Mencari dan Menemukan Teman yang Tidak Sekolah

Kampanye Pendidikan Untuk Semua tahun 2004 menjadi momentum terindah dalam kerangka Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Dua tahun setelah UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak diterbitkan, sahabat-sahabat KerLiP mengembangkan model-model pembelajaran di luar kelas yang dapat mengasah kepedulian sejak usia anak. Gayung bersambut. Setelah meluncurkan Pekan, Pesta Pendidikan Keluarga Teladan pada Sepekan Aksi Pendidikan Untuk Semua 2013, kami mengembangkan Lembar Kerja Anak Shalih (LeKAS) untuk Tugas Akhir Pekan bersama keluarga peduli pendidikan di rumah. Aksi-aksi anak SD Hikmah Teladan dengan dukungan Keluarga Peduli Pendidikan ini sejalan dengan inisiatif Children Missing Out Mapping yang diluncurkan Global Campaign for EFA. Pada saat yang bersamaan, Republik Indonesia mulai menggelar pemilihan Presiden secara langsung. Tentu saja momentum yang sangat berharga ini kami manfaatkan untuk mempertemukan anak-anak hebat dengan para calon Presiden dan Wakil Presiden NKRI melalui kegiatan Lobby Akbar Anak.

Dua Puluh Persen untuk Pendidikan

“Saya mencari dan menemukan anak putus sekolah sekitar 40 rumah ke depan, 40 rumah ke belakang, 40 rumah ke kiri, dan 40 rumah ke kanan. Mengapa 40 rumah? Orang tua saya di rumah suka membagikan masakan ke tetangga. Keduanya berusaha menjalankan sunnah Rasulullah. Jadi saya juga meniru kebaikan kedua orang tua saya. Ternyata ada anak tetangga yang tidak sekolah padahal umurnya sudah di atas saya. Orang tuanya sudah membanting tulang-tulang masih saja tidak mampu menghidupi keempat anaknya. Kasihan ya, “ujar Hafiyyan dalam presentasinya di depan salah satu pasangan kandidat Capres 2004. Hadirin  tertawa mendengar penuturan anak kelas empat SD Hikmah Teladan tersebut.

Atas keberaniannya, Pak Amien Rais memberikan hadiah sneilai Rp25.000.000,- untuk Hafiyyan. “Terima kasih Bapak. Saya akan memberikan uang hadiah ini untuk mereka, ya Pak, “kata Hafiyyan sambil menahan haru menerima hadiah tersebut. “Kamu tahu berapa biaya pendidikan yang dikeluarkan ayah ibumu?”tanya Pak Amien. “Tahu, Pak. Ibu selalu membagi uang bulanan yang diterima dari ayah menjadi 5 bagian: 1 bagian untuk pendidikan; 1 bagian untuk kesehatan; 1 bagian untuk makan; 1 bagian untuk sedekah; 1 bagian untuk keperluan di rumah, “jawab Hafiyyan dengan tangkas. “Wah menarik nih, 1 dari 5 bagian jadi berapa?” tanya Pak Amin lagi. “dua puluh persen, Pak!” tukass Hafiyyan. “Kamu mau Bapak ajak ke gedung MPR?” tanya Pak Amin lagi. “Mau, Pak!” jawab Hafiyyan.

Entah berhubungan atau tidak, yang pasti setelah pertemuan tersebut, upaya untuk memastikan alokasi untuk pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD makin menguat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s