru,  mulai dilaksanakan seiring dengan pindahnya bu Rena menjadi Direktur Pembinaan Guru Dikmen.

Para Fasilitator SRA

Para fasilitator SRA yang dilatih Kempppa di Bekasi terus bergerak memperluas jangkauan. Penetapan fasilitator SRA melalui SK yang ditandatangani Deputi Tumbuh Kembang Anak, serta surat tugas sebagai vocal point di daerah masing-masing menjadi sumber daya penting dalam percepatan gerakan SRA, antara lain:

1. Bagus Dibyo di Sulawesi Selatan (Maros, Pangkep, Takalar, Gowa),  Sulawesi Barat,  NTB (Bima,Dompu, Lombok Barat, Lombok Timur, Mataram,  Papua (Jayawijaya) Jabar, Kota Bandung

4. Iriansyah dan Ekasari di Jabar (kota dan Kabupaten Bandung⁩, Garut, Sumedang, Purwakarta, Cimahi, Cirebon, Sukabumi, Bekasi, Depok)

5. Dr. Sowiyah Unila⁩ di Lampung (Metro dan Lampung Selatan

6. Ashari di Kabupaten Pringsewu

7. Tety Sulastri di Maluku,  Jatim,  Sulbar

8. Rudi di Kaltim

9. Zamzam di Banten dan Kota/Kab Tasik

“Saya sedang mengawal penerbitan surat dukungan terhadap percepatan SRA  dari Kemdikbud di Ditjen Dikdasmen dan GTK, Surat yang diterima oleh Sekjen Kemdikbud didisposisikan kepada Dirjen Paudikmas,  Dirjen Kebudayaan, Kabiri PKLN, dan Kabiro KLM. Secara paralel, komitmen Menkopolhukam untuk mengeluarkan surat edaran kepada Gubernur, Bupati/Walikota sebagai tindak lanjut pencanangan Gerakan Indonesia Tertib melalui SRA di Surakarta  terus dikawal Bu Elvi dan Pak Agus dari Kempppa, “ujar YantiKerLiP menutup obrolan kali ini.

 

Percepatan Gerakan SRA melalui Pelembagaan Sekber SRA

Pengumpulan paktik baik pemenuhan hak dan perlindungan anak di satuan pendidikan menjadi pertimbangan utama dalam menyusun kebijakan Sekolah Ramah Anak (SRA), antara lain Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), Kantin Sehat,  dan beragam usaha kesehatan sekolah yang diatur dalam peraturan Mendikbud, Menag, Mendagri dan Menkes,  lalu Sekolah Adiwiyata, sekolah hijau, dan beragam upaya yang dilaksanakan oleh KLHK terkait penanaman budaya dan peduli lingkungan hidup, sekolah siaga bencana,  sekolah/madrasah aman bencana yang dihimpun dalam Satuan Pendidikan Aman Bencana,  Kantin jujur, tunas integritas, dan pendidikan antikorupsi, sekolah antikekerasan, lingkungan inklusif dan ramah pembelajaran (LIRP), Madrasah Bersinar (Bersih,Sehat, Inklusi, Aman,dan Ramah Anak), dst.

“Sekolah Ramah Anak bukan program baru. Satuan pendidikan yang menerapkan SRA berupaya mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang mendukung tumbuh kembang anak selama berada di sekolah/madrasah, “kata Elvi Hendrani, Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya, Deputi Tumbuh Kembang Anak, KPPPA dalam pertemuan koordinasi percepatan gerakan SRA. “Ada 3 strategi dalam percepatan gerakan SRA yang perlu kita siapkan bersama-sama. Kami sudah mengirimkan permohonan surat dukungan Kemdikbud,  Kemenag,  dan Kemdagri. Dukungan yang dimaksud adalah program dan kegiatan rutin yang mendukung percepatan gerakan SRA, seperti sekolah rujukan, pelatihan guru, satuan pendidikan aman bencana, BOS, DAK,  penilaian kinerja guru, dst. Kami juga menyiapkan tapat koordinasi finalisasi draft MoU, SK Sekber SRA, Peta Jalan Percepatan Gerakan SRA menindaklanjuti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Harapannya diikuti oleh perwakilan dari semua direktorat terkait di Kemdikbud, Kemenag, Kemdagri,dan Kempppa bersama Tim Fasilitator SRA Nasional yang berasal dari Perkumpulan KerLiP, FGII, IGI, dst, ” Elvi menjelaskan dalam perjalanan menuju NTB.

Penandatanganan MoU dengan Gubernur dan Bupati/Walikota merupakan strategi pertama dalam Percepatan gerakan SRA yang dilaksanakannya mulai hari ini di NTB, Sulawesi Selatan terutama di Maros, Pangkep, Takalar. Menyusul kemudian Lampung terutama Metro, Pringsewu,  dan Lampung Selatan. Secara paralel, KerLiP sebagai tim fasilitator SRA Nasional menyiapkan di Maluku Utara khususnya Halmahera Barat dan Ternate,  Jawa Barat,  Sumatera Utara,  Banten, dan Riau melanjutkan kampanye #BelajardiLuarKelas. Sedangkan FGII di  DKI Jakarta, Maluku,  dan Jawa Timur.

Menelusuri Lorong Advokasi

20170823_113137.jpg

“Pengalaman belajar KerLiP dalam Pelembagaan Seknas Sekolah Aman yang kini menjadi Seknas SPAB serta pembentukan tim Fasilitator SRA dan  tim penilai adiwiyata mandiri bersama K/L/D/I menuntun kami dalam pelembagaan Sekber SRA sebagai salah satu strategi percepatan gerakan SRA yang dikedepankan bu Elvi, “ujar Yanti Sriyulianti,  Ketua Umum KerLiP,  yang juga fasilitator SRA Nasional.  Yanti juga menjelaskan bahwa dalam upaya pelembagaan Sekber SRA ini,  ia kembali menelusuri lorong-lorong di Gedung C,  E, dan D Kembikbud.  Secara paralel sahabat KerLiP juga memanfaatkan wag untuk memperluas jangkauan kampanye belajar di luar kelas.

Kolaborasi di Sekber SRA

Kabar gembira dari Deli Serdang tentang penguatan Gerakan Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Bersama Orangtua dan Sekolah/Madrasah (MeSRA Bertuah) melalui liputan sahabat keluarga dan pelembagaan Tim Pelaksana SRA di satuan pendidikan yang memperkuat tim yang sudah ada; TP UKS, Adiwiyata, Bindikel, dst.

Kemitraan khas KerLiP dengan Direktorat Bindikel memperkuat basis gerakan dengan terlaksananya sosialisasi pendidikan pencegahan TPPO di Kabupaten Bandung, pelatihan PPK untuk komite sekolah di Jabar, Sulselsulbar,  dan Riau. Pelembagaan Seknas SPAB pun makin meluas seiring dengan amanah baru yang dipegang Bu Rena sebagai Dorektur Pembinaan Guru Dikmen. Ide Kolaborasi juga(Konferensi Anak, Remaja, Kawula Muda bantu Orangtua Rayakan Literasi) mendapat sambutan yang menggembirakan. Belajar di luar kelss dan Kolaborasi masuk menjadi kegiatan utama di Sekber SRA. Direktorat Guru Dikmen dan Direktur PSMA menyambut ide yang diinisiasi berzama Subdit Arema Ditbindikel tersebut.