Kisah Teladan 01: Menyelamatkan

Dituturkan kembali dari kisah teladan yang beredar di wag.

Seorang lelaki tua dengan pakaian lusuh memasuki sebuah toko untuk membeli selimut. Ia membutuhkan 5 buah selimut untuk keluarganya di musim hujan & dengan cuaca dingin. Tapi uang yang ia miliki hanya 100 ribu.

Lelaki tua tersebut sudah berkeliling di pasar tapi tidak ada penjual toko yang menjual harga 100 ribu untuk 5 selimut. Dengan langkah gontai, ia memasuki toko terakhir yang lebih megah di pasar tersebut.
“Saya membutuhkan 5 selimut… tapi saya hanya punya uang 100 ribu .. apakah bapak menjualnya ?” Tanya lelaki tua dengan suara ragu.

Pemilik toko berkata :
“Oh ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki, harganya juga murah, hanya 25 ribu per buah. Kalau bapak beli 4 buah akan mendapat bonus 1 buah.”

Lega…
Terpancar di wajah lelaki tua itu.
Segera ia mengulurkan lembaran uang 100 ribu miliknya.
Dengan wajah berseri sambil membawa selimut ia berlalu pergi.

Anak si pedagang yang sedari tadi duduk memperhatikan ini berkata :
“Ayah …. Koq bisa ?? bukankah kemarin Ayah mengatakan selimut itu jenis selimut termahal di toko ini, kalau tidak salah kemarin Ayah mengatakannya seharga 250 ribu per helainya..!?”

Si Ayah dari anak itu tersenyum dan menjawab :
“Benar sekali, kemarin kita menjualnya 250 ribu kepada pembeli yang lain tidak kurang sedikit pun. Kemarin kita berdagang dengan manusia. Hari ini kita berdagang dengan Tuhan.
Ayah ingin keluarga Bapak tua tadi dapat terhindar dari dingin di musim dingin ini
Ayah berharap Tuhan _menyelamatkan_ keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti.
Sesungguhnya.. kalaulah tidak karena menjaga harga diri lelaki tua tadi, Ayah tidak ingin menerima darinya uang sedikit pun. Namun, ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah sehingga merasa malu di hadapan kita disini.”

Si Anak tersenyum mengambil hikmah atas pelajaran berharga yang diperoleh hari ini dari Ayahandanya.

Sesampainya di rumah, Sang lelaki tua disambut istrinya dengan gembira, kemudian membuka bungkusan selimut. “Darimana ayah dapat uang beli selimut mahal ini ?”
“Dari uang yg ibu kasih tadi” jawabnya sambil merebahkan diri di lantai, kelelahan.
“Tidak mungkin dg 100rb, dapatkan selimut ini, jangankan 5, satu buah aja gak dapat.”
Percakapan ini didengar anak perempuab mereja. Ia menghampiri ayahnya dab memeriksa selimut tsb.
“Ini harganya 250rb, ayaahh”
Si ayah bangkit melihat label harga yg dilihatkan anaknya.
“Sepertinya si pemilik toko salah, tadi dia bilang harganya 25rb, karena ayah beli 4, dapat bonus 1”.
Cerita sang ayah.

Semua terpaku diam…

“Besok ayah hantarkan lagi ke toko itu, jangan dipakai dulu ya” sang ibu memecah kesunyian.
“Ayah kelihatan capek, aku saja yang antar sekarang. Di toko mana ayah beli selimut ini ?” Sahut anaknya.

“Kenapa harus sekarang nak? Tadi ibu lihat kamu lagi menjahit pesanan bu Kino untuk besok” tanya ibunya

“Ibu, kasihan si pedagang itu bu, kalau nanti dia jual lagi ke orang lain dg harga segitu, soal jahitan itu, bisa saya selesaikan nanti malam, ” jawab si anak.

Sang ayah tersenyum bahagia dan bangga, kemudian menjelaskan toko tempat Ia membeli selimut.

Sang anak mengayuh sepedanya menuju pasar.

“Silahkan masuk, Nona” sapa ramah pemuda penjaga toko saat melihat gadis muda celingak-celinguk di depan tokonya.
“Maaf, Bang, tadi adakah Abang menjual selimut ini kepada seorang lelaki tua? Saya anaknya mau mengembalikan selimut ini” tanyanya.
Dari bungkusannya si pemuda sudah tahu bahwa itu memang selimut yg dijual ayahnya tadi.
“Maaf nona, apakah ada barang yg rusak? Saya akan ganti dg yg lain”, sahutnya.
“Oh, tidak, saya mau mengembalikan selimut in bukan karena rusak, tapi Abang salah lihat harga, di label ini 250rb, bukan 25rb.” Jawab si Nona sambi menunjukkan label harga.

Si pemuda berpikir sejenak, sambil pura-pura memeriksa selimut tsb.

“Terimakasih.. nona telah _menyelamatkan_ saya dari kerugian besar, coba bayangkan jika semua itu (sambil menunjuk tumpukan selimut) saya jual 25rb, berapa besar kerugian saya? Saya hadiahkan selimut ini untuk ayah nona.”

“Benar yg dikatakan anak saya, harap diterima kembali uang ini.” Sang ayah yg dari tadi hanya menonton, menimpali sambil menyodorkan uang 100rb ke anak tsb.

“Eee”

“Jangan menolak, Nona, ini sekedar ucapan terimakasih saja, Nona telah _menyelamatkan_ kami jauh lebih besar dari ini, bawalah selimut tsb pulang, dan tolong kembalikan uang ini kepada ayahmu.”

Saudaraku…
sungguh untuk berjual beli yang benar dengan Allah, membutuhkan seni dan akhlak yang mulia dan penuh martabat ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s