Sedekah 02: Memberi Minum Anjing

“Awas jangan dekat-dekat! Anjing kan najis,”kata Icha sambil berlari ketakutan didekati Boni, anjing setia milik satpam di perumahan kami. Icha benar. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

( طُهُورُ إِنَاءِ أحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الكَلْبُ أنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ ) رواه مسلم ( 279 (

“Sucinya wadah kalian apabila dijilat anjing, adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dengan debu.” (HR. Muslim, no. 279)

Dalam sebuah riwayat Muslim, (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda), “Jika anjing menjilati wadah, maka basuhlah sebanyak tujuh kali, dan yang kedelapan taburkan dengan tanah.” (HR. Muslim, No. 280).

Meskipun najis, ternyata berbuat baik kepada anjing termasuk sedekah. Ada hadits yang membicarakan tentang keutamaan memberikan minum pada hewan. Di antara hadits yang diangkat adalah membicarakan wanita pezina yang memberi minum pada anjing dan akhirnya ia mendapatkan pengampunan dosa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ « فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

Juga dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

 

Sedekah 01: Tutur Kata yang Baik

Abu Syuraih berkata kepada Rasulullah ﷺ :

يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Lalu Beliau bersabda :

إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ

“Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.” [HR Thabrani]

Perangai jahiliyah identik dengan perilaku keras dan kasar dan sebaliknya, Ajaran islam identik dengan berlemah lembut  dalam perilaku dan bertutur kata. Inilah yang menjadi magnet dari dakwah Rasulullah Saw sebagaimana difirmankan Allah Swt :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [QS. Ali Imran: 159]

Imam Ahmad berkata : yang dimaksud dengan “fadzdzan” (keras) adalah “ghalidzal kalam” (perkataan kasar).

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Inilah (Berlaku lemah lembut) akhlaq Muhammad ﷺ yang merupakan tugas utama diutusnya beliau “. [Tafsir Ibnu Katsir]

Ketika Rasulullah ﷺ diminta untuk mendoakan jelek kepada kaum musyrikin maka Beliau menjawab :

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Sesungguhnya aku tidak diutus untuk melaknat (mendoakan kejelekan) akan tetapi aku diutus sebagai rahmat (kasih sayang semesta alam) [HR Muslim]

Di samping memberikan contoh, Rasulullah ﷺ juga memberikan motivasi agar kita senantiasa berkata-kata baik. Antara perkataan yang baik dan sedekah  harta memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyenangkan orang lain. Maka tak heran jika Rasul ﷺ bersabda :

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Tutur kata yang baik adalah sedekah.” [HR Bukhari]

Perkataan yang baik itu akan melindungi pelakunya dari adzab neraka, Rasulullaj ﷺ bersabda :

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun hanya dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.” [HR Bukhari]

Perkataan yang baik juga merupakan salah satu sifat calon penghuni surga. Diriwayatkan dari ‘Ali RA, Nabi ﷺ bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda:

لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.” [HR Turmudzi]

Betapa pentingnya bertutur kata yang baik, Allah Swt mencontohkan langsung dalam firman-firman-Nya. Bertutur kata yang baik dan halus tercermin dalam bahasa sindiran (Ta’ridl) yang digunakan dalam firman-Nya mengenai status Zaid:

ما كانَ مُحَمَّدٌ أَبا أَحَدٍ مِنْ رِجالِكُمْ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu”. [QS Al-Ahzab: 40]

Kata “seorang laki-laki di antara kamu” yang dimaksud adalah Zaid yang mengaku sebagai putera Muhammad ﷺ . Teguran Allah SWT ini merupakan pekerti kelembutan karena tidak menyebut nama secara spesifik. Di sisi lain bahasa kinayah seperti ini bermanfaat memperluas sasaran hukum. Az-Zamakhsyari berkata:

ويجوز أن يكون السبب خاصاً والوعيد عاماً ، ليتناول كل من باشر ذلك القبيح ، وليكون جارياً مجرى التعريض بالوارد فيه ، فإنّ ذلك أزجر له وأنكى فيه

Boleh jadi asbabun nuzul itu berlaku khusus namun ancamannya berlaku umum sehingga ayatnya mencakup semua orang yang melakukan kejelekan yang sama dan hal itu menjadi bahasa sindiran yang mana bahasa sindiran itu lebih mengena (efektif) [Al-Kasysyaf]

Dalam perilaku dan perkataan yang lembut, Allah mencontohkannya, Rasulpun mencontohkannya,demikian pula para ulama kita mencontohkannya.

Fastabiqul khoirot

Pengasuhan Positif berbasis Hak anak

Subhaana maa kholatqta haadzaa baathilaa

Rasanya baru kemarin membuka akses FGII ke Kemenegpppa. Alhamdulillah bersamaan dengan dibukanya kedeputian peran serta masyarakat yang memerlukan penguatan kemitraan dengan asosiasi profesi.

[25/03, 14:43] Tety Sulastri FGII: Senin kita ketemu saya bahas program FGII dengan pak Ikhsan ya teh
[25/03, 14:44] Tety Sulastri FGII: FGII menjadi pelaksana 3 propinsi
[25/03, 14:44] Tety Sulastri FGII: Tetapi jadi narasumber untuk 12 propinsi.

Insya Allah pasti ada hikmah yang sangat besar dengan kepercayaan yang diterima oleh FGII untuk melaksanakan sosialisasi pengasuhan di dua belas provinsi. Pengasuhan positif sudah lama menjadi fokus gerakan keluarga peduli pendidikan. Kesempatan emas untuk memperkuat peran FGII dapam pengasuhan positif di satuan pendidikan.

Selamat untuk FGII