Simphoni Bangsa di Kemdikbud

Sudah lama Ia berusaha menemui perempuan cantik ini. “Insiatif Gerakan Sekolah Ramah Anak muncul dalam proses penyusunan Draft Peraturan Presiden yang diinisiasi langsung oleh Dirjen Dikdasmen setelah pertemuan beberapa kali dengan Asdep dan Deputi di sela-sela rangkaian pertemuan pembahasan modul khusus untuk diintegrasikan ke dalam pelatihan guru sesuai permintaan Pak Dirjen, “bisiknya pelan.

“Setahu saya inisiatif tersebut dari Kemppa, “sahut Bu Catharina. “Betul, Bu. Inisiatif SRA sebagai salah satu indikator KLA diusung oleh Deputi Tumbuh Kembang Anak. Dalam proses penyusunan kebijakan sampai pembahasan modul tersebut, Kemdagri dan Bappenas berkali-kali mengingatkan bahwa domain sekolah ada di di Kemdikbud. Keduanya mengusulkan untuk mendorong Kemdikbud menginisiasi kebijakan SRA. Awalnya dalam bentuk SKB. Alhamdulillah setelah disampaikan kepada Pak Dirjen dan beliau menginstruksikan kepada Setdijen Dikdasmen, muncul inisiatif Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak. Juknis Penerapan SRA yang disusun atas inisiatif bu Asdep disepakati menjadi lampiran perpres tersebut, “imbuhnya.

Obrolan singkat sebelum Diskusi Terfokus dibuka ini membuka komunikasi yang tertunda. Masih lekat dalam ingatannya ketika pamit keluar bersama Bu Asdep dalam pertemuan pembahasan draft Perpres di  Gedung C lantai 10.

Kabar Gembira

“Ibu sudah sampai dimana? Ada kabar gembira!”pesan ini langsung dikirimnya kepada bu Asdep menyambut gembira usul Ibu Catharina yang mengatakan, bahwa pembahasan draft Perpees Gerakan Sekolah Ramah Anak perlu dilanjutkan dan menjadi rumah bagi inisiatif pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di sekolah yang kami ajukan sebelumnya. Ternyata bu Asdep di belakang. Langsung saja diajaknya ke depan dan dipersilakan duduk di samping bu Catharina.

Ketua Umum DPP FGII menyampaikan sambutan tertulisnya dengan lantang. Diskusi Terfokus ini dilaksanakan dalam rangka Hari Jadi FGII ke-15. Penguatan kemitraan guru, keluarga, masyarakat, dan sekolah/madrasah dalam kerangka Gerakan Sekolah Ramah Anak menjadi tema Diskusi Terfokus hari ini. Bu Tety juga menyampaikan komitmen FGII untuk mewujudkan 500 SRA di seluruh Indonesia.

Sambutan berikutnya dari Pak Irjen, mewakili Pak Menteri yang mendadak dipanggil Presiden ke Solo untuk membagikan KIP. Beliau tak lupa menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada FGII. Paparan Pak Irjen mengenai Permendikbud 75 tahun 2016 tentang Komite Sekolah menjadi angin segar bagi upaya penerapan pendidikan bermutu, ramah anak, dan bebas pungutan. Komite Sekolah menjadi lembaga yang mewadahi orang tua/wali, tokoh masyarakat, dan para pakar pendidikan untuk menghimpun sumber daya pendidikan dan mengawasi pengelolaan pendidikan oleh sekolah.

Penandatanganan deklarasi bersama untuk mewujudkan SRA oleh Irjen Kemdikbud, Ketua Umum DPP FGII dan Ketua Umum  KetLiP menandai pembukaan Diskusi Terpumpun perdana ini.

Mars Wajib Belajar dan FGII menghidupkan suasana gembira pada sesi pembukaan dalam Diskusi Terfokus yang diselenggarakan DPP FGII bekerjasama dengan Perkumpulan KerLiP dan didukung oleh Kemdikbud dan Kempppa.

Bangkit,bangkit,bangkitlah//Guru Indonesia//Satukan langkah//Wujudkan Sekolah Ramah Anak.

img-20170130-wa0135

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s