Thomas dan Kebangkitan Pendidikan Inklusif

Rencana penganugerahan Gerakan Indonesia Pintar 2017 pada Hari Kebangkitan Nasional terpaksa ditunda karena masalah eksternal yang tak mungkin diabaikan. Dua dari lima penerima Anugerah GIP 2017 yang menyatakan kesiapannya untuk hadir meyakinkan saya bahwa gagasan ini dibutuhkan. Insya Allah kami alihkan menjadi 1 Juni 2017. Saya alihkan untuk mengikuti kegiatan warga Bandung memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

“Ayo ke GIM, Dek! Saudara-saudara kita penyandang disabilitas akan tampil memeriahkan #temaninklusi yang menandai Hari Kebangkitan Pendidikan Nasional kita, “seru saya dari ruang keluarga sambil membaca status teman-teman di fb.  Icha, putri bungsu kami terlihat membuka selimut dengan enggan. Tanpa sepatah kata pun ia beringsut pergi ke kamar mandi. “Mau kan, Dek, antar ibu ke GIM?” imbuh saya saat melihatnya melangkah menuju lemari pakaian kami.  Icha mengangguk sambil tersenyum.

Kami bergegas menyusuri tanjakan jalan Kanayakan menuju pemberhentian angkutan umum Dago-St.Hall. Mata saya tak kuasa menahan kantuk dalam mobil angkutan umum. “Maaf ya, Dek. Ibu ngantuk banget. Beberapa hari ini selalu terbangun tengah malam dan tak bisa tidur lagi, “kata saya setengah berbisik. “Ngga apa-apa, Bu. Dijagain koq. Kita turun dimana?”sahut Icha dengan lembut. “Setelah BIP di perempatan dengan bambu runcing di tengahnya, ya, “imbuh saya lagi. “Oh ini ya jalan Braga. Besok Adek ke Braga citiwalk dengan teman-teman, “seru Icha tertahan. “Besok antar ibu ke Dago CFD dulu ya, “kata saya. Kami pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju GIM.

Komunitas Origami Indonesia

Penjelasan Bu Wiwi, ibunda Thomas menarik perhatian kami. Setelah belajar melipat kertas membuat sakura mengikuti arahan bu Linda dan burung perdamaian dari Susan, kami mengikuti presentasi Thomas bersama ibunda tercinta dengan seksama. Tak ayal saya sebar kabar keunikan Thomas dengan dukungan ibunda tercinta ke beberapa wag.

Screenshot_2017-05-20-22-04-55

Icha terlihat enggan pulang. Dia asyik mengikuti penampilan beberapa penyandang disabilitas. Penjelasan Susan tentang seribu burung perdamaian dengan relawan berbahasa isyarat menarik perhatian saya. Icha terlihat kesulitan mengikuti petunjuk pembuatan burung origami tersebut.

Saya mengajaknya berkeliling untuk melengkapi kegembiraan kami. Menyapa Kang Aden yang sedang menjaga pameran karya para penyandang disabilitas. Saya langsung menyalami Susan saat memasuki ruang pameran bersama teman-temannya. Kami mendapat kehormatan belajar langsung origami dari ahlinya dan berbagi informasi tentang aktivitas masing-masing. Dan Icha pun terlihat senang sekali berhasil membuat burung.

Tak lama kemudian Bu Linda dan Bu Wiwi bergabung di ruang pameran. “Ibu-ibu, kita kolaborasi yuk! Ada peluang untuk menerbitkan panduan berbasis IT untuk disabilitas. Praktik baik Thomas memikat hati saya. Kita buat buku braille panduan origami untuk terapi dan life skill anak-anak, “ajak saya kepada perwakilan Komunitas Origami Indonesia ini. Obrolan pun berlanjut sampai ke diet carbo yang berhasil membuat Ibu Wiwi dan Thomas lebih segar dan sehat. Kami pun pulang ke rumah  membawa beragam ilmu dan rencana baru.

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s