Kajian Kepahlawanan Bersama Pelopor Kolase Bangsa

Salman ITB, 29 Juli 2017, 13.35 – selesai

Moderator: Deasy R. Nurjannah

Para pelopor Komunitas Literasi Sejarah Bangsa ini mendapat dukungan Pustaka Sahabat Anak yang terdiri dari Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia (ELSI) dalam Literasi Visual dan Ensiklopedia Pendidikan Antinarkoba. Masing-masing tampil ke panggung untuk menerima pustaka sahabat anak dari para penerima Anugerah Gerakan Indonesia Pintar 2017.  Terlihat jelas bahwa para pendiri Gerakan Indonesia Pintar menyampaikan pesan bahwa gerakan ini menjangkau anak-anak yang belajar dan bermain dengan teman sebaya di sekolah/madrasah serta anak tidak sekolah di jalanan. Usia 16-21 tahun dipilih pertama kalinya dengan asumsi anak-anak dan kawula muda pada usia ini sering luput dari perhatian, bahkan banyak di antara mereka yang sudah menikah atau tinggal di jalanan. Perlu upaya-upaya kreatif untuk memastikan mereka terjangkau oleh penguatan pendidikan karakter dan Kartu Indonesia Pintar.

Kajian kepahawanan bersama para pelopor Komunitas Literasi Sejarah (Kolase) bangsa adalah kegiatan pembuka dalam mendesain ulang jalan bernama pahlawan dengan signage untuk memikat hati anak dan kawula uda di kota Bandung. Dalam kajian ini, narasumber, Ibu Yanti Sriyulianti dari perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) menghadirkan 6 orang penerima Pustaka Sahabat Anak dari penerima Anugerah Gerakan Indonesia Pintar (GIP) 2017. Keenam orang ini adalah perwakilan komunitas dan sekolah yang dipertemukan Pak Ahmad Nashid Budiman, Dewan Pembina YPM Salman ITB untuk mengembangkan SDM yang siap memperkuat masjid sebagai pusat peradaban.

Gagasan Kolase Bangsa yang dirancang sahabat-sahabat KerLiP bersama mitra Gerakan Indonesia Pintar sejak 2014 untuk melahirkan Generasi pemberantas Kemiskinan (gentaskin) di desa-desa kami integrasikan dalam bentuk skema berikut:

QW Kolase Bangsa MEMBANGUN Masjid Pusat Peradaban Islam di Bumi Pertiwi

Notulen Kajian Kepahlawan

Pembicara: Pak Yus, BKPAKSI, Direktur I Jawa Barat

Indonesia maju dengan didukung keluarga yang kuat, gerakan kami dimulai dari pendidikan Al Quran yang sinergi dengan berbagai pihak dan pengembangan dakwah melalui pendekatan kebudayaan. BKPAKSI punya sekolah nonformal, di luar jam sekolah, dikembangkan dengan metode permainan, seperti sifat-sifat Allah dengan nyanyian, dst. Kita mencoba 1 kecamatan 1 masjid. Pengurus BKPAKSI berhasil menggalang bantuan dari Timur Tengah dan mendirikan 200 Mesjid di Jawa Barat.  Kebanyakan masjid yang ada digunakan untuk sholat wajib dan mengaji belum dimanfaatkan untuk yang lain. Kami akan mengusulkan beberapa hal, seperti kader fasilitator yang mengembangkan program-program Dari guru mengaji di masjid-masjid tersebut. Kita latih di Bandung mengembangkan pendidikan ramah anak sehingga bisa menjadi gerakan masal. Fasilitator untuk masjid sebagai pusat peradaban.  Kita bisa jadi bikin Masjid Ramah Anak.

Setelah pelatihan kader masjid peradaban, saya akan membuat film dokumenter. Film yang saya buat skenarionya saat ini, menceritakan sekolah alam “Daarul Iqra”, misalnya termasuk praktik pembelajaran di luar kelas yang Pak Ana buat, seperti belajar matematika dengan berdiri berjajar. Settingnya di alam, bermain di alam, belajar dan mendapat solusi dari alam untuk sekolahnya.

 

Pembicara: Pak Nashir

Ini acara yang menggembirakan.

Karakter perilaku itu dibina sejak 2.500 SM di buku tentang China. Tentang kerja keras, saling tolong menolong, ini yang mereka kumpulkan. Ada buku 5 tahun lalu tentang perantau China di Amerika. Intinya, seorang guru teknis itu sangat peduli pendidikan anak-anak. Doa orang tua juga sangat penting. Semangat belajar perlu ditumbuhkan. PR itu bukan tugas, tapi cara meningkatkan kemampuan.

Kita tidak punya visi untuk menjadi bangsa yang besar.  Kita tidak belajar terpadu. Kita tahu future tense dkk tapi tidak bisa bicara bahasa Inggris.

Pendidikan di ITB ini didefinisikan oleh industri Belanda, supporting industry. Sedangkan di Filipina, Amerika, sudah mengajarkan matematika yang sesuai dengan konteks tahun 2025.

Gerakan ini untuk menjangkau anak-anak yang “terlempar” dari sekolah. Perlu masuk ke sekolah terbuka (model pendidikan layanan khusus).

Terkait gizi, anak yang kurang gizi, belajarnya kurang kuat. Dulu ada PMTAS. Belajar bukan hanya belajar, tapi membutuhkan infrastruktur seperti nutrisik, gizi, dkk. Infrastruktur spiritual juga penting, guru-guru dan orang tua bersama-sama mendoakan anak didiknya.

 

 

Pembicara: Ksatria, STKS

Kolase Bangsa untk membuat signage jalan pahlawan. Forum kesejarahan dimulai oleh KerLiP. Dimanapun ada jalan yang mencantumkan nama pahlawan. Kita memilih Jalan Diponegoro, Lengkong, Dewi Sartika dan Inggit Garnasih.

Acara kami disupport penuh oleh Direktorat Sejarah.  KOLASE bangsa ini lebih melibatkan anak muda, tanpa batas usia, tapi lebih fokus ke teman sebaya, juga melibatkan anak putus sekolah.

Kita memanfaatkan gadget sekarang, memanfaatkan multimedia digital untuk belajar.

 

Pembicara: Rieska

Kita menumbuhkan keinginan membaca. Kita membuat workshop “Reader Now, Leader Tomorrow”. Kalau masjid adalah pusat peradaban, membaca adalah jantungnya. Kami dari Kebukit membuat silabus bagaimana masid menjadi pusat mencari ilmu, seperti anak2 putus sekolah di KerLiP, ingin mencari ilmu. Mengajak untuk mencari ilmu.

Cerita tentang anak punk. Kami kenalkan tentang Usman bin Affan. Dia baca, lalu dia bilang idolanya salah. Ketika seseorang sudah melihat kenikmatan membaca, mereka akan mencari sendiri. Ranah kita di situ. Kami ingin ke guru, pengurus masjid, remaja masjid, kita bangkitkan semangat membaca buku.

 

Pembicara: Gita, Guru SD Pasawahan

SD terfavorit di sana. Saya guru hiperaktif yang suka dengan hal yang baru, yang mungkin agak kontra dengan pihak sekolah. Saya masih aktif di karangtaruna. Sekolah saya juga deket dengan rumah, jadi kelurahan ketemu saya lagi, saya lagi.

Setiap mimpi pasti punya sejarah. Sebelum saya jadi guru, saya awalnya tidak mau, Karena susah jadi PNS, lama jadi honorer, gajinya tidak seberapa. Tapi mamah saya punya cita-cita anaknya harus jadi guru, Karena mamah saya awalnya guru tapi kakek saya namanya masuk ke PKI, akhirnya ibu saya tidak bisa jadi PNS. Hikmahnya, beliau jadi ibu rumah tangga dan menguru saya, saya pun jadi guru menanikan mimpi mamah saya dulu.

Isu dulu, rohis itu gudangnya teroris. Saya marah, saya rasa teman2 saya juga ga ada yang ingin jadi teroris. Orang2 yang sangat ahli, banyak yang berawal dari masjid. Ketika diajak ke sini, saya merasa luar biasa Karena ada masjidnya, ada sejarahnya, ada ramah anaknya.

Tadi juga kita membahas digital divide. Anak-anak sekarang banyak lewat gadget. Ada kiat-kiat khususnya supaya literasi juga jadi menarik.

 

Pembicara: Adit, SMK Nasional

Tadi saya banyak menyimak bahwa sekolah itu tidak perlu di sekolah. Teman-teman saya sangat mendukung, saya dan teman-teman ingin jadi relawan, khususnya untuk teman-teman yang putus sekolah. Lingkungannya harus mendukung supaya mereka semangat lagi, termasuk guru, dan teman-temannya. Kita ingin jadi relawan untuk kegiatan ini.  Pertama, ingin membuat anak yang putus sekolah muncul semangatnya, bahwa sekolah itu penting.

 

Penanya: Pak Ana,

Saya membaca tentang Pelopor Komunitas Literasi Sejarah. Yang ingin kami tangkap, bukan kapan dan dimana. Tetapi, bagaimana seorang sejarawan/pelaku sejarah itu ada nilai yang didapatkan dan diteruskan pada anak didik. Contoh kecil: Kenapa bapak ini menjadi pahlawan, seperti Soekarno. Bukan kenapa ini kenapa itu, tapi ada garis merah yang mempertemukan seluruh perjuangan.

Visi dan misi SDN Karang Pawulang LK4, Literatif, Kolaboratif, dst. Visi itu sendiri akan mengandung makna sebuah Penguatan Pendidikan Karakter itu sendiri.

 

Pembicara: Ibu Yanti

Menarik menyimak apa yang disampaikan Pak H. Ana. Kami menyusun Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia (ELSI) dalam Literasi Visual bersama para ahli dan guru sejarah untuk menjembatani generasi Z yang akrab dengan audio visual dari gadget menuju kebiasaan membaca buku rujukan yang lebih lengkap. Sumber belajar untuk memperkuat pendidikan karakter sudah banyak tersebar, namun kami meyakini bahwa anak-anak kita memerlukan teladan yang baik. Di tengah derasnya arus informasi yang begitu cepat sampai pada kehidupan anak-anak kita bahkan dalam genggaman mereka, keteladanan ini sangat penting. Sejarah Perjuangan Bangsa membuka khazanah baru untuk mengenalkan nilai-nilai kepeloporan dan keperintisan dari para pahlawan bangsa.

Komunitas Literasi Sejarah (Kolase) bangsa akan menghimpun anak-anak tidak sekolah yang ditemukenali teman sebaya mereka yang sekolah khususnya peserta didik SMA/SMK/MA. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah menelusuri sejarah pendiri masjid jami tempat mereka bertemu dan berkomunitas. Pertemuan dengan perintis atau keluarga pendiri masjid jami ini diharapkan akan menularkan nilai-nilai kepeloporan dan keperintisan dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Pustaka Sahabat Anak akan menjadi Lembar Inspirasi Belajar Ramah Anak yang menuntun seluruh anggota Kolase Bangsa menjadi pelopor dan pelapor praktik-praktik baik di usia anak.

Selama melakukan  kegiatan belajar di luar kelas, peserta didik SMK Nasional dan SMA mitra KerLiP akan diajak untuk  menelusuri jalan bernama pahlawan dan rute aman bagi anak di sekitar masjid jami. Anak dan kawula muda tidak sekolah yang ditemukan selama transect walk tersebut diajak untuk berkegiatan di masjid jami tersebut.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s