SDN Perumnas Memulai Gerakan MeSRA di kota Tasik dengan Gerakan Literasi Sekolah

“Keren lho Bu, penggeraknya penuh semangat seperti Bu Mufti dan Bu Nia, PNS tapi aktif di komunitas. Ruang tamu rumahnya dijadikan perpustakaan keluarga yang disebut Rumpaka. Katanya terinspirasi jurnalis dari Surat Kabar Priangan yang datang ke sekolah sampai membentuk Pers Cilik yang melahirkan album keren gunakan musik tradisional karinding dst. Anak autis disana yang senang tatalu menggunakan gimbee. Anak-anak tuna grahita jadi mentor sebaya di Saung Langit yang mendidik anak jalanan dst di bawah naungan langit Tasik. Setelah 6 tahun berjalan dan terhubung dg WJLRC nya Bu Mia dkk, Kepala sekolah sepakat menjadikan SDN Perumnas SABAK”. Pesan ini saya kirim kepada Bu Muftiah, pegiat Pendidikan Inklusif kota Bandung.

Pertemuan saya dengan penggerak GLS di SDN Perumnas ternyata sangat diharapkan oleh Bu Yetin, Bu Yayah dan Pak Shobihin. Ketiga guru hebat ini sangat antusias mengikuti sosialisasi Gerakan MESRA Mewujudkan Sekolah Ramah Anak yang dilaksanakan BP3AKB Jabar dengan dukungan pemkot Tasik. Hadir dalam pembukaan, Ibu Kabid KPA BP3AKB Jabat bersama Kadisdik dan Kepala KBPMP3A Kota Tasik. “Sungguh kehormatan bagi saya sebagai tim penyusun kebijakan SRA menyaksikan Bapak/Ibu menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memulai aksi Gerakan Mesra di Kota Tasik “kalimat pembuka ini saya sampaikan sebelum menyampaikan tahap-tahap perumusan SRA dan pelaksanaannya bersama Dr. Endah Chotim dari UIN Bandung dan Dr. Erham dari Unisba.

Survei Kesiapan Sekolah

Badan KBPMP3A kota Tasik mengundang 5 SD dan 6 SMP dalam kegiatan pelatihan SRA bagi guru dan tenaga kependidikan yang diselenggarakan di Hotel Harmoni, pada hari Senin tanggal 28 November 2016. Setiap SMP mengirimkan perwakilan Kepala Sekolah, PKS Kesiswaan, Ketua Komite Sekolah, Guru BK, dan pengurus OSIS. sedangkan SD mengirimkan Kepala Sekolah, guru dan Komite Sekolah. Check List Potensi SRA yang kami susun bersama Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya Kempppa melalui rangkaian diskusi terpumpun dan konsutasi publik yang diisi anak menjadi bahan pertimbangan untuk survei awal  ke SMPN 5 kota Tasik. Sedangkan pemilihan survei ke SDN Perumnas berdasarkan ragam inovasi yang disampaikan ketiga perwakilannya dengan penuh kebanggaan.

Hujan tak menghalangi kami untuk menelusuri tapak-tapak Gerakan Literasi Sekolah yang menakjubkan di SDN Perumnas.  “Keterlibatan Kepala Sekolah di WJLRC dan semangat pembaharuan yang digiatkan beliau menjadikan Gerakan Literasi yang saya mulai sejak 2009 lalu mendapat penguatannya dalam 3 bulan terakhir, “kata Pak Dudu, guru kelas IV SDN Perumnas. Pak Dudu bersikeras mengajak kami yang tengah terkagum-kagum dengan beragam portofolio Gerakan Literasi Sekolah di SDN Perumnas untuk menyimak perjalanannya di ruang literasi di lantai 2.

Tayangan lagu yang dinyanyikan sekelompok anak diiringi musik Karinding menjadi pembuka presentasi Gerakan Literasi Sekolah yang sudah dimulai Guru PNS ini jauh sebelum bangsa kita sadar akan pentingnya GLS. Pak Dudu memperkenalkan temannya dari Komunitas Saung Langit yang hobby fotografi dan membantu menata dokumentasi GLS di SDN Perumnas Kota Tasik bersama anak-anak. Ragam kegiatan yang terintegrasi dengan rumpaka di rumah pak Dudu serta mitra komunitas Saung langit mengantarkan Pak Dudu dan binaannya melanglang buana. GLS ini sedang dimantapkan sejalan dengan rencana SDN Perumnas menjadi Sekolah Adiwiyata. Besar harapan ragam kegiatan yang berakar dari tumbuh kembang minat anak berkesenian dan berkomunitas dinawah bimbingan guru yang mendidik dengan sepenuh hati dan kemitraan dengan Saung Langit ini menjadi model Gerakan Mesra di Kota Tasik.

 

 

GeMBIRA bersama Keluarga Peduli Pendidikan di Provinsi Riau

Kegiatan Bimtek Pendidikan Keluarga  se-Provinsi Riau dilaksanakan secara paralel sejak tanggal 21 November 2016 dengan kegiatan Sekolah Berwawasan Gender. Hasil edit Materi GeMBIRA bersama Keluarga Peduli Pendidikan yang dikirim untuk memenuhi permintaan Direktorat Bindikel sudah terkirim sesaat sebelum menempuh perjalanan malam ke bandara. Berkali-kali menghubungi bu Dewi terkait penyediaan tiket tidak mendapatkan tanggapan. Alhamdulillah,  Zamzam berkenan memberikan dana talangan dan membelikan tiket Jakarta-Pekanbaru pp.

Fasilitasi Bimtek Pendidikan Keluarga

“Sudah jam 8.30, fasilitator dari Jakarta katanya terbang pagi. Taruhan dia baru sampai di bandara , “kata Bapak yang masuk ke lift. “Entah jadi datang atau tidak, “ujar perempuan di dekatnya sambil memencet tombol. lift bergerak turun ke lantai 1. Kami keluar bersamaan dari lift. Aku bergegas masuk menyiapkan bahan presentasi. Peserta terlihat sudah memenuhi ruangan.

“Siapa saja peserta Bimtek hari ini?”tanyaku kepada pembawa acara. Kulihat pesertanya cukup berimbang. “Guru, tenaga kependidikan, tim pembina PKK, dan pendidik PAUD, “jawab pembawa acara. Cukup beragam. Perlu pendekatan khusus agar suasana belajar dan proses pembelajaran pada sesi ini benar-benar dipenuhi kegembiraan.

“Ada yang bisa bantu saya menjelaskan tentang 10 program pokok PKK?” Kalimat tanya ini akhirnya menjadi pembuka sesi GeMBIRA bersama Keluarga Peduli Pendidikan. Pentingnya komunikasi antara suami isteri, anak dengan ayah, anak dengan ibu,anak dengan orang tua menjadi isu yang paling hangat. “Konon kabarnya anak laki-laki banyak yang jatuh cinta kepada guru perempuan sejak belajar di SD, “ujarku di sela-sela obrolan menarik tersebut. “Bahkan di TK,Bu!”celetuk seorang Bapak. Tentu saja memancing komentar yang lebih seru lagi ketika dikaitkan dengan fenomena rentannya anak laki-laki terhadap ancaman kejahatan seksual. Isu pentingnya keselamatan dan keamanan pun menggiring obrolan ke tema ketahanan keluarga, dasawisma, dan kesiapsiagaan. Kesempatan emas untuk masuk ke tema mendengarkan suara anak dan menanggapinya dengan sungguh-sungguh.

Sesi yang berlangsung selama 2 jam ini terasa hidup. Aku pun cukup leluasa untuk meminta peserta saling mendoakan. Bahkan sempat menunjukkan ELSI yang selalu menemaniku dalam setiap kesempatan. Alhamdulillah dibeli oleh Kepala SMKN 3 dengan harga khusus. Peserta Bimtek terlihat sangat antusias selama sesi tersebut.

Sekolah Berwawasan Gender

 

 

 

 

Program Panutan Siap Dimulai di Riau

“Bapak Gubernur menyambut antusias istilah Riau Panutan, ayo kita siapkan!” pesan dari Pak Kamsol, Kadisdik Provinsi Riau sudah masuk beberapa minggu yang lalu. Pendidikan anak merdeka bermutu bebas pungutan (Panutan) yang muncul dari obrolan Jakarta-Bandung bersama bu Sari ternyata disambut baik oleh Gubernur Riau.

[14/11, 10:49] yanti kerlip: Gimana Kegiatan Panutan?
[14/11, 10:54] Zamzam Muzaki SM: Blm sempet kegarap, nanti di Bandung sekalian.
[14/11, 10:55] yanti kerlip: Kl ngga salah nilainya 3 jt/anak
[14/11, 10:56] Zamzam Muzaki SM: Dulu zamzam hitung di riau utk sma 1,6 smk 2,2
[14/11, 10:56] Zamzam Muzaki SM: Mengingat kapasitas fiskalnya
[14/11, 10:57] yanti kerlip: Itu utk BOSDA
[14/11, 10:57] yanti kerlip: Kt Pak Kamsol sdh disetujui BOSDA nya 2,2 jt/anak
[14/11, 10:57] Zamzam Muzaki SM: Eh iya 🙈
[14/11, 10:57] yanti kerlip: Khusus KRP 3 jt/anak
[14/11, 10:58] yanti kerlip: Pastikan bisa penuhi semua indikator SRA ya
[14/11, 10:59] Zamzam Muzaki SM: Siaap bu

Obrolan dengan Zamzam 10 hari yang lalu ternyata memanggil kembali proses pengawalan Nawacita di pendidikan khususnya terkait Wajib Belajar 12 tahun. Pak Kamsol lah yang mengajak para perintis Gerakan Indonesia Pintar untuk memastikan quick win yang dirumuskan oleh pokja pendidikan di Rumah Transisi pada tahun 2014 dilaksanakan mulai dari Provinsi Riau. Pak Kamsol menerima amanah sebagai Kepala Dinas Pendidikan melalui proses penilaian. Semangatnya untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional masih tetap membara saat kami bertemu bada magrib kemarin di ruang kerjanya yang tertata apik.

Mendorong Perbaikan Mutu Layanan Pendidikan Untuk Semua Anak

[24/11, 18:20] Zamzam Muzaki SM: mangga bu, haturnuhun. Pendak sareng pak Kamsol, kumaha kartu riau panutan teh? wengi ieu ke dirampungkeun juknisna insyaallah
[24/11, 18:20] yanti kerlip: Ieu nuju ngantosan Pak Kamsol sholat magrib
[24/11, 18:20] yanti kerlip: Tepang sakedap teras ka bandara
[24/11, 18:21] Zamzam Muzaki SM: muhun bu, di wakeun nya bu pointer ti pak Kamsol. kamari sih tos teleponan mung bilih aya poin2 nu kedah dilebetkeun, pang wartoskeun insyaallah minggon ieu draftna dikintun

Sejak masuk menjadi relawan KerLiP atas ajakan Ova, Ketekunan dan kompetensi Zamzam sangat membantu dalam kampanye dan advokasi Education for All (EFA). Tujuan kampanye dan advokasi EFA untuk memastikan tersedianya alokasi anggaran yang memadai agar semua anak termasuk difable dan kelompok terpinggirkan benar-benar menikmati hak atas pendidikan yang bermutu dan bebas pungutan. Kajian praktik-praktik baik yang dilaksanakan multi pihak di satuan pendidikan berjalin kelindan dengan ragam aksi dan inisiatif dari anak dan kawula muda sahabat KerLiP yang menggiatkan Gerashiaga.

Efektivitas partisipasi keluarga peduli pendidikan terus ditemukan dan dikenali sesuai bidang perhatian masing-masing. Pak Kristiono adalah salah satu orang tua yang menyampaikan pengaduan saat advokasi UN 2006 kami laksanakan. Pak Kristiono dkk bersama kami membentuk Education Forum dan mengawal citizen lawsuit korban UN 2006 sampai putusan MA menolak kasasi Pemerintah. Pengawalan PPDB di kota Bandung mempertemukan kami dengan Ibunda Syahna dan Nabila, Ibu Ekasari. Menyusul.kemudian Pak Hary, Bu Elvyra, Dahrina dan keluarga-keluarga peduli pendidikan kota Bandung yang menghimpun diri dalam Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia (GMPP). Di tingkat nasional kami terhubung dengan 13 Kementerian/Lembaga dalam gerakan Sekolah Ramah Anak yang dimotori Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya.

10250218_10206141402317159_7200468710304794612_n

Mendikbud Menghapus UN

Akhirnya, 1 per 1 janji Pak Jokowi jika menjadi Presiden ketujuh khususnya di bidang pendidikan mulai dilaksanakan.

http://m.metrotvnews.com/read/2014/06/10/251278

“UN akan ditiadakan dan diganti dengan pendidikan karakter, etika, dan budi pekerti. “Inilah revolusi mental. Untuk SD 80% budi pekerti, 20% pengetahuan. SMP 60 budi pekerti, 40% pengetahuan. Di SMA baru 20%-80%,” ujarnya disambut tepuk tangan ratusan guru.”

Ragam respon dari sahabat-sahabat KerLiP terus berdatangan. Ungkapan syukur dari para pegiat Gerakan Sekolah Ramah, kekhawatiran relawan terhadap pernyataan Mendikbud menghapus UN, dan pertanyaan mendasar diiringi seabreg pujian menghiasi laman media sosial. Alhamdulillah janji Presiden Jokowi untuk memperkuat pendidikan karakter di setiap jenjang pendidikan memberi kesempatan bagi guru-guru kita untuk menunjukkan kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi semua anak. Saatnya memperluas Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan bersama Gerakan Indonesia Pintar.

Selamat Hari Guru Nasional

screenshot_2016-11-23-05-10-00-1