Senin Pagi Penuh Greget

“Astaghfirullah, ibu lupa kalah pagi ini kembali diwawancarai Elshinta!”seru Ibu saat membuka telepon genggamnya. Waktu menunjukkan pukul 6.27 pagi. Allisa sedang bersiap pergi untuk mengikuti ujian. Ibu menyiapkan soto Bandung, tempe,dan sambal untuk sarapan pagi. “Ibu bisa pinjam HP Icha? Kasihan yang menelpon, sejak kecemplung air minggu lalu HP ibu makin sulit terima telpon, “ujar ibu. Tak lama kemudian ada telpon masuk. Ibu bergegas membawa HP Icha ke kamar.

Ibu Gregetan

Kata mencerdaskan berulang kali terdengar dari kamar. Ibu bilang, wawancara pagi ini tentang UNBK SMA/SMK/MA yang dilaksanakan minggu lalu. “Menurut saya, upaya Kemdikbud khususnya Irjen dalam menangani pengaduan patut diacungi jempol. Anak SMK di Bandung yang kami dampingi akhirnya dapat mengikuti UNBK. Terkait sarana prasarana masih banyak yang perlu diperbaiki. Saat ini Pemerintah sedang fokus membangun infrastruktur. Jika UNBK akan terus dilanjutkan, Pemerintah seyogyanya menyediakan komputer, listrik, server dan perangkat yang diperlukan. Tentu dilengkapi dengan pemanfaatan sarana prasarana tersebut secara berkelanjutan, “jawab Ibu terhadap pertanyaan Kang Unang, jurnalis Elshinta Bandung yang mewawancarainya pagi ini.

Ada beberapa penekanan khusus yang ibu sampaikan saat menanggapi pandangan salah seorang pemirsa. “Sekolah sebagai lembaga pemuliaan akal sehat tempat tumpuan harapan mencerdaskan kehidupan bangsa bukan industri, bukan pabrik. Para peserta didik usia anak bukan barang yanga di-reject saat tidak memenuhi quality control. Sebenarnya upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir ini. Seingat saya, pada saat Mas Anies menjadi Mendikbud, anak-anak mendapat kesempatan mengulang untuk mata pelajaran yang mendapatkan hasil kurang memuaskan, “kata Ibu. “Sekolah seharusnya memastikan setiap anak  tanpa diskriminasi dan perlakuan salah lainnya mendapatkan layanan pendidikan yang dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif dalam hal spiritualitas keagamaan, kepribadian, akhlak mulia, kecerdasan, dan keterampilan yang berguna bagi dirinya, masyarakat, dan agamanya, “kalimat yang tak asing keluar dari Ibu setiap kali gregetan menanggapi ‘fabrikasi sekolah’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s