Pemalak di Sekolah

Sudah dua hari Ayi tidak masuk sekolah. “Kepalaku sakit sekali, Pah!”katanya sambil mengerang kesakitan. Aku menghampirinya sambil berkata kepada istriku yang sedang duduk di samping putra kami, “Mah, kita bawa Rizki ke dokter sore ini. Papah ke kantor dulu. Nanti ijin pulang lebih cepat. “Iya, Pah. Badannya juga panas, “kata istriku sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Rizki. Kupeluk keduanya sebelum pergi bekerja.

“Maaf ya Mah. Ayi sempat berkelahi sama Rizki tiga hari yang lalu. Abis Rizki sudah keterlaluan. Dia maksa Ayi serahkan uang kas kelas kami. Mamah ingat kan, Rizki yang suka malak teman-teman?”kata Ayi. “Rizki teman Ayi di SD dulu ya? Kalau sudah sembuh, Mamah sama Papah mau menemui guru BK di sekolah Ayi. Kasihan anak itu. Lama-lama ia ngga akan punya teman lagi. Sekarang Ayi makan dulu ya, “jawab Mamah sambil menyodorkan nasi tim ayam ke pangkuan Ayi.

Membantu Pemalak

“Mari kita simak apa yang akan disampaikan Pak Andri, ayahanda Ayi, “ujar bu Tety saat kami berkumpul di ruang Kepala Sekolah. Saya bersyukur bisa bertemu dengan guru favorit anak kami ini. Rizki duduk di hadapan kami dengan kepala menunduk. Tangannya tak berhenti memainkan kertas. Ibunya berkali-kali meminta maaf atas kelakuan putra semata wayang mereka. “Sudah, Bu! Kita dengarkan dulu kata Pak Andri, ya,”imbuh bu Tety menenangkan ibunda Rizki. “Saya yakin, Rizki mau berubah jika kita mau mendampinginya. Putra kami, Ayi, bukan pendendam. Ibunya bahkan merasa kasihan kepada Rizki. Bagaimana jika Rizki diberi kesempatan untuk berubah. Apa makanan kegemaranmu?”Saya bertanya kepada Rizki sambil menepuk bahunya. “Saya suka Nasi Goreng, Pak, “Jawabnya perlahan. “Kamu bisa membuat nasi goreng spesial?”tanyaku lagi sambil menatap wajahnya yang terlihat ketakutan. “Bisa, Pak! Ayah bilang Nasi Goreng buatanku enak sekali, “kata Rizki. Matanya langsung merunduk saat bertatapan denganku. “Kalau begitu, mulai besok kamu jualan Nasi Goreng, ya. Ayi mau bantu mempromosikan Nasi Goreng Rizki?”tanya saya kepada Ayi, anak kandung kami. “Mau, Pah”.

Keesokan harinya, bu Tety menyampaikan kabar bahwa Rizki datang terlambat ke sekolah karena keasyikan menyiapkan Nasi Goreng Spesial untuk dijual di sekolah mereka. “Saya sudah mengajaknya berbicara, Pak Andri. Rizki berjanji untuk bangun lebih pagi agar bisa menyiapkan Nasi Goreng dan menitipkan jualannya di kantin sekolah kami, “kata bu Tety. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan Rizki telah berubah, namun sejak ia jualan Nasi Goreng 3 minggu yang lalu, tak ada lagi pemalakan di sekolah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s