Planet Merkurius dan Pendaratan Manusia di Bulan

(Ugie, Bandung, 28 juni 2017)

Pagi tadi sekitar pukul 7, tumben-tumbenan hawa dingin tidak terasa menyengat seperti pagi-pagi sebelumnya. Matahari mulai nampak menyembul dari balik awan tipis. Rasa hangat pun mulai berasa di kulit yang selama beberapa hari lebaran ini seperti layu karena kurang vitamin E.

“Itu bintang apa ya, sudah jam segini dan langit mulai cerah tapi kok masih kelihatan?”. Begitu tanyaku ke yanti, ibunya anak-anak, yang sedang mencukur rambutku.

Kebiasaan mencukur sendiri sudah aku lakukan sejak tahun 90-an ketika kami menikah. Sudah hampir 27 tahun kepalaku tidak pernah disentuh lagi oleh tukang cukur. Aku selalu mencukur sendiri rambut kepalaku. Bagian atas dan samping aku kerjakan sendiri. Sisanya, bagian belakang, adalah urusannya.

Terserah dia mencukurku dengan cara seperti apa. Tidak penting juga bentuknya akan jadi apa, yang penting pendek. Bahkan soal rapi tidak rapi atau pantas tidak pantas hasil cukurannya dengan bentuk kepalaku, tidak pernah jadi perhatian lagi. Lha wong berkaca dan nyisir saja sangat jarang kulakukan. Begitu filosofiku tentang mencukur rambut kepala.

Sesungguhnya ini bukan sebuah skenario tentang ideal dalam rumah-tangga, atau drama tentang kehangatan hubungan suami-istri. Sama sekali tidak. Ini semata-mata karena aku selalu malas kalo harus pergi ke tukang cukur, barber-shop, apalagi salon. Untuk lelaki yang bukan metroseksual, juga jauh dari fotojenik, apalagi sudah ber-anak pinak gede-gede, mengambil langkah praktis yang efektif dan efisien jauh lebih penting.

“Itu merkurius”, kata yanti sambil mencukur rambur belakangku.
“Haah… merkurius?”, begitu responku setengah kaget, meski cuek dan tidak terlalu memusingkan benar tidaknya jawaban itu.
“Itu yang popular disebut sebagai bintang pagi atau bintang tertinggal”, katanya lagi menimpali.

Aku yang lagi ngopi sambil ngudud ketika dia sedang mencukurku, sesekali melirik bintang yang bersinar sangat terang, mencolok dan satu-satunya di cerahnya pagi itu.

Hebat, keren, indah. Begitu perasaan hatiku. Kenapa dia tidak ikut bersembunyi seperti bintang-bintang lainnya, ketika matahari mulai nampak?

Misterius? Hmm… mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku bukan astronom, sehingga tidak merasa perlu mencari jawaban lebih jauh lagi. Jika aku suka dengan kosmologi dan astronomi, itu bukan lah concern yang aku berikan secara khusus. Kesukaanku pada itu, tidak jauh beda dengan masalah kesehatan, kebiasaan membaca buku, atau menjalani kepraktisan sehari-hari seperti mencukur rambut itu tadi. Tapi itu selalu berakhir dengan kesimpulan yang juga sangat praktis dan sederhana saja; bahwa *semua fenomena yang aku alami itu, adalah berkah dalam hidupku, dan karenanya pasti tidak lah sia-sia*.

Begitu lah kita, manusia, yang selamanya akan memilih dan subyektif. Tidak ada yang benar-benar objektif yang lahir dari pikiran manusia. Mungkin, dia akan bisa disebut objektif, jika didukung data dan fakta serta landasan teoritis ilmu-ilmu pengetahuan.

Yang selalu, dan akan selalu kita lakukan adalah menafsirkan, menginterpretasikan atau mendekati yang kita persangkakan dengan objektif itu.

Maka menurutku, jauh berharga jika kita berfikiran bahwa *pikiran dan pendapat kita, ada kemungkinan salah, atau tidak dijamin benar*, ketimbang merasa selalu yakin bahwa kita pasti benar atau tidak mungkin salah. Yang pertama akan membuka ruang eksplorasi pencarian yang lebih mendekati pada apa yang disebut dengan “kebenaran” itu, sedangkan yang kedua menutup buku pencarian.

*Ketika proses manusia yang hidup berhenti pada proses pencarian kebenaran, maka sesungguhnya dia sudah mati*.

* * * * *

“Zack, menurut kamu, bener nggak sih, kalo manusia pernah menjejakkan kakinya di bulan?”.

Begitu pertanyaan spontanku, ketika melihat anak keduaku sedang nonton film “Martian” yang dibintangi matt-damon tadi jam 9-an malam, tentang ekspedisi dan penelitian NASA di planet mars, dari layar TV cable.

Film ini sudah sering kami tonton bareng-bareng. Tidak jarang adik, kakak dan ibunya ikut nonton film ini, atau film lain yang bergenre sci-fi lainnya.

“Tidak penting pak, apakah peristiwa manusia mendarat di bulan itu benar-benar terjadi apa tidak, objektif atau hoax”, begitu jawabnya.

“Karena ini bukan masalah objektivitas pernah terjadi apa tidaknya, tapi dalam sinematografi, dramatisasi seperti itu penting untuk membuat film atau informasi bukan saja menarik, tapi juga penting untuk membangkitkan imajinasi dan spirit pencarian pengetahuan lebih lanjut”, katanya melanjutkan.

“Loh tapi menyajikan apapun sebagai konsumsi publik kan perlu kejujuran, zack”, kataku seakan protes dengan jawabannya. “Karena beda antara perfileman dan ilmu pengetahuan”

“Sekarang ini kan, karena canggihnya dunia sinematografi, apalagi yang science-fiction, antara imajinisasi para sineas dengan objektivitas dunia ilmu pengetahuan, hampir sulit dibedakan”, kata ku lagi. “Sehingga antara yang benar-benar objektif dan jujur secara ilmu pengetahuan, dengan imajinasi seolah-olah berbasis pengetahuan padahal khayalan semata, dus artinya juga hoax dan kebohongan, menjadi samar-samar”.

“Bukan kah itu akan menjadi berbahaya buat peradaban ummat manusia nantinya?”, begitu kataku _ndedes_ pada anakku.

Sesungguhnya aku tidak sedang benar-benar mencari jawaban dari anakku yang kebetulan kuliah di jurusan fisika murni itu, tapi lebih tertarik pada caranya melakukan dialog dan konter-argumentasi terhadap bapaknya yang juga sekaligus temannya ini. Karena seperti keyakinanku, bahwa produk akal budi dan pikiran manusia, itu tidak ada yang benar-benar objektif, atau pasti benar.

“Tujuannya emang beda kan, pak”.
“Tayangan sinematografi, apakah didasarkan atas kebenaran objektif kemudian difilmkan, atau itu hasil imajinasi pembuat filmnya yang murni khayalan dan tidak berdasar pengetahuan objektif, dua-duanya pasti dibuat dengan menarik”.
“Film yang bagus kan pasti dramatik, suspense, atau karikatif. Kalo lempeng-lempeng saja kan _ngebosenin_, lepas dari benar-tidaknya ceritanya, objektif atau khayalan”, jelasnya.

Iya juga memang. Apalah “kebenaran material” yang objektif yang sebenarnya menginspirasi sebuah film, atau imajinasi dalam film yang menginspirasi dan membangun “spirit” orang untuk membuktikannya sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, itu adalah hak pemirsanya.

Kejujurannya bukan terletak pada “kebenaran materialnya”, tetapi pada pengakuan bahwa dunia ini, kehidupan ini maha luas, dan pengetahuan manusia sesungguhnya amat lah kecil saja. Banyak misteri-misteri dalam kehidupan ini yang membutuhkan pengungkapan pada masa nya nanti. Atau kalo dalam ilmu sejarah, biasa dikenal sebagai narasi-narasi mikro, yang seringkali terlewatkan, padahal di dalamnya terdapat khazanah nilai atau pengetahuan yang penting yang tidak kalah dengan narasi makro (besarnya).

Selesai film “Martian” itu, aku masih tergelitik untuk mengetahui jawaban subyektifnya tentang peristiwa pendaratan manusia di bulan, sepanjang pengetahuannya tentang itu, maka segera saja kutanyakan.

“Zack, menurut hati kecil kamu, sepanjang pengetahuan kamu tentang kemampuan teknologi saat itu, dan sejauh pernak-pernik logika kamu terhadap narasi pendaratan manusia di bulan oleh NASA, yang itu dilakukan 20 Juli 1969, 48 tahun lalu itu, apakah benar-benar terjadi?”

Dan jawabannya adalah : “Hehehe…. ”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s