Nyanyian Sunyi Hari Pertama di Sekolah Ananda

Putri sibuk menyiapkan perlengkapan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Uang yang dikumpulkannya pada hari Idul Fitri sudah habis dibelikan buku dan alat tulis. “Bu, kayaknya Adek harus beli sepatu dan tas baru, “ujar Putri kepada saya sambil menunjukkan sepatu yang sudah berlubang dan tas belel yang sudah sulit ditutup. “Uangnya dari Bapak Dek!”kata  Bapaknya anak-anak sambil menyerahkan uang Rp300.000 dan ATM. Alhamdulillah. Rizki anak shalih. Putri berhasil masuk ke SMAN pilihannya melalui jalur nonakademik atas prestasi yang diraihnya di tingkat Nasional.

Masuk SMA Pilihan Hati

Memberi kesempatan kepada anak kita untuk memilih sekolah adalah bagian penting dalam memenuhi partisipasi anak untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Putri memanfaatkan hari pertama PPDB nonakademik untuk mencari tahu kekhasan SMAN di jalan Belitung Bandung. Setelah mencermati proses dan persyaratan PPDB nonakademik di sekolah tersebut, keesokan harinya ia melakukan survei ke SMAN 2 bersama temannya. Pada hari ketiga PPDB nonakademik kami mendiskusikan manfaat dan mudhorot sekolah pilihan hati ananda.  Ia memilih mendaftar melalui PPDB jalur prestasi ke SMAN 2 yang terlihat makin asri dan sehat.

Mengantar Ananda

 

Alhamdulillah seruan Mendikbud untuk menjadikan Sekolah sebagai rumah kedua terintegrasi dengan Sekolah Ramah Anak dan Antikekerasan ditindaklanjuti oleh Kadisdik Provinsi Jawa Barat. Setelah menginstruksikan MPLS yang ramah anak, Pak Hadadi,  Kadisdikprov Jabar mengeluarkan surat edaran agar semua SMA/SMK di Jabar memasang spanduk dengan mencantumkan Sekolah Rumah Kedua melalui SRA dan antikekerasan.

“Pak Guru mengetahui letak pemasangan spanduk yang diserukan Kadisdikprov?” Tanya saya kepada guru Bahasa Sunda yang tiba setelah dua orang Caraka. “Panitia MPLS yang mengetahui hal ini, Bu, “jawab Pak Guru. Saya baru saja  hendak pamit berkeliling melihat lingkungan sekolah saat Putri pamit “Adek masuk ke aula sekarang ya Bu, “kata Putri. Ia bergegas menuju kerumunan anak berseragam SMP di depan masjid. Matahari masih belum menampakkan dirinya di pagi pertama Putri kami sekolah.. “Fotonya menghadap ke kanan saja, Bu!”kata pengurus OSIS yang menemani saya berkeliling. Hari Pertama Sekolah di Sekolah Ananda terasa sunyi dan dingin. Ketentuan hadir di sekolah pukul 5.30 bagi peserta didik baru dalam asuhan kakak kelas pengurus OSIS. “Bapak/Ibu Guru akan hadir pukul 6, Bu. Biasanya melalui pintu di ujung sana, “ujar pengurus OSIS yang menemani saya sambil menunjuk area di sebelah utara Ruang Guru.

Akhirnya saya memutuskan pulang pukul 05.30 setelah mendapatkan nomor petugas keamanan di gerbang sekolah dan guru Bahasa Sunda. Serunya HPS di sekolah yang dipantau Pak Sukiman, Direktur Bindikel Kemdikbud di wag Sahabat Keluarga membuat hati saya makin gelisah. Masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk mengganti nyanyian sunyi HPS di sekolah ananda menjadi lebih hidup dengan kehadiran ayah, bunda,dan guru.   Semoga!

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s