Tenaga Kesehatan Jabar Cerdas dan Berakhlak Mulia

“Undang Bu Dokter Yuni ke depan ya Bu. Pengabdiannya kepada anak-anak Cirebon sangat membanggakan, “kata Bu Ike setelah bersalaman dengan perempuan cantik yang ramah dan ramping di barisan kanan. Kami berjalan menuju ruang tunggu VIP. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membahas persiapan anugerah GIP 2017 yang akan dilaksanakan pada 1 Juni 2017.

Bahan presentasi Konvensi Hak Anak sudah ditayangkan Kang Irwan. Staf yang setia ini selalu siapsiaga melayani kami dalam setiap pelatihan yang dilaksanakan oleh DP3AKB Jabar. Pelatihan KHA bagi tenaga kesehatan Jabar dilaksanakan di Hotel Grand Paradise Lembang pada 22-23 Mei 2017. Tenaga kesehatan dari Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Purwakarta, Bekasi, dan Karawang serta kota Cirebon dan Bekasi sudah antri sejam sebelum acara dimulai. Sebanyak 85 orang dokter dan perawat dari puskesmas terpilih bersama staf dinas kesehatan, Dpppa, dan Bappeda memenuhi ruang pertemuan menyaksikan sajian film terkait SRA, PRA, dst.

Tepat Waktu

Para peserta keluar dari ruang pertemuan di lantai 5. Mereka langsung antri di depan lift berkapasitas maksimal 8 orang menuju ruang makan yang terletak agak jauh di gedung bawah dekat taman nan indah. Namun demikian, para tenaga kesehatan yang hadir dalam pelatihan KHA tidak menjadikannya alasan untuk terlambat. Mereka selalu berusaha hadir tepat waktu setelah rehat makan. “Aduh janten isin ya Bu! Tadi saya mengumumkan agar peserta sudah siap di ruang pertemuan pukul 19.00 WIB. Sementara itu, kita baru naik ke ruang makan sekarang,”ujar salah seorang fasilitator saat kami berpapasan dengan para peserta di tangga.

Jam sudah menunjukkan 18.45, makanan yang tersisa hanya cream soup dan beberapa potong kentang goreng. Kami segera menghangatkan perut dengan sajian yang ada. Karyawan hotel pun bergegas menambahkan nasi dan puding. Akhirnya kami putuskan membawa sepiring puding dan bergegas menyusul para peserta ke ruang pertemuan. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat masih dalam perjalanan. Saya berinisiatif menunggu kehadiran beliau dengan mengajak peserta menyanyikan lagu Three Ends dan meminta bu Yetti memimpin.kembali.

Melayani Sepenuh Hati

Pada sesi yang saya fasilitasi, para peserta pelatihan berkumpul mendiskusikan kegiatan-kegiatan inovatif terkait penerapan KHA di kota/kabupaten masing-masing. “Silakan dianalisa berdasarkan keempat prinsip umum KHA ya. Apa sajakah prinsip-prinsip KHA tersebut? “Pertanyaan saya langsung dijawab oleh para peserta: non diskriminasi, kepentingan terbaik anak, hak hidup, tumbuh kembang, dan kelangsungan hidup anak, serta mendengarkan pandangan anak. Sebelumnya saya menyegarkan ingatan mereka tentang Komal, tokoh anak perempuan dalam film India yang menyosialisasijan 4 bagian tubuh yang tak boleh disentuh oleh orang lain. Bapak perawat yang duduk sendiri di barisan depan menyatakan definisi anak menurut WHO, yakni sampai 21 tahun. Ibu di belakangnya menyatakan usia sekolah, yakni 7 sampai 18 tahun. Barisan belakang dari Kabupaten Bekasi masih belum ingat 4 bagian tubuh tersebut. Alhamdulillah ada bu Hany dari DPPPA Kota Cirebon yang berkenan menjawab dengan lugas. Menurut UU Perlindungan Anak,  Anak adalah seseorang yang berusia belum 18 tahun termasuk yang masih dalam kandungan. Sedangkan 4 bagian tubuh yang tak boleh disentuh orang lain, yakni  seputar bibir, dada, selangkangan, dan pantat (seputar celana).

Kemudian saya meminta perwakilan peserta untuk menyanyikan lagu, Inilah Tubuhku, yang terpampang di slide pertama saya untuk mencairkan suasana belajar agar lebih menyenangkan.  Lagu three ends pun kami nyanyikan bersama-sama dan diulang kembali mengikuti suara merdu Ibu Yetti.

Kegiatan pembelajaran tersebut kami tunda untuk memberikan kesempatan kepada ibu Sahnez dari Kempppa untuk menyampaikan materinya sebelum kembali ke Jakarta. Ada beberapa pernyataan yang menggelitik dari beliau. “Bapak/Ibu setujukah ketika Bu Syahnez memberikan contoh bahwa kita sudah diskriminatif ketika datang seorang ibu membawa anaknya berobat lalu disapa tanpa menyapa anaknya?”tanya saya saat membuka sesi selanjutnya. Para peserta sepakat bahwa hal tersebut kurang tepat. Nampaknya perlu diskusi khusus untuk mengelaborasi 4 prinsip umum KHA di tataran praktis secara berkelompok.

Menurut Dokter Gigi Retno dari Kabupaten Cirebon, ada beberapa indikator Puskesmas Ramah Anak yang perlu diklarifikasi agar selaras dengan Permenkes terkait akreditasi puskesmas. Bu dokter dari puskesmas kota Cirebon menyampaikan keterbatasan ruang dan lahan puskesmas di perkotaan. Penjelasan tentang Pengembangan Anak Usia dini holistik dan integratif (PAUDHI) pun saya paparkan untuk melengkapi pelatihan KHA di Kabupaten Bandung Barat.

Tanggapan dan presentasi kelompok yang disajikan para dokter dari kota Bekasi, Kabupaten bekasi, Karawang, dst memberikan pemahaman baru. “Bagaimana memastikan kita sudah mendengarkan pandangan anak dalam setiap kegiatan manakala kegiatan tersebut dalam bentuk layanan kepada balita?”tanya salah seorang peserta. Saya meminta pandangan dari peserta lainnya. Ibu kepala DPPA Kota Bekasi menjawab pertanyaan tersebut dengan lugas, “pelembagaan forum anak dapat membantu kita untuk memastikan prinsip keempat tersebut benar-benar kita terapkan, “ujarnya. Para tenaga kesehatan yang sudah terbiasa melayani pasien dengan baik terlihat makin antusias mengikuti pelatihan tersebut. Kami pun makin kagum terhadap tenaga kesehatan Jabar yang cerdas dan berakhlak mulia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s