Pendidik Sejati

Alhamdulillah tumpukan tugas berkurang satu per satu sambil menemani ananda mengikuti penelusuran minat dan bakat di Swaparinama.  Dapet bonus lagi. Bu Tini mengantar putrinya yang baru menikah untuk mengikuti psikotes ke Kimia Farma. Saya mengajak perempuan hebat ini menunggu di rumah setelah mengobrol 2 jam di depan pintu masuk ruang psikotes. Allah mempertemukan kami setengah hari, namun banyak hal yang sudah kita bagi bersama.

Ia membesarkan keempat putrinya sendiri dengan mengandalkan gaji PNS sebagai petugas tata usaha di sebuah SMK. Sudah 1 tahun Bu Tini memutuskan untuk pensiun dini karena ingin tazkiyyah. “Kita bisa memilih keluar dari sistem yang korup dengan keyakinan penuh bahwa Allah mencukupkan rizki-Nya. Bayangkan saja, Bu. Berat hati saya meninggalkan pekerjaan pada posisi tertinggi yang mungkin saya jangkau sebagai lulusan SMA. Tapi saya harus melakukannya agar bisa bertobat. Alhamdulillah kami sekeluarga tidak pernah merasa kekurangan, “kata Bu Tini.

Tausiyah dengan Bu Tini sampai shalat zhuhur bersama mengingatkan pada masa-masa indah keliling dari masjid ke masjid di dekat rumah. Pekerjaan mengedit pun tuntas sampai dini hari diselingi memasak dan mengisi pertemuan perdana di rumah dengan adik. Obrolan seputar abahnya anak-anak yang mulai sering pikun dan mengundang masalah dengan keluarga besar  dan bagaimana cara menyikapinya selalu menghangatkan pertemuan kami. Sesekali kami membaca berkas-berkas lama untuk memulai usaha distribusi di kota Bandung. “Alhamdulillah abah sehat ya. Kita hanya perlu memaklumi dan menjaga silaturahmi dengan keluarga besar di Dago Barat, “ujar saya. Obrolan pun bergeser ke arah refleksi tentang hidup dan persiapan pulang dalam keadaan husnul khotimah.

Hebatnya Mamah

“Teh, coba cari tayangan tentang Abdul Salam Abe di youtube, “ajak Ayi sebelum pulang. Kami berdua menyimak penuturan mualaf dari Jepang dengan penuh rasa takjub. Berkali-kali kami berdua bergantian mengucapkan rasa syukur sudah diasuh dan dibesarkan almarhumah mamah dengan cara khas yang membuat kami terbiasa menggunakan bahasa Sunda yang halus dan beŕsikap santun.

Pendidikan di keluarga kami bertumpu pada almarhumah mamah. Selain menjadi guru mengaji di RT kami, mamah juga ahli memasak dan terampil  mendandani anak-anak setiap karnaval. Masakan mamah yang enak menjadi sumber penghasilan utama keluarga kami. Pos keamanan di RT sempat disulapnya menjadi toko kecil dan warung makan. Mamah memang pelobby yang handal. Setiap pagi kami bergiliran mengantar rantang berisi makanan pesanan mahasiswa STKS dan Politeknik  Mekanik Swiss yang tinggal di dekat warung. Bulan Rayagung biasanya membawa berkah bagi kami karena mamah menerima pesanan katering dari keluarga yang menikahkan putra-putri mereka.

Masih lekat dalam ingatan ketika saya menimba air sumur untuk mengisi bak sambil menyaksikan mamah membuat bunga-bunga mawar yang cantik dengan sabun colek. “Mamah mau terima pesanan kue pengantin. Bagus ngga?”tanya mamah setiap kali selesai membuat rangkaian taman bunga penghias kue. Mamah memang seniman kreatif. Setiap bulan Ramadhan kami menerima pesanan kue lebaran aneka rasa. Tidak sedikit teman-teman sekolah saya yang memesan dalam jumlah banyak. Hasilnya lebih dari cukup untuk membeli baju dan sepatu baru. Keterampilan memasak kue dan katering ini diteruskan adik saya. Tiga dari 6 bersaudara kini bekerja di pendidikan. Kakak sulung saya guru SMAN di Purwakarta, adik menjadi guru Matematika di SMPN di kota Bandung kini widyaiswara, dan saya berupaya mendorong pemenuhan hak anak atas pendidikan dan perlindungan anak melalui gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Semoga ilmu yang bermanfaat dan amal jariah almarhumah mamah kami yang hebat terus mengalir menerangi tempat peristirahatannya di sisi Allah swt.

Sayang sekali keluarga kami jarang bertemu muka setelah Mamah wafat. Arisan bulanan keluarga besar Bapak Wardan, kakek kami pun hanya bisa dihadiri beberapa anggota keluarga kami. Hari ini saya mulai mengajak adik dan kakak menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama. Insya Allah investasi yang tak mengenal rugi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s