Bu Elvi dan Percepatan Penerapan SRA di Indonesia

Rasanya sudah lama mengenal Bu Elvi dan bersama mengawal Gerakan SRA yang menjadi prioritas beliau sebagai Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya. Alhamdulillah Bu Elvi dikaruniai kebaikan hati, semangat, dan cepat tanggap terhadap perubahan kebutuhan multipihak sehingga semua pegiat SRA bersemangat untuk melaksanakan percepatan peneraoan SRA dengan mengerahkan segala sumber daya.

Beberapa perwakilan anak dan guru yang kami ajukan  untuk berbagi praktik baik SRA dalam beberapa rapat koordinasi langsung mendapatkan dukungan percepatan dalam bentuk pelatihan KHA dan SRA bagi guru dan bantuan SRA sesuai kebutuhan sekolah tersebut. Pak Iriansyah SMAN 15 Bandung,  Bagus dari IGI Maros, bu Tety dari DPP FGII bersama mitra lainnya mengikuti pelatihan fasilitator SRA Nasional dan mempercepat penerapan SRA di wilayah yang terjangkau dengan penuh semangat.

Menurut Bu Elvi  (wag Gerakan Sekolah Ramah Anak, 14/5/2016), “Tahun 2014 akhir saya masuk menjadi Asdep pendidikan dan semua hasil percepatan SRA sehingga sampai akhir april 2017 mencapai 1.447 SRA berawal dari 319 SRA yg terdaftar melalui evaluasi KLA. Semua pencapaian ini adalah hasil kolaborasi manis dr semua penggiat SRA alhamdulillah saya masih diberkahi sedikit idealisme sehingga seringkali malu melihat kiprah para pemain SRA yg benar2 ada di lapangan berhadapan dengan anak2 langsung dan bekerja dengan hati. Malu rasanya tatkala melihat betapa sedikit sekali yang telah saya perbuat untuk anak2 secara langsung. Mudah2an apa yg saya dan para pahlawan sra lakukan dapat terasakan manfaatnya jika tidak sekarang barang kali 10 atau 20 tahun yad”.

Sahabat-sahabat KerLiP yang menjadi mitra Kempppa sejak 2010 pun tetap setia tumbuh bersama Bu Elvi memperluas jangkauan di Jabar,  DKI, Jateng, Jatim, NTB, NTT, Maluku Utara, Sulsel, Kalteng, Kaltim, NAD, Sumut, Riau, Bengkulu, Sumbar, Lampung, Banten. Beberapa wa grup kami bentuk untuk membuka ruang apresiasi dan obrolan asyiknya mewujudkan SRA secara langsung.

Secara internal kami menghidupkan wag DPC KerLIP Kab. Bandung, Pangkalan Bun, Kab Cianjur, Bojonegoro, Sulsel, i-KerLiP, Manajemen i-KerLiP, bergerak ke lingkaran kedua di Riau: Gerakan Panutan, fasilitator Panutan, lalu Gerakan SRA, Peace for Kids, GMPP Indonesia, Forum SRA DKI,Fasilitator SRA, aktif di wag jejaring JPAI,  Penggemar KPB, Seknas SMAB, Tim Siaga bencana SLBN B Garut, Tim Pokja TPPO KTPA Kemensos,  GenTaskin, GIP-Tampan, Gerakan Indonesia Pintar, Indonesia Pintar, Champion HKBN, Business community#5, Tim Penilai Adiwiyata Mandiri, dan grup-grup pasca reuni kelas, sekolah, kegiatan, dst. Seluruhnya kami manfaatkan untuk memperluas jangkauan gerakan Sekolah Ramah Anak.

Secara rutin, saya mengalokasikan waktu 3 jam untuk berbagi praktik baik dan mengapresiasi praktik-praktik baik mitra dalam grup utama. Foto-foto yang masuk menjadi bahan tulisan di blog sekolahramahanak.com. Banyak tulisan yang tertunda karena waktu terbatas. Namun semangat perubahan tetap menyala apalagi dengan tumbuhnya dukungan multi pihak di daerah. Seluruhnya kami dedikasikan demi kepentingan terbaik anak bangsa.

Sehari Belajar di luar Kelas

Gembira di sekolah/madrasah melalui YES4SaferSchool dan komunitas Literasi Sejarah mendapatkan benang merahnya saat bu Elvi merekomendasikan kepada bu Lenny untuk meminta KerLiP sebagai mitra lembaga masyarakat yang menyelenggarakan kampanye Sehari Belajar Diluar Kelas. Alhamdulillah, Fitry berkenan menerima tawaran tersebut dan berkomunikasi langsung dengan kolega bu Lenny di Inggris untuk menyiapkan kampanye akbar. Dan semua sumber daya yang kami miliki pun diarahkan untuk menyukseskan kampanye yang akan dilaksanakan serentak di sleuruh dunia pada 7 September 2017.

Praktik-praktik baik Bu Nia yang menyusun RPP keren dan penyelenggaraan Kelas Ramah Anak di kelas digital SMPN 11 Bandung menjadi andalan utama dalam persiapan kampanye  tersebut. Undangan Forum Literasi For All Jabar juga kami manfaatkan untuk menyampaikan pentingnya penguatan pendidikan karakter melalui literasi sejarah dengan mengembangkan ragam kegiatan belajar diluar kelas. Grup i-KerLiP, Gerakan Panutan, Gerakan Sekolah Ramah Anak, Fasilitator SRA, Panutan, dan OCD menjadi wahana untuk menyiapkan para champion OCD. Praktik baik Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional oleh BNPB memberikan inspirasi tentang keberhasilan media sosial mengajak puluhan juta orang untuk melaksanakan latihan evakuasi mandiri.

Kesempatan emas muncul saat bu Elvi menyampaikan kabar bahwa tersedia bantuan SRA ke 345 sekolah/madrasah di 75 kabupaten dan 15 provinsi.  Tentu saja ini membuka peluang besar bagi KerLiP,  DPP FGII dan iGI Maros untuk menjadikan bantuan SRA tersebut sebagai apresiasi bagi guru dan keluarga Panutan yang menjadi pelopor SRA melalui Sehari Belajar Diluar Kelas. Insya Allah target 200 ribu peserta didik mengikuti kampanye Sehari Belajar Diluar Kelas akan kami jangkau bersama fasilitator SRA Nasional dan mitra K/L/D/I KerLiP.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s